
Akhirnya Dokter yang di panggil Rafa untuk memeriksa istrinya akhirnya pun tiba yang sekarang sedang memeriksa istrinya dan Rafa menunggu di dalam kamar yang begitu prihatin dengan kondisi Asyifa yang sekarang sedang diobati oleh Dokter.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rafa yang setelah melihat sang istri yang selesai di obati.
"Tidak apa-apa tuan Rafa. Nona Asyifa sudah jauh lebih baik dan luka-lukanya akan secepatnya mengering jadi tuan Rafa tidak perlu khawatir hanya tinggal melakukan pengobatan sedikit saja," ucap Dokter.
"Baiklah kalau begitu Dokter. Terima kasih sudah membantu istri saya," ucap Rafa.
"Baiklah kalau begitu sama-sama. Saya permisi dulu dan jangan lupa obatnya langsung di berikan kalau Nona Asyifa sudah bangun," ucap Dokter yang berpesan.
"Baik Dokter," sahut Rafa dengan anggukan kepalanya dan Dokter itu pun langsung pergi dari kamar tersebut. Rafa menghela napasnya dan dan langsung menghampiri Asyifa dengan duduk di pinggir ranjang dengan tangannya yang memegang tangan Asyifa dan menatap nanar wajah sang istri dengan sendu.
"Maafkan aku Asyifa, aku tidak ada di saat kau membutuhkanku, maafkan aku, seharusnya ini terjadi padamu," batin Rafa yang merasa bersalah pada Asyifa. Luka yang di alami Asyifa tidak bisa di jelaskan.
Asyifa masih tetap tertidur. Namun Rafa mengambil air hangat di dalam baskom dan Rafa langsung membuka pakaian Asyifa dengan Rafa yang mulai membersihkan tubuh Asyifa dengan melap tubuh itu dengan handuk kecil yang di basahi dengan air hangat.
Rafa dengan lembut yang membersihkan tubuh Asyifa sampai Rafa mengganti pakaian Asyifa untuk pakaian yang lebih layak lagi karena pakaian Asyifa yang tidak layak pakai bahkan terkena darah.
Tidak lama pekerjaan Rafa akhirnya selesai dan Rafa yang menggantikan pakaian Asyifa dan tubuh Asyifa terlihat jauh lebih fresh lagi dari sebelumnya. Rafa mencium lembut kening Asyifa dan hal itu mampu membuat Asyifa membuka matanya dan melihat ke arah Rafa.
"Kamu sudah bangun?" tanya Rafa.
"Asyifa menganggukkan kepalanya dengan anggukan yang pelan.
"Kamu minum obat dulu ya," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan Rafa langsung membantunya untuk duduk dan ketika Asyifa sudah duduk Rafa langsung memberikan Asyifa obat dengan dan juga memberikan Asyifa minum.
__ADS_1
"Makasih kak Rafa," ucap Asyifa dengan lembut, Rafa mengangguk dengan Rafa yang meletakkan gelas pada tempatnya.
"Kak Rafa mengganti pakaian Asyifa,"tanya Asyifa yang melihat pakaiannya yang sudah di ganti.
"Iya Asyifa, aku menggantinya. Kenapa? kamu malu. Asyifa kita sudah suami istri dan aku melihatmu tanpa busa itu bukan suatu kesalahan bukan?" ucap Rafa yang tau pasti Asyifa akan protes dengan apa yang terjadi.
"Bukan itu kak Rafa, Asyifa tidak mengatakan apa-apa. Asyifa memang tidak terbiasa dengan hal itu dan mungkin akan biasa," sahut Asyifa yang bingung harus mengatakan apa.
"Aku mengerti Asyifa apa yang kamu pikirkan. Tetapi aku tidak bermaksud apa-apa. Aku mengganti pakaianmu hanya ingin kamu merasakan nyaman saat beristirahat hanya itu saja Asyifa," ucap Rafa. Asyifa mennggagukkan kepalanya.
"Dan iya kak Rafa Asyifa ingin bilang kalau apa yang kak Rafa lihat Asyifa dengan kak Abian itu tidak seperti apa yang kak Rafa pikirkan. Asyifa berada di rumah kak Abian itu karena kak Abian telah menyelamatkan Asyifa dan sungguh Asyifa dan kak Abian tidak melakukan apa-apa," jelas Asyifa yang takut suaminya akan salah paham kepadanya.
Rafa mendekatkan dirinya pada Asyifa dengan memegang pipi Asyifa dan menatap Asyifa dalam-dalam.
"Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa dan menjelaskan apa-apa. Aku tau semuanya," ucap Rafa.
Flash back.
Rafa yang sudah sampai di Bali yang sudah berada di Bandara terlihat frustasi dengan apa yang harus di lakukannya. Dia baru saja mendapatkan pesan dari Miranda yang memberitahu keberadaan istrinya ada di mana dan lagi-lagi Miranda mengirimkan foto yang membuat Rafa penuh dengan amarah.
"Asyifa kenapa kau sangat suka membuatku marah Asyifa, kenapa Asyifa!" kesal Rafa dengan mengusap kasar wajahnya dengan ke-2 tangannya, wajahnya sangat memerah yang rasanya ingin meluapkan emosinya dan jangan sampai apa yang di katakan Miranda benar dan mungkin saja Rafa kali ini tidak akan bisa mengendalikan dirinya.
Rafa membuang napasnya dengan kasar, "mau tidak mau aku harus memastikannya dan jangan salahkan aku Asyifa. Jika kali ini aku akan menghabisi laki-laki itu. Kau sungguh menguji kesabaranku Asyifa," umpat Rafa dengan amarahnya yang langsung melangkah yang di pastikan Rafa termakan dengan omongan Miranda sehingga dia ingin bertujuan untuk langsung menghampiri Asyifa dan Abian.
Namun baru beberapa langkah tiba-tiba handphone Rafa berdering dan Rafa melihat layar handphonenya yang mana nomor baru yang tidak di kenal.
__ADS_1
"Hallo!" Rafa langsung mengangkatnya.
"Rafa ini aku Abian," sahut Abian yang ternyata menghubungi Rafa.
"Ada apa kau menghubungi ku? berani sekali kau menghubungi ku," ucap Rafa dengan emosi
"Kamu tenanglah Rafa, aku tidak bermaksud apa-apa untuk menelepon mu aku hanya ingin mengabari jika Asyifa ada bersamaku," ucap Abian membuat Rafa mengepal tangannya. Sudah tau panas malah semakin di panas-panasi oleh Abian apa nggak Rafa semakin emosi.
"Apa maksudmu mengatakan itu!" geram Rafa dengan menekan suaranya yang terlihat emosi.
"Jangan salah paham Rafa, Asyifa bersamaku dengan keadaan Asyifa yang sangat parah, Asyifa tidak baik-baik saja, dia terluka Rafa," jelas Abian dengan singkat yang membuat Rafa mendengarnya terkejut.
"Apa yang terjadi pada Asyifa?" tanya Rafa dengan matanya yang terbuka lebar dan wajahnya yang mendadak panik.
Abian menceritakan bagaimana dia menemukan Asyifa dan di pastikan membuat Rafa sangat terkejut sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Begitulah ceritanya dan Asyifa sekarang tidak sadarkan diri, aku menuju ke villa, aku akan membawanya dulu untuk menggambarkannya, aku berharap kamu cepat datang, aku akan mengirim alamatku kepadamu jika kamu sudah sampai Bali," ucap Abian dengan jelas dan padat.
"Abian aku akan segera kesana. Kamu jaga Asyifa, aku akan secepatnya datang," ucap Rafa yang dengan bergetar dan panik ketika mendengar istrinya tidak baik-baik saja.
"Baiklah aku akan menunggumu," jawab Abian dan Abian langsung menutup telpon itu.
"Asyifa. Kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini kepadamu," umpat Rafa yang panik dengan keadaan sang istri dan Rafa langsung buru-buru pergi.
Mungkin Abian tidak perlu mengirimkan alamatnya ke pada Rafa karena sebelumnya Rafa sudah tau dan bahkan bertujuan untuk kesana dan ternyata Rafa datang ketempat itu karena mendengar hal buruk yang terjadi pada istrinya yang membuatnya tidak bisa tenang sama sekali.
__ADS_1
Bersambung