Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 21 bertukar pikiran


__ADS_3

Rafa tidak betah lama-lama di rumah Asyifa yang mana dia harus bersandiwara di sana nantinya. Setelah sarapan Rafa menyuruh Asyifa untuk meyiapkan barang-barangnya agar segera membawa Asyifa kerumah orang tuanya yang pasti hal itu di inginkan orang tuanya menjadi menantu kesayangan di rumah itu.


Asyifa masih berada di dalam kamar yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Asyifa di bantu oleh Lulu yang masih ada di rumahnya.


"Kak Lulu?" tegur Asyifa tiba-tiba.


"Iya ada apa?" tanya Lulu.


"Hmmm, kakak dan kak Roni pertama kali menikah seperti apa?" tanya Asyifa tiba-tiba.


Lulu mengkerutkan dahinya mendengar pertanyaan Asyifa.


"Maksudnya apa Asyifa?" tanya Lulu heran.


"Hmmm, ya kakak sendiri melakukan hal apa pada kak Roni?" tanya Asyifa.


"Tidak ada. Ya pertama-tama kita mengobrol saja. Ya lalu melakukan hal yang seharusnya di lakukan suami istri. Ya ampun Asyifa sebenarnya kamu mau bertanya apa sih. Kakak jadi bingung mau menjawab apa," sahut Lulu.


"Apa kak Roni saat menikah marah pada kakak?" tanya Asyifa tampak hati-hati.


Lulu mendengarnya semakin bingung, " kenapa kamu bertanya seperti itu. Apa terjadi sesuatu?" tanya Lulu heran.


Asyifa terdiam yang tidak tau harus mulai bicara dari mana.


"Asyifa jangan bilang jika di malam pertama kamu sama Rafa. Kalian ribut!" tebak Lulu yang begitu cepat menangkap.


Diamnya Asyifa sudah membenarkan pikiran Lulu. Lulu tampak terkejut dan langsung mendekati Asyifa dengan duduk di pinggir ranjang.


"Kalian serius bertengkar?" tanya Lulu memastikan. Asyifa menghela napasnya perlahan kedepan dan duduk di samping Lulu.

__ADS_1


"Aku tidak tau kenapa kak? tetapi dia langsung marah padaku malam itu dan bahkan terlihat kesal denganku dan mungkin saja aku mengganggunya. Karena dia mungkin kelelahan dengan acara pernikahan dan aku tidak tau itu," ucap Asyifa yang tidak puas jika tidak mengeluarkan apa yang ada di hatinya.


"Astagfirullah. Jadi kalian benar-benar ribut dan kamu sendiri bagaimana?" tanya Lulu dengan wajah terkejutnya.


"Aku hanya diam, karena memang bingung dengan dia yang tiba-tiba marah," jawab Asyifa.


"Asyifa kamu sama Rafa itu baru menikah dan kalian juga tidak pernah bicara sebelumnya. Tidak saling tau sifat dan mungkin masih sama-sama aneh. Kamu sebaiknya minta maaf padanya. Mungkin tidak kamu sadari ada kata yang kamu ucapkan membuatnya tersinggung dan membuatnya marah. Lagian kamu juga belum mengenal bagaimana sifatnya. Bagaimana kekakuannya, apa yang tidak di sukainya dan apa yang di sukainya. Jadi sangat wajar kalau kamu juga tidak tau apa-apa. Tapi tidak salahnya jika kamu meminta maaf padanya. Dia sekarang sudah menjadi suamimu," ucap Lulu memberikan sedikit nasihat pada sepupunya itu.


"Jadi Asyifa akan minta maaf padanya?" tanya Asyifa.


Lulu menganggukkan kepalanya, "minta maaf bukan sebuah dosa. Istri akan mendapatkan pahala jika meminta maaf pada suaminya," ucap Lulu memegang pipi Asyifa.


"Lalu setelah itu?" tanya Asyifa.


"Kalau kamu sudah minta maaf, kamu sama Rafa pasti akan mengobrol untuk saling mengenal lagi dan kamu juga harus lebih mengerti suami kamu, di mana kamu harus mulai belajar. Apa kebiasannya dan yang mana dia suka dan tidak suka. Kamu harus rajin-rajin bertanya pada keluarganya dan pasti pada dia sendiri juga. Jadi kamu dan Rafa akan lebih saling mengenal," jelas Lulu dengan singkat.


"Baiklah kak. Asyifa sekarang lega. Karena sudah bercerita dengan kakak. Sekarang Asyifa tau apa yang harus Asyifa lakukan," ucap Asyifa dengan tersenyum.


"Pantes Asyifa diam saja. Ternyata dia ada masalah dengan Rafa. Semoga saja setelah ini hubungan mereka benar-benar baik-baik saja. Aku sangat mengharapkan hal itu," batin Lulu penuh dengan doanya.


*********


Asyifa akhirnya pergi dari rumah dan ikut dengan suaminya. Ada sedikit keharuan tadi saat berpamitan itu hal yang wajar. Karena harus kehilangan anak perempuan yang di sayangi. Namun ke-2 orang tuanya pasti mendoakan yang terbaik untuk Asyifa dan mempercai Rafa bisa menjaga Asyifa dengan baik.


Asyifa dan Rafa sudah berada di dalam mobil yang di mana mereka tadi di jemput oleh supir. Asyifa dan Rafa duduk di bangku belakang dengan jarak yang jauh, Rafa di ujung dan Asyifa di ujung.


Rafa fokus pada tabletnya yang sama sekali tidak mempedulikan Asyifa di sampingnya di sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Asyifa yang di sebelahnya sebentar-sebentar melihat kesampingnya yang kelihatan ingin bicara dengan Rafa.


"Sebaiknya nanti saja kalau sudah sampai rumahnya aku baru bicara padanya," batin Asyifa dengan menghela napasnya ke depan.

__ADS_1


Asyifa menurunkan kaca mobil. Agar angin masuk kedalam mobil yang mana dia butuh kesegaran.


"Tutup!" titah Rafa dengan suara dinginnya dan Asyifa menoleh kearah Rafa yang tetap fokus pada tabletnya.


"Kau tidak mau melakukannya?" tanya Rafa melihat ke arah Asyifa.


"Kenapa harus di tutup?" tanya Asyifa lembut.


"Jangan kampungan. Ini mobil dan ada AC. Kau bukan dari keluarga miskin. Jadi jangan kampungan," desis Rafa dengan kata-kata pedas, "sekarang tutup!" titah Rafa lagi menekan suaranya.


Asyifa pun menuruti Rafa, "kenapa mempermasalahkan sesuatu yang yang tidak penting. Apa harus bicara sekasar itu," ucap Asyifa sembari menaikkan kembali kaca mobil yang bergerutu pelan.


"Kau bicara apa barusan?" tanya Rafa mulai emosi.


"Aku minta maaf dengan kejadian tadi malam yang membuatmu marah sampai detik ini. Yang harus mempermasalahkan sesuatu yang tidak penting. Jadi maafkan aku," ucap Asyifa dengan lembut.


"Bagimu tidak penting. Tapi bagiku sangat penting," tegas Rafa menekan suaranya.


"Apa maksudmu?" tanya Asyifa.


"Jangan memancingku bicara hanya untuk meladenimu. Kau dengarkan aku. Bagiku bicara denganmu hanya membuang waktu saja. Sama dengan pernikahan yang kau ciptakan. Sangat membuang waktuku," desis Davin.


"Apa maksudmu? Kenapa bicara seperti itu!"


" Cukup!" bentak Rafa.


"Jangan bertanya ini itu yang membuat kita bicara lama-lama. Jika kau bicara lagi. Aku akan menurunkanmu di sini!" Ancam Rafa. Asyifa terdiam dan mengalihkan wajahnya ke arah jendela mobil. Rafa menghela napasnya ke depan dan kembali fokus pada tabletnya.


" Meski menikah tidak saling mengenal. Bukankah kesan pertama tidak seperti ini. Aku memang tidak mengetahui bagaimana sifatnya. Belum mengenalinya atau sebagainya. Tetapi apa harus dia membuat kesan seperti ini dan ini tidak sama dengan novel tertulis dalam Imamku yang di tulis ibu," batin Asyifa dengan kesedihan di wajahnya.

__ADS_1


" Aku akan membuatmu menyesal dengan tindakanmu yang berani menerima pernikahan ini. Aku akan merasakan bagaimana perihnya pernikahan yang kau impikan itu," batin Rafa.


Bersambung


__ADS_2