
Rafa duduk di Sofa di dalam kamar yang terlihat membuka-buka beberapa dokumen yang besok ingin di bawanya saat rapat besar. Baru saja berita kebenaran itu terungkap tadi pagi.
Namun Rafa sudah kembali mendapatkan klien-klien yang sempat kabur darinya, jadi Rafa benar-benar sangat bahagia dan semangat untuk rapat besok. Di tengah kesibukannya. Tiba-tiba Asyifa datang dan berlutut di depan Rafa dengan kepalanya yang menunduk yang membuat Rafa kaget dengan istrinya itu.
"Kak Rafa Asyifa benar-benar minta maaf dengan semua yang Asyifa lakukan. Dengan Asyifa yang pergi tanpa izin. Asyifa mohon maaf kak Rafa," ucap Asyifa lagi yang ternyata tidak henti-hentinya meminta maaf.
Asyifa sudah seperti lebaran saja yang meminta maaf pada suaminya dengan cara berlutut di depan Rafa dan bahkan menunduk yang menunjukkan dia itu benar-benar sangat bersalah.
"Kak Rafa, Asyifa janji tidak melakukan itu lagi. Asyifa tidak akan mencari pembelaan atas tindakan yang Asyifa lakukan. Asyifa mengakui salah dan membuat kak Rafa marah. Asyifa mohon maaf dan tolong jangan marah lagi," ucap Asyifa dengan berbicara lembut, bahkan suara itu terdengar menahan tangis.
Rafa menghela napasnya dengan memegang ke-2 bahu Asyifa sehingga wajah Asyifa dapat di lihat Rafa. Wajah cantik yang memerah penuh dengan penyesalan itu dengan mata Asyifa yang berkaca-kaca.
"Tolong maafkan Asyifa," ucap Asyifa lagi.
"Apa maaf itu sangat penting untukmu?" tanya Rafa.
Asyifa menganggukkan kepalanya, "jika tidak mendapatkan maaf, itu artinya kak Rafa masih marah," ucap Asyifa.
"Iya kamu benar. Aku sangat marah dengan kamu yang pergi tanpa berpamitan dengan ku. Aku tau niat baik kamu dan usaha kamu. Tetapi apa salahnya kamu meminta izin padaku dan dengan kamu memberi alasan karena takut aku menemui Miranda. Itu sama saja Asyifa kamu tidak mempercayaiku dan juga tempat yang kamu datangi bukan tempat yang aman dan kejadian kan, bagaimana kamu dan Zee di sana. Di mana kalian berdua hampir saja mengalami kejadian tidak terduga. Jadi bukannya sangat wajar aku marah pada mu," ucap Rafa yang dengan lembut bicara.
"Iya kak Rafa, Asyifa mengerti. Asyifa janji tidak akan melakukan hal itu lagi," ucap Asyifa lagi.
"Aku sudah memaafkan mu Asyifa," sahut Rafa yang akhirnya memaafkan Asyifa yang membuat Asyifa tersenyum dengan mendapatkan maaf dari Rafa.
"Kak Rafa sungguh sudah memaafkan Asyifa?" tanya Asyifa yang kelihatan tidak percaya.
"Iya Asyifa aku sudah memaafkanmu," jawab Rafa.
__ADS_1
"Makasih kak Rafa," sahut Asyifa dengan bahagianya yang akhirnya mendapatkan maaf dari Rafa. Sebenarnya Rafa sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Namun sepertinya sangat menyenangkan. Jika melihat Asyifa yang terus membujuknya dengan wajah kesedihan yang begitu menggemaskan.
"Hmmm, tapi maafnya akan sempurna. Jika kamu melakukan sesuatu," ucap Rafa.
Asyifa mengkerutkan dahinya saat mendengarnya, "maksud kak Rafa apa? apa Asyifa harus melakukan sesuatu?" tanya Asyifa.
"Iya kamu benar. Kamu harus melakukan sesuatu. Supaya mendapat maaf yang sempurna," ucap Rafa.
"Apa itu?" tanya Asyifa.
Rafa menghela napasnya dan Rafa menunjuk pipinya yang apa lagi jika bukan ingin Asyifa mencium pipinya.
"Kak Rafa!" lirih Asyifa.
"Ayo lakukan!" titah Rafa yang menyodorkan pipinya. Asyifa tampak sangat gugup harus melakukan hal itu. Rafa benar-benar membuatnya penuh dengan kecanggungan. Namun demi mendapatkan maaf yang sempurna Asyifa pun melakukannya.
Asyifa menutup mulutnya dengan jarinya yang kebablasan. Padahal itu ulah Rafa dan Rafa tersenyum lebar yang mengerjai Asyifa. Apa lagi wajah Asyifa jadi malu-malu sekarang.
"Asyifa mau ke dapur dulu!" ucap Asyifa gugup dan lebih baik pergi. Namun saat dia berdiri Rafa memegang tangannya yang membuat Asyifa tidak jadi pergi.
"Ada apa kak Rafa?" tanya Asyifa yang tidak berani melihat Rafa.
"Ayo bantu aku menyelesaikan pekerjaan ku," ucap Rafa dengan menarik lembut Asyifa duduk di sampingnya dan Asyifa pun menurut.
"Apa yang bisa Asyifa lakukan?" tanya Asyifa.
"Menciumku," jawab Rafa dengan cepat, "bercanda," goda Rafa yang sudah sempat membuat wajah Asyifa memerah.
__ADS_1
"Issss kak Rafa, benar-benar ya," sahut Asyifa yang jadi kesal sendiri.
Rafa tersenyum yang sepertinya menjadi hobi barunya untuk mengerjai Asyifa terus menerus. Namun Asyifa melakukan apa yang bisa di lakukannya dengan mengerjakan sebisanya.
Jangan tanya Rafa yang duduk di samping Asyifa. Bukannya menyelesaikan pekerjaannya malah terus menatap Asyifa. Asyifa yang menyadari hal itu canggung sendiri dengan wajahnya yang memerah yang mendapat tatapan dari suaminya sampai Asyifa tidak tahan dengan tatapan itu membuat Asyifa menutup wajahnya dengan lembaran dokumen yang di pegangnya yang membuat Rafa mendengus dengan tersenyum yang rasa-rasanya games dengan tingkah Asyifa.
Rafa bahkan menyinggirkan apa yang menutup wajah istrinya itu. Namun Asyifa tetap berusaha menutupinya. Untuk menutupi wajah malunya.
"Kak Rafa sudahlah jangan melihat Asyifa seperti itu," ucap Asyifa malu-malu.
"Kenapa memang dosa," sahut Rafa dengan menaikkan 1 alisnya, bukan begitu tapi Asyifa gugup," jawab Asyifa dengan polos dan kejujurannya yang membuat Rafa lagi-lagi mandengus kasar dengan Asyifa.
Mungkin jika tidak ada Ralat besok. Rafa sudah menggendong Asyifa ke atas ranjang. Huhhh siapa juga yang tahan dengan kelakuan Asyifa. Rasa-rasanya ingin memiliki Asyifa dengan seutuhnya. Tetapi waktu tidak tepat untuk hal itu. Jadi memandangi istrinya sudah jauh lebih baik.
*********
Seperti biasa pagi-pagi Rafa sudah rapi-rapi dengan memakai dasi di depan cermin yang mana Rafa akan kekantor hari ini.
"Biar Asyifa bantu," sahut Asyifa yang tidak tau muncul dari mana dan berdiri di depan Rafa yang mengambil alih pekerjaan Rafa dengan memakaikan dasi suaminya.
Asyifa selalu cari gara-gara dengan membuat Rafa terus di goda imannya. Cantiknya Asyifa yang pagi-pagi sudah rapi, sangat wangi yang memakaikan lembut dasi di hadapannya dengan keseriusannya membuat Rafa tidak hentinya untuk tidak menatap wajah itu.
"Sudah selesai kak Rafa," ucap Asyifa dengan lembut. Rafa menahan tangannya membuat Asyifa heran. Rafa membuka laci dan mengambil kotak handphone dari dalam laci tersebut yang menunjukkan pada Asyifa.
"Apa ini?" tanya Asyifa yang seharusnya tau karena itu kotak handphone.
"Aku telah merusak handphone mu dan ini aku menggantinya," ucap Rafa yang ternyata membelikan Asyifa ponsel baru. Karena ponsel Asyifa sudah di bantingnya. Asyifa jelas terkejut dengan hadiah dari Rafa yang tidak di duga-duganya itu.
__ADS_1
Bersambung