
Rafa kembali kekamar Asyifa untuk mengecek kondisi sang istri. Di mana masih sama Asyifa yang masih tertidur. Rafa menghampiri ranjang dan duduk di samping Asyifa.
"Asyifa bangun kamu harus makan," ucap Rafa dengan lembut membangunkan istrinya dengan memegang tangan sang istri.
"Asyifa!" lirih Rafa lagi yang membangunkan Asyifa. Sampai Asyifa membuka matanya perlahan.
"Kak Rafa," sahut Asyifa dengan menahan rasa kantuknya dengan suaranya yang begitu serak.
"Kamu belum makan, kamu makan dulu baru tidur lagi," ucap Rafa yang sangat lembut bicara.
"Asyifa tidak lapar dan masih sangat ngantuk, Asyifa mau tidur saja," jawab Asyifa yang memang memperlihatkan dia begitu mengantuk sekali dengan matanya yang sebentar-sebentar terbuka, terpejam lagi dan terbuka lagi.
"Kak Rafa sudah makan?" tanya Asyifa. Rafa menganggukan kepalanya yang padahal dia belum makan apa-apa sama sekali.
"Asyifa boleh tidak tidur duluan," ucap Asyifa meminta izin.
"Tidak apa-apa. Ya sudah kamu istirahat lah," ucap Rafa. Asyifa mengangguk kepalanya dan kembali memejamkan matanya. Dia benar-benar sangat mengantuk dan Rafa juga tidak ingin memaksa Asyifa. Mungkin belum rezeki Rafa yang lagi-lagi ada saja halangannya.
Ya salah sendiri awal-awal aja banyak kesempatan di sia-siakan sekarang aja baru di kejar-kejar. Huhhhhhh itu pasti salah satu balasannya untuk Rafa.
Rafa berdiri dari tempat tidur dan melihat ke arah meja di sofa yang berantakan dengan kertas-kertas yang mungkin itu pekerjaan Asyifa. Dalam Minggu ini Asyifa memang wisuda dan dia sudah menyiapkan banyak hal dan tinggal prepare saja.
Namun data-data yang di katakannya pada Rafa yang ada do ponselnya, sedikit terhambat karena ulah Rafa. Jadi Asyifa harus memperbaiki sedikit. Makanya kesannya sangat buru-buru. Melihat semua itu membuat Rafa menghela napasnya dan membersihkan meja itu menyusun rapi agar mata tidak sakit.
************
Mentari pagi kembali tiba. Asyifa yang sudah bangun pastinya merapikan kamar nya dan melihat parsel minuman susu strawberry kesukaannya.
"Punya siapa ini, banyak sekali," gumam Asyifa bingung yang sangat teliti memperhatikan minuman itu.
Ceklek.
Rafa keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan bathrobe saja dan melihat Asyifa melihat parsel tersebut.
"Ini punya kak Rafa?" tanya Asyifa.
"Hmmm," jawab Rafa dengan deheman dengan melap kering rambutnya dengan handuk putih.
__ADS_1
"Kok banyak sekali dari mana?" tanya Asyifa.
"Dari kantor ada sponsor yang masuk," jawab Rafa.
Sepertinya Rafa sudah tidak mau lagi melanjutkan rencana awalnya yang gagal dengan ala-ala menyenangkan istrinya. Jadi Rafa mengatakan asal-asal saja. Karena sudah tidak berkesan lagi.
"Asyifa boleh minta tidak?" tanya Asyifa.
"Ambilah, aku juga tidak menyukainya, aku membawanya pulang, karena mengingat di rumah ini ada Aqela yang pasti suka minuman itu," jawab Rafa dengan alasannya.
"Lalu kenapa membawanya kekamar?" tanya Asyifa.
"Aqqela sudah tidur tadi malam. Jadi nanti baru aku berikan padanya," jawab Rafa.
"Ohhh begitu," sahut Asyifa dengan mengangkat ke-2 bahunya dan menuju tempat tidur untuk merapikan tempat tidur.
"Kok nggak jadi di minum?" tanya Rafa yang melihat Asyifa pergi begitu saja dan eksaitit Asyifa hilang begitu saja.
"Orang buat Aqela kok," sahut Asyifa yang sepertinya rada-rada ngambek manja.
"Untuk Aqqela saja. Nanti Asyifa beli sendiri," jawab Asyifa dengan santai dan Rafa harus menghela napasnya. Dia juga tidak tau apa keponakannya menyukai minuman itu atau tidak dan jawaban yang di berikannya tadi hanya alasan saja, karena masih gengsi.
"Aku sudah capek-capek menyiapkan, peka sedikit kenapa sih, banyak tanya lagi, sudah tidur, berantakan semuanya," batin Rafa yang ikutan kesal dengan Asyifa yang sekarang pake acara ngambek segala lagi.
Asyifa menoleh kearah nakas dan melihat Boucket bung, "ini dari kantor juga?" tanya Asyifa.
"Iya," jawab Rafa yang lagi-lagi tidak mau mengakuinya.
"Ada acara apa?" tanya Asyifa.
"Ulang tahun kantor," jawab Rafa asal-asalan.
"Ulang tahun bunganya di bawa kerumah yang ulang tahun kantor apa kak Rafa," ucap Asyifa heran.
"Udahlah Asyifa nggak usah banyak tanyak," sahut Rafa kesal.
"Ada kartu ucapannya," sahut Asyifa yang langsung mengambilnya. Namun Rafa kaget dan buru-buru menghampiri Asyifa.
__ADS_1
"Jangan di baca," cegah Rafa ingin mengambil dari tangan Asyifa. Namun Asyifa dengan cepat menjauhkan tangannya. Karena kaget dengan Rafa.
"Kenapa?" tanya Asyifa heran.
"Sudah pokoknya jangan di baca, sini!" ucap Rafa yang memintanya.
"Memang kenapa?" tanya Asyifa yang malah di larang semakin penasaran. Namun Rafa tetap tidak ingin Asyifa membacanya sampai menarik dari Asyifa dan Asyifa menghindar lagi.
"Asyifa berikan, aku bilang jangan di baca, jangan di baca," tegas Rafa dengan paniknya yang membuat Asyifa semakin penasaran karena larangan itu. Asyifa dan Rafa saling rebutan sampai akhirnya Asyifa terjatuh ke atas ranjang dan Rafa pun ikutan jatuh yang menindih Asyifa.
Namun Asyifa tampak santai yang mengambil kesempatan membaca tulisan itu.
"Asyifa!" kesal Rafa yang berusaha menariknya lagi. Tapi apa daya ternyata Asyifa membaca sedikit-sedikit. Apa lagi banyak namanya yang di sebutkan di sana.
"Dari kantor. Tapi kok ada nama Asyifa," ucap Asyifa dengan tersenyum menatap Rafa penuh selidik. Rafa yang menindih tubuhnya menghela napas yang sudah tidak bisa mengelak lagi yang pasti Asyifa akan membaca surat yang di karangnya begitu lama untuk meminta maaf pada Asyifa.
"Bacalah sesuka mu," ucap Rafa kesal.
"Baiklah!" sahut Asyifa yang membacanya dengan terlentang di atas ranjang dan Rafa masih menindih tubuhnya yang memperhatikan istrinya yang senyum-senyum membaca surat itu.
"Jadi ini untuk Asyifa sebenarnya?" tanya Asyifa dengan wajahnya yang begitu bahagia.
"Bukan aku yang membuatnya Sekretarisku," jawab Rafa yang masih mengelak saja. Namun Asyifa sudah tertawa-tawa yang melihat merahnya wajah Rafa.
"Kak Rafa minta maaf pada Asyifa dan bunga itu untuk Asyifa. Atau jangan-jangan minuman itu juga untuk Asyifa?" tanya Asyifa dengan senyum-senyum yang sudah tau semuanya.
"Iya," jawab Rafa dengan terpaksa membuat Asyifa tertawa-tawa dengan menutup mulutnya yang merasa lucu.
"Kenapa kau tertawa. Kau bisa-bisanya tertawa setelah membuatku kesal," ucap Rafa.
"Lalu kenapa kak Rafa mengatakan minuman itu dari kantor dan untuk Aqela?" tanya Asyifa.
"Memang kantor yang membuatnya," sahut Rafa lagi yang jabawabanya selalu berbeda. Namun Asyifa tidak henti-hentinya tertawa. Bahkan Asyifa sadar tidak kalau Rafa masih di atas tubuhnya yang biasanya kalau seperti itu Asyifa pasti gugup.
Namun sekarang malah begitu bahagia dengan tawanya yang lebar dan Rafa terus memperhatikan hal itu.
Bersambung
__ADS_1