Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 66


__ADS_3

Asyifa tetap menunggu Rafa dengan santai dan tidak lama Rafa pun keluar dari mini market tersebut dan langsung menghampiri istrinya.


"Ini!" ucap Rafa memberikan istrinya minuman botol tersebut.


"Kak Rafa salah, bukan ini," sahut Asyifa yang melihat perbedaan dari apa yang di mintanya.


"Salah bagaimana. Bukannya kamu tadi minta ini," sahut Rafa.


"Kak Rafa Asyifa minta susu rasa strawberry bukan blueberry," sahut Asyifa menekan suaranya dengan dahinya yang mengkerut.


"Alah sama saja yang pentingkan sama-sama ada Berry nya," sahut Rafa dengan santainya.


"Beda dong kok Rafa. Rasanya jelas berbeda," ucap Asyifa dengan kesal.


"Berbeda bagaimana Asyifa. Itu sama saja. Sama-sama ada berrynya," sahut Rafa yang tidak mau kalah.


"Ya jelas berbeda lah, buah strawberry sama blueberry itu berbeda. Rasanya juga berbeda," ucap Asyifa yang mulai kesal.


"Udahlah kamu itu banyak permintaannya. Kamu itu minum aja apa yang ada," sahut Rafa mulai kesal.


Namun Asyifa yang juga ikutan kesal tidak mau meminumnya. Dia bahkan sudah tidak mau melihat wajah Rafa lagi. Dia sudah mengkhayalkan bagaimana meminum minuman tersebut sangat nikmat. Namun Rafa mengecewakannya dan lihatlah wajah Asyifa sepertinya merajuk.


"Kamu tidak akan meminumnya?" tanya Rafa yang melihat Asyifa diam saja dengan wajah yang ditekuk tersebut.


"Asyifa!" tegur Rafa dan Asyifa diam yang benar-benar ngambek.


"Astaga hanya perbedaan nama saja. Jadi masalah besar. Sini aku ganti," Rafa langsung mengambil minuman itu dari tangan Asyifa dan kembali memasuki mini market tersebut.


Ya tidak tau kenapa Rafa begitu panik melihat Asyifa yang ngambek dan harus kembali ke mini market demi mendapatkan keinginan Asyifa. Sebelum Asyifa ngambek sana-sani. Asyifa Sepertinya sudah mulai berani ngambek-ngambek manja pada suaminya dan lebih sweetnya Rafa tidak bisa melihat hal itu.


Tidak lama Rafa kembali dengan membawa plastik besar.


"Ini yang kamu mau," ucap Rafa yang memberikan pada Asyifa dan Asyifa langsung melihatnya. Asyifa cukup terkejut dengan isi kantung plastik itu semua minuman yang di sukanya.


"Sebanyak ini!" pekik Asyifa.


"Protes lagi. Awas kalau kau tidak menghabiskannya!" kesal Rafa. Asyifa tersenyum tipis. Ya mau se mini market pun dia pasti bisa menghabiskan semuanya itu. Namun Asyifa tidak percaya jika Rafa bisa mencairkan hatinya yang tadi begitu kesal.


"Senyam-senyum. Ayo pulang!" ajak Rafa yang terlihat masih kesal dan berjalan terlebih dahulu.


"Kak Rafa tunggu!" panggil Asyifa yang mengejar Rafa dengan semangatnya. Karena Asyifa mendapatkan apa yang dia mau.


***********


Malam hari Asyifa berada di teras kamar hotel yang duduk sambil melihat handphonnya dengan minuman yang banyak di mejanya. Susu strawberry kesukaannya. Mereka tidak jadi pulang. Karena Rafa merasa lelah dan memutuskan untuk pulang besok pagi. Asyifa menurut-nurut saja.


Karena memang Rafa juga baik-baik aja kepadanya. Tidak ada yang di khawatirkannya yang justru dia sangat bahagia.


Rafa keluar dari kamar mandi dan melihat Asyifa yang berada di teras. Lalu Rafa menghampirinya.


"Jadi benar-benar kau habiskan," ucap Rafa yang tidak habis pikir dengan minuman yang di belinya tadi akan habis terminum. Karena tinggal beberapa botol lagi.


"Kak Rafa," sahut Asyifa, "ya memang harus di habiskan bukan," ucap Asyifa.


Rafa menghela napasnya kasar dan menghampiri Asyifa duduk di samping Asyifa, "apa seenak itu minuman ini?" tanya Rafa,


Asyifa menganggukkan kepalanya, "memang sangat enak dan begitu lezat," sahut Asyifa.

__ADS_1


"Bukannya karena minuman ini adikmu menyondir-nyindirku," sahut Rafa yang masih mengingat kejadian di rumah Asyifa.


"Maafkan Azka kak Rafa. Azka pasti tidak bermaksud," ucap Rafa.


"Ya semoga saja betul," sahut Rafa yang masih juteknya.


"Kak Rafa mau mencobanya?" tanya Asyifa.


"Tidak. Aku tidak selera sama sekali minuman seperti itu," sahut Rafa menolak.


"Oh ya sudah," sahut Asyifa yang dengan santainya dan kembali meminumnya dengan melihat kembali ponselnya yang sepertinya Asyifa melihat sesuatu yang sangat lucu sembari membuatnya tertawa-tawa kecil. Namun Rafa terlihat heran dengan Asyifa sampai mengekerutkan dahinya.


"Kamu melihat apa sih?" tanya Rafa penasaran.


"Lihat deh kak Rafa," Asyifa mendekatkan dirinya dan menunjukkan apa yang di lihatnya.


"Sangat lucu bukan," ucap Asyifa tertawa-tawa. Padahal sangat biasa saja menurut Rafa terlihat dari cara Rafa bereksperesi. Tidak tau di mana lucunya. Namun Asyifa sudah sangat heboh.


"Mereka itu ada-ada saja," ucap Asyifa dengan geleng-geleng.


"Biasa saja," sahut Rafa. Namun bagi Asyifa itu tidak biasa saja dan melihat yang terus tertawa dan Rafa malah tidak fokus pada layar handphone yang mana Rafa lebih fokus pada Asyifa yang menebar wajah bahagia dengan senyuman yang lepas.


Rafa menemukan sisi lain dari Asyifa. Mungkin dia hanya berpikiran jika Asyifa yang di lihat dari penampilannya terlihat cuek, dan sangat kuat dan hidup penuh keseriusan. Nyatanya tidak Asyifa itu sebenarnya anak manja yang terbukti suka ngambek ya dengan barusan apa yang terjadi dan juga Asyifa sangat receh yang hanya dengan sedikit kelucuan sudah merasa lucu. Padahal bagi orang-orang itu biasa.


Rafa menemukan sosok baru dari istrinya yang memang sesuai Asyifa. Bisa di katakan masih labil. Belum 20 tahun. Jadi sangat wajar.


"Seru bukan?" tanya Asyifa melihat ke arah Rafa yang membuat mata mereka saling bertemu dan malah saling bertatap mata dalam diam dengan mata Rafa yang berpindah pada bibir Asyifa. Apa lagi jika dia tidak ingin merasakan kembali bibir yang menjadi candunya itu.


Namun saat bibir itu hampir menempel. Tiba-tiba Asyifa mendorong dada Rafa pelan dengan Asyifa yang mengelak.


"Kak Rafa!" lirih Asyifa.


"Ini tempat terbuka, Asyifa malu jika melakukan hal itu," ucap Asyifa dengan pelan.


"Bukannya tidak ada orang, kenapa malu?" tanya Rafa.


"Terlihat tidak ada orang. Bagaimana kalau tiba-tiba ada helikopter lewat, atau ada di ujung sana, di gedung sana ada yang melihat dengan teropong kan tidak pantas mempertontonkan hal seperti itu," gumam Asyifa yang melihat di sekitarnya.


Rafa mendengus kasar dengan tersenyum dengan kata-kata Asyifa. Bagaimana tidak gemes dengan Asyifa. Bisa-bisanya berpikiran sepanjang itu. Walau halal berciuman dengan suaminya. Namun Asyifa masih tau adab yang tidak harus melakukan hal seperti itu di tempat terbuka yang siapa pun nanti bisa melihat.


"Lalu jika tidak melajukannya di sini. Apa aku harus menggendongmu ke atas ranjang!" goda Rafa dengan alisnya yang terangkat.


Cara Rafa melihatnya membuat jantung Asyifa berdebar kencang, "kan_kan tidak bisa. Asyifa kan sedang datang bulan," jawab Asyifa dengan terbata-bata. Lama-lama ngeri juga di tatap Rafa seperti mau di terkam.


"Di atas ranjang tidak harus melakukan itu. Juga bisa melakukan hal-hal lain yang mendekati hal itu, seperti...."


"Kak Rafa sudahlah," sahut Asyifa dengan cepat yang tidak mau mendengar kata-kata Rafa dan Asyifa langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kak Rafa bicaranya sudah kemana-mana," sahut Asyifa panik.


"Kenapa memangnya. Bukannya kau itu istriku," sahut Rafa dengan 1 alisnya yang terangkat.


"Issss Asyifa mau tidur," sahut Asyifa kesal sendiri dan langsung pergi dari hadapan Rafa yang membuat Rafa mandengus tersenyum.


"Dasar bocil bisa-bisanya berpikiran sejauh itu. Memang dasar aneh," ucap Rafa geleng-geleng dengan kelakuan Asyifa yang sekarang di katakannya sebagai bocil yang polos.


Ya bocil-bocil seperti itu mampu membuat Rafa kelihatannya gemes dengan istrinya itu.

__ADS_1


***********


Rafa dan Asyifa akhirnya sudah kembali kerumah dan semuanya terlihat santai-santai saja. Walau saat pulang Asyifa di cecar pertanyaan oleh mertuanya yang takut Asyifa di perlakukan tidak baik oleh Rafa. Karena memang dia tidak bisa mempercayai Rafa begitu saja dan bahkan Asyifa menjelaskan memang Rafa tidak jahat pada Asyifa tetap saja Shofia tidak percaya.


Mungkin saking sayangnya dengan Asyifa dan juga mengkhawatirkan Asyifa makanya melakukan hal seperti itu. Dan Asyifa pasti begitu happy punya mertua yang sangat baik.


Liburan yang tidak di rencanakan itu sudah selesai dan sekarang keluarga itu sarapan bersama seperti biasanya dan lihatlah Asyifa yang melayani suaminya dengan menyendokkan nasi goreng kedalam piring suaminya.


Hal itu cukup mencuri perhatian orang-orang yang ada di meja makan. Karena biasanya Rafa selaku menolak. Namun kali ini tidak. Bahkan saat Asyifa bertanya mau tambahan lauk apa dengan lembutnya Rafa menjawab apa yang di inginkannya. Ya terkesan sangat manis dan juga mengejutkan bagi Xander, Shofia, Shania, Zee dan Ardi.


"Apa aku tidak salah lihat dengan Rafa. Kesambet apa dia bisa diam dan tidak marah-marah seperti ini," batin Shofia yang menatapnya curiga putranya itu.


"Aku melihat Rafa semakin bisa menerima pernikahannya. Semoga Rafa benar-benar sadar dengan kehidupannya sekarang dan meninggalkan apa yang seharusnya di tinggalkannya," batin Xander.


"Kak Rafa benar-benar terlihat sudah berubah. Atau jangan-jangan kak Rafa sebenarnya sudah mulai menyukai kak Asyifa ya. Bagaimana bisa tidak menyukai kak Asyifa secantik ini," batin Zee yang menatap penuh selidik Rafa.


"Aku sudah selesai sarapan aku ke kantor dulu!" ucap Rafa pamit yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kak Rafa tunggu!" panggil Asyifa yang juga berdiri dan mengejar Rafa. Orang-orang yang di tinggalkan di meja makan itu saling melihat dengan mereka yang sama-sama tersenyum yang suasana hati mereka sepertinya sedang bahagia. Karena melihat asupan yang manis.


Asyifa mengejar Rafa sampai keluar rumah yang mana Rafa memasuki mobilnya.


"Kak Rafa tunggu dulu!" cegah Asyifa.


"Ada apa?" tanya Rafa.


"Ini tadi Asyifa buatkan bekal untuk kak Rafa," ucap Asyifa memberikan bekal makan siang untuk suaminya.


"Asyifa aku bukan anak kecil yang harus pakai bekal segala," sahut Rafa.


"Tidak apa-apa kak Rafa. Makanan rumah itu kesehatannya. Jauh lebih terjamin. Jadi tidak apa-apa," jawab Asyifa. Rafa menghela napasnya yang mau tidak mau mengambil pemberian Asyifa yang membuat Asyifa tersenyum lebar.


"Ya sudah aku pergi dulu!" ucap Rafa pamit.


"Tunggu dulu!" cegah Asyifa.


"Apa lagi?" tanya Rafa.


"Cium tangan suami dulu," ucap Asyifa langsung mencium punggung tangan Rafa dan ini pertama kalinya di lakukannya dan Rafa membiarkannya melakukan itu.


"Biar dapat ridho dari istri," ucap Asyifa tersenyum.


"Aku pergi!" sahut Rafa.


"Tunggu!" Asyifa menahan lengan Rafa.


"Apa lagi Asyifa!" ucap Rafa kesal dengan menekan suaranya. Asyifa menunjukkan keningnya yang ingin di cium.


Asyifa ada kemajuan semakin berani saja pada Rafa. Bahkan sudah dalam permasalahan hal-hal cium-cium.


Rafa mendengus kasar dengan permintaan Asyifa. Namun tidak masalah Rafa melakukannya dengan mencium lembut kening itu membuat Asyifa memejamkan matanya dengan tersenyum.


Asyifa belum membuka matanya dan Rafa langsung mencium bibirnya membuat Asyifa terkejut dan membuka matanya dengan terbelalak dan Rafa melepas ciuman itu.


"Kau semakin berani kepadaku," ucap Rafa dengan alisnya terangkat membuat Asyifa menelan salivanya yang mendapat serangan tiba-tiba.


"Aku pergi dulu!" ucap Rafa pamit dan langsung memasuki mobil. Sementara Asyifa masih bengong dan Rafa yang berada di dalam mobil tersenyum miring melihat wajah kagetnya Asyifa. Bagaimana tidak terkejut di cium tiba-tiba dan pasti Asyifa takut ada yang melihatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2