
Rafa belum tidur juga. Setelah selesai sholat tahajud dia tidak tidur dan malah terus memeluk Asyifa yang wajah Asyifa tertidur begitu cantik yang membuat Rafa terus menatap wajah istrinya itu dengan sembari beberapa kali mencium pucuk kepala istrinya.
"Aku juga tidak ingin Asyifa berpisah darimu. Aku selalu ingin berada di sisimu dengan melanjutkan semua mimpi-mimpi kita bersama dengan kita yang melangkah berbarengan. Aku juga tidak ingin Asyifa semuanya seperti ini. Maafkan aku yang juga tidak memberitahumu dengan apa yang terjadi dan semua ini aku lakukan. Karena aku tidak mau kamu mengkhawatirkan ku," batin Rafa yang sebenarnya merasa bersalah karena telah menutupi hal besar dari sang istri. Namun seperti tidak punya pilihan lain dan Rafa hanya bisa melakukan itu.
"Sayang aku juga pasti sangat berusaha untuk sembuh dan ketakutan kamu tidak akan pernah terjadi. Aku pasti berusaha sayang. Aku tidak akan pergi dari kamu dan juga anak kita. Aku tidak akan pergi dan akan terus mendampingi kamu," batin Rafa yang sekarang semangatnya jauh lebih tinggi.
Semua demi istrinya. Dia harus semangat, harus berusaha, harus bertahan. Karena kelemahan istrinya adalah dirinya dan dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Rafa kembali mencium pucuk kepala Asyifa dan menarik Asyifa kedalam pelukannya lebih erat lagi.
"Aku mencintaimu istriku. Walau kematian akan memisahkannya kita. Aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia selagi masih banyak kesempatan yang di berikan kepadaku," ucap Rafa sebelum dia memejamkan matanya.
*********
Sama dengan Rendy yang ternyata tidak bisa tertidur yang bersandar pada kepala ranjang yang penuh dengan beban pikiran dengan Rendy yang membaca buku medis dunia kedokteran. Meski sudah menjadi Dokter hebat. Namun Rendy tidak pernah berhenti belajar dan terus belajar.
Tidak tidurnya Rendy membuat istrinya Rania bangun dengan Rania yang masih mengantuk dengan mengucek matanya yang melihat suaminya masih saja belum tidur.
"Sayang!" tegur Rania membuat Rendy melihat kearah Rania.
"Kenapa belum tidur?" tanya Rania.
"Masih belum mengantuk," jawab Rendy.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Rania. Pasti ada sesuatu sampai membuat suaminya itu belum tidur. Namun Rendy tidak menjawab pertanyaan istrinya membuat Rania bergeser duduk dan sama-sama bersandar pada kepala ranjang seperti suaminya.
"Baca apa?" tanya Rania.
"Mempelajari kanker usus," jawab Rendy.
"Apa ada pasien yang kamu tangani dan menderita kanker usus?" tanya Rania menebak-nebak.
__ADS_1
"Iya. Aku baru menangani pasien seperti ini baru beberapa orang saja. Sangat terhitung dan terakhir 1 tahun lalu yang gagal dalam operasi dan akhirnya meninggal," jawab Rendy.
"Dan kamu takut akan terjadi lagi?" tanya Rania.
"Kematian hanya milik Allah. Aku hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik pada pasien kali ini dan semoga Allah memberi petunjuk," jawan Rendy.
"Sayang aku tau kamu itu Dokter yang anti dengan gagal. Dan kamu akan menyalahkan diri kamu sendiri. Ketika kamu juga gagal lagi dalam operasi. Tetapi bukannya kamu mengatakan kematian itu hanya milik Allah dan kamu Dokter adalah perantaraan yang berusaha sebaik mungkin. Jadi jangan berlebihan untuk hal ini. Atau kamu malah takut melakukannya," ucap Rania memberikan saran pada suaminya.
"Kamu benar sayang. Namun effort dalam usahaku harus lebih kuat dan ketakutan juga sangat besar kali ini," ucap Rendy melihat sang istri.
"Kenapa? apa pasiennya sangat berkesan?" tanya Rania.
"Semua pasien itu sama dan walau itu menantu kita sendiri. Namun jelas ketakutan jauh lebih besar," ucap Rendy.
Namun Rania kaget saat mendengar ada kata yang di ucapkan suaminya itu.
"Sayang tunggu dulu! kamu bilang apa! menantu?" tanya Rania dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak sangat kencang tidak seperti biasanya.
"Rafa menderita kanker usus?" tanya Rania dengan bibir yang bergetar memastikannya.
"Iya. Ada tumor di usus Rafa dan berpengaruh pada pencernaan dan juga paru-parunya dan semua ini baru di ketahui ketika dia periksa," jelas Rendy kepada istrinya.
Rania begitu shock mendengarnya dengan menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya dan bahkan air matanya jatuh di pipinya. Kala mendengar musibah yang di alami menantunya.
"Inalillahi," lirih Rania dengan tubuh yang bergetar dengan apa yang di rasakannya yang pasti ikut hancur dengan musibah yang di hadapi menantunya.
"Aku juga tidak percaya dengan hal ini. Namun ini sungguhan dan ini yang terjadi," ucap Rendy.
"Ya Allah Rafa. Lalu bagaimana dengan Asyifa. Asyifa tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Asyifa pasti sangat terpukul dengan berita ini?" tanya Rania yang mengkhawatirkan putrinya.
__ADS_1
"Asyifa tidak tau hal sebesar ini," jawab Rendy membuat Rabia lebih kaget lagi dengan dahinya yang mengkerut.
"Apa maksudmu kamu sayang. Asyifa tidak tau Rafa mengalami sakit separah ini?" tanya Rania sekali lagi.
"Kamu benar sayang. Asyifa tidak tau sama sekali dan semua ini permintaan Rafa. Bukan hanya Asyifa yang tidak tau. Tetapi juga keluarganya yang mungkin tidak tau sampai sekarang," jelas Rendy yang membuat Rania semakin kaget.
"Kenapa sayang? kenapa Rafa tidak ingin Asyifa tau. Ini masalah yang sangat besar?" tanya Rania.
"Dia tidak ingin Asyifa khawatir dan terus memikirkan Rafa. Jadi Rafa tidak ingin istrinya kenapa-kenapa dan apa lagi Asyifa juga hamil. Rafa memikirkan kesehatan Asyifa," jawab Rendy dengan penjelasan sedikit.
"Tapi sayang ini hal yang sangat besar dan mana mungkin Asyifa tidak boleh tau," ucap Rania.
"Sayang ini keinginan Rafa dan aku tidak bisa apa-apa. Aku juga tidak setuju. Tetapi apa yang bisa aku lakukan sayang selain menuruti kemauan Rafa dan aku tidak mungkin tidak memberitahu kamu masalah sebesar ini," jawab Rendy.
"Astagfirullah," lirih Rania dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah cobaan apa lagi yang engkau berikan kepada keluarga kami. Menantu kami sedang sakit parah. Hambah memohon ya Allah untuk engkau yang memberikan mukjizat mu mengambil sakitnya. Berikan Rafa menantu kami kesembuhan dan berikan dia kekuatan untuk menghadapi semua ini ya Allah," ucap Rania yang berdoa penuh dengan ketulusan pada menantunya.
Rendy langsung membawa sang istri kedalam pelukannya yang memeluk istrinya memeberikan ketenangan.
"Aku juga sama kagetnya seperti kamu sayang. Kita tidak pernah tau apa yang terjadi dengan kehidupan kita kedepannya dan Allah sekarang menguji keluarga kita dengan memberikan sakit kepada menantu kita. Kita akan terus berdoa untuk kesembuhan Rafa. Hanya itu yang bisa kita lakukan dan aku juga pasti akan berusaha sebagai Dokter untuk kesembuhan Rafa," ucap Rendy dengan perkataan yang penuh dengan ketulusan.
"Kasihan Rafa dan Asyifa yang pernikahan mereka terus di uji. Dan sebenarnya semua ini salah sayang. Sangat salah jika kita tidak memberitahu Asyifa yang adanya Asyifa akan semakin terluka jika dia tidak di beritahu," ucap Rania yang tidak setuju dengan keputusan Rafa.
"Selama ini Rafa bersama Asyifa. Dia yang tau bagaimana Asyifa dan tau cara membuat Asyifa bahagia sah takut dengan Asyifa yang sedih. Jadi Rafa yang tau Asyifa. Dia pasti sudah memikirkan hal ini dengan matang-matang. Jadi kita juga harus memberikan Rafa kesempatan untuk hal ini," ucap Rendy yang memahami perasaan menantunya dan membuat istrinya juga mengerti.
"Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar dan Rafa pelan-pelan bisa memberitahu Asyifa dengan semu ini," ucap Rania yang masih berharap Rafa mengubah keputusannya.
"Aku juga berharap yang sama kita doakan saja yang terbaik dan aku akan terus menanganinya dan melakukan yang terbaik untuk Rafa," sahut Rendy dengan harapannya yang sama.
__ADS_1
Rendy sebagai Dokter yang menangani menantunya sendiri pasti juga sangat khawatir dan ketakutan itu pasti ada. Walau nyawa di tangan tuhan. Namun dia yang akan mengoperasi Rafa dan harapan Rafa juga ada di tangannya dan itu yang membuat Rendy penuh dengan rasa khawatir dan takut.
Bersambung