
Pagi ini terlihat wajah Zee yang berseri-seri dengan tersenyum lebar saat memasangkan dasi pada suaminya. Kedekatan ke-2nya semakin terjalin dan semakin hangat. Memang ke-2nya sudah saling mengungkapkan isi hati mereka.
"Jangan melihatku seperti itu," ucap Zee yang malu dengan Abian yang terus saja menatapnya.
"Apa akan menjadi salah jika harus menatap istrinya terus menerus?" tanya Abian.
"Bukan begitu kak Abian. Hanya saja kan Zee jadi gugup," sahut Zee. Abian memegang pipi Zee dengan mengelusnya dengan lembut.
"Jangan gugup. Kita berdua sudah menikah dan kamu tidak perlu canggung lagi," ucap Abian.
"Iya-iya kak Abian," sahut Zee.
"Oh iya Zee mama dan papa hari ini akan datang dari New Zealand. Aku juga sudah memberitahu hubungan kita dan mereka berdua ingin datang melihat kita," ucap Abian yang hampir lupa mengatakannya pada istrinya.
"Ya ampun kapan?" tanya Zee yang kelihatan panik.
"Mungkin pesawatnya landing siang ini," jawab Abian.
"Kenapa kak Abian tidak bilang dari tadi malam. Jadi Zee bisa beres-beres rumah dan juga bisa membuat makanan yang special," ucap Zee yang malah jadi panik gara-gara Abian memberinya berita yang menurutnya sangat membuatnya terkejut.
"Hey Zee. Mama itu datang seperti biasanya. Jadi kamu tidak perlu menyiapkan ini dan itu," ucap Abian.
"Tetap aja kak Abian. Zee harus menyiapkan sesuatu. Paling tidak Zee harus memasak," jawab Zee membuat Abian hanya geleng-geleng saja.
"Memang kamu bisa memasak?" tangan Abian dengan alisnya yang terangkat.
"Ya nggak bisa sih. Hanya saja. Kalau kak Abian mengatakannya lebih awal. Zee bisa lihat YouTube dan lain-lainnya. Kalau begini kan sudah mepet," jawab Zee.
Abian menghela napasnya dengan memegang ke-2 pundak Zee.
"Zee, aku sudah mengatakan. Jika kamu tidak bisa memasak. Kamu jangan melakukan sesuatu yang membuat kamu kesulitan sendiri. Mama tidak pernah mengharapkan menantu yang harus bisa memasak dan aku juga tidak mengharapkan itu yang penting istriku mau belajar dan taat pada suaminya itu saja sudah cukup," ucap Abian.
"Tetapi tetap aja Asyifa ingin membuat orang tua kak Abian senang saat berkunjung ke rumah kita," ucap Zee.
__ADS_1
"Dengan kabar pernikahan kita yang baik-baik saja. Mereka sudah sangat senang. Jadi mereka tidak perlu lagi hal-hal yang harus seperti apa dan kamu tidak perlu memaksakan diri kamu," ucap Abian yang membuat istrinya itu mengerti.
"Baiklah kak Abian," sahut Zee. Abian tersenyum dan memeluk istrinya itu dengan erat dengan mengelus-elus punggung Zee.
*********
Rumah sakit.
Akhirnya Rafa yang tidak ingin membuang-buang waktu langsung berkunjung kerumah sakit untuk memeriksakan kondisinya. Di mana Rafa masih menunggu di tempat tunggu sebelum suster menyuruhnya untuk melakukan pemeriksaan pada Dokter.
Walau berusaha untuk tenang. Namun tetap saja Rafa sangat khawatir dan juga cemas yang Rafa pikirkan hanya ingin cepat-cepat pemerikasaan selesai agar Rafa bisa tau kondisinya yang memang menurutnya tidak akan ada apa-apa.
"Tuan Rafa," panggil Suter.
"Saya Suster," sahut Rafa yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Mari tuan ikut saya!" sahut Suster mempersilahkan dan Rafa langsung mengikuti Suster tersebut menuju salah satu ruangan.
"Masuk!" sahut dari dalam dan Suster tersebut langsung membuka pintu tersebut.
"Silahkan tuan!" Suster tersebut mempersilahkan Rafa untuk masuk menemui Dokter.
"Makasih Suster," ucap Rafa. Suster itu mengangguk dan langsung pergi dan Rafa masuk kedalam.
"Ayah!" gumam Rafa ternyata Dokter yang akan memeriksanya adalah mertuanya sendiri. Rafa memang datang kerumah sakit milik keluarga istrinya.
"Loh Rafa," sahut Rendy yang pasti terkejut. Namun Rafa santai saja dan pastinya mencium punggung tangan mertuanya itu dulu.
"Ayo duduk Rafa!" titah Rendy dengan ramah dan Rafa menganggukkan kepalanya yang langsung duduk, begitu juga dengan Rendy yang duduk di hadapan Rafa.
"Kamu tumben sekali kemari. Mau ketemu sama ayah. Atau mau periksa?" tanya Rendy.
"Saya hanya cek kesehatan saja ayah. Namun tidak di sangka ayah malah yang akan memeriksa saya," jawab Rafa.
__ADS_1
"Itu di namakan takdir," jawab Rendy tersenyum, "memang kamu mau periksa apa. Apa ada sesuatu tentang kesehatan kamu?" tanya Rendy.
"Belakangan ini saya sering batuk-batuk, sakit kepala dan juga suka lelah dan saya akuin belakangan ini lumayan sibuk, tidak teratur makan dan juga tidur hanya beberapa jam saja," jelas Rafa dengan menyampaikan keluhannya pada Dokter yang tak lain adalah mertuanya sendiri.
"Ya kalau kamu sudah memberikan alasan kenapa terjadi seperti itu. Itu pertanda untuk kamu lain kali harus memperhatikan kondisi kamu. Jangan mencari penyakit," ucap Rendy.
"Namanya manusia ayah. Terkadang suka spele," sahut Rendy.
"Iya-iya benar. Keluhan yang paling besar apa Rafa selain batuk-batuk apa ada hal lain yang kamu alami?" tanya Rendy.
"Hanya itu saja. Namun kemarin batuknya sangat parah sampai mengeluarkan gumpalan darah dan itu yang membuat saya jujur sangat khawatir," jawab Rafa.
"Astagfirullah Rafa. Ini sepertinya sangat serius. Ya sudah kamu sekarang ayo berbaring biar langsung Ayah periksa," ucap Rendy yang berdiri dari tempat duduknya dan Rafa juga mengikut yang langsung menuju bancar dan Rafa membaringkan tubuhnya di sana yang akan langsung melakukan pemeriksaan bersama Dokter yang pasti sang mertua.
Rendy mulai melakukan pemeriksaan yang terlihat serius. Dari mengecek normalnya darah Rafa, sampai jantungnya dan lain-lain yang hanya Dokter saja yang tau. Hingga sampai beberapa menit pemeriksaan itu selesai dan Rafa langsung duduk.
"Rafa darah kamu akan di cek di lab ya. Baru hasil pemeriksaannya akan keluar," ucap Dokter tersebut.
"Apa ada hal yang serius?" tanya Rafa yang khawatir pada konsinyasi.
"Ayah tidak bisa memastikannya. Hasilnya akan keluar 2 hari lagi dan semoga hasilnya baik-baik saja. Untuk saat ini kamu sebaiknya lebih memperbanyak untuk istirahat. Tidur dengan waktu yang tepat dan makan dengan teratur. Agar kondisi kamu bisa membaik," ucap Rendy memberikan saran pada menantunya itu.
"Baiklah ayah," sahut Rafa. Rafa belum bisa lega. Karena tidak tau bagaimana kondisinya sebenarnya. Namun pasti raga masih saja kepikiran dengan apa yang terjadi sebenarnya padanya.
**********
Setelah melakukan pemeriksaan dan hasilnya belum ada Rafa memasuki mobilnya dengan Rafa yang langsung duduk di kursi pengemudi dengan memakai sabuk pengamannya.
"Hasilnya belum keluar. Apa ada hal yang serius yang terjadi padaku dan tadi Ayah juga terlihat sangat cemas," batin Rafa yang tidak akan tenang sebelum mengetahui kondisinya.
"Ya Allah semoga saja aku baik-baik saja," batin Rafa yang penuh dengan harapan.
Bersambung
__ADS_1