Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 183


__ADS_3

Lulu, Roni dan Dedi sedang berkunjung kerumah sakit untuk menjenguk Zee yang masih di rawat di rumah sakit.


"Maaf ya Zee kita hanya bisa membawa buah saja," sahut Lulu yang merasa tidak enak.


"Ya ampun tidak apa-apa kak Lulu. Justru ini sangat merepotkan, Zee saja sudah senang sekali bisa di jenguk oleh kalian semua. Jadi seharunya tidak perlu membawa apa-apa," sahut Zee yang lebih tidak enak lagi.


"Kami memang berniat untuk menjenguk kamu dan walau hanya buah. Di makan ya," ucap Lulu.


"Pasti kak Lulu," sahut Zee yang tersenyum.


"Keadaan kamu bagaimana Zee?" tanya Dedi.


"Sudah sangat membaik. Hanya memang kadang-kadang masih sangat lemas. Namun tidak apa-apa. Itu biasa kata Dokter yang intinya harus lebih banyak istirahat lagi," ucap Zee.


"Kalau begitu kamu harus istirahat. Dan jangan memikirkan apa-apa," ucap Lulu.


"Iya kak Lulu. Makasih sudah mau datang melihat Zee dan bahkan mendoakan Zee," sahut Zee.


"Sama-sama Zee," sahut Lulu.


"Hmmm, tapi kayaknya kamu tidak bisa lama, soalnya saya harus pergi," sahut Roni.


"Benar Zee maaf ya, aku harus mengantarkan kak Roni ke Bandara. Karena kak Roni ada tugas penting," ucap Lulu.


"Iya tidak apa-apa. Hati-hati ya kak Roni dan semoga semua pekerjaannya lancar," ucap Zee.


"Makasih Zee atas doanya," sahut Roni.


"Ya sudah kami duluan ya Zee, kak Dedi masih mau di sini?" tanya Lulu.


"Iya. Sebentar lagi aku baru pulang," ucap Dedi.


"Ya sudah kalau begitu aku sama kak Roni duluan ya," ucap Lulu pamit.

__ADS_1


"Iya kalian berdua hati-hati," sahut Dedi.


"Mari kak Dedi," sahut Roni. Dedi hanya mengangguk dan Lulu bersama suaminya langsung pergi yang hanya meninggalkan Dedi dan Zee di sana berduaan.


"Hmm, oh iya Zee. Aku ingin memberikan ini pada mu," ucap Dedi yang memberikan paper bag kecil untuk Lulu.


"Apa ini?" tanya Zee.


"Buka saja," sahut Dedi dan Lulu sepertinya ingin duduk.


"Kamu mau duduk?" tanya Dedi. Zee menganggukkan kepalanya.


"Biar aku bantu," sahut Dedi yang langsung membantu Lulu untuk bersandar pada kepala ranjang agar lebih nyaman.


"Makasih ya kak," ucap Zee.


"Sama-sama," sahut Dedi. Lulu pun mengeluarkan benda dari dalam paper bag tersebut.


" Buku!" sahut Zee yang ternyata buku yang pernah di baca Dedi.


"Ya ampun kak Dedi makasih ya sudah baik sekali pada Zee. Sudah mau meminjamkannya pada Zee. Padahal sebelumnya Zee mengatakan akan meminjam kalau kak Dedi sudah membacanya sampai selesai. Namun malam memberikannya di awal. Sekali lagi makasih ya kak Dedi," ucap Zee.


"Tidak apa-apa santai saja," sahut Dedi, "kamu menyukai bukunya?" tanya Dedi.


"Sangat menyukainya dan semoga setelah membacanya bisa kecanduan seperti kak Dedi yang menunggu jilid-jilid yang akan terbit lagi," sahut Zee dengan tersenyum lebar yang seperti dia memang begitu lempang dan tanpa benan.


"Kalau begitu silahkan di baca," sahut Dedi.


"Pasti akan di baca," sahut Lulu yang sama-sama tersenyum dengan Dedi.


Kedekatan Dedi dan Lulu di perhatikan oleh Abian dari depan pintu yang tadinya ingin masuk. Namun melihat hal itu membuat Abian tidak jadi masuk dengan mengurung niatnya untuk masuk kedalam kamar tempat Zee di rawat.


***********

__ADS_1


Malam hari Zee yang terlihat sendirian di dalam kamar perawatannya yang mana Zee yang masih menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang membaca buku pemberian Dedi. Buku yang mengenai bimbingan agama dan Zee tampak senang membacanya tanpa ada beban sama sekali. Dan hatinya juga sepertinya sangat tenang dengan membaca buku tentang agama itu.


Zee ingin minum yang meletakkan dulu bukunya di atas meja dan langsung minum. Namun saat meletakkan kembali gelas pada tempatnya semula. Tiba-tiba saja Zee menyenggol buku itu dan jug kelantai.


"Astaghfirullah, pakai jatuh segala lagi," gumam Zee dengan gelang-gelang yang berusaha untuk mengambil buku itu dengan tubuhnya yang membungkuk yang tetap berada di atas tempat itu dan tangan Zee tidak sampai pada buku itu padahal Zee sudah hampir ingin tengkurap.


Zee melotot saat menyadari keseimbangannya tidak stabil dan akan membuatnya tengkurap jatuh kelantai. Namun untuk saja dengan gercep sebuah tangan menahannya dengan memegang ke-2 bahunya yang ternyata Abian yang setengah duduk yang menahan tubuh Zee yang hampir tengkurap.


Posisi mereka sangat dekat dengan wajah yang berdekatan yang hanya beberapa inci saja jaraknya dengan mata keduanya yang saling melihat dengan perasaan masing-masing. Hingga sampai beberapa detik akhirnya Zee tersadar dan begitu juga dengan Abian yang dengan perlahan Abian membantu Zee kembali ke posisinya dan dalam keadaan seperti itu malah terjadi canggung di antara ke-2nya.


Zee yang sudah kembali duduk pada posisinya menghela napasnya dengan salah tingkah dan Abian mengambil buku yang jatuh di lantai.


"Ini," ucap Abian dengan suara dinginnya.


Zee langsung mengambilnya dengan cepat.


"Makasih," sahut Zee dengan ketus, tanpa melihat Abian.


"Seharusnya jangan memaksakan diri untuk mengambilnya yang membuat kamu hampir jatuh," ucap Abian, Zee tidak menjawabnya dan hanya diam saja.


"Kamu sudah makan?" tanya Abian begitu lembut.


Zee tidak menjawab pertanyaan Abian dan kembali membaca buku itu yang sepertinya Zee tidak mau melihat Abian ada di kamarnya.


"Aku tau kamu tidak menyukai ku berada di sini. Tetapi aku tidak akan pergi. Walau kamu mengusirku," ucap Abian.


Lagi-lagi Zee tidak peduli dan membiarkan saja Abian mau apa yang di lakukannya.


"Kamu suka membaca buku seperti itu. Apa kamu ingin berubah menjadi wanita yang lebih baik?" tanya Abian membuat Zee langsung melihat Abian.


"Kenapa dari tadi selalu bertanya ini dan itu dan apa katamu. Aku ingin berubah menjadi wanita yang lebih baik. Apa menurutmu aku tidak baik. Ya jelas itu yang ada di pikiranmu," sahut Zee dengan kesal.


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Namun aku sangat senang dengan kamu yang semakin memperbaiki diri," sahut Abian.

__ADS_1


"Lalu kenapa jika aku ingin memperbaiki diriku. Apa kau merasa itu aku lakukan untukmu. Jangan salah paham. Karena ketika aku menjadi wanita yang jauh lebih baik. Selera ku bukan dirimu lagi," tegas Zee dengan ketus dan Abian hanya tersenyum tipis yang menanggapi kata-kata Zee yang begitu galak. Abian sepertinya harus banyak bersabar dengan kemarahan Zee yang belum reda


Bersambung.


__ADS_2