
Tanpa memperdulikan Miranda yang mau melakukan ini itu. Asyifa dan Rafa melanjutkan sarapan mereka. Asyifa juga sama sekali tidak kepikiran dengan apa yang di katakan Miranda.
Bahkan dia tidak peduli sama sekali dengan perkataan Miranda tadi saat di toilet dan apalagi suaminya juga terlihat tidak memperdulikan Miranda sejak tadi malam. Jadi untuk apa juga dia harus kepikiran.
"Kak Rafa mau ini tidak?" tanya Asyifa yang menawarkan bubut yang di makannya yang sepertinya sangat enak, "mama bilang kakak menyukai bubur. Kakak coba deh," ucap Asyifa yang menawarkan kembali Rafa bahkan sudah menyodorkan sendok pada mulut Rafa.
"Kak Rafa!" ucap Asyifa dengan wajahnya yang berharap Rafa akan menerima apa yang di berikannya dan mau tidak mau Rafa pun membuka mulutnya menerima suapan itu yang membuat Asyifa tersenyum.
"Bagaimana apa enak?" tanya Asyifa.
"Iya enak," jawab Rafa yang membuat Asyifa tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu biar Asyifa ambilkan lagi," ucap Asyifa yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Namun Rafa langsung menghentikannya dengan memegang tangan Asyifa.
"Kau tidak perlu melakukannya. Duduklah dan makan," ucap Rafa.
"Tapikan kak Asyifa menyukainya," sahut Asyifa.
"Aku makan yang kau berikan saja," sahut Rafa.
"Untuk kita berdua?" tanya Asyifa yang tidak percaya. Rafa mengangguk. Asyifa pasti terkejut jika Rafa tiba-tiba mau makan semangkok berdua dengannya. Apakah dia kegirangan berekspresi seperti apa.
"Baiklah kalau begitu," sahut Asyifa yang langsung duduk kembali.
"Duduk di sini!" pinta Rafa pada Asyifa dengan Rafa menepuk di sebelahnya untuk Asyifa duduk di sampingnya. Agar mereka lebih dekat lagi.
"Baiklah!" sahut Asyifa dengan mengangguk dan sebenarnya dia sangat gugup. Namun Asyifa harus bisa tenang. Siapa tau ini awal yang bagus untuk hubungan rumah tangga mereka.
Asyifa sudah berada di dekat Rafa dan yang benar saja. Rafa dan Asyifa memakan bubur yang sama dengan mangkok yang sama dan kepala mereka saling berdekatan yang sangat kelihatan begitu romantis.
Jangan tanya perasaan Asyifa. Pasti Asyifa sangat gugup dengan apa yang dirasakannya ketika kedekatannya dengan Rafa yang tidak pernah di bayangkannya sebelumnya. Makam berdekatan membuat jantungnya tidak berhenti sama sekali berdetak dengan kencang dan wajahnya terlihat sangat canggung.
"Ya Allah aku tidak tau apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba kak Rafa seperti ini. Dari tadi malam dia itu benar-benar berubah. Asyifa benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya yang ada di pikiran kak Rafa dia itu terus berubah-ubah. Ya Allah Asyifa benar-benar bingung," batin Asyifa yang masih sangat begitu gugup dan canggung dengan berdekatan dengan Rafa.
Namun Rafa masih santai yang tau bagaimana tidak nyamannya Asyifa. Mungkin bukan tidak nyaman. Lebih tepatnya Asyifa canggung dan bingung.
Diantara kemesraan itu ternyata Miranda masih ada di sana dan melihat keromantisan itu membuatnya sangat panas.
"Apa kau sudah merasa menjadi seorang pemenang Asyifa. Sangat tidak mungkin Asyifa. Kau itu bukan pemenangnya Asyifa dan kau Rafa berani sekali kau menunjukkan keromantisan mu bersama Asyifa. Apa kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi," batin Miranda yang hanya mengumpat dengan penuh kekesalan.
"Aku sepertinya harus mengeluarkan senjataku untuk mengakhiri kemanisan kampungan kalian berdua. Kau salah Rafa telah memperlakukan ku seperti ini. Kau itu salah Rafa. Kau lihat Rafa apa yang akan aku lakukan kepadamu. Kau akan mengingat dan menyesal karena telah membuatku seperti ini, kalian tunggulah kejutan dari ku. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan," batin Miranda dengan mengepal tangannya yang terlihat sangat emosi penuh dengan benci dan dendam pada Rafa dan Asyifa yang masih menunjukkan keromantisannya yang makan 1 mangkok berdua.
Wajah Asyifa yang tersenyum lebar membuat Miranda sangat jijik dan rasanya ingin menyerang Asyifa, ingin mengacak-acak Asyifa. Padahal Asyifa tidak salah ya. Itu kan suaminya. Miranda aja yang aneh sendiri. Dia yang salah yang membuat Rafa kecewa.
*********
Setelah selesai sarapan Asyifa dan Rafa tidak langsung pulang. mereka masih menikmati di tempat tersebut dengan berjalan-jalan di pantai yang terlihat begitu menyenangkan.
Langkah mereka yang serentak yang berjalan di pinggir pantai yang kalau pagi-pagi begini banyak juga orang-orang yang berkunjung ke pantai.
"Kaki mu benar-benar sudah tidak apa-apa?" tanya Rafa menoleh ke arah Kayra. Sepertinya Rafa masih sangat mengkhawatirkan Asyifa yang takut Asyifa kenapa-kenapa.
"Tidak apa-apa kak. Sudah sembuh. Makasih ya kak sudah mengobatinya tadi malam," ucap Asyifa.
"Mau berapa kali mengucapkan terima kasih," sahut Rafa yang mungkin sudah mendengar entah beberapa kali.
"Sampai kak Rafa menjawab sama-sama," sahut Asyifa dengan santai.
__ADS_1
Rafa menghela napasnya dan kembali melihat lurus kedepan yang sepertinya tidak akan mengeluarkan kata-kata tersebut. Namun Asyifa tidak mendesaknya dia hanya tersenyum tipis. Cara Rafa yang seperti ini saja sudah membuatnya bahagia. Rafa yang begitu berubah yang terlihat sekarang lebih dekat padanya dan bahkan mengajaknya berbicara.
Padahal Rafa sendiri yang sebelumnya mengatakan dia benar-benar marah dengan perbuatan Asyifa selama berada di tempat itu. Tidak di sangka Amarah Rafa tiba-tiba menghilang dan lebih manis sekarang kepadanya. Mungkin saja Rafa di rasuki penghuni laut. Makanya berubah dengan tiba-tiba.
"Kak Rafa tidak juga mengatakan sama-sama?" tanya Asyifa yang sepertinya masih menunggu hal itu.
"Apa itu sepenting itu untukmu?" tanya Rafa. Asyifa mengangguk memang baginya itu hal yang sangat penting.
Rafa berkacak pinggang menghadap Asyifa dengan melihat lautan di belakang Asyifa.
"Ikut denganku!" ajak Rafa yang menarik tangan Asyifa yang membuat Asyifa bingung apa yang di lakukan Rafa kepadanya.
"Mau kemana kak Rafa?" tanya Asyifa heran.
Rafa tidak menjawab pertanyaan Asyifa dan terus membawa Asyifa sampai Akhirnya mereka berada di dekat pantai yang membuat Asyifa heran karena ada Jets Ki di dekat mereka.
"Kita mau ngapain kak Rafa?" tanya Asyifa heran.
"Naik ini!" jawab Rafa membuat Asyifa terkejut yang dia tidak ada persiapan untuk menaiki itu.
"Kenapa? kau takut?" tebak Rafa yang memperhatikan wajah Asyifa yang sepertinya sangat ragu untuk menaikinya. Padahal Asyifa sebelumnya hanya mengatakan takut dengan ketinggian.
"Eh Asyifa!" tegur Rafa yang sejak tadi Asyifa melamun.
"Siapa yang takut," sahut Asyifa gugup.
"Kalau begitu ayo naik," ajak Rafa yang menantang Asyifa.
Rafa bahkan sudah memakai alat pelampung yang di berikan petugas. Namun Asyifa belum melakukannya sampai Rafa akhirnya mengambil pelampung dari tangan petugas dan langsung memakaikan pada Asyifa.
"Katanya tidak takut. Tetapi wajahnya panik," ejek Rafa melihat wajah Asyifa membuat Asyifa menelan salivanya dan membiarkan Rafa untuk memakaikannya pelampung pada istrinya dengan sangat hati-hati. Rafa bahkan menyunggingkan senyumnya yang melihat eksperesi Asyifa yang terlihat ada sesuatu.
Asyifa terlihat gugup. Tidak tau apa yang dipikirkannya. Namun jantungnya memang berdebar kencang.
"Apa kau siap Asyifa?" tanya Rafa.
"Bismillah Asyifa siap," jawab Asyifa.
"Peganglah tanganku. Aku lihat kau begitu gugup. Kau juga sangat takut," ucap Rafa. Asyifa dengan perlahan memegang pinggang Rafa. Rafa menyunggingkan senyumnya.
"Kita let's go," sahut Rafa yang langsung menjalankan speed boat tersebut dengan kencang dan yang benar saja Asyifa langsung memegang pinggang Rafa begitu kuat seakan dia takut jatuh dan Rafa merasakan hal itu yang sangat menikmati apa yang di lakukan Asyifa dengan merasakan getaran di tubuh Asyifa yang ketakutan.
"Ada apa dengamu Asyifa. Bukannya kau itu sangat pemberani. Lalu kenapa tiba-tiba menjadi penakut," ucap Rafa dengan sedikit berteriak yang mengejek Asyifa.
Ya Rafa juga tidak tau. Wanita yang terus memperlihatkan kemampuannya dan sekarang berada di belakangnya yang seolah takut. Seharusnya Rafa punya kaca spion biar bisa melihat eksperesi Asyifa yang pasti begitu menyenangkan untuk di pandangi yang memang hanya memegang erat Rafa. Yang seperti takut di lepaskan oleh Rafa dan jatuh kelautan.
Meski terlihat Asyifa takut. Tidak membuat Rafa untuk berhenti. Rafa memang sangat hobi bermain Jets Ki dan dia juga sebenarnya penasaran apa Asyifa bisa menaiki speed boat. Namun saat tadi Rafa mengajaknya Asyifa kelihatannya tidak bisa menaikinya dan makanya hanya diam saja. Yang membuat Rafa harus membonceng istrinya itu yang masih saja ketakutan sampai detik ini dengan memeluk erat pinggangnya.
"Kak Rafa apa tidak bisa udahan," ucap Asyifa.
"Kenapa? apa kau takut. Ini sangat menyenangkan Asyifa. Jadi untuk apa berhenti," jawab Rafa.
"Tapi Asyifa mual kak Rafa," sahut Asyifa yang sepertinya mabuk laut. Rafa sepertinya ini hari kebahagiannya yang gantian melihat semua kelemahannya Asyifa membuatnya benar-benar harus berterima kasih dengan hari ini.
Karena sepertinya Asyifa memang tidak kuat menaikkan Jets Ki belum lagi Rafa juga begitu kencang mengendarainya dan Asyifa sudah mengeluh mual. Akhirnya Rafa menghentikannya yang mereka berdua sudah berada di daratan dan Asyifa langsung menuruni Jest Ki dengan cepat dan yang benar saja Asyifa langsung mual-mual membuat Rafa geleng-geleng dan menghampiri istrinya yang memuntahkan apa yang barusan di makannya saat bersama Rafa tadi.
"Ada-ada saja," gumam Rafa dengan gelang-gelang dan langsung pergi dan tidak lama Rafa kembali yang ternyata mengambilkan air putih untuk Asyifa.
__ADS_1
"Minumlah!" titah Rafa yang langsung memberikan Asyifa air tersebut yang tutup botolnya sudah di buka dan Asyifa mengangguk yang langsung meraihnya dan meminumnya.
"Kau itu bukannya mengatakan menyukai laut. Lalu kenapa bisa mabuk laut," ucap Rafa.
"Bagaimana tidak mabuk kak Rafa sangat kencang dan mengerikan. Asyifa kan takut," ucap Asyifa dengan mengeluhkan keadaannya.
"Jadi benar. Kau itu sekarang ketakutan. Astaga Asyifa. Kau itu ternyata cemen juga ya. Hanya Jets Ki aja bisa setakut itu. Aku sampai tidak percaya," ucap Rafa berkacak pinggang yang sangat menyenangkan untuk mengejek Asyifa.
"Kak Rafa jangan terus mengatakan hal itu," sahut Asyifa dengan wajah cemberutnya.
"Makanya kalau tidak bisa menaikinya jangan sok-sokan. Pakai santai segala lagi. Memang tidak bisa apa mengatakan takut. Dasar gengsi bilang aja tidak mau kalah dari ku," ucap Rafa.
Asyifa hanya diam saja yang tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ya dia juga tidak tau mau bicara apa lagi dengan Rafa yang sekarang sudah mengejeknya habis-habisan.
"Ayo ikut denganku!" ajak Rafa.
"Mau kemana?" tanya Asyifa heran.
"Cari obat mual. Kondisi mu tidak baik. Wajahmu juga pucat," jawab Rafa yang kembali lagi begitu perhatian pada Asyifa yang membuat Asyifa tersenyum.
"Kenapa masih berdiri di situ. Ayo buruan!" ajak Rafa lagi. Asyifa mengangguk-angguk dan langsung pergi mengikuti Rafa.
**********
Rafa dan Asyifa duduk di salah satu bangku yang masih berada di dekat pantai dan terlihat Asyifa meminum obat mual yang tadi di belikan Rafa padanya dan Rafa duduk di sampingnya yang menunggu Asyifa menelan obat itu.
"Bagaimana?" tanya Rafa.
"Sudah mendingan kak," jawab Asyifa yang memang sudah merasa jauh lebih enak.
"Makanlah ini," ucap Rafa yang memberikan nasi bowl.
"Apa ini?" tanya Asyifa.
"Sarapan yang kau makan sudah habis di keluarkan semua. Wajahmu juga pucat. Jadi makanlah. Biar bertenaga," ucap Rafa dengan lembut yang terlihat sangat perhatian pada Asyifa.
"Makasih kak Rafa," ucap Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya dan Asyifa membuka nasi bowl tersebut dan langsung memakannya.
"Kalau sudah muak makan juga tidak selera lagi," keluh Asyifa yang memang tidak semangat untuk makan.
"Itu karena kesalahan mu sendiri. Makanya lain kali jangan sok-sokan dan merasa paling hebat," ucap Rafa.
Asyifa hanya mengangguk saja.
"Cepat makan jangan di lihati terus," tegas Rafa. Lagi dan lagi Asyifa mengangguk dan memakannya.
"Kau benar-benar tidak bisa menaiki wahana laut?" tanya Rafa yang terlihat masih penasaran dengan Asyifa.
"Tidak semuanya sih. Asyifa suka laut. Suka berada di atas laut, suka gelombang laut, suka dalam laut dan suka berada di atas kapal laut. Asyifa sangat suka semuanya. Namu. untuk menaiki Jets Ki. Asyifa tidak berani Azka yang berani karena Azka sangat suka permainan di lautan, dari Jest Ki sampai surfing dengan papan selancar di gelombak ombak ya Azka sangat ahli namun Asyifa tidak sepintar Azka," ucap Asyifa sembari mengunyah makanan di mulutnya.
"Bukannya kau sangat ahli dalam segala hal. Lalu kenapa hal yang tidak ada apa-apanya itu kau malah tidak bisa?" tanya Rafa.
"Kak Rafa manusia itu tidak ada yang sempurna dan punya kelemahan dan mungkin hal seperti itu Asyifa tidak bisa karena Asyifa sering mabuk laut," jawab Asyifa dengan simple yang memang apa adanya.
"Bukannya bagi mama kau itu sangat sempurna dan bisa melakukan apapun. Bagi mama kau itu menantu yang sempurna yang seperti tidak ada menandinginya," ucap Rafa.
"Menjadi menjadi menantu sempurna. Apalah artinya jika suaminya tidak bisa melihat itu," sahut Asyifa menoleh ke arah Rafa yang Rafa juga melihatnya yang membuat mata mereka saking bertemu.
__ADS_1
Bersambung.