Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 112


__ADS_3

"Kamu bilang apa?" tanya Rafa dengan menatap serius istrinya itu.


"Kak Rafa ingin pergi ke Luar Negri untuk perjalanan bisnis. Ya sudah," ucap Asyifa yang terlihat lesu bahkan makan sudah tidak makan lagi dan hanya menunduk saja.


"Asyifa kamu tidak setuju aku pergi?" tanya Rafa.


Asyifa melihat ke arah Rafa, "memang kalau Asyifa mengatakan kak Rafa jangan pergi. Apa kak Rafa tidak akan pergi?" tanya Asyifa dengan matanya yang saling menatap dengan Rafa.


Rafa meraih tangan Asyifa dengan menggenggam erat tangan Asyifa, "manjalah kepadaku Asyifa, membujukku agar aku tidak pergi. Mungkin saja aku masih bisa mengurungkan niatku," ucap Asyifa yang membuat Asyifa tersenyum dengan apa yang di katakan Rafa. Rafa sepertinya ingin ada adegan merengek sana dan merengek sini atau malah menyuruh Rafa untuk tidak pergi


"Tapi Asyifa tidak apa-apa kok. Kalau kak Rafa pergi. Asyifa tidak masalah kok," ucap Asyifa dengan santainya yang membuat Rafa tersenyum.


"Jadi tidak ingin membujukku?" tanya Rafa. Asyifa menggelengkan kepalanya.


"Kak Rafa ingin kerja ke Luar Negri, bukan untuk yang lain-lain. Jadi Asyifa tidak mungkin melarang suami Asyifa yang ingin mencari nafkah itu artinya Asyifa hanya akan menjadi istri yang salah," ucap Asyifa dengan santainya yang membuat Rafa tersenyum pada Asyifa.


"Baiklah Asyifa, jika tidak ingin membujukku maka tidak apa-apa. Tapi kamu menginginkanku kan untuk pergi?" tanya Rafa


"Iya kak Rafa tidak apa-apa. Tapi jangan lama-lama pulangnya," ucap Asyifa.


"Memang kenapa kalau lama. Apa kamu akan merindukanku?" tanya Rafa yang lagi-lagi ingin sekali istrinya itu berkata-kata manja dengan kata-kata yang penuh dengan kemanisan.


"Tidak juga," sahut Asyifa yang sayang sekali tidak ingin menyenangkan hati Rafa yang ingin mendengar kata-kata dari mulut istrinya.


"Baiklah kalau begitu aku akan pergi dan kamu juga baik-baik si sini ya. Kamu jangan kemana-mana dan iya jangan macam-macam," ucap Rafa yang mengingatkan sang istri.


"Iya kak Rafa. Kak Rafa kenapa sering kali mengingatkan Asyifa mengenai hal itu. Apa kak Rafa tidak percaya pada Asyifa," ucap Asyifa yang merasa Rafa tidak mempercayai makanya Rafa terus mengingatkan Asyifa mengenai hal itu.


"Bukan begitu Asyifa," sahut Rafa.


"Lalu apa kak Rafa. Kak Rafa pasti tidak percaya dengan Asyifa makanya tidak mengingatkan kata-kata itu," sahut Asyifa yang terlihat murung. Mungkin kalau sering di ingatkan suaminya bisa saja memang suaminya meragukan kesetiannya.


"Asyifa maafkan aku, aku tidak bermaksud sama sekali untuk mengatakan hal itu. Aku mempercayai mu apa adanya. Aku hanya..."


"Sudahlah kak Rafa, Asyifa mau makan lagi," sahut Asyifa yang sepertinya ngambek. Rafa sih makanya Rafa jangan berkata yang aneh-aneh tuh istrinya merajuk kan.


"Asyifa," Rafa kembali memegang lembut tangan Asyifa, "aku percaya kepadamu. Namun apa salah jika aku hanya mengingatkan saja," sahut Rafa dengan tersenyum pada Asyifa.


"Baiklah kak Rafa, jika kak Rafa hanya mengingatkan Asyifa. Maka tidak apa-apa. Tetapi Asyifa sangat akan bahagia. Jika kak Rafa benar-benar memberikan Asyifa kepercayaan," ucap Asyifa yang membuat Rafa menganggukan kepalanya.


"Aku percaya padamu. Apa adanya," ucap Rafa. Asyifa mengangguk yang sepertinya sudah tidak merajuk lagi. Walau pasti sangat kesal karena Rafa yang terus tidak mempercayainya.

__ADS_1


***********


Akhirnya Rafa pun pergi keluar Negeri yang di antar oleh Asyifa sampai Bandara di mana memang harus mengantarkan sang suami sampai Bandara.


"Aku pergi dulu ya," ucap Rafa pamit pada istrinya. Asyifa mengangguk dengan mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati kak Rafa. Kalau ada apa-apa telpon Asyifa dan semoga pekerjaannya baik-baik saja," ucap Asyifa dengan tersenyum kepada Rafa.


"Baiklah, kamu juga baik- baik ya dan jangan...."


"Macam-macam," sahut Asyifa yang sudah tau apa yang di katakan Rafa.


"Aku tidak mengatakan itu Asyifa," sahut Rafa.


"Lalu apa?" tanah Asyifa. Bukannya kak Rafa selalu mengingatkan itu pada Asyifa. Tidak pernah percaya dengan Asyifa. Jadi sekarang kenapa kakak bilang tidak mengatakan hal itu," ucap Asyifa.


Rafa menghela napasnya dan mengusap lembut pipi istrinya, "Asyifa aku hanya mengatakan jangan lupa makan dengan teratur dan ingat waktu yang tepat untuk beristirahat. Kenapa pikiran kamu jadi kemana-mana. Padahal aku tidak mengatakan apa-apa," ucap Rafa.


"Jadi kak Rafa benar-benar hanya mengatakan itu saja?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, maaf Asyifa sudah berpikiran yang tidak baik," ucap Asyifa dengan mudahnya untuk meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu ya," ucap Rafa yang kembali pamitan dengan mencium lembut kening istrinya.


"Semoga saja kak Rafa baik-baik saja, semoga semua pekerjaan lancar," batin Asyifa yang berdoa untuk suaminya.


***********


Rafa dan Asyifa harus LDR karena pekerjaan Rafa yang mengharuskannya untuk ke Luar Negri. Padahal Rafa sebenarnya tidak ingin jauh-jauh dari istrinya. Apa lagi hubungan mereka sangat baik belakangan ini. Apa lagi sekarang ini hubungan mereka begitu baik, lagi sama-sama menata hati masing-masing. Tapi apa daya harus berpisah untuk sementara.


Asyifa berada di kamarnya yang terlihat rapi-rapi. Namun ponselnya yang berbunyi langsung di angkatnya.


"Assalamualaikum kak Rafa," ucap Asyifa yang ternyata suaminya yang menelepon.


"Walaikum salam Asyifa," sahut Rafa yang berada di apartemennya yang di teras kamarnya yang menelpon istrinya setelah pulang dari pekerjaannya.


"Kak Rafa ada apa menelpon Asyifa!" tanya Asyifa.


"Itu bukan pertanyaan Asyifa seorang suami memang seharusnya menghubungi istrinya. Kamu ini seperti tidak senang sekali yang tiba-tiba di telpon," ucap Asyifa.


"Bukan seperti itu kak Rafa. Memang kak Rafa tidak sibuk apa?" tanya Asyifa yang duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Tidak juga makanya aku ingin menghubungi mu," sahut Rafa.


"Kalau begitu kak Rafa apa kabar?" tanya Asyifa.


"Aku baik, kamu bagaimana?" tanya Rafa.


"Asyifa juga baik kak," sahut Asyifa.


"Kamu sudah makan?" tanya Rafa yang mungkin pertanyaan itu basi karena ya bagaimana tidak basi. Rafa tidak tau lagi apa yang harus di tanyakannya pada istrinya.


"Sudah kak Rafa," jawab Asyifa.


"Oh iya kak Rafa mumpung kak Rafa menelpon Asyifa. Rafa ingin mengatakan pada kak Rafa kalau Asyifa besok ada terbang ke Bali!" ucap Asyifa membuat Rafa yang berada di negara orang sana mengkerutkan dahinya saat mendengarnya.


"Apa kamu bilang?" tanya Rafa tampak kaget.


"Asyifa boleh tidak untuk terbang ke Bali. Asyifa ada seminar di sana," ucap Asyifa meminta izin pada suaminya.


"Kamu pergi sama siapa?" tanya Rafa yang memang harus tau.


"Asyifa pergi sama Zee," jawab Asyifa.


"Asyifa seminar apa sih. Kenapa juga harus terbang-terbang segala," ucap Rafa yang terlihat kesal dan sepertinya tidak menginjinkan istrinya.


"Maaf kak Rafa Asyifa tidak bermaksud apa-apa. Asyifa hanya menerima undangan untuk menjadi juru bicara untuk mahasiswa di sana," ucap Asyifa.


"Berapa hari kamu di sana?" tanya Rafa.


"Begitu sampai langsung acara dan Asyifa langsung pulang. Tidak menginap di sana kok," jawab Asyifa.


"Ya sudahlah kamu juga bilangnya mendadak. Kamu hati-hati saja," ucap Rafa dengan kesal.


"Baik kak Rafa. Makasih ya sudah memberikan izin Asyifa. Kalau begitu Asyifa tutup telponnya dulu," ucap Asyifa.


"Iya kamu hati-hati di sana dan ada apa-apa kamu langsung kabari aku," ucap Rafa yang memberi pesan sang istri.


"Baik kak Rafa," sahut Asyifa dengan mengangguk.


"Assalamualaikum kak Rafa," ucap Asyifa yang menutup telponnya.


"Walaikum salam," jawab Rafa yang menutup telpon itu dengan wajah tidak bersemangat dengan napasnya yang terbuang kasar.

__ADS_1


"Kenapa coba harus ada acara seminar segala. Sekalinya di telpon izin mau pergi. Bukannya menyuruhku pulang malah mau pergi," ucap Rafa yang tampak sangat kesal.


Bersambung


__ADS_2