Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 59.


__ADS_3

Mendengar ucapan Asyifa membuat Rafa frustasi yang berharap itu salah dengar dan menatap Asyifa memastikan perkara Asyifa.


"Apa katamu?" tanya Rafa dengan suara seraknya.


"Sakit," ucap Asyifa dengan wajahnya yang menahan sakit, "perut Asyifa sakit, Asyifa sepertinya datang bulan," ucap Asyifa yang menahan rasa sakit di perutnya.


Rafa mendengus kasar dan langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Asyifa. Gila Rafa benar-benar bisa stres jika begini. Sudah di penuhi gairah dan ingin menuntaskan hasratnya tiba-tiba istrinya katanya datang bulan. Kedatangan tamu yang tidak di undang.


Kepala Rafa jadi sakit kan. Kepala Rafa bisa pecah karena permainan yang berhenti di tengah jalan dan bahkan gairah sudah memenuhi tubuhnya.


"Maaf kak Rafa," ucap Asyifa yang langsung berdiri dan buru-buru langsung kekamar mandi untuk mengecek keadaannya sebenarnya.


Huhhhhhhhh, Rafa membuang napasnya kasar kedepan yang benar-benar frustasi dengan Asyifa. Rafa langsung duduk dengan mengusap wajahnya dengan kasar, matanya, dan wajah itu masih di penuhi dengan keringat. Keringat dari hasrat yang membara.


"Apa-apaan sih Asyifa, bisa-bisanya..." umpat Rafa yang sepertinya begitu kesal dengan Asyifa sampai Rafa mengusap berkali-kali wajahnya dengan kasar.


Rafa menoleh ke arah kamar mandi dan langsung turun dari ranjang. Rafa menghampiri kamar mandi dan langsung mengetuk pintu.


Toko-tok-tok-tok.


"Asyifa kau baik-baik saja?" tanya Rafa sembari mengetuk pintu, "Asyifa kau mendengarku?" tanya Rafa lagi yang terus mengetuk pintu.


Ceklek.


Asyifa membuka pintu kamar dan memperlihatkan Asyifa yang keluar. Namun hanya kepalanya saja yang keluar.


"Bagaimana?" tanya Rafa.


"Kak Rafa Asyifa memang sedang datang bulan dan sekarang perut Asyifa sakit," ucap Asyifa dengan wajahnya yang menahan sakit. Bahkan tangannya yang memegang perutnya.


"Lalu?" tanya Rafa.


"Kak Rafa Asyifa tidak membawa pembalut. Asyifa lupa persediaan," ucap Asyifa.


"Lalu?" tanya Rafa lagi.


"Hmmm, boleh tidak Asyifa minta tolong untuk membelikan Asyifa pembalut," ucap Asyifa dengan hati-hati bicara.


"Kau sedang menyuruhku?" tanya Rafa dengan menaikkan satu alisnya.


"Maaf kak Rafa. Asyifa tidak bermaksud. Tetapi Asyifa tidak mungkin keluar untuk membelinya," ucap Asyifa yang sangat takut jika Rafa marah.


Rafa menghela napasnya dengan kasar yang berkacak pinggang di depan kamar mandi yang tidak tau mau mengatakan apa lagi.


"Maaf kak Rafa," ucap Asyifa lagi menunduk.


Rafa melihat Asyifa terlihat kasihan dan tidak mungkin membiarkan istrinya seperti itu yang memang tidak mungkin Asyifa pergi untuk membeli sendiri, "kau selalu saja merepotkan," ucap Rafa dengan kesal dan langsing pergi dari hadapan Asyifa.


"Kak Rafa ingin membelinya?" tanya Asyifa.


"Menurutmu," sahut Rafa yang keluar dari kamar. Asyifa tersenyum tipis mendengarnya dan senyumnya langsung kembali menahan rasa sakit di perutnya.


***********


Mau tidak mau Rafa harus membeli apa yang di butuhkan istrinya. Untung saja tidak jauh dari penginapan ada mini market dan Rafa bisa membelinya di sana. Rafa langsung memasukkan tempat itu dan ketika masuk malah bingung di mana tempatnya.


"Apa ya namanya!" batin Rafa yang kebingungan melihat di rak-rak.


Rafa mencoba memperhatikan dengan teliti yang di temuinya hanya pemperes dengan banyak merek dan ukuran.


"Masa iya dia memakai ini," batin Rafa yang bingung sendiri. Karena ini pertama kali dia membeli hal-hal aneh seperti itu.


"Asyifa kau itu benar-benar merepotkan," gumam Rafa dengan kekesalannya.


Salahnya sendiri. Kenapa pergi begitu saja. Seharusnya bisa bertanya dulu dengan teliti pada Asyifa. Tidak mau ambil pusing dan stres sendiri. Rafa menghampiri kasir. Ada baiknya langsung bertanya pada kasir.


"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya salah satu kasir yang sedang tidak menghitung belanjaan, sementara ada juga beberapa orang di sana yang melakukan pembayaran.


"Saya tidak menemukan pembalut wanita di mana ya kira-kira tempatnya?" tanya Rafa dengan santainya.


Namun pertanyaannya Rafa tersebut justru membuat di sekeliling Rafa tampak heran dan bahkan tertawa pelan. Jangankan orang yang di sekitar Rafa kasir tersebut pun tertawa dengan menutup mulutnya.


"Apa ada yang lucu, kenapa mereka menertawakanku," batin Rafa yang menyadari jika dia sedang di tertawakan.

__ADS_1


"Apa ada yang saya tanya?" tanya Rafa dengan wajah seriusnya.


"Ada mas. Baiklah ayo ikut saya," sahut wanita itu yang membawa Rafa menuju rak di mana tempat berada benda yang di cari Rafa.


"Mau yang mana mas. Soalnya banyak mereknya," sahut wanita itu. Rafa juga melihat sangat banyak dan bingung mau yang mana.


"Yang mana lagi sih ini," batin Rafa bertambah kesal.


Sementara wanita pelayanan tokoh itu langsung pergi. Meninggalkan Rafa yang penuh dengan kebingungan.


Tidak mau ambil pusing akhirnya Rafa mengambil keranjang dan memasukkan setiap satu merek kedalam keranjangnya. Agar tidak salah beli.


Namun apa yang di lakukan Rafa sangat mencuri perhatian orang-orang yang berbelanja. Bahkan mereka berbisik-bisik mencibir Rafa dengan senyum-senyum yang membuat Rafa kesal sendiri dengan yang menjadi bahan obrolan. Rafa juga tidak mengerti apakah yang di lakukannya itu salah atau tidak dan kenapa orang-orang begitu heboh dengannya.


"Aneh!" batin Rafa dengan kesal dan buru-buru memenuhi keranjangnya. Lalu langsung membayar ke kasir.


Lagi-lagi kasir tersebut juga senyum-senyum membuat Rafa bawaannya kesal sendiri yang sejak tadi terus saja di perhatikan.


"Dia sangat perhatian pada pacarnya. Lihatlah sampai membeli seperti itu kapan aku punya pacar seperti itu," ucap salah satu wanita yang berbisik pada temannya.


Rafa tidak peduli dan buru-buru pergi setelah selesai melakukan pembayaran. Rafa bisa gila yang menjadi pusat perhatian dan cibiran banyak orang.


**********


Setelah Rafa mendapatkan apa yang di butuhkan Asyifa. Bahkan sangat lebih dari apa yang di butuhkan Asyifa. Rafa langsung kembali ke hotel dan mendapati Asyifa yang berdiri di depan kamar mandi yang hanya menggunakan bathrobe saja.


"Kak Rafa sudah pulang?" tanya Asyifa.


"Ini yang kau minta," sahut Rafa dengan ketus memberikan kantung plastik tersebut. Betapa terkejutnya Asyifa saat melihat kantung plastik yang besar itu dengan isinya yang penuh.


"Ini untuk Asyifa?" tanya Asyifa dengan wajah terkejut.


"Jadi untuk siapa lagi, untukku," sahut Rafa.


"Kenapa sebanyak ini dan ini bisa stok sampai bertahun-tahun," ucap Asyifa benar-benar masih terkejut.


"Ya aku mana tau kalau kau butuh berapa dan memakai yang mana. Makanya kalau mau menyuruh itu yang jelas jangan tanggung-tanggung," sahut Rafa dengan kesalnya.


"Tapikan kak Rafa tadi langsung pergi. Asyifa belum selesai bicara," ucap Asyifa.


Asyifa mengangguk-angguk dan mengambil salah satu merek yang sering di gunakannya yang pasti ada. Karena Rafa membeli semua merek dan Asyifa langsung buru-buru pergi kekamar mandi.


"Sudah syukur di belikan. Bukannya berterima kasih malah mengatakan hal lain. Benar-benar," geram Rafa dengan kesal.


Dia sudah malu tadi dan Asyifa malah banyak protesnya. Tidak memprotes Asyifa hanya kaget saja. Dengan banyaknya yang dibelikan Rafa. Jadi wajar saja tanggapan Asyifa seperti itu. Padahal sejak tadi Asyifa sudah sangat senang dengan Rafa yang baik hati mau membelikannya pembalut wanita yang pasti tidak semua Pria bisa di suruh seperti itu. Namun kali ini Rafa berbeda ya perhatian pada Asyifa.


Setelah selesai memakai pembalut. Asyifa keluar dari kamar mandi. Asyifa cukup terkejut dengan Rafa yang ternyata masih menunggunya yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan bersandar miring dan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.


"Kak Rafa bikin Asyifa terkejut," ucap Asyifa dengan menegakkan dadanya yang jantungnya sempat berdebar tadi.


"Memang kau pikir aku setan apa," ucap Rafa dengan kesal.


"Bukan begitu kak Rafa," ucap Asyifa.


"Bagaimana apa ada masalah?" tanya Rafa.


"Masalah apa?" tanya Asyifa.


Rafa menghela kasar napasnya.


"Ya masalah kamu, apa masih ada masalah dengan drama datang bulanmu," ucap Rafa dengan kesal.


"Siapa yang drama. Memang Asyifa datang bulan kok," sahut Asyifa.


"Oke-oke sudah jangan di perpanjang, bicara dengamu tidak nyambung," sahut Rafa memijat pelipisnya dan langsung pergi dari hadapan Asyifa.


Wajah Asyifa terlihat bingung dengan Rafa yang justru berbicara tidak nyambung. Asyifa tidak peduli dia juga terlihat menahan sakit apa lagi tangannya terus memegang perutnya yang terasa perih.


"Apa perlu ke Dokter?" tanya Rafa yang memperhatikan Asyifa dari wajah Rafa sangat jelas jika Rafa sangat khawatir pada Asyifa.


"Tidak perlu kak, bentar lagi juga sembuh, hal ini biasa Asyifa alami," jawab Asyifa.


"Kalau begitu sebaiknya istrahat," ucap Rafa dengan lembut.

__ADS_1


Asyifa mengangguk-angguk dan perlahan mendekati ranjang untuk beristirahat. Rafa bahkan dengan baik membantu Asyifa merebahkan diri Asyifa di atas tempat tidur dan juga menyelimutinya.


"Istirahat lah," ucap Rafa. Asyifa mengangguk dan Rafa pun beralih. Namun Asyifa tiba-tiba menahan pergelangan tangannya membuat langkah Rafa terhenti.


"Ada apa?" tanya Rafa.


"Kak Rafa mau kemana?" tanya Asyifa.


"Aku mau tidur di sofa," jawab Rafa, "kenapa?" tanya Rafa.


"Tidak apa-apa. Asyifa hanya meminta maaf untuk kejadian ini dan pikiran Asyifa yang tadi sempat buruk pada kak Rafa. Makasih kak Rafa sudah membantu Asyifa malam ini," ucap Asyifa dengan lembut yang memang sangat tulus mengucapkan terima kasih.


"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Rafa.


"Tidak ada lagi. Hari ini sudah cukup. Terima kasih kak Rafa," ucap Asyifa.


"Istirahatlah. Jika ada apa-apa bangunkan aku," ucap Rafa. Asyifa mengangguk-angguk dan perlahan tangan Asyifa melepas tangannya dari Rafa dan Rafa juga langsung berjalan menuju sofa.


"Maafkanlah Asyifa ya Allah. Jika Asyifa berpikir kak Rafa akan menemui Miranda," batin Asyifa yang sempat punya pikiran negatif yang ternyata tidak Rafa memang tidak kemana-mana dan memang Rafa membaringkan tubuhnya di Sofa yang perlahan memejamkan matanya.


************


Mentari pagi kembali tiba dan terlihat Asyifa yang masih tertidur dengan lelap. Sebenarnya Asyifa baru saja tidur karena tadi malam dia sangat sulit tidur yang sebentar-sebentar kekamar mandi dan juga meringgis kesakitan. Namun sekarang kondisi Asyifa sudah baikan dan barulah Asyifa bisa tertidur dengan lelap sampai matahari sudah begitu cerah dan Asyifa belum juga bangun.


Sementara Rafa sendiri sudah bangun dan sekarang terlihat sangat membuka tirai jendela kamar yang membuat mata Asyifa menjadi silau dan Asyifa juga saat itu langsung terbangun dengan mengerjapkan matanya yang sillau karena ulah Rafa.


"Ini sudah pagi," ucap Asyifa menguap pelan melihat ke arah jendela yang Rafa berdiri di sana.


"Kak Rafa kenapa tidak membangunkanku?" tanya Asyifa yang mencoba duduk.


Rafa menghampiri Asyifa yang mana Rafa menuangkan air hangat dari dalam termos ls dalam gelas.


"Minumlah!" ucap Rafa yang memberinya pada Asyifa dan Asyifa langsung mengambilnya dan langsing meneguknya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rafa.


"Sudah enakan," jawab Asyifa.


"Kalau begitu bangunlah kau harus mandi aku sudah membelikanmu pakaian ganti, cepat bersihkan dirimu," ucap Rafa.


Asyifa mengangguk dan meletakkan gelas tersebut di atas nakas. Dan Asyifa langsung turun dari ranjang. Tapi tiba-tiba Asyifa kembali duduk.


"Ada apa?" tanya Rafa dengan menaikkan alisnya.


"Kak Rafa, kakak keluar sebentar boleh. Seprainya kotor dan Asyifa mau bersihkan sebentar," icao Asyifa yang malu saat mengatakannya.


"Aku menyuruhmu untuk mandi bukan membersihkan tempat tidur," ucap Rafa


"Iya tau, ta-tapi kan tidak mun..."


Belum sempat Asyifa melanjutkan kata-kata Rafa langsung menarik tangan Asyifa yang membuat Asyifa langsung berdiri dari tempat tidur.


"Kak Rafa!" pekik Asyifa. Rafa bahkan menarik Asyifa menuju kamar mandi sampai Asyifa memasuki kamar mandi.


"Jangan sampai aku memandikan mu," ucap Rafa memberi ancaman yang bisa di katakan sangat mengerikan.


"Iya tidak perlu," sahut Asyifa yang mendorong Rafa keluar dari kamar mandi. Rafa hanya geleng-geleng dan membiarkan Asyifa mandi.


Asyifa hanya tidak enak. Karena begitu berantakan apalagi seprai kotor karena perbuatannya. Jadi dia takut Rafa marah dan pihak kamar mungkin. Tetapi saat ingin membersihkannya. Rafa malah menyuruhnya untuk mandi dan meninggalkan tempat itu seperti itu.


***********


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian yang di belikan Rafa yang lagi-lagi pakaiannya pas di tubuh Asyifa. Asyifa keluar dari kamar dan melihat kamar tersebut sudah tampak sangat rapi dan membuat Asyifa heran.


Asyifa menoleh ke arah luar di teras balkon yang mana Rafa terlihat berdiri di sana yang sednag berdiri di pinggir balkon dengan kedua tangannya yang di letakkannya di atas pagar.


"Siapa yang membersihkan kamar ini. Apa lihat hotel datang membersihkannya," batin Asyifa dengan penuh tanya yang memang kamar itu benar-benar bersih.


Asyifa pun melangkahkan kakinya menuju balkon di mana ada Rafa yang mana Asyifa langsung berdiri di belakang Rafa.


"Kak Rafa!" tegut Asyifa membuat Rafa melihat kearah belakang.


"Kau sudah selesai?" tanya Rafa.

__ADS_1


Asyifa menganggukkan kepalanya. Rafa melihat Asyifa dari atas sampai bawah. Dia mengamati wajah Asyifa yang selalu cantik padahal tidak memakai makeup sama sekali dan mungkin itu juga karena pakaian yang diberikannya yang sangat cocok dengan Asyifa.


Bersambung.


__ADS_2