
Asyifa tidak mengerti dengan kata-kata suaminya yang jelas-jelas sangat tidak masuk akal. Entah apa yang di pikirkan suaminya yang tiba-tiba saja harus mengatakan hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"kak Rafa, Asyifa benar-benar tidak paham dengan kak Rafa, Asyifa bingung kak dan sangat tidak mengerti kenapa kak Rafa yang tiba-tiba harus berbicaralah masalah pantas atau tidak," ucap Asyifa dengan suara rendahnya.
"Aku hanya tidak ingin kamu menderita," ucap Rafa merendahkan suaranya.
"Penderita yang bagaimana kak Rafa?" tanya Asyifa.
"Pernikahan yang kita jalani hanya membuat kamu menderita. Aku menghancurkan hidup kamu dan juga mental kamu. Kamu wanita baik-baik Asyifa, wanita yang tidak pernah mengalami hal-hal seperti yang kamu alami selama pernikahan kita dan aku menyadari kebenaran ku dan aku tidak ingin kamu menderita lagi dan lebih baik aku melepasmu," ucap Rafa yang membuat air mata Asyifa jatuh.
"Asyifa saat aku melihat ada Pria yang dengan mu. Aku selalu punya ambisi yang kuat yang ingin memilikimu sepenuhnya. Tapi tanpa aku sadari jika ambisiku justru membuatmu semakin tertekan dan juga semakin sakit dan ini nyata di depanku Assyifa bagaimana kamu harus mengalami semua ini karena perbuatan ku," ucap Rafa dengan wajahnya yang penuh dengan penyesalan.
"Dan kak Rafa sekarang tidak percaya diri," ucap Asyifa.
"Apa maksud kamu?" tanya Rafa
"Orang yang merasa tidak pantas itu adalah orang yang tidak percaya diri. Asyifa juga seperti itu awalnya saat menikah hanya mendapat kebencian dari kak Rafa dan Asyifa selalau berpikir apa yang salah. Apa yang salah dari diri Asyifa. Namun Asyifa berusaha untuk menjadi istri yang baik agar Asyifa pantas. Jika harus berbicara pantas dan bukan malah mundur kak Rafa. Dan di saat semuanya baik-baik aja. Sekarang kak Rafa menyuruh mundur dan bahkan kak Rafa ingin semuanya berakhir," ucap Asyifa dengan kesal kepada suaminya itu.
"Maaf kak Rafa. Jika Asyifa kali ini berpikiran buruk. Asyifa jadi berpikiran. Jika perubahan kak Rafa selama ini yang tiba-tiba berubah sangat lembut dan ini itu, jangan-jangan sebuah trik untuk kak Rafa mengakhiri pernikahan ini dan kembali pada Miranda. Karena jika dengan kekerasan tidak berhasil membuat Asyifa mundur. Maka dengan cara seperti ini karena pasti Asyifa sudah luluh," ucap Asyifa dengan pemikirannya yang negatif.
Rafa mendengarnya pasti kaget. Karena jelas apa yang di pikirkan Asyifa tidaklah benar.
"Jika kak Rafa ingin kembali kepadanya, maka kembalilah," ucap Asyifa yang sudah lelah dan lebih baik menyerah dengan pernikahannya dan Asyifa pun memilih untuk pergi dari hadapan Rafa.
"Asyifa!" Rafa langsung menahan tangan Asyifa, "apa maksud kamu. Kamu berpikir apa yang aku lakukan belakangan ini hanya sebuah trik," ucap Rafa.
"Jika tidak lalu apa kak Rafa. Memang hanya sebuah trik yang hanya ingin semuanya berakhir. Kalau kak Rafa merasa tidak pantas ya sudah jika kak Rafa ingin mengakhiri semuanya," sahut Asyifa dengan tegas yang melepaskan tangannya kasar dari semuanya.
"Kak Rafa, semuanya hanya sia-sia. Selama ini Asyifa yang berusaha sendiri. Asyifa mempertahankan pernikahan walau mendapat kebencian dari suami sendiri itu semua Asyifa lakukan karena lagi-lagi tujuan pernikahan Asyifa hanya ingin mendapatkan surga bersama suami Asyifa. Tetapi jika sudah seperti ini akhirnya maka baiklah kita akhiri semuanya. Jika kak Rafa berkata tidak pantas mengatakan semuanya hanya menyakiti Asyifa. Seharusnya kak Rafa itu berpikir bagaimana cara membalasnya dengan membuat kedamaian dan kebahagian. Bukan malah seperti ini. Apa kak Rafa tidak memikirkan perasaan Asyifa bagaimana. Apa dengan semua ini apa kak Rafa berpikir mental Asyifa akan baik-baik saja. Tidak kak Rafa justru dengan kebahagiaan yang Asyifa dapatkan belakangan ini dari kak Rafa dan Rafa tiba-tiba ingin mundur artisnya kak Rafa akan semakin menghancurkan hidup Asyifa," ucap Asyifa yang mengeluarkan semua isi hatinya yang mana Asyifa sudah benar-benar sangat capek.
"Jadi semuanya sekarang terserah kak Rafa," ucap Asyifa yang kembali pergi dari hadapan Asyifa dan Rafa hanya diam di tempatnya yang melihat kepergian Asyifa.
"Asyifa!" panggil Rafa melihat punggung Asyifa yang semakin lama semakin jauh.
**********
Asyifa tidak mengerti lagi dengan suaminya yang ada-ada saja. Asyifa pasti kesal dan tadi juga mengeluarkan kata-kata yang Asyifa sadari tidak pantas di ucapkannya pada suaminya. Namun mau bagaimana lagi suaminya yang memang mencari gara-gara sampai Asyifa tidak bisa mengendalikan dirinya.
Asyifa memilih masuk kamar dengan duduk di pinggir ranjang dengan napasnya yang naik turun yang mencoba menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Kak Rafa bisa-bisanya berkata seperti itu, setelah dia membuat Asyifa benar-benar luluh padanya sekarang malah bilang ingin akhiri semuanya dan semuanya hanya dengan alasan yang sangat konyol," gerutu Asyifa dengan kesal pada Rafa.
***********
Pagi hari telah tiba. Asyifa yang duduk di meja rias dengan melihat dirinya di cermin yang melihat dahinya yang masih di perban. Yang mana Asyifa ingin mengganti perbannya.
"Biar aku yang melakukannya," sahut Rafa mendekati Asyifa dan ingin mengambil alih pekerjaan Asyifa.
Namun Asyifa langsung menghindar, "tidak usah Asyifa bisa sendiri," jawab Asyifa dengan ketus dan melakukannya sendiri.
"Auhhhh!" lirih Asyifa yang kesakitan saat menarik paksa perban itu dan lagi-lagi Rafa tidak tega dan berusaha membantu Asyifa. Namun Asyifa tidak mau di bantu oleh Rafa.
"Jangan mendekati Asyifa. Asyifa sudah bilang bisa sendiri!" tegas Asyifa yang kali ini sangat galak pada Rafa dan Rafa lagi-lagi sepertinya tidak berani pada Asyifa.
Ternyata Asyifa benar-benar mengganti perban itu sendirian tanpa bantuan Rafa dan masa bodo bagi Asyifa dengan Rafa yang begitu menyebalkan karena permasalahan mereka tadi malam. Setelah selesai mengganti perban di dahinya Asyifa berdiri dan berjalan melewati Rafa begitu saja.
Rafa yang merasa Asyifa belum terlalu pulih selalu berusaha ingin membantu Asyifa saat Asyifa ingin jatuh. Namun Asyifa selalu menolak bantuan suaminya.
"Kita hari ini pulang!" ucap Rafa membuat Asyifa yang menuju kamar mandi langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya melihat ke arah Rafa.
"Kak Rafa aja yang pulang sendiri. Asyifa mau di sini," jawan Asyifa dengan ketus.
"Apa yang kamu bicarakan Asyifa. Kamu ingin tinggal dan aku pulang? tanya Rafa yang tidak biasanya Asyifa melawan.
Rafa sampai tidak bisa berkata-kata dengan mode galak dan ketusnya sang istri kepadanya. Rafa mungkin menemukan 1 lagi keanehan Asyifa. Yaitu kalau marah ternyata bisa menjadi monster. Namun bukan monster menyeramkan tetapi monster yang menggemaskan.
Asyifa bersih-bersih di kamar mandi dan tidak lama Asyifa keluar dari kamar mandi dan Rafa masih ada di dalam kamar yang sepertinya sedang menunggu dirinya.
"Ngapain lagi sih kak Rafa di sini," batin Asyifa dengan wajahnya yang cemberut.
"Aku sudah pesan makanan. Kita sarapan sama-sama," ucap Rafa dengan lembut.
"Nggak usah Asyifa tadi sudah pesan makan kok," sahut Asyifa yang lagi-lagi menolak tawaran suaminya.
Tingnong-tinnong.
Bel berbunyi.
"Itu pasti gojeknya. Tolong dong kak Rafa bukain pintu Asyifa belum pakai jilbab!" ucap Asyifa yang berani menyuruh Rafa. Sudah menyuruh mode galak lagi bahkan menyuruh Rafa tanpa melihat Rafa.
__ADS_1
"Kamu menyuruhku?" tanya Rafa.
"Asyifa masih seperti ini, pakai pakaian seperti ini, lihat mau Asyifa keluar dengan seperti ini dan Asyifa tidak mungkin ganti kan bapak gojek nya bisa menunggu lama-lama," ucap Asyifa dengan galaknya.
"Iya-iya, nggak usah marah-marah," sahut Rafa yang langsung berdiri dan mengambil pesanan sang istri.
"Siapa yang marah-marah," gumam Asyifa dengan ke-2 bahunya yang terangkat dan Asyifa langsung mengganti pakaiannya.
**********
Setelah selesai beres-beres. Asyifa dan Rafa yang berada di meja makan duduk saling berhadapan dengan makanan yang banyak di atas meja. Rafa mana tau kalau Asyifa sudah pesan makanan dan Rafa memesan cukup banyak.
Tapi sayang Asyifa tidak menyentuh sama sekali pesanan Rafa dan Asyifa hanya memakan dengan lahap apa yang di pesannya. Bahkan Asyifa punya dunianya sendiri yang tidak mempedulikan Rafa.
"Asyifa apa kamu tidak mau memakan apa yang aku pesan?" tanya Rafa.
"Orang Asyifa ada makanan kok," sahut Asyifa dengan ketus.
"Tapi aku pesan banyak dan semua ini juga makanan yang sering kamu makan," ucap Rafa dengan lembut.
"Ya Asyifa pesan juga makanan yang sering Asyifa makan kok," sahut Asyifa yang ada saja jawabannya.
"Jadi kamu tidak akan memakannya walau hanya sedikit?" tanya Rafa.
"Makanan Asyifa saja belum habis," jawab Asyifa dengan santai yang terus mengunyah tanpa henti.
"Tapi Asyifa ini semua untuk kamu," ucap Rafa.
"Seharusnya tidak melajukannya. Itu kesalahan kak Rafa sendiri yang asal beli padahal Asyifa belum tentu mau. Jadi kak Rafa sendiri yang habiskan. Atau kalau tidak kasih saja sama dia," ucap Asyifa.
Rafa mengkerutkan dahinya mendengar kata dia, "dia siapa Asyifa?" tanya Rafa.
"Dia yang pantas untuk kak Rafa," sahut Asyifa dengan sindiran yang pasti wajahnya sangat sewot. Rafa mendengus dengan senyuman melihat wajah Asyifa yang sejak tadi selalu menunjukkan kekesalannya pada dirinya.
"Asyifa kamu benar-benar marah?" tanya Rafa.
"Pakai nanyak lagi," sahut Asyifa ketus yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Nafsu makan Asyifa sudah hilang karena kak Rafa dan Asyifa tidak mau makan lagi. Makan aja sendiri," jawab Asyifa yang langsung pergi. Rafa benar-benar begitu kaget dengan sang istri yang sangat cuek kepada-nya.
Bersambung