Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 251


__ADS_3

"Jadi benar selama ini. Anak yang kamu kandung itu bukan anak kak Dedi dan kamu menuduh kak Dedi untuk memfitnah kamu," ucap Lulu.


"Iya itu benar dan tidak ada yang salah dalam hal itu. Itu adalah kebenarannya. Aku hanya memanfaatkan Dedi. Maafkan aku, maaf Tante, Lulu atas semua ini," ucap Syira yang menunduk.


"Kenapa kamu melakukan semua ini Syira. Kenapa tidak mengatakan apa-apa pada papa dan mama kenapa harus menyembunyikan semua ini!" ucap Danu menekan suaranya.


"Aku sudah menjelaskan alasannya dan maafkan aku pah. Maafkan aku mah dan aku akan menerima hukuman apapun dari kalian," ucap Syira.


"Lalu siapa orang yang sudah melakukan semua itu?" tanya Sahila.


"Dia sudah di penjara dan Syira berharap juga tidak akan pernah bertemu lagi dengannya," ucap Syira.


"Baiklah Syira sudah menjelaskan semuanya dan mengakui semuanya. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf dengan semua yang saya lakukan kepada kalian semua. Saya benar-benar minta maaf dan dengan semua yang sudah saya akui ini. Saya juga akan menerima konsekuensinya dengan mengakhiri hubungan saya dengan Dedi," ucap Syira dengan keputusannya.


"Ma pa, ayo pulang. Syira sudah tidak berhak lagi di rumah ini," ucap Syira.


"Assalamualaikum," ucap Syira sebelum pamit dan Syira pun langsing menyeret kopernya.


"Kami permisi! Mohon maaf atas apa yang terjadi. Assalamualaikum," ucap Sahila yang juga pamit yang juga di susul Danu yang sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi atau mencari pembelaan lagi.


Karena yang adanya dia hanya malu dengan perbuatan Syira dan apalagi sebelumnya dia sudah memaki, membawa-bawa polisi untuk pertanggung jawaban Dedi. Tetapi pada kenyataannya Dedi tidak salah sama sekali.


Willo mengusap wajahnya setelah kepergian Syira dan keluarganya. Lulu menghampiri sang mama.


"Apa mama baik-baik aja?" tanya Lulu dengan mengusap bahu mamanya.


"Mama tidak tau Lulu apa yang harus mama lakukan. Mama benar-benar bingung dan tidak bisa berkata-kata," ucap Willo yang masih belum bisa memahami situasi yang barusan terjadi.


"Ini memang sangat sulit mah. Tetapi kita sudah tau kebenarannya dan itu artinya kita bisa melihat bagaimana situasi kedepannya," ucap Lulu.


"Entahlah Lulu. Mama juga tidak tau apa yang harus mama lakukan, mama bingung dan tidak tau harus apa," sahut Willo. Butuh waktu untuk memahami situasi. Makanya saat tadi Syira panjang lebar bicara Willo belum bisa berpendapat.


"Ya sudah mama sebaiknya istirahat dulu, kita pikirkan masalah ini lain nanti saja," ucap Lulu. Willo menganggukkan kepalanya yang menurut saja. Dia memang butuh ketenangan untuk berpikir.


Sementara Syira sudah memasuki mobil orang tuanya dengan Syira yang terakhir kalinya melihat rumah itu.


"Ini konsekuensi yang aku dapatkan dari perbuatanku sendiri dan ini adalah hukuman pertama untukku," batin Syira dengan menyeka air matanya yang melihat rumah itu dari dalam mobil.

__ADS_1


Danu tidak mengatakan apa-apa dan langsung menyalakan mobil meninggalkan tempat itu.


Ternyata dari lantai 2 rumah Dedi. Dedi berdiri di sana dan menyaksikan kepergian Syira. Hanya berdiri dengan ke-2 tangannya berada di dalam saku celananya. Dedi tidak mencegah atau bicara sama sekali. Dedi hanya melihat ke pergian itu dengan ekspresi yang sulit di tebak. Dengan aura dingin yang terpancar.


***********


Malam hari yang semakin larut. Rafa yang tertidur nyenyak di kamarnya. Namun tidak ada Asyifa di sampingnya yang tidak tau juga di mana Asyifa malam-malam seperti ini.


"Kak Rafa!" teriak Asyifa yang berada di dalam kamar mandi.


Rafa langsung terbangun saat mendengar suara itu dengan Rafa yang memijat kepalanya dan menoleh ke sampingnya.


"Asyifa!" lirihnya.


"Kak Rafa, tolong Asyifa," ucap Asyifa dari kamar mandi yang mengeluarkan suara kesakitan.


"Asyifa!" Rafa yang begitu panik langsung turun dari ranjang dan Asyifa langsung menuju kamar mandi.


Ceklek.


Rafa yang membuka pintu kamar mandi yang langsung terkejut melihat ke Asifa yang terduduk di lantai.


"Sayang apa yang terjadi?" tanya Rafa panik dan melihat cairan mengalir di paha istrinya.


"Sayang kamu baik-baik aja?" tanya Rafa dengan panik.


"Sakit kak, sakit!" keluh Asyifa.


"Kita kerumah sakit," Rafa tidak tinggal diam dan buru-buru langsung menggendong istrinya untuk kerumah sakit.


Rafa buru-buru keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamar.


"Mah, pah! Mah!" Rafa berteriak memanggil orang-orang yang ada di rumahnya sampai akhirnya penghuni rumah keluar dari kamar masing-masing.


"Ada apa Rafa?" tanya Shofia. Namun melihat Asyifa yang di gendong seperti itu membuat Shofia kaget dan apa lagi melihat Asyifa pecah ketuban.


"Asyifa mau melahirkan!" ucap Shofia.

__ADS_1


"Tidak tau mah. Asyifa mengeluh ke sakitan," jawab Rafa.


"Asyifa sudah pecah ketuban. Itu artinya Asyifa mau melahirkan," sahut Shania.


"Kalau begitu sekarang ayo kita bawa Asyifa ke rumah sakit," sahut Ardi.


"Iya ayo buruan," sahut Xander.


"Aku di rumah ya. Jaga Aqela besok baru menyusul," sahut Shania yang tidak mungkin meninggalkan putrinya.


"Kalau begitu aku minta tolong sama kakak untuk hubungi ayah dan ibu," ucap Rafa yang harus mengabari mertuanya itu.


"Baiklah Rafa kami jangan khawatir. Sekarang kalian duluan kerumah sakit kasihan Asyifa," ucap Rafa.


"Baik kak," sahut Rafa dan yang lainnya langsung buru-buru untuk pergi ke rumah sakit. Karena kondisi Asyifa yang semakin parah.


Astaga baru memasuki bulan ke-9 dan sudah mau melahirkan mungkin memang prediksi Dokter terkadang salah.


***********


Asyifa langsung di larikan ke rumah sakit untuk segera di tangani Dokter. Untung saja. Rafa, Shofia, Xander dan Ardi cepat sampai rumah sakit.


Mereka baru turun dari mobil dengan bersamaan mobil Abian juga sudah tiba yang ternyata Shania juga mengabari Zee.


"Bagaimana keadaan kak Asyifa?" tanya Zee panik.


"Kamu bisa lihat sendiri," jawab Rafa yang membantu Suster untuk membaringkan istrinya di tempat tidur Dokter.


Semuanya panik dan ikut mendorong tempat tidur tersebut bersama suster-suster yang bertugas yang membawa Asyifa ke ruang persalinan.


Keluarga Asyifa sendiri juga panik yang baru saja mendapatkan telpon dari Shania.


"Azka ayo cepat!" panggil Rania yang sudah menunggu di ruang tamu dengan gelisah.


"Iya Ibu sebentar," sahut Azka yang buru-buru menuruni anak tangga.


"Ya sudah kita sudah selesai. Sekarang kita ke rumah sakit," sahut Rendy.

__ADS_1


"Iya ayah," sahut Azka dan mereka semua buru-buru pergi kerumah sakit untuk melihat ke adaan Asyifa yang akan melahirkan cucu pertama mereka. Jadi sangat wajar jika mereka begitu panik.


Bersambung.


__ADS_2