Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 244


__ADS_3

Asyifa begitu baik dan perhatian kepada Syira. Di mana Asyifa menemani Syira makan. Tadinya Asyifa ingin menyuapi Syira. Namun Syira menolak yang takut merepotkan Asyifa. Dan Syira yang duduk yang makan sendiri dan Asyifa menunggunya makan.


"Memang Rafa tidak akan marah. Jika kamu menungguiku di sini?" tanya Syira sembari mengunyah makananya.


"Marah! kenapa harus marah?" Asyifa bertanya heran.


"Aku tau Asyifa sangat banyak tidak menyukaiku dan mungkin juga akan marah dengan istrinya yang mengurusi orang yang jahat kepada-nya," ucap Syira.


"Ya ampun Syira kamu ini bicara apa. Siapa yang jahat. Kamu tidak pernah jahat kepadaku dan justru kamu dan keluarga kamu banyak membantuku," ucap Asyifa.


"Aku pernah mendorongmu Asyifa, berkata kasar kepadamu dan apa lagi namanya jika itu tidak jahat dan belum lagi aku mengganggu keluargamu dengan hadir dalam kehidupan Dedi," ucap Syira yang mengakui kesalahannya.


"Astagfirullah Syira. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu dan apa yang terjadi dengan kamu dan kak Dedi itu sudah takdir dan kejadian waktu itu. Pasti itu hanya karena kamu yang emosi. Jadi jangan di pikirkan. Sungguh aku tidak berpikir apa-apa," ucap Asyifa.


"Kamu baik sekali Asyifa," ucap Syira.


"Semua manusia itu dasarnya baik dan kamu juga baik dan semua orang pernah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tidak ada manusi yang sempurna Syira," ucap Asyifa yang sangat bijak dan begitu lembut bicara kepada Syira.


"Kamu makan lagi ya, jangan memikirkan hal lain. Jika sekarang kamu belum mendapat tempat di hati keluarga barumu. Percayalah sebentar lagi kamu akan mendapatkan tempat itu," ucap Asyifa yang memberikan semangat.


Syira mengangguk mungkin masih sedikit lega. Karena ada yang memanusiakan di antara semua orang yang membencinya.


Dratt Dratttt Dratttt Dratttt


Tiba-tiba ponsel Syira berdering dan Syira mengambil dari atas nakas. Namun wajah Syira tampak begitu terkejut saat melihat layar ponselnya dan sampai-sampai tangannya bergetar dan tidak mengangkat panggilan yang sejak tadi berdiring itu.


"Tidak di angkat?" tanya Asyifa yang membuat Syira kaget.


"Oh ini hanya dari sales saja," sahut Syira gugup dan Asyifa hanya mengangguk saja yang juga tidak peduli dengan siapa yang menelepon.

__ADS_1


Suara ponsel itu mati dan Syira tiba-tiba mendapat pesan.


"Jangan menghindari telponku. Jika kau tidak secepatnya mengirimku uang yang aku minta. Aku akan menyebar Vidio itu," tulis pesan itu membuat tangan Syira semakin bergetar dan wajahnya tampak ketakutan.


Asyifa memperhatikan apa yang terjadi pada Syira yang seperti ada sesuatu.


"Syira kamu baik-baik aja?" tanya Asyifa yang membuat Syira kaget kembali.


Namun kali ini Syira tidak menjawab sama sekali dan menarik tangan Asyifa memegangnya sangat kuat yang sepertinya sangat ketakutan dan Asyifa jadi panik dengan tangan Syira yang begitu dingin.


"Kamu kenapa Syira?" tanya Asyifa.


"Aku tidak tau Asyifa harus bicara pada siapa. Tetapi aku sangat takut," ucap Syira.


"Kamu tenang dulu. Apa yang kamu takutkan. Di sini ada aku, kamu tenang ya," Asyifa berusaha untuk menenangkan Syira dan memberi Syira minum.


"Ada apa Syira?" tanya Asyifa.


Dengan tangan yang bergetar Syira memberikan ponselnya kepada Asyifa dan Asyifa langsung mengambilnya. Asyifa terkejut melihat pesan yang di terima Syira.


"Astagfirullah Al Adzim, apa ini Syira siapa yang mengirimnya?" tanya Asyifa yang begitu shock dengan melihat pesan itu.


"Kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Aku mempercayakan semua ini pada kamu," ucap Syira yang tidak tau kenapa dia hanya percaya pada Asyifa.


"Memang ada apa Syira?" tanya Asyifa.


"Anak yang aku kandung memang bukan anak Dedi," ucap Syira dengan takut-takut bicara.


Asyifa mungkin sudah menduga hal itu. Namun tetap aja dia kaget mendengar pengakuan dari Syira.

__ADS_1


"Aku melakukan semua ini. Karena sudah tidak tau lagi harus berpikir apa. Aku takut sama papa dan mama dan aku tidak bisa mengatakan sebenarnya kepada mereka dan aku melibatkan Dedi dalam urusan ini," ucap Syira yang berbicara terbata-bata yang jujur pada Asyifa.


"Lalu siapa ayah dari janin yang kamu kandung?" tanya Asyifa.


"Aku tidak mengenalnya. Sebelum papa mengundang kalian ke desa. Aku, aku di perkosa," ucap Syira dengan air matanya yang jatuh.


"Astagfirullah," lirih Asyifa yang langsung memeluk Syira dengan erat yang memberikan kekuatan pada Syira.


"Saat itu mobilku mogok di jalan dan tiba-tiba ada pria yang baru aku temui dan dia modus untuk membantuku dan ternyata hal buruk itu terjadi. Di mana aku di perkosa. Hidupku hancur saat itu dan tidak berani mengatakan apa-apa kepada orang tuaku. Tetapi aku mencoba menerima nasib itu. Dan mencoba untuk menutupinya untuk menjaga hubunganku dengan Abian. Tetapi ternyata takdir berkata lain dan kak Abian menikah dengan Zee,"


"Aku semakin rapuh, putus asa dan bingung. Aku takut tidak ada yang menerimaku dan aku berusaha untuk kembali merebut hati Abian. Namun juga sia-sia dan Abian memilih Zee. Aku mencoba untuk ikhlas dengan semua itu. Namun siapa sangka aku hamil dan lebih parahnya orang yang memperkosaku telah mencari keuntungan yang memiliki vidioku dan dia memerasku dengan ancaman akan menyebar Vidio itu,"


"Aku sudah merasa tidak punya kehidupan lagi dan sudah putus asa yang ingin mengakhiri hidupku. Namun Dedi saat itu muncul dan aku mengatakan kepadanya jika aku hamil dan hanya mengatakan orang yang memghamiliku tidak mau bertanggung jawab. Dia empati kepadaku dan berjanji bertanggung jawab. Namun lagi-lagi semuanya berubah dan aku terpaksa melakukan semua ini,"


Syiria menjelaskan apa yang terjadi kepadanya dengan penuh air mata yang masih tetap di peluk Asyifa. Asyifa yang mendengar kisah pilu itu juga meneteskan air mata. Asyifa juga mencoba untuk tenang dan melepas pelukannya dari Syira dengan memegang kedua bahu Syira.


"Dan kamu sudah sering memberi uang pada pria itu?" tanya Asyifa.


"Iya aku sudah sering melakukannya dan aku sudah mengeluarkan banyak tabunganku dan papa dan mama tidak tau semua ini. Aku juga bingung dan tidak bisa berkata apa-apa lagi dan dia sekarang memerasku lagi. Karena aku belum memberinya uang," jelas Syira.


"Kita harus lapor polisi," ucap Asyifa.


"Tidak Asyifa. Jika lapor polisi semua orang akan tau yang sebenarnya dan mama dan papa pasti akan marah. Aku takut semua itu terjadi," ucap Syira.


"Tetapi tidak mungkin Syira kamu menanggung semua ini sendiri. Kak Dedi juga harus tau masalah ini," ucap Asyifa.


"Asyifa aku mohon tolong jangan sekarang. Aku takut," ucap Syira. Asyifa kembali memeluk Syira untuk menenangkan Syira. Dia sangat tau apa yang terjadi pada Syira pasti sangat tidak mudah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2