
Asyifa dan Rafa jalan-jalan di kota Mekkah. Setelah makan siang mereka langsung jalan-jalan. Di kota Mekkah memang panas. Namun tidak masalah bagi Asyifa harus berjalan-jalan walau panas yang penting bersama Rafa.
Mereka tadi banyak menghabiskan waktu dari melakukan ini, itu, jalan sana, jalan sini, melihat-lihat kota Mekah dengan menggunakan mobil dan juga dengan jalan kaki yang mana ke-2nya sama-sama sangat happy.
Sekarang mereka berdua duduk berhadapan dengan menikmati eskrim dan melihat ke ramaian di depan mereka.
"Berapa lama kamu tinggal di sini?" tanya Rafa sembari menikmati eskrim.
"Asyifa tidak bisa menjelaskannya berapa lama. Dulu waktu kecil Asyifa juga pernah belajar sampai kurang lebih 6 bulan di sini dan setelah itu juga pernah 3 bulan dan tidak jelas lah. Tapi belakangan ini Asyifa tinggal 1 tahun di sini menyelesaikan kuliah," jawab Asyifa.
"Kalau begitu kamu sudah tau banyak tentang Mekah?" tanya Rafa.
"Bisa di katakan. Tetapi masih banyak yang belum Asyifa ketahui," jawab Asyifa dengan tersenyum.
"Bagi Asyifa tempat ini adalah tempat favorit Asyifa. Seperti yang dulu pernah Asyifa katakan. Ibu dan ayah Asyifa yang sudah berpisah selama 4 tahun bertemu di sini dan Asyifa sendiri yang mempertemukan mereka. Padahal Asyifa tidak tau siapa ibu Asyifa," jelas Asyifa yang masih mengingat hal itu.
"Kamu sudah pernah mengatakan hal itu," sahut Rafa.
"Kak Rafa tidak bosan mendengar cerita Asyifa?" tanya Asyifa. Rafa menggelengkan kepalanya.
"HmmmKak Rafa sendiri bagaimana, sudah berapa kali ke mari?" tanya Asyifa.
"Pernah 2 kali. Saat melakukan ibadah umroh di sini," jawab Rafa.
"Ibadah umroh?" tanya Asyifa.
"Kenapa, kau tidak percaya, kalau pernah umroh?" tanya Rafa dengan menaikkan 1 alisnya.
"Tidak kak Rafa. Asyifa tidak mengatakan apa-apa kok. Kenapa kak Rafa mengatakan hal seperti itu," sahut Asyifa.
"Ekspresi mu itu seolah-olah aku ini seorang pendosa dan tidak pernah beribadah," sahut Rafa dengan kesal.
__ADS_1
"Asyifa tidak mengatakan apa-apa. Tetapi kak Rafa sudah berpikiran buruk aja pada Asyifa," sahut Asyifa, "tapi kan Asyifa memang tidak pernah melihat kak Rafa beribadah," ucap Asyifa dengan hati-hati bicara takut Rafa tersinggung.
Hal itu membuat Rafa melihat Rafa dengan serius.
"Maaf kak Rafa, Asyifa tidak bermaksud apa-apa. Asyifa hanya mengatakan saja. Ya mungkin kak Rafa beribadahnya di luar. Lagian imam sholat tidak harus mengimami istrinya di rumah karena suami sholatnya di mesjid itu sama saja memang seperti sudah mengimami Asyifa. Tapi sekali-kali Asyifa juga ingin di imami kak Rafa," ucap Asyifa dengan pelan yang sebenarnya Asyifa sangat takut salah bicara.
Rafa hanya diam yang sepertinya sadar diri dengan dirinya yang menjadi suami yang tidak bisa mengimami istrinya. Rafa sudah di tampar dengan kata-kata Asyifa dan Asyifa juga mengatakannya dengan lembut dan sangat hati-hati.
"Jangan tersinggung ya kak Rafa," ucap Asyifa yang takut Rafa marah.
"Tidak apa-apa. Tidak ada yang tersinggung jika yang kamu katakan itu adalah kebenarannya," jawab Rafa dengan santai.
Namun dari pembahasan mereka yang barusan malah membuat Asyifa dan Rafa terdiam dan tidak ada yang bicara lagi. Asyifa takut apa yang di katakannya salah dan Rafa sendiri seakan mengoreksi dirinya yang membuat suasana hening dengan ke-2nya yang menikmatinya eskrim.
Tidak tau apa rasa eskrim tersebut apakah sangat enak lagi, sangat manis atau rasanya sudah hambar.
"Asyifa!" tegur Rafa.
"Kamu wisudanya kapan?" tanya Rafa.
"Lusa?" jawan Asyifa.
"Lalu apa persiapannya sudah beres?" tanya Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya yang memang sudah selesai semuanya.
"Kalau begitu mari besok ibadah umroh!" ajak Rafa tiba-tiba.
Jantung Asyifa mendengarnya berdebar dengan kencang. Tanpa terasa air matanya jatuh seketika. Dengan perkataan Rafa yang mengajaknya untuk melakukan ibadah umroh. Dan Asyifa tidak percaya apakah Asyifa salah dengar atau tidak dengan ajakan Rafa.
Rafa menggengam tangannya yang ada di atas meja sembari jarinya mengusap-usap punggung tangan Asyifa.
"Kamu mau melakukan ibadah umroh bersama ku?" tanya Rafa yang memperjelas keinginannya membuat Asyifa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Asyifa rasanya ingin menangis. Karena terharu dengan ajakan suaminya. Suaminya yang tiba-tiba mengajaknya umroh dan padahal itu memang keinginan Asyifa dan ingin mengatakannya pada Rafa. Namun Asyifa takut Rafa marah dan tersinggung. Karena Rafa selalu menganggapnya wanita sok suci dan barusan saja Asyifa menyinggung soal ibadah. Wajah Rafa saja sudah berubah bahkan ke-2nya sama-sama hening sampai beberapa menit.
Dan tiba-tiba sekarang mengajaknya ibadah umroh. Perasaan Asyifa tidak bisa di katakan seperti apa sekarang ini benar-benar sangat bahagia. Yang tidak tau bagaimana mengatakan kebahagiannya dengan perasaannya yang bercampur aduk.
"Makasih kak Rafa, sudah mengajak Asyifa untuk umroh," ucap Asyifa.
"Kenapa kau jadi menangis. Dasar cengeng," desis Rafa dengan tersenyum miring.
Dia tau sebenarnya tangisan Asyifa itu karena rasa haru yang di alaminya dengan Rafa yang akan umroh bersamanya. Rafa juga tidak tau kenapa tiba-tiba saja ingin melakukan hal itu.
Apa mungkin Rafa sedang mendapatkan hidayah dari sang maha pencipta makanya hatinya terketuk dan mengajak sang istri untuk ibadah bersama. Ya pasti Rafa hatinya sudah terketuk dengan kehadiran Asyifa yang membawa aura positif baginya.
************
Setelah menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan. Akhirnya Rafa dan Asyifa kembali ke Apartemen mereka dan ada Zee yang duduk di Sofa sembari bermain handphone.
"Kak Rafa sama kak Asyifa. Jalan-jalan tidak mengajak Zee," sahut Zee dengan mengeluh.
"Kamu itu mau ikut aja. Kalau mau jalan-jalan. Jalan-jalan aja sendiri," sahut Rafa.
"Isss dasar pelit baru juga seperti itu dah langsung mengatakan hal seperti itu. Mentang-mentang lagi rindu-rindunya pada istrinya. Jadi maunya jalan-jalan sama istrinya aja," ucap Zee.
"Kamu ini ya. Bicara sembarangan aja," sahut Rafa. Asyifa hanya tersenyum melihat Zee dan Rafa yang bertengkar kecil yang sebelumnya Asyifa tidak pernah melihat asyik dan kakak itu bertengkar games seperti itu. Karena yang iya ketahui Rafa itu sangat dingin dan pasti sangat jarang berbicara dengan keluarganya.
"Sudahlah kak Rafa, Zee jangan ribut. Nanti kita bisa jalan-jalan bersama lagi. Waktu masih banyak," sahut Asyifa yang mencoba menjadi penengah.
"Sudahlah Asyifa jangan memikirkan dia. Dia punya kaki dan bisa gerak sendiri. Ayo kita naik," sahut Rafa yang langsung mengajak Asyifa untuk pergi.
"Huhhhh, dasar bucinnya udah kumat," teriak Zee. Namun Rafa tidak peduli dan tetap menaikinya anak tangga bersama dengan istrinya.
Bersambung
__ADS_1