Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 208


__ADS_3

Sebagai istri Asyifa sekarang pasti lega dengan kejujuran suaminya tentang apa yang terjadi suaminya. Firasat sebagai istri tidak pernah salah dan semuanya sudah terjawab.


Rafa dan Asyifa yang sholat berjamaah.. Sholat malam dengan khusyuk dan dengan air mata keduanya yang kerap kali menetes dalam sholat mereka yang pasti mencurahkan apa yang mereka berdua rasakan dalam hati mereka kepada sang pencipta.


Selesai melaksanakan sholat tidak lupa untuk ke-2nya sama-sama berdoa dengan meminta kesembuhan dalam penyakit Rafa, meminta penghilang rasa sakit dan meminta kekuatan serta ikhlas dalam apa yang telah berikan tuhan kepada mereka.


"Amin," ucap Rafa yang mengakhiri doanya dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Setelah itu Rafa berbalik badan dan Asyifa mencium punggung tangan suaminya dan langsung memeluk suaminya dengan erat dan menangis sengugukan di dalam pelukan suaminya itu.


"Kak Rafa harus bisa menghadapi semua ini. Asyifa janji akan terus ada di samping kak Rafa. Walau apapun yang terjadi pada kak Rafa. Asyifa janji tidak akan pernah pergi walah hanya sebentar saja. Asyifa tidak akan membiarkan kak Rafa kenapa-kenapa," ucap Asyifa yang menangisi sengugukan yang membuat Rafa juga tidak bisa membendung air matanya.


"Jangan menangis lagi Asyifa. Kamu tidak boleh seperti ini. Aku laki-laki Asyifa. Aku pasti kuat. Kamu jangan menangis," ucap Rafa yang tidak tega dengan istrinya yang menangis sengugukan.


"Bagaimana Asyifa tidak menangis. Kak Rafa sangat banyak mengalami kesulitan semua yang telah terjadi yang sudah Rafa alami dan bagaimana Asyifa tidak menangis kak Rafa," ucap Asyifa.


Rafa melonggarkan pelukannya dengan memegang ke-2 pipi istrinya yang penuh dengan air mata.


"Asyifa bukannya kamu pernah mengatakan. Kalau sakit itu adalah Rahma dan kita harus bersyukur dengan Rahma yang sekarang kita dapatkan dan sekarang tinggal kitanya sebagai manusia bagaimana caranya untuk menghadapinya dan menanggapinya tanpa harus menyalahkan sang pemberi. Jadi sayang sakit ini adalah Rahmat dan orang yang di beri sakit adalah orang-orang pilihan dan pasti Allah sangat menyayangi orang-orang itu dan sakit juga akan mengurangi dosa-dosa kita. Jadi bagaimana mungkin istriku harus menangis seperti ini padahal suaminya sedang di uji oleh Allah yang artinya Allah sangat menyayanginya dan seharusnya istriku bahagia dengan semua pemberian ini," ucap Rafa yang mencoba membuat Asyifa tenang. Karena sejak tadi Asyifa selalu menangis dan Rafa sangat khawatir pada bayi mereka karena sang ibu yang tidak stabil.


"Jangan menangis lagi sayang aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Kamu sedang mengandung anak kita. Jangan biarkan dia juga sedih," ucap Rafa yang mengusap air mata Asyifa dan membawa Asyifa kembali kedalam pelukannya.


"Kita kembali ke Jakarta ya kak Rafa," ucap Asyifa.


"Untuk apa? kita baru saja liburan di sini?" tanya Rafa.


"Kak Rafa harus melakukan perawatan yang serius. Jadi tidak boleh keluyuran dan melakukan semua ini. Kak Rafa juga harus fokus pada kesehatan kak Rafa," ucap Asyifa yang pasti cemas.


"Aku hanya tinggal Operasi saja Asyifa. Dan aku tidak ingin menghabiskan waktuku sebelum operasi di tempat tidur rumah sakit dengan bau obat dan infus yang mengalir. Allah memberiku kesempatan dengan bersamamu sebelum operasi. Jadi aku lebih ingin bersamamu dan anak kita. Kita menikmati hari indah ini," ucap Rafa yang hal itu memang sudah di rencanakannya.

__ADS_1


"Tetapi kak Rafa. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan kak Rafa. Asyifa takut kak Rafa sampai kenapa-kenapa. Jadi jangan keras kepala. Selagi masih ada cara untuk mempercepat sembuh. Apa salahnya kita lakukan," ucap Asyifa.


"Dan jika masih ada cara untuk bersama dalam kebahagiaan bersama kamu. Lalu kenapa tidak untuk tetap berada di sini Asyifa," sahut Rafa yang juga tidak ingin pergi dan akan tetap bersama istrinya liburan bersama.


"Kak Rafa kenapa keras kepala sekali di beritahu!" ucap Asyifa kesal dengan melepas pelukannya dari suaminya.


"Sayang kita akan kembali ke Jakarta. Saat waktunya tiba. Aku ingin di sini bersama kamu dan kamu tidak boleh membantah suamimu. Biarkan aku berada di sini dan melakukan semua yang bisa aku lakukan," ucap Rafa menegaskan. Asyifa hanya menghela napas yang sepertinya tidak akan bisa memaksa suaminya yang keras kepala.


"Sudah kamu jangan memikirkan apa-apa. Dengan cara kamu banyak berpikir membuat perasaan ku semakin tidak tenang dan akan menyesal dengan memberitahukan kamu. Jadi jangan memikirkan apa-apa," ucap Rafa dengan lembut menegaskan pada istrinya.


*********


Ternyata bukan hanya Asyifa saja yang akhirnya sudah tau dengan sakit yang di derita suaminya. Keluarga Rafa sendiri pun akhirnya tau dan semua itu karena di beritahu Rendy dan Rania yang memutuskan untuk memberitahu keluarga Rafa.


Kedatangan Rendy dan Rania kerumah Rafa saja sudah mengejutkan Shofia dan yang lainnya karena berkunjung tanpa memberitahu. Apa lagi pas Rendy mengatakan dengan yakin apa tujuannya datang dan jelas jantung Shofia hampir copot dengan terkejutnya mendengar berita itu.


"Ya Allah cobaan apa lagi yang engkau berikan pada keluarga kami. Mengapa harus putraku yang mendapatkan semua ini," ucap Shofia dengan ke-2 telapak tangannya yang berada di wajahnya yang menutupi air matanya yang mengalir di pipinya.


Shania hanya bisa mengusap-usap bahu sang mama untuk menguatkan mamanya dan dia saja sebenarnya tidak kuat sama sekali.


"Maaf mbak Shofia jika baru memberitahu hal ini kepada mbak dan keluarga. Saya tau kalian semua pasti sangat terkejut dengan berita ini. Sama dengan saya yang juga terkejut saat suami saya menyampaikan semua ini dan kamu juga ingin menutupi karena amanah dari Rafa. Namun dengan kondis Rafa yang semakin tidak memungkinkan membuat kami tidak bisa menyembunyikan hal sebesar ini dan mau tidak mau harus kamu beritahu dan pasti membuat kalian semua schok," jelas Rania dengan lemah lembut dan pasti merasa bersalah dengan keadaan yang membuat keluarga itu terkejut.


"Dan Asyifa juga tidak tau hal ini?" tanya Xander.


"Sepengatuhaan saya Rafa tidak ingin Asyifa tau dan tidak ingin ada yang memberitahu Asyifa. Tapi saya juga tidak tau apakah Rafa sekarang sudah memberitahu Asyifa atau tetap menyembunyikannya," jawab Rendy.


"Ya Allah Asyifa juga pasti terkejut. Jika tau semua ini dan terkejutnya akan lebih parah karena suaminya yang menyembunyikan semua ini," ucap Shania yang khawatir.


"Itu yang kamu takutkan," sahut Rania.

__ADS_1


"Jika Rafa tidak memberi tahu Asyifa tentang sakit yang di alaminya. Sebaiknya kita bicara pada Rafa agar dia memberitahu istrinya," sahut Ardi yang mendapatkan ide.


"Saya juga berpikiran seperti itu," sahut Rendy.


"Memang kak Rafa sakit apa mah?" tiba-tiba ada suara yang khas terdengar yang menyahut tiba-tiba yang membuat semua orang melihat ke arah suara itu yang ternyata Zee yang datang bersama Abian dan tidak tau sejak kapan Zee ada di sana bersama suaminya.


"Zee!" lirih Shania.


Zee dan Abian saling melihat dan mereka menghampiri ruang tamu dan langsung menyalami orang-orang yang lebih tua dari mereka berdua.


"Maaf Zee dan kak Abian mengejutkan semua orang," sahut Zee yang merasa tidak enak. Karena ada juga tamu di rumah itu.


"Abian dan kamu Zee. Duduklah," ucap Xander.


Zee dan Abian pun langsung duduk.


"Apa yang terjadi mah? kak Rafa kenapa? dan sakit apa?" tanya Zee heran bingung.


"Kakak kamu mengalami kanker usus stadium lanjut," kawan Xander yang membuat Zee dan Abian terkejut mendengarnya dengan ke-2 mata mereka yang terbuka lebar.


"Apa ini sungguh?" tanya Zee yang tidak percaya.


"Benar Zee, kami semua juga baru tau ketika Dokter Rendy memberitahu dan sama seperti kami semua sangat terkejut," sahut Shania.


"Ya Allah cobaan apa ini," lirih Zee yang sangat schock mendengar kabar itu.


"Kita berdoa saja semoga Allah memberikannya kita semua kemudahan dalam hal ini," sahut Rendy.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2