
Pagi hari yang cerah kembali Asyifa bangun dari tidurnya. Karena matahari yang bersinar menggangu tidurnya. Asyifa memegang kepalanya yang terasa sangat berat. Saat memegang kepalanya Asyifa melihat telapak tangannya yang sudah di perban membuatnya bertanya-tanya siapa yang melakukannya.
"Apa yang terjadi?" batin Asyifa yang mungkin dia lupa dengan kejadian tadi malam yang begitu hebat.
Asyifa mencoba untuk duduk. Tubuhnya terasa sangat pegal. Mungkin karena bantingan Rafa tadi malam. Asyifa menghela napasnya kedepan dengan melihat handpdhonnya yang ternyata sudah pukul 2 siang.
Bukan pagi lagi sudah siang dan mungkin Asyifa tidak sadar. Karena cuaca begitu dingin dan di tambah sebelumnya dia juga tidak sadarkan diri.
"Aku kesiangan," ucapnya dengan suara lemahnya. Bukan kesiangan lagi. Tapi sudah melebihi dari kata kesiangan.
"Ya Allah apa yang terjadi setelah semalam dan kak Rafa?" Asyifa bertanya-tanya. Dia mengingat Rafa sedang marah kepadanya dan setelah itu dia tidak tau apa yang terjadi lagi setelah itu.
"Sebaiknya aku mandi agar tubuhku enakan," ucap Asyifa dengan suaranya yang begitu serak.
Asyifa kembali memegang kepalanya yang sangat berat dan perlahan turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Mungkin dia harus berendam air hangat, agar tubuhnya membaik.
*********.
Asyifa yang sudah selesai mandi danrapi-rapi dengan memakai gamisnya dan juga balutan jilbabnya. Asyifa langsung keluar kamar dengan langkahnya yang terlihat masih sangat lsmas. Mungkin Asyifa pasti untuk mengisi perutnya karena sejak tadi keroncongan.
Plaak.
Asyifa di kejutkan saat ingin menuruni anak tangga melihat ibu mertuanya Shofia menampar Rafa. Asyifa menutup mulutnya dengan wajah shocknya dan mengurungkan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
"Anak kurang ajar kamu!" bentak Shofia
Plakkk.
__ADS_1
Rafa bahkan mendapat tamparan ke-2 di pipi yang berbeda.
"Mah sudah," Xander berusaha menenangkan istrinya yang amarahnya membara karena perlakuan Rafa yang membuatnya spot jantung. Begitu mengetahui kabar dari Asyifa. Shofia langsung ingin buru-buru menyusul Asyifa. Menantunya Ardi mendapatkan tiket pesawat dengan penerbangan paling cepat dan akhirbha Shofia bisa sampai ke tempat anak dan menantunya.
Amarah seorang ibu terluapkan begitu sampai. Belum sempat Rafa mengeluarkan 1 pataah kata. Shofia sudah melayangkan tangannya.
"Apa ini usaha mama selama ini membesarkan kamu Rafa. Mama mendidikmu dengan ilmu agama dan juga sosial. Mama tidak pernah memintamu harus menjadi seorang ustadz. Mama mendidikmu supaya kamu punya ahlak akal yang sehat. Tetapi ternyata apa yang mama didik selama ini tidak ada artinya. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa melakukan hal sangat rendah seperti itu. Di depan istrinya sendiri, keterlaluan," ucap Shofia penuh penekanan dengan menunjuk-nunjuk di wajah Rafa.
"Wanita itu lagi. Kau masih berhubungan dengannya dan bahkan membawanya kemari. Kau sadar tidak Rafa dengan perbuatan mu. Kau sudah menyakiti istrimu!"teriak Shofia.
"Itu bukan salahku,"sahut Rafa dengan suara beratnya.
"Apa katamu. Kau masih tidak mengakui kesalahanmu," sahut Shofia semakin geram.
"Aku tidak mencintainya. Tidak menyukainya dan tidak mengenalnya. Aku sudah mengingatkan mama dan papa sebelumnya. Silahkan lanjutkan pernikahan itu dan jangan salahkan aku. Bagaimana nanti dia berada di dalam kehidupanku. Karena aku sangat membencinya. Jadi apa yang aku lakukan itu adalah resiko yang harus di dapatkannya," ucap Rafa dengan wajahnya yang terlihat sangat datar.
"Aku tidak pernah memilih hal itu. Kalian yang membuatku melakukannya," sahut Rafa.
"Kamu itu keterlaluan Rafa. Papa sangat kecewa sama kamu. Papa tidak mengharapkan kamu untuk langsung jatuh cinta pada Asyifa. Tapi paling tidak kamu perlakukan dia dengan baik. Dia datang dari keluarga baik-baik dan dia sendiri anak yang baik. Tapi kamu malah melukai hatinya. Di mana perasaanmu Rafa," ucap Xander.
"Sudah mati!"jawab Rafa, "semuanya sudah mati. Tidak ada perasaan lagi dan itu karena tekanan dari mama dan juga papa,"ucap Rafa dengan tersenyum sinis melihat ke arah mamanya.
"Kamu menyalahkan mama?"tanya Shofia.
"Lalu jika tidak apa lagi. Mama yang sudah menghancurkan segalanya. Aku jelas-jelas punya kekasih. Tetapi menikahkanku dengannya dan itu bukan kesalahanku aku dan...,"
"Jangan menyebut nama wanita itu!" terkak Shofia, " kamu dengar ya Rafa. Jika kamu berani sekali lagi melakukan semua itu. Bukan kamu yang akan terkena imbasnya lagi. Wanita yang kamu bangga-banggakan itu akan mendapatkan hal yang sama. Mama juga bisa menjadi seorang iblis," tegas Shofia memberi peringatan kepada Rafa.
__ADS_1
Asyifa yang berada di balik Villar di dekat tangga kembali meneteskan air matanya. Ketika mendengar kata-kata Rafa.
"Sebelum aku menerima perjodohan itu aku sudah memeinta petunjuk padamu ya Allah. Dan engkau melancarkan semuanya. Jika ini kehendakmu. Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Tidak ada yang mudah dan mungkin engkau sedang menguji kesabaran ku sebagai seorang istri. Jika memang dia adalah jodohku sampai ke surga nanti maka tetap satukan kami. Walau apapun yang terjadi sesakit apa yang aku hapai. Aku akan menahannya ya Allah. Karena aku yakin pasti asa hal yang indah di balik semua ini," batin Asyifa dengan mengusap dadanya yang ikhlas dengan menerima takdirnya.
Pernikahannya atas campur tangan Allah. Dia hanya percaya kepada sang penciptanya. Karena Allah tidak mungkin Allah memberi cobaan kepada hambanya di luar batas kemampuan hambanya.
*********
Asyifa kembali kekamarnya dan duduk di pinggir ranjang
"Aku tidak seberuntung ibu dalam pernikahan. Yang mana mendapatkan ayah yang begitu lembut. Tetapi ibu juga tidak seberuntung ku saat masa-masa muda sebelum menikah. Ibu mengatakan hidupnya penuh kesulitan dan aku penuh kebahagia. Karena ayah dan Ibu yang selalu ada. Sudah ada porsi masing-masing Asyifa untuk kehidupan manusia. Jangan terus mengeluh Asyifa. Allah hanya mengujimu saja," ucap Asyifa.
"Aku sepertinya sudah kelewatan. Tidak seharusnya aku membuka aib suamiku. Sehingga suamiku tadi mendapat amarah yang besar. Ya Allah maafkan Asyifa yang masih terlalu berpikiran pendek dalam rumah tangga Asyifa. Yang seharusnya Asyifa menjaga nama baik suami Asyifa dan tidak mengumbar permasalahan rumah tangga Asyifa. Ampuni Asyifa ya Allah," batin Asyifa yang menyadari kesalahannya. Jika apa yang terjadi tidak seharusnya di lakuaknnnya.
Asyifa melihat ke atas nakas yang ada beberapa obat.
"Obat apa ini," ucap Asyifa bingung dan melihat ada sepotong kertas. Asyifa langsung membacanya.
..."Minum obatmu sesui dengan keterangannya. Jangan bertanya lagi kepadaku nanti. Kau akan mendapatkan yang lebih parah jika berani melakukannya lagi. Ini Dokter yang menyuruhmu untuk meminum obatmu. Bukan aku," tulis Davin....
Tulisan saja sangat datar. Namun Asyifa terlihat tidak takut dan malah melengkung senyum tipis di wajahnya.
"Apa dia harus menekankan kalau Dokter yang menyuruhnya," gumam Asyifa yang terlihat hatinya sangat terhibur dengan perhatian Rafa.
Ya walau Rafa menekankan semua perkataan Dokter. Namun Asyifa tidak peduli sama sekali. Karena Rafa yang menulisnya.
Bersambung
__ADS_1