
Selang beberapa detik ciuman itu akhirnya selesai dengan Rafa melepas tautan bibirnya dari istrinya dengan mereka yang sama-sama membuka mata, Rafa tersenyum dengan mengusap lembut bibir basah istrinya dengan jempolnya.
"Teruslah cemburu kepadaku," ucap Rafa dengan suara seraknya yang sangat suka dengan Asyifa yang cemburuan. Rafa kembali mencium bibir Asyifa sebagai penutupan dengan mengecupnya sekilas. Lalu mencium lembut kening Asyifa dengan Asyifa yang memejamkan matanya.
Rafa benar-benar sangat merindukan Asyifa, sampai-sampai kecupan tidak henti di berikannya, Rafa juga mencium pipi Asyifa yang merah merona. Pipi kanan dan kiri yang secara bergantian, bahkan mencium ujung bibir Asyifa lagi. Asyifa hanya pasrah dengan semua kecupan yang di berikan kepadanya. Ya mau bagaimana lagi itu sudah harus di dapatkannya karena suaminya sudah tidak tertolong lagi.
Ada niat Rafa untuk kembali melakukan adegan ciuman.
Tingnong. Tingnong. Harus gagal dengan bel yang berbunyi membuat Asyifa tersenyum saat suaminya tidak jadi mencium bibirnya lagi. Namun Rafa tampak tidak marah, dia malah tertawa kecil saat akan gagal ciumannya.
"Mungkin Delivery. Asyifa tadi pesan makanan," ucap Asyifa dengan lembut.
"Bukalah!" titah Rafa. Asyifa menganggukkan kepala nya dan langsung berdiri dari tempat duduknya untuk membuka pintu. Rafa mendengus dengan senyuman, mungkin geli sendiri dengan tingkahnya yang terlalu bucin pada Asyifa.
Tidak lama Asyifa kembali datang dan benar ternyata itu makanan yang barusan di pesannya.
"Kak Rafa mau sarapan?" tanya Asyifa.
"Aku mau istirahat saja," jawab Rafa.
"Ya sudah ayo Asyifa antar kekamar, biar kak Rafa istirahat saja," ucap Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya, Asyifa ingin membawa koper Rafa. Namun Rafa menghentikannya .
"Biar aku yang melakukannya. Kamu tidak perlu melakukannya," ucap Rafa yang tidak ingin istrinya membawa yang berat-berat.
"Baiklah kak Rafa," sahut Asyifa dengan tersenyum dan mereka berdua menaiki anak tangga menuju kamar Asyifa.
Begitu sampai di kamar itu. Kepala Rafa berkeliling melihat isi kamar itu. Pada umunya kamar wanita dan Apartemen itu sejak Asyifa kecil bahkan sebelum lahir sudah ada dan keluarga Asyifa sering berada di sana. Jadi barang-barang Asyifa sejak kecil pun masih ada sampai sekarang. Jadi tidak ada yang berubah dari kamar Asyifa.
Dari sekian benda di ruangan itu. Satu yang mencuri perhatian Rafa yaitu tanaman di atas nakas. Setangkai mawar pemberiannya yang di masukkan kedalam Vas berbentuk gelas panjang. Hanya setangkai tetapi Asyifa sangat menjaganya dan bahkan mengistimewakan mawar itu membuat Rafa tersenyum.
Ada rasa kebanggaan sendiri. Jika pemberiannya sangat di hargai istirinya, membuat Rafa melangkah mendekati nakas itu sementara Asyifa membuka koper Rafa untuk merapikan pakaian Rafa.
Di samping bunga tersebut terdapat buku kecil yabg seperti Diary. Namun bukan itu yang mencuri perhatian Rafa. Tetapi sampul buku tersebut yang di tempel Asyifa dengan kartu ucapan yang di tulisnya saat memberikan mawar itu.
Pagi Rafa benar-benar sangat bahagia. Asyifa sangat menghargai apapun pemberiannya yang membuat Rafa sangat bahagia.
"Kamu menyukai mawar?" tanya Rafa, membuat Asyifa melihat ke arah Rafa.
__ADS_1
"Asyifa suka dengan semua bunga," jawab Asyifa. Bukan karena dia menyukai mawar makanya di buat sangat istimewa. Tetapi itu karena pemberian suaminya yang mana Asyifa menyukai apa yang di berikan suaminya kepadanya.
"Kak Rafa istirahat lah, Asyifa mau kebawah sebentar, mau melanjutkan pekerjaan Asyifa," ucap Asyifa.
"Iya," jawan Rafa.
Asyifa langsung keluar dari kamar, menuruni anak tangga. Namun tadi sebelumnya Asyifa sudah membuka mukenahnnya. Namun tanpa memakai jilbab. Karena dirumah itu tidak ada yang bukan muhrimnya. Jadi tidak apa-apa tidak memakai jilbab.
"Zee kamu sudah bangun?" tanya Asyifa yang melihat Zee sedang meneguk air putih.
"Iya kak," jawab Zee.
"Sejak kapan?" tanya Asyifa.
"Sejak kak Rafa yang tidak tertolong saat bersama kak Rafa," jawab Zee
"Maksud kamu?" tanya Asyifa dengan dahinya mengkerut, "kamu tau kalau kak Rafa datang?" tanya Asyifa.
"Hmmm, tau dan kalian berdua seperti punya dunia sendiri saat di sana!" tunjuk Zee pada kursi di depan jendela. Asyifa menelan salivanya saat mendengar perkataan Zee yang artinya Zee tau semuanya dan itu berati Zee juga melihat dia dan Rafa berciuman dan pasti malu sekali bagi Asyifa sampai Asyifa jadi canggung.
"Nggak nyangka ya kak Rafa datang secepat itu. Ciri-ciri orang yang tidak mau di tinggalkan," ucap Zee dengan geleng-geleng dengan kelakukan kakaknya yang bucinnya sudah tidak tertolong lagi.
Asyifa hanya diam saja yang tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ya dia juga seharusnya hati-hati kalau mesra-mesraan dengan suaminya. Nanti jadi tontonan orang dan buat Asyifa itu adalah hal yang salah. Walau dia sudah menikah dengan Rafa.
**********
Asyifa menyiapkan makanan di dapur. Asyifa memasak untuk menambah lauk yang tadi di belinya. Sudah siang. Dan makanan yang di belinya tadi sudah berkurang. Karena sudah di makan olehnya dan juga Zee. Sementara Rafa belum makan. Rafa masih istirahat dan mungkin sangat lelah. Jadi tidak sarapan pagi.
Makanya sekarang Asyifa memasak untuk makanan suaminya. Agar saat bangun suaminya bisa menikmati makanan yang di masaknya.
Namun di tengah kesibukannya di depan kompor tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya dengan memeluknya erat yang membuat Asyifa kaget yang siapa lagi jika bukan Rafa yang sekarang menempelkan pipinya di pipi Asyifa.
"Kak Rafa!" lirih Asyifa yang tampak kurang nyaman dengan apa yang dilakukan Rafa sampai Asyifa membalikkan tubuhnya dan menunduk yang sepertinya tidak nyaman dengan tindakan Rafa.
"Ada apa Asyifa?" tanya Rafa cukup heran dengan Asyifa yang dari gesture tubuhnya menolak dirinya.
"Kak Rafa, di sini ada Zee, tidak enak jika kita seperti ini dan kalau Zee melihat bagaimana, Asyifa malu," ucap Asyifa dengan gugup membuat Rafa menghela napasnya dan langsung pergi dari hadapan Asyifa.
__ADS_1
Aroma-aromanya Rafa sedang ngambek. Bisa-bisanya moodnya langsung berubah dengan kata-kata Asyifa. Hak itu membuat Asyifa panik sendiri.
"Kak Rafa!" lirih Asyifa yang menghampiri Rafa yang menuang air ke dalam gelas, "apa Asyifa salah bicara?" tanya Asyifa yang takut jika Rafa marah. Rafa malah tidak menjawab membuat Asyifa semakin panik dengan sikap Rafa yang dingin.
"Maafkan Asyifa kak Rafa," ucap Asyifa.
"Ambillah makanku!" titah Rafa dengan suara dinginnya. Asyifa menghela napasnya yang tau jika suaminya itu marah dan Asyifa pasrah yang sekarang mengambil makan suaminnya.
Wajah Rafa sebenarnya terlihat menahan tawa. Terbukti dia tersenyum tipis. Saat sengaja membuat Asyifa panik.
Tidak lama akhirnya Asyifa datang dengan menghidangkan makan suaminya yang mana Rafa masih saja terlihat sangat cool yang membuat Asyifa jadi merasa bersalah.
"Kak Rafa mau pakai lauk apa?" tanya Asyifa.
"Terserah," jawab Rafa dengan ketusnya. Asyifa harus sabar-sabar menghadapi suaminya yang ngambeknya tidak tertolong dan Asyifa memasukkan semua lauk yang ada.
"Makanlah kak Rafa!" ucap Asyifa. Rafa tidak menjawab dan langsung makan. Sementara Asyifa hanya duduk di sampingnya dengan wajah Asyifa yang penuh dengan salah dan hanya melihat suaminya saja yang makan. Sampai Rafa pun akhirnya melihat dirinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Rafa.
"Asyifa tau. Asyifa salah. Asyifa minta maaf kak Rafa. Jangan marah pada Asyifa," ucap Asyifa.
Namun Rafa hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Sudahlah jangan minta maaf, kamu tidak salah dan tidak ada yang marah," sahut Rafa yang kasihan juga dengan Asyifa.
"Jadi kak Rafa tidak marah?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya yang membuat Asyifa tersenyum yang merasa lega.
"Apa kita harus pulangkan Zee ke Indonesia?" tanya Rafa.
"Kenapa harus di pulangkan?" tanya Asyifa.
"Supaya jangan jadi pengganggu," jawab Rafa.
"Kak Rafa, ada-ada aja," sahut Asyifa yang tertawa kecil dan Rafa pun tersenyum tipis.
Bersambung.
__ADS_1