Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 221


__ADS_3

Hari ini adalah hari operasi Rafa. Hari yang sangat menegangkan dan semua keluarga juga datang untuk memberikan doanya pada Rafa.


Hanya Asyifa yang berada di ruangan perawatan suaminya yang sedang di persiapkan Suster. Sementara keluarga yang lain menunggu di luar. Rafa sendiri tidak sadarkan diri dan tidak tau apa karena obat bius atau karena kondisinya yang melemah dan sampai tidak sadarkan diri.


Asyifa yang berdiri di samping suaminya meraih tangan suaminya dan dan Asyifa sedikit membungkuk mendekatkan mulutnya pada telinga suaminya.


"Asyifa sangat mencintai kak Rafa. Asyifa tau kak Rafa pasti berjuang untuk hidup demi Asyifa dan anak kita. Tetapi jika perjuangan itu menyakitkan untuk kak Rafa tidak apa-apa kak Rafa. Jika ingin pergi, maka pergilah, Asyifa tidak ingin kak Rafa tersiksa. Asyifa benar-benar sangat mencintai kak Rafa dan Asyifa percaya Allah pasti akan mempertemukan kita nanti," ucap Asyifa yang meneteskan air matanya.


Asyifa mencium lembut kening suaminya, juga mencium pipi suaminya dengan air matanya yang terus mengalir.


"Makasih kak Rafa sudah menjadi suami yang sangat bertanggung jawab untuk Asyifa. Makasih kak Rafa untuk semua ini. Asyifa benar-benar sangat bahagia. Terima kasih kak Rafa dengan waktu yang sedikit ini," ucap Asyifa yang menatap nanar suaminya itu.


"Bu Asyifa pak Rafa harus segera di bawa keruang operasi," sahut Suster.


"Baik suster," sahut Asyifa dengan helaan napasnya yang berusaha untuk kuat. Dia kerap kali bicara seakan sudah ikhlas. Namun ternyata tidak semudah itu hatinya pasti sangat berat menerima kenyataan nantinya bagaimana.


Setelah Rafa sudah selesai di persiapkan, suster-suster tersebut mendorong tempat tidur itu dan mengeluarkannya dari kamar yang di ikuti Asyifa dan semua keluarga juga menunggu Asyifa dan Rafa.


Rania langsung merangkul putrinya memeberikan ketenangan untuk putrinya itu dengan kekuatan agar putrinya tabah.


Sementara Shofia juga mencium kening Rafa, begitu juga dengan Xander memegang tangan Rafa, Shania dan Zee juga seperti terlihat melakukan perpisahan pada Rafa.


"Kak Rafa kakak yang sangat kuat dan kak Rafa pasti bisa melewati semua ini. Zee sangat yakin itu," ucap Zee yang tidak dapat membendung air matanya.


Abian sang sunami berusaha untuk menguatkan istrinya dengan mengelus-elus pundak istrinya itu.


"Kami akan secepatnya membawanya keruang operasi karena operasinya akan di mulai. Mohon keluarga untuk menunggu," ucap Suster.


"Baik Suster," sahut Xander dan Rafa kembali di dorong menuju ruang operasi yang keluarga juga mengikut sampai akhirnya Rafa di masukkan keruang operasi dan Asyifa tidak melepas matanya sama sekali saat melihat suaminya itu sampai pintu akhirnya di tutup.


"Kita berdoa ya sayang," ucap Rania. Asyifa mengangguk-anggukkan saja kepahanya.

__ADS_1


Tidak lama Dokter Rendy pun akhirnya datang yang pasti menjadi dokter yang menangani Rafa.


"Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya," ucap Shofia yang sangat berharap banyak untuk kesembuhan Rafa pada besannya itu.


"Ibu Shofia kami sebagai Dokter akan berusaha semaksimal kami. Tetapi kembali lagi kita serahkan semuanya kepada Allah. Karena ketentuan hanya darinya," ucap Rendy yang memang itu kata-kata yang sering di ucapkannya pada keluarga pasien.


Rendy menghampiri Asyifa dengan memegang ke-2 pipi Asyifa dan mencium kening Asyifa.


"Ayah pasti akan melakukan yang terbaik, kamu harus berdoa ya dan semoga saja Allah angkat penyakit suami kamu," ucap Rendy. Asyifa mengangguk-angguk dengan memeluk ayahnya itu tanpa adalagi yang harus di katakannya. Tidak lama berpelukan Rendy melepas pelukan itu.


"Ayah masuk dulu. Permisi semuanya!" ucap Rendy yang akhirnya masuk kedalam ruang operasi dan meninggalkan yang lainnya.


"Asyifa mau ke mesjid ibu," ucap Asyifa yang pasti ingin berdoa di mesjid.


"Iya nak, ibu temani ya," sahut Rania yang langsung membawa putrinya untuk ke mesjid.


**********


Shania, Ardi, Zee, Abian, Shofia, Xander dan Azka, juga Rabia sedang menunggu di depan ruangan pintu operasi yang sudah menunggu beberapa jam sementara Asyifa tidak ada di sana yang tadinya Rania sempat menemaninya di masjid yang ada di sebrang rumah sakit.


Rania dan beberapa keluarga yang sempat bolak balik untuk sholat secara bergantian tadi juga sudah kembali. Namun Asyifa tetap ada di sana.


"Kak Asyifa masih di mesjid Bu?" tanya Azka.


"Iya Azka," jawab Rania.


"Ibu kenapa keluarga kita di coba dengan sakit. Kakek juga sakit parah sampai Tante Willo tidak bisa datang kemari dan kak Rafa juga sakit dan sekarang operasi," ucap Azka yang memegang tangan ibunya.


"Sakit itu juga Rahmat Azka dan orang yang mendapatkan sakit dosanya akan di kurangi. Jadi percayalah semua cobaan akan ada hikmahnya. Kita berdoa saja yang terbaik untuk kakak ipar kamu dan di beri kekuatan untuk kakak kamu," ucap Rania yang menjawab pertanyaan anaknya.


"Iya ibu," sahut Azka.

__ADS_1


"Meski kak Rafa sangat menyebalkan. Tetapi dia sangat baik. Ya Allah beri dia kesembuhan dia masih harus membahagiakan kakakku. Jadi aku mohon ya Allah jangan bawa dia dulu. Aku tidak bisa melihat kak Asyifa akan sedih terus," batin Azka yang berdoa untuk kakak iparnya tersebut.


Sementara di ruang operasi Rafa masih di tangani dengan ruangan yang begitu hening dan hanya terdengar suara mesin jantung yang sangat kuat dengan tangan-tangan Dokter yang bekerja menjalankan tugasnya.


Sementara Asyifa masih berdoa dengan ke-2 tangannya yang mengadahkan ke atas meminta pada Tuhannya.


"Ya Allah, sesungguhnya suami hambah hanyalah milikmu saja ya Allah. Hambah berserah kepadamu ya Allah hamba ikhlas dengan setiap keputusan dan ketentuan dari mu ya Allah. Ya Allah jika memang sudah waktunya maka ambillah dia. Engkau lebih menyayanginya dan hamba yakin engkau tidak ingin melihatnya menderita. Maka hamba sebagai manusia hanya bisa ikhlas ya Allah,"


"Perasaan takut hambah hilangkan lah dan ubahlah menjadi rasa yang penuh dengan keikhlasan. Jika sudah jalan kami seperti ini maka pertemukan lah kami di surga nanti. Hambah ikhlas dengan semua yang engkau berikan ini kepada hambah, hamba ikhlas ya Allah," ucap Asyifa dengan air matanya yang mengalir deras dalam setiap kata yang di ucapkannya.


Keegoisannya untuk meminta suaminya kembali ke sisinya runtuh dengan keikhlasan yang mencintai suaminya karena Allah dan sadar suaminya bukan miliknya dan Asyifa ikhlas jika sang pemilik mengambil suaminya. Karena Asyifa sadar itu demi kebaikan suaminya.


tit-tit-tit-tit-tit-tit- tit-tit-tit-tit-tit-tit.


Suara mesin jantung yang tidak stabil di ruangan operasi Rafa terdengar kuat.


"Dokter jantungnya melemah," sahut Suster membuat Rendy melihat ke monitor jantung dan ternyata sudah lurus yang membuat Rendy kaget.


"Siapakan alat pompa jantung!" titah Rendy. Suster mengangguk dan langsung menyiapkannya.


Kondisi Rafa kritis dengan jantung yang sudah turun dan Dokter melakukan pompa jantung dengan hasil yang belum berubah.


Keluarga semakin panik menunggu di luar dengan perasaan yang pasti tidak tenang dan Asyifa terus berdoa di dalam mesjid dengan air matanya yang mengalir yang berusaha untuk ikhlas, untuk kuat. Walau dia manusi biasa.


Terbayang kebersamaannya dengan suaminya. Hal yang singkat yang begitu indah membuat Asyifa semakin mewek dengan suaminya yang di dalam ruang operasi yang sedang berjuang. Randy yang memompa jantung Rafa berkali-kali dengan keringat yang langsung di lap suster.


Sampai akhirnya Rendy selesai memompa jantung itu dengan napas yang naik turun dengan melihat menantunya yang pucat.


"Maafkan ayah Asyifa," ucap Rendy dengan meneteskan air matanya.


Suster dan Dokter yang lainnya saling melihat dengan wajah senduh mereka yang juga terlihat sangat sedih dengan melihat Dokter Rendy yang meneteskan air mata yang menatap menantunya yang tidak membuka matanya dan monitor jantung yang sudah tidak berdetak dengan harus lurus

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2