
Namun malam semakin larut membuat Asyifa dan Rendy menginap di rumah orang tua Asyifa dan sementara keluarga Asyifa yang tidak bisa menginap dan pulang.
Setelah pembahasan yang terjadi. Rendy sekarang berbicara 4 mata dengan Rafa. Dan Rafa dengan gentelment akan menghadapi Rendy. Meski tadi Asyifa sudah menjelaskan. Namun Rendy pasti tau apa yang benar dan Asyifa berusaha untuk menutupi apa yang terjadi.
Mungkin hal itu yang membuat Rendy ingin berbicara pada Rafa. Hanya berdua saja. Dan tidak tau apa yang mereka bicarakan. Yang mana mereka berdua sudah duduk saling berhadapan.
"Rafa. Saya tidak tau harus bicara di mulai dari mana. Namun jika flassback kebelakang. Saya masih mengingat bagaimana mama kamu dan menemui saya untuk melamar Asyifa dengan memberikan CV kamu. Asyifa putri saya saat itu sangat kebetulan ingin menikah. Karena ingin melaksanakan ibadah terpanjang. Sebagai seorang ayah saya mendukung penuh keputusan Asyifa yang akan tau apa yang terbaik nantinya. Dan saya juga berucap pada Allah jika sudah takdir,"
"Singkat cerita. Entah mengapa saya tidak punya niat atau keinginan, rasa penasaran untuk tidak melihat CV kamu, atau mencari tau siapa kamu yang akan menjadi suami anak saya. Mungkinkah sama dengan Asyifa yang juga tidak melakukan hal itu. Lalu Rafa saya ingin bertanya pada kamu. Apa itu adalah kecerobohan saya sampai mengorbankan Asyifa?" tanya Rendy.
Rafa memejamkan matanya dengan menunduk bersalah atas apa yang terjadi. Kekecewaan Rendy dan bahkan ada rasa bersalah karena apa yang terjadi pada Asyifa.
"Maafkan saya Dokter!" sahut Rafa.
"Minta dalam hal apa Rafa. Apa saya harus bertanya lagi apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rendy.
"Saya memang menyakiti Asyifa," sahut Rafa mengangkat tegak kepalanya yang harus menghadapi rendah, "pernikahan kami tidak seindah dengan khayalan Asyifa. Saya menyakitinya," ucap Rendy jujur dengan singkat. Mata tenaga berkaca-kaca saat mendengar hal itu. Hanya sedikit yang di katakan Rafa sudah melukai hati Rendy. Lalu bagaimana jika lebih banyak lagi.
"Dokter Rendy saya bersalah dalam pernikahan ini dan saya ingin memperbaikinya. Jadi saya mohon tolong beri saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya," ucap Rafa.
"Tolong beri saya kepercayaan lagi. Kesempatan untuk semua ini," lanjut Rafa dengan tulus.
"Apa saya bisa mempercayai kamu?" tanya Rendy.
"Dokter Rendy, dan Asyifa menikah begitu saja tanpa ada perasaan apa-apa dan jika di katakan kami juga tidak menjalani proses ta'aruf. Seperti yang Dokter Rendy katakan. Jika kami menjalani proses ta'aruf. Maka saat ini dan Asyifa pasti tidak akan menikah. Jadi untuk membangun perasaan yang di campur dengan hubungan masa lalu yang ada semuanya tidak mudah. Jadi hanya memulai yang bisa saya lakukan," ucap Rafa.
Rendy diam yang hanya melihat mata Rafa. Apakah yang di katakan Rafa bisa di percaya. Rendy hanya menelisiknya mata indah itu. Kebahagiaan dan masa depan putrinya ada pada pria yang duduk di depannya itu. Yang artinya kebahagiaan dan masa depan itu juga berasal dari keputusan Rendy apakah memberi kesempatan atau tidak.
********
Asyifa berada di dalam kamar untuk menenangkan dirinya yang di mana Asyifa berbaring miring dengan ke-2 tangannya berada di bawah pipinya dan air matanya yang keluar.
__ADS_1
"Maafkan Asyifa ibu, ayah Asyifa sudah berbohong pada kalian. Asyifa hanya tidak ingin kalian mengkhawatirkanku pernikahan Asyifa. Karena Asyifa masih berharap banyak dengan pernikahan ini dan Asyifa juga tidak mau kalian mengetahui apa yang terjadi. Biarkan Asyifa dan kak Rafa belajar dalam masalah ini," gumam Asyifa yang menangis.
Dia tidak mengerti apakah akan mendapat dosa besar. Karena berbohong pada orang tuanya demi kebaikan suaminya. Karena istri yang benar tidak akan mengumbar aib suaminya.
"Jangan khawatirkan Asyifa. Asyifa akan menghadapi apapun yang terjadi," batin Asyifa dengan yakin dengan keputusannya.
"Kira-kira apa yang di bicara ayah dengan kak Rafa. Apa sesuatu?" batin Asyifa dengan rasa khawatirnya.
Krekkkk.
Suara pintu kamar terbuka membuat Asyifa memejamkan matanya langsung. Asyifa tidak tau kenapa harus berpura-pura untuk tertidur. Semenjak kejadian tadi dia dan Rafa belum ada bicara dengan intens. Rafa yang berdiri di depan pintu menghela napasnya dan menghampiri Asyifa. Duduk di pinggir ranjang yang mana Asyifa membelakanginya.
"Aku tau kamu belum tidur Asyifa," ucap Rafa. Asyifa tetap diam yang masih berpura-pura tidur.
"Aku!" tegur Rafa. Asyifa menarik napasnya dengan panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu membalikkan tubuhnya.
"Asyifa mau istirahat," ucap Asyifa dengan pelan.
"Asyifa ingin istirahat. Asyifa capek dan mau tidur," ucap Asyifa yang kelihatan tidak mau bicara dulu dengan Rafa, " maaf kak Rafa!" ucap Asyifa yang kembali memiringkan tubuhnya yang memebelakangi Rafa.
Rafa membuang napasnya dengan perlahan kedepan. Mungkin dia harus memberi waktu untuk Asyifa untuk tenang dan beristirahat. Rafa memilih untuk kekamar mandi.
*********
Asyifa tidak bisa tertidur, dia terus pada posisinya yang juga tidak tau apa yang di lakukan Rafa. Namun tadi Asyifa mendengar suara aktivis di kamar mandi yang mungkin Rafa sedang bersih-bersih. Namun suara air di kamar mandi sudah tidak terdengar lagi dan Asyifa juga tidak tau apa yang di lakukan Rafa.
Namun di tengah kemurungan nya. Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang bahunya membuat Asyifa terkejut dengan Asyifa bisa merasakan rambutnya yang di cium lembut dan bahkan merasakan pelukan di pinggangnya yang membuat jantung Asyifa berdebar kencang.
"Apa yang membuat kamu belum tidur?" tanya Rafa pelaku dari kejadian itu yang berbisik di telinga Asyifa yang mengejutkan Asyifa.
"Asyifa. Kenapa diam? tanya Rafa lagi memeluk Asyifa dengan erat dari belakang.
__ADS_1
"Bagaimana bisa tidur. Jika aku di cepit seperti ini," ucap Asyifa yang merasa terdesak.
"Sebelumnya aku tidak memelukmu dan kamu juga tidak tidur," ucap Rafa.
Asyifa mencoba untuk tenang dan membaringkan tubuhnya sehingga langsung bertatap muka dengan Rafa dengan Rafa yang menghadap miring dengan sikut tangannya berada di atas bantal yang menopang pipinya.
Rafa membelai-belai anak rambut Asyifa dan menatap mata Asyifa dalam-dalam.
"Kenapa tidak mengatakan apa yang terjadi?" tanya Rafa.
"Asyifa yang bertanya dulu. Apa tadi kak Rafa memang berniat ingin mengatakan yang sebenarnya tentang pernikahan kita?" tanya Asyifa.
"Iya aku ingin mengatakan apa yang memang terjadi dan meluruskannya berita yang di tanggapi orang tuamu yang sudah kemana-mana," jawab Rafa. Asyifa diam yang tidak tau menjawab apa.
"Lalu jawab pertanyaan ku kenapa menutupinya?" tanya Rafa.
"Cukup hanya kita yang tau apa yang terjadi dalam pernikahan kita. Cukup hanya Asyifa yang mendengar semua kata-kata kak Rafa. Kak Rafa suami Asyifa dan tidak mungkin Asyifa mengumbar aib suami Asyifa. Karena kesalahan itu pernah Asyifa lakukan. Asyifa sudah mohon ampun pada Allah tentang perasaan itu. Itu artinya Asyifa tidak akan mengulanginya lagi," jawab Asyifa dengan singkat.
Rafa terdiam. Lagi-lagi Rafa harus kalah, dengan ketulusan dan kesabaran Asyifa.
"Kak Rafa apa yang ayah katakan pada kak Rafa?" tanya Asyifa yang pasti sangat penasaran.
"Meski kamu tidak mengatakan apa yang terjadi. Namun Dokter Rendy pasti tau kebenarannya dan aku hanya meyakinkannya untuk menebus kesalahan ku," jawab Rafa.
"Lalu apakah ayah marah?" tanya Asyifa.
"Sangat kecewa dan marah yang tidak bisa di ungkapkan membuatku sadar. Jika aku sudah mengecewakan banyak orang," jawab Rafa.
"Lalu bagaimana dengan berita yang ada. Keluarga Asyifa bukan hanya ayah ibu saja dan berita itu tidak semuanya benar. Namun kak Rafa juga mendapat fitnah," ucap Asyifa yang mengkhawatirkan Rafa. Padahal dia lebih memprihatinkan. Namun bisa-bisanya kepikiran dengan Rafa.
"Kenapa memikirkan ku Asyifa. Masalah yang kamu hadapi tidak mudah. Lalu kenapa masih memikirkan ku?" tanya Rafa yang menatap dalam-dalam Asyifa.
__ADS_1
Bersambung