
Malam hari yang begitu gelap. Namanya malam pasti gelap. Sama dengan di kamar Asyifa dan Rafa yang sudah larut malam dan lampu kamar pada mati dan hanya lampu tidur yang hidup.
Namun ada satu lampu yang hidup yang ternyata lampu dari laptop Rafa yang bisa-bisanya sudah larut malam. Rafa masih bekerja dengan duduk di lantai yang di lapisi karpet bulu dan duduk dengan bersandar pada dinding ranjang dengan ke-2 kakinya yang di luruskan dan laptop yang di letakkan di atas kakinya dan matanya dan tangannya begitu fokus.
Sementara Asyifa sudah tertidur dengan nyenyak di atas ranjang sendirian. Dan Asyifa yang tiba-tiba miring dengan tangannya yang ingin memeluk. Namun terasa kosong dengan orang yang di sampingnya saat Asyifa meraba-raba yang seharusnya menjadi tempat suaminya.
Asyifa yang masih mengantuk membuka matanya yang sangat berat dan memang tidak ada orang sama sekali dan Asyifa langsung melihat ke sekitar kamar dan barulah menemukan suaminya yang masih bekerja membuat Asyifa mengkerutkan dakinya dengan mengusap wajahnya dan mengambil ponselnya melihat jam sudah menunjukkan pukul dua pagi.
Melihat hal itu membuat Asyifa menghela napasnya dengan perlahan kedepan dan langsung merangkak mendekati Rafa.
Rafa merasakan ada tangan yang berada di bagian lehernya yang memeluknya dan membuatnya menoleh kebelakang ternyata Asyifa yang menempelkan wajahnya di pipi Rafa dengan posisi Asyifa yang telungkup di atas ranjang dan memeluk suaminya.
"Kenapa kak Rafa masih bekerja?" tanya Asyifa dengan suara seraknya.
"Tanggung Asyifa. Ini untuk persiapan rapat besok," jawab Rafa.
"Tapi ini udah jam 2 pagi," ucap Asyifa.
"Iya sayang sebentar lagi. Kamu sebaiknya kembali tidur," ucap Rafa dengan lembut.
"Asyifa tidak mau," sahut Asyifa menolak dan malah turun dari ranjang dan duduk di samping Rafa dengan memeluk Rafa dan wajahnya berada di dada Rafa yang juga melihat layar laptop.
Rafa pun mencium pucuk kepala istrinya itu yang berada di bawah ceruk lehernya itu.
"Sayang jangan menungguiku. Kamu istirahat lah," bujuk Rafa.
Asyifa menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Asyifa tidak akan tidur sebelum kak Rafa selesai. Jadi Asyifa akan menemani kak Rafa," ucap Asyifa.
Rafa menghela napasnya yang mau tidak mau harus menutup laptopnya dan menghentikan pekerjaannya demi istrinya.
"Kita istirahat ya," ucap Rafa meletakkan laptopnya di atas meja dan langsung menggendong sang istri ala bridal style kembali ke atas ranjang untuk mereka yang harus istirahat. Jika tidak dengan cara seperti itu Rafa mungkin tidak akan berhenti bekerja.
*********
__ADS_1
Asyifa sore-sore mampir ke kantor suaminya. Kebetulan tadi Asyifa sedang berkunjung ketempat sesuatu yang dekat dengan kantor sang suami dan tidak ada salahnya Asyifa langsung mampir kekantor suaminya. Kebetulan tiba-tiba saja dia merindukan suaminya itu yang padahal mereka sering bertemu dan barusan juga tadi Vidio call.
Begitu sampai di Perusahaan suaminya. Asyifa langsung menuju ruangan Rafa dengan orang-orang yang berpapasan dengannya yang menyapa Asyifa dengan ramah dan pasti Asyifa juga menyapa dengan ramah. Karena siapa yang tidak mengenal Asyifa sebagai istri dari pimpinan mereka dan Asyifa juga di kenal sangat ramah dan humbel.
toko-tok-tok-tok.
Asyifa mengetuk pintu ruangan suaminya. Walau dia adalah istri dari Rafa. Namun tetap saja Asyifa harus mengetuk pintu.
"Masuk!" sahut Rafa yang membuat Asyifa membuka pintu.
Masih berdiri di depan pintu. Asyifa melihat Rafa yang bersandar pada kepala bangku kerjanya dengan mata terpejam dan tangannya yang memijat kepalanya.
"Kak Rafa!" sapa Asyifa dengan lembut menghampiri suaminya dan Rafa langsung membuka matanya ketika mendengar sang istri.
"Sayang!" sahut Rafa dengan suara beratnya.
"Kak Rafa kenapa?" tanya Asyifa yang sudah berdiri di dekat Rafa dengan memegang lengan Rafa.
"Lalu kenapa tidak pulang. Sakit kepala itu tidak bisa di katakan hanya. Itu juga tidak boleh di anggap spele," ucap Asyifa yang mulai bawel.
"Iya sayang aku tau. Mungkin aku hanya kelelahan saja. Karena sangat banyak pekerjaan," jawab Rafa.
"Kak Rafa selalu seperti ini. Tadi malam juga kak Rafa tidurnya sangat lama dan Asyifa lihat kak Rafa masih aja di depan laptop. Jadi bagaimana tidak sakit kepala," ucap Asyifa yang mulai kesal.
"Hey, kamu jangan galak seperti itu. Besok-besok aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Rafa dengan lembut yang mengusap-usap punggung tangan istrinya yang mulai ngambek karena suaminya yang sangat susah di kasih tau.
"Kamu ngapain kemari?" tanya Rafa.
"Memang tidak boleh," jawab Asyifa dengan ketus.
"Pasti boleh dong sayang. Kamu tidak memberitahu ku sebelumnya. Jadi sangat wajar aku heran," jawab Rafa.
"Kalau di beri tahu. Asyifa tidak akan melihat hal ini," sahut Asyifa kesal dan melepas tangannya dari Rafa. Lalu Asyifa langsung duduk di Sofa yang sepertinya marah pada Rafa. Karena tidak mendengarkan dirinya.
__ADS_1
Rafa menghela napasnya dengan berat yang sepertinya sangat bahaya jika sudah berhubungan dengan ibu negara.
Rafa langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Asyifa yang duduk di sofa dengan Rafa yang langsung meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Jangan marah sayang," ucap Rafa yang berbaring lurus di pangkuan istrinya.
"Kalau kak Rafa sedang sakit kepala. Ayo kita pulang. Kak Rafa bisa istirahat di rumah. Kantor ini bukannya punya kak Rafa. Jadi kak Rafa bisa pulang kapan saja. Apa yang mau di tunggu," ucap Asyifa.
"Sayang aku ada meeting 2 jam lagi. Jadi mana mungkin pulang," jawab Rafa.
"Tapi kak Rafa sakit. Apa iya tidak bisa di tunda meetingnya?" tanya Asyifa dengan kesal
"Tidak bisa sayang. Aku seorang CEO yang harus profesional. Kamu jangan marah-marah seperti ini," ucap Rafa.
"Siapa yang tidak marah-marah dengan suaminya yang sudah di kasih tau," ucap Sarifah kesal dengan wajahnya yang tekuknya.
"Sayang dari pada marah-marah, sekarang kamu mending pijit kepalaku. Biar aku tidak sakit kepala lagi. Pijitan kamu sangat enak," ucap Rafa meraih tangan Asyifa dan meletakkan di kepalanya.
Walau Asyifa marah. Namun jika suaminya sudah memerintahnya mau tidak mau Asyifa haru menurutinya dengan menghela napasnya.
"Kak Rafa harus benar-benar mendengarkan Asyifa. Jangan terlalu lelah dalam bekerja," ucap Asyifa menegaskan pada suaminya.
"Baik nyonya," sahut Rafa dengan selorohnya.
"Asyifa serius kak Rafa," ucap Asyifa.
"Iya sayang aku akan mendengarkannya," jawab Rafa.
"Asyifa akan di sini terus sampai kak Rafa selesai meeting dan setelah itu kita pulang. Kak Rafa harus istirahat," tegas Asyifa yang harus galak pada suaminya.
Rafa hanya tersenyum saja dengan istrinya yang sudah galak saja seperti ibu tiri. Namun dia sangat bahagia dengan perhatian Asyifa dan bahkan sampai Asyifa marah. Hanya karena dia agak lumayan sulit di kasih tau.
Bersambung
__ADS_1