Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 47


__ADS_3

Rafa masih terus melihat Vidio rekaman Asyifa yang sangat lucu dan menggemaskan. Asyifa memang sejak kecil sudah sangat cantik.


"Sampai sekarang suaranya sama saja. Anak kecil yang apa-apa minta maaf terus menerus," cicit Rafa yang harus mengomentari Asyifa.


"Ya sudah sekarang Asyifa makan," ucap Ratih.


"Baik nenek," sahut Asyifa.


"Assalamualaikum!" sapa Rendy yang tiba-tiba datang dan kamera langsung mengarah pada Rendy.


"Ayah!" sahut Asyifa yang langsung berlari menghampiri sang ayah dan Rendy langsung menggendong Asyifa.


"Ayah sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Asyifa yang sangat menggemaskan di gendongan Rendy.


"Iya Asyifa. Ini hari Jumat. Asyifa lupa. Kalau hari ini kita harus...."


"Pergi ke makam ibu," sahut Asyifa melanjutkan kata-katanya.


Rafa mendengarnya mengkerutkan dahinya dengan tersenyum pada Asyifa.


"Makam ibu. Jadi Tante Rania bukan ibu kandungnya. Wajah mereka mirip sama-sama cantik," ucap Rafa yang sepertinya tidak menyadari jika barusan dia mengatakan Asyifa cantik.


Namun Rafa masa bodo dan kembali melihat lanjutan Vido rekaman itu. Tidak tau saja mengapa Rafa tertarik melihatnya. Biasanya juga waktunya di habiskan untuk pekerjaan dan sekarang jenuh Rafa terus menonton rekaman yang berganti-ganti.


Bahkan sekarang Rafa melihat Asyifa yang mengaji yang mengeluarkan suara merdunya yang tidak tau kenapa Rafa terus melihatnya dan sepertinya hatinya sangat adem melihat bocah 4 tahun itu yang begitu cantik memakai jilbab yang mengeluarkan suara indahnya.


Krekkk.


Tiba-tiba Asyifa memasuki kamar dan melihat Rafa sudah bangun yang sekarang menonton televisi dan Asyifa yang berdiri di depan pintu pasti tidak melihat apa yang di tonton Rafa.


"Kak Rafa sudah bangun?" tanya Asyifa membuat Rafa terkejut.


Saat membuka pintu tadi Rafa tidak mendengar dan tidak tau jika Asyifa masuk. Rafa tidak menjawab pertanyaan Asyifa dan kembali menonton rekaman masa kecil Asyifa yang sekarang bermain bersama Rendy dan mulut Asyifa yang tidak pernah diam yang bicara seperti orang dewasa sangat lancar dan banyak taunya.


"Pantesan sampai sekarang dia seperti itu. Tidak mau kalah dan selalu merasa benar. Sudah besar. Tetapi tetap seperti anak kecil," gerutu Rafa di dalam hatinya.

__ADS_1


Asyifa sangat penasaran dengan apa yang di lihat Rafa yang langsung Asyifa menghampiri Rafa untuk melihat layar televisi dan Asyifa terkejut melihat Rafa yang sedang menonton dirinya.


"Kak Rafa kenapa melihat itu?" tanya Asyifa panik yang sepertinya malu dengan Rafa menonton dirinya.


"Kenapa? Mau melarang?" tanya Rafa dengan menaikkan satu alisnya.


"Bu_ bukan begitu kak Rafa. Tetapi kenapa harus menonton itu? sahut Asyifa yang begitu gugup.


"Jadi tidak menginjinkan untuk aku melihatnya?" tanya Rafa.


"Baiklah lihatlah!" sahut Asyifa dengan suara menelan dari pada nanti Rafa marah. Rafa pun kembali mengarahkan pandangan ke layar televisi. Wajah Asyifa kelihatan memerah yang malu di tonton seperti itu.


Asyifa pun memilih untuk pergi.


"Mau kemana?" tanya Rafa membuat langkah Asyifa terhenti.


"Mau ganti pakaian dan mau istirahat," jawab Asyifa.


"Enak sekali kau tidur. Setelah ganti pakaian. Kau kemari!" ucap Rafa.


"Untuk?" tanya Asyifa.


Rafa masih fokus menonton. Asyifa sudah keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian tidurnya piyama panjang dengan lengan panjang.


Asyifa juga tidak memakai jilbab dengan rambutnya yang terurai dengan panjang dan langsung menghampirinya Rafa dengan ke-2 tangannya yang saling bertautan.


"Ada apa kak Rafa?" tanya Asyifa. Rafa melihat ke arah Asyifa.


"Duduk di sini!" sahut Rafa menepuk tepat di sampingnya.


"Untuk apa dan Asyifa juga mau tidur," ucap Asyifa.


"Aku bilang duduk di sini. Enak saja pakai acara tidur-tidur segala," ucap Rafa dengan penuh penekanan pada Asyifa. Dan Asyifa dengan ragu pun duduk di samping Rafa.


"Apa Asyifa hanya akan menemani kak Rafa untuk menonton?" tanya Asyifa.

__ADS_1


"Lalu!" sahut Rafa.


"Oh baiklah!" sahut Asyifa yang tidak masalah baginya.


"Apa Tante Rania bukan ibu kandungmu?" tanya Rafa penasaran hal itu. Mendengarnya Asyifa terkejut sampai melihat ke arah Rafa.


"Ibu kandung Asyifa lah," sahut Asyifa dengan cepat, "memang kami tidak mirip apa?" tanya Asyifa.


"Aku hanya bertanya? jangan ngotot seperti ini. Aku hanya heran dengan tadi aku mendengar kau mengatakan di Vidio itu kau ingin berziarah ke makam ibumu," sahut Rafa .


"Oh itu. Ini Asyifa itu ibu Rania, ibu kandung Asyifa. Jadi dulu saat ibu hamil Asyifa. Ibu mempunyai penyakit kanker rahim dan ibu mempertahankan Asyifa dengan mempertaruhkan nyawanya. Jadi waktu Asyifa lahir ibu operasi untuk pengangkatan rahim dan saat itu rumah sakit tempat ayah bekerja mengalami kebakaran dan salah satunya ibu adalah korbannya. Jadi singkat ceritanya. Ibu telah meninggal. Tetapi ternyata tidak setelah 4 tahun ternyata ibu masih hidup dan ibu Rania. Ibu kandung Asyifa,"


"Asyifa dan ibu sempat terpisah selama 4 tahun. Asyifa dari bayi, di rawat sama ayah, nenek, Opa, Tante Willo, Tante Nia dan rekaman itu adalah rekaman saat Asyifa belum bertemu dengan ibu," jelas Asyifa dengan sedikit terharu.


Dan anehnya Rafa malah mendengarkan cerita Asyifa. Sangat teduh rasanya mendengar istrinya itu berbicara dengan lembut. Asyifa tersenyum dan melihat ke arah Rafa yang masih saja melihatnya dan Rafa langsung mengalihkan pandangannya ke arah televisi.


"Ada lagi yang ingin kak Rafa tanyakan?" tanya Asyifa.


"Tidak ada," jawab Rafa ketus. Asyifa hanya mengangguk.


"Oh iya kak Rafa. Kakak tau tidak. Kalau dulu saat Asyifa belum tau ibu Rania ibu Asyifa. Asyifa bertemu dengannya pertama kali dan Asyifa mengatakan dia itu ibu Asyifa. Saat itu kita sedang ibadah umroh dan Asyifa menghilang tiba-tiba hanya untuk mengejar ibu. Sampai ayah marah-marah pada Asyifa. Tetapi keesokannya ayah dan ibu bertemu di Jabal Rahmah," ucap Asyifa yang begitu bahagianya menceritakan kisah romantis ke-2 orang tuanya.


"Asyifa bahagia sekali bisa bertemu dengan ibu dan kak Rafa tau tidak ibu di masa mudanya sering menulis surat cinta untuk ayah dan Asyifa waktu kecil sering membacanya," lanjut Asyifa yang sama dengan anak kecil yang di lihat Rafa di televisi. Kalau cerita tidak ada hentinya.


Rafa sih yang kerjanya marah-marah terus. Sampai tidak tau saja. Jika istrinya itu begitu menggemaskan dan mulutnya tidak berhenti bercerita. Makanya anak orang jangan di buat nangis Rafa. Tetapi kali ini Rafa sepertinya hanya diam saja dan sangat menikmati cerita Asyifa. Mungkin Rafa sedang kesambet tadi waktu di jalan.


"Maaf ya kak Rafa Asyifa banyak bicara," ucap Asyifa. Rafa tidak menanggapi dan kembali melihat ke arah televisi yang melihat anak kecil yang sudah besar itu.


Rafa ternyata begitu betah menonton rekaman masa kecil Asyifa sampai Rafa tidak menyadari Asyifa sudah tertidur di sebelahnya. Dan Rafa langsung melihat ke arah Asyifa yang mendapati Asyifa tertidur dengan lelap.


Rafa menghela napasnya dan mematikan televisi. Sudah jam 2 pagi. Jadi wajar Asyifa mengantuk dan Rafa memang tidak bisa tidur lagi.


Rafa pun langsung berinisiatif untuk mengangkat Asyifa ke atas ranjang. menggendong ala bridal style dengan membaringkan tubuh Asyifa dengan perlahan di sana.


Sepertinya tidak puas jika Rafa tidak menatap wajah Asyifa yang kalau tidur memang sangat cantik yang membuat Rafa tidak bosan menatap wajah itu. Rafa menyinggirkan anak rambut Asyifa yang menutupi wajah Asyifa. Dan tangan itu juga sembari mengusap pipi Asyifa dengan lembut.

__ADS_1


Tidak tau apa yang di pikirkan Rafa yang tiba-tiba saja dia mengecup kening Asyifa dengan lembut. Hal itu spontan di lakukannya. Hanya mencium kening Asyifa saja dan Rafa menyelimuti Asyifa setelah itu Rafa melihat kembali wajah itu sebentar. Lalu pergi dari tempat itu.


Bersambung


__ADS_2