Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 104


__ADS_3

Lebih satu Minggu Rafa dan Asyifa berada di tanah suci Mekkah. Selain menghadiri acara wisuda selesai janji Rafa. Rafa dan Asyifa tanpa di duga-duga menjalankan ibadah umroh. Bahkan Rafa dan Asyifa juga sudah melakukan kewajiban dan penerimaan hak. Banyak hikmah dari keberangkatan mereka.


Semenjak saling memiliki satu sama lain. Ke-2nya kerap kali selalu mesra. Rafa yang seolah-olah tidak ingin Asyifa kenapa-kenapa memperlakukan Asyifa dengan baik. Bahkan melayani Asyifa dengan memanjakan Asyifa seperti seorang ratu.


Asyifa memang sempat sakit setelah memberikan hak suaminya. Tidak enak badan. Tetapi kondisinya sekarang jauh lebih baik bahkan bisa berjalan-jalan dengan Rafa tanpa ada lelah sedikitpun.


"Kamu lihat apa?" tanya Rafa yang melihat Asyifa melihat sesuatu yang mencuri perhatiannya.


"Itu," tunjuk Asyifa pada orang-orang yang sedang antri, " itu kira-kira jualan apa?" tanya Asyifa heran.


"Yang mana?" tanya Rafa. Asyifa menunjuk kembali pada ujung yang ada di sana.


"Banyak sekali orang yang antri," ucap Asyifa


"Itu penjual eskrim rasa kismis," jawab Rafa.


"Kak Rafa kok tau?" tanya Asyifa.


"Lihat ada tulisannya di atas," jawab Rafa.


"Kak Rafa bisa bahasa Arab?" tanya Asyifa cukup terkejut. Karena di tenda penjual itu memang ada keterangan dia berjualan apa. Yang tertulis dengan tulisan Arab. Namun Asyifa tidak melihat tulisan itu yang sebenarnya Asyifa juga mengerti dengan tulisan itu.


"Tidak terlalu tau hanya sedikit saja," jawab Rafa.


"Kak Rafa terlalu merendah," sahut Asyifa dengan tersenyum yang seolah bangga dengan suaminya, "sepertinya banyak lagi yang tidak Asyifa ketahui tentang kak Rafa. Asyifa harus mengenal lebih dalam kak Rafa lagi," ucap Asyifa membuat Rafa mendengus mendengarnya.


"Kamu mau eskrimnya?" tanya Rafa menawarkan.


"Boleh Asyifa pengen coba," jawab Asyifa dengan Anggukan kepala.


"Ya sudah kalau memang ingin coba. Tunggu di sini. Biar aku beli," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan langsung pergi.


"Masy Allah kak Rafa ternyata penuh misteri. Banyak hal yang tidak Asyifa ketahui dan kak Rafa sebenarnya pria yang sangat lembut. Ya Allah Asyifa benar-benar beruntung bisa menikah dengan kak Rafa. Semoga Asyifa terus bisa belajar menjadi istri yang baik dan memberikan kebahagiaan, kenyamanan untuk kak Rafa, bisa menjadi istri yang di inginkan kak Rafa. Ya Allah Asyifa hanya berserah diri untuk pernikahan kami. Semoga engkau jaga terus ya Allah," batin Asyifa dengan tersenyum yang melihat ke arah suaminya yang ikut antri untuk membeli es krim.


Padahal begitu panas. Namun Rafa tidak apa-apa ikut antri. Semua demi Asyifa istrinya.


"Asyifa!" tiba-tiba di tengah-tengah senyum Asyifa dan melihat suaminya Asyifa mendengarkan suara yang menegurnya.


"Kak Abian," sahut Asyifa yang ternyata Abian yang menegurnya membuat Asyifa cukup kaget.


"Kamu ada di sini juga?" tanya Abian dengan heran.


"Oh iya kak Abian. Asyifa wisuda kebetulan 2 hari yang lalu. Jadi Asyifa ada di sini," jawab Asyifa.


"Oh kamu sudah wisuda?" tanya Abian tampak terkejut.


"Benar sekali kak Abian," sahut Asyifa.


"Ya ampun selamat ya Asyifa untuk wisuda kamu. Kamu benar-benar keren," ucap Abian.


"Makasih kak Abian," jawab Asyifa, "kak Abian sendiri kenapa ada di sini?" tanya Asyifa heran.


"Sedang melakukan ibadah umroh," jawab Abian.


"Masya Allah Asyifa senang mendengarnya. Jadi bagaimana apa ibadahnya lancar?" tanya Asyifa


"Alhamdulillah lancar Asyifa. Oh iya kamu ke mari sama siapa, Ayah ibu ikut?" tanya Rafa.


"Dia kemari bersamaku," tiba-tiba suara dingin terdengar yang siapa lagi kalau bukan Rafa.


"Oh, Hay Rafa!" sahut Abian menyapa dengan sopan.

__ADS_1


"Apa yang keberatan. Jika dia pergi bersamaku?" tanya Rafa mulai sinus dan suasana terlihat tegang. Rafa jelas tidak menyukai Abian orang yang pernah berterus terang menyukai istrinya.


"Kak Rafa sudah selesai," sahut Asyifa yang berusaha untuk mencairkan suasana.


"Baru di tinggal sebentar sudah seperti ini," ucap Rafa dengan pelan.


"Jangan salah paham Rafa. Aku hanya...."


"Aku tidak meminta dan tidak perlu alasanmu. Kenapa kamu sayang atas undangan istriku yang mengundangmu untuk menghadiri acaranya," sahut Rafa.


"Kak Rafa!" tegur Asyifa yang merasa suasana mulai panas. Rafa benar-benar tidak akan ada kata-kata toleransi. Jika berhubungan dengan Abian. Didalam pikirannya pria itu hanya ingin istrinya.


"Asyifa, Abian," tiba-tiba suara wanita terdengar membuat mereka melihat ke arah suara itu yang ternyata Vanya dan Lucky orang tua Abian.


"Tante Vanya, Om Lucky," Asyifa langsung dengan sopan mencium punggung tangan Vanya dan juga memeluknya.


"Kamu ada di sini juga?" tanya Vanya.


"Benar Tante. Asyifa dan kak Rafa sudah lebih 1 Minggu di Mekkah," jawab Asyifa.


"Ya ampun kebetulan sekali ya. Om dan Tante juga Abian baru sampai semalam. Kita sedang melaksanakan ibadah umroh," sahut Vanya menjelaskan.


"Iya Tante tadi kak Abian juga mengatakan hal itu," sahut Asyifa.


"Kebetulan kita bertemu," sahut Vanya. Asyifa mengangguk dan melihat ekspresi wajah suaminya yang hanya melihat Abian dengan penuh kekesalan.


"Rafa kamu apa kabar?" tanya Lucky.


"Baik Om," jawab Rafa.


"Tidak di sangka kita bisa bertemu di sini. Terakhir kali bertemu saat di New Zealand," sahut Lucky.


"Iya benar sekali. Saya di sini untuk menghadiri acara wisuda istri saya," sahut Rafa yang terus mempertegas jika Asyifa adalah istrinya.


"Kami sudah melaksanakannya dan tidak perlu harus mengumbarnya," sahut Rafa tampak dingin bicara. Membuat Asyifa yang jadi panik dengan kata-kata Rafa seolah menyindir Vanya dan Asyifa merasa tidak enak dengan hal itu.


Vanya juga mungkin menyadari dengan kata-kata Rafa dan membuatnya tersenyum kaku.


"Kamu benar Rafa. Ibadah memang tidak perlu harus di ketahui semua orang. Lalu bagaimana apa ibadah kalian berdua lancar?" tanya Lucky.


"Alhamdulillah lancar," jawab Rafa.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Lucky yang hanya berusaha untuk mencairkan suasana.


"Kak Asyifa kak Rafa, ternyata kalian di sini," tiba-tiba Zee datang di tengah perbincangan itu, "Zee cari kemana-mana ternyata ada di sini. Huhhhh bikin lelah saja," keluh Zee dengan wajah di tekuknya.


"Eh ini bukannya kak Abian ya, yang kita pernah ketemu di tempatnya om Alex," sahut Zee yang masih mengingat Abian.


"Iya benar," sahut Abian.


"Hallo kak Abian apa kabar?" tanya Zee dengan lembut.


"Alhamdulillah baik," sahut Abian.


"Siapa wanita cantik ini Abian?" tanya Vanya.


"Ini Zee Tante. Ini adiknya kak Rafa," jawab Asyifa yang mengambil alih untuk bicara, "Zee ini orang tuanya kak Abian," Asyifa juga sekalian memperkenalkan Lucky dan Vanya.


"Hallo Tante saya Zee Tante apa kabar?" tanya Zee dengan sopan yang memperkenalkan dirinya pada keluarga Rafa.


"Baik-baik aja Zee. Senang sekali bisa bertemu dengan kamu," ucap Vanya dengan ramah.

__ADS_1


"Saya juga Tante," sahut Zee.


"Hmmm, oh iya Asyifa kalau kamu tidak keberatan. Mari makan bersama dengan kami. Ya kalian semuanya untuk makan bersama kami. Kebetulan bertemu di sini. Jadi tidak ada salahnya bukan," sahut Lucky yang mungkin tidak abdol jika tidak makan bersama.


Asyifa jelas tidak bisa menjawab. Dia tau Rafa pasti tidak mau. Apa lagi suasana hati Rafa tampaknya sangat buruk.


"Asyifa kamu tidak keberatan kan?" tanya Vanya.


"Itu ide bagus, ayo aja kak Asyifa," sahut Zee yang tampaknya begitu senang. Namun apa Rafa senang.


"Hmmm, Tante maaf sekali ya soalnya Asyifa..."


"Kenapa tidak," sahut Rafa yang setuju untuk makan bersama keluarga Abian yabg dapat di pastikan sebelumnya tadi Asyifa pasti ingin menolak.


"Tuh Rafa setuju," sahut Lucky.


"Ya sudah kalau begitu ada sebaiknya kita makan sekarang. Kebetulan Om punya rekomendasi Restauran paling enak di sini," sahut Lucky.


"Baiklah kalau begitu," sahut Asyifa tersenyum tipis. Namun Rafa dan Abian masih saja menatap dengan sinis.


*********


Akhirnya mereka sudah makan bersama di salah satu Restaurant tersebut dengan makanan yang Lucky sendiri yang telah memesannya yang pasti sangat banyak yang sudah memenuhi meja.


"Semoga lain kali kita bisa makan bersama lagi," ucap Vanya yang memang sangat senang dengan mengajak Asyifa makan.


"Kalau di undang kita pasti datang," sahut Zee. Mendengar adiknya sok akrab dengan keluarga itu membuat Rafa menghela napas.


"Kamu tenang saja Zee nanti juga kalau Om dan Tante ke Jakarta. Akan mengajak kalian makan lagi," sahut Vanya.


"Si tunggu Tante," sahut Zee yang kesenangan .


"Asyifa coba ini pasti enak," tawar Abian dengan lembut.


"Iya kak Abian nanti saja," jawab Asyifa.


"Nih orang benar-benar menyebalkan ya," batin Rafa tampak emosi dengan Abian.


"Asyifa, makan ini!" tiba-tiba Rafa menyodorkan sendok pada Asyifa yang ingin menyuapi Asyifa. Asyifa jelas kaget bukan pertama kali Rafa menyuapinya. Namun ini di depan umum dan Asyifa merasa tidak enak. Namun karena Rafa menaikkan 1 alisnya membuat Asyifa membuka mulutnya dengan tersenyum kaku.


Hak itu membuat Abian hanya tersenyum tipis saja. Rafa sepertinya sengaja menunjukkan keromantisannya dengan istrinya agar Abian itu sadar jika Asyifa telah di miliki orang lain. Tapi Asyifa yang jadi canggung dengan semua ini.


"Kalian ini manis sekali sih," sahut Vanya dengan tersenyum.


"Mereka memang selalu seperti itu Tante. Zee hanya di anggap obat nyamuk saja," sahut Zee yang terbiasa.


"Tidak apa-apa Zee hitung-hitungan menguji kesabaran," sahut Lucky.


"Ya Om benar, memang sangat menguji kesabaran," sahut Zee.


"Zee kamu ini sangat berlebihan," sahut Asyifa pelan.


"Memang benar kok kak Asyifa," sahut Zee.


"Oh iya Asyifa kamu kapan kembali ke Indonesia?" tanya Vanya.


"Tidak lama lagi Tante, tergantung kak Rafa. Urusan Asyifa memang sudah selesai di sini," jawab Asyifa yang hanya mengikut saja dengan suaminya.


"Kalian pasti masih ingin menikmati di tempat ini," sahut Lucky.


"Benar Om, selain untuk wisuda Asyifa. Kita juga berbulan madu di sini," sahut Rafa yang harus jelas dan sengaja mengatakan itu lagi-lagi untuk Abian. Namun Abian hanya menanggapi dengan senyuman saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2