
Rafa masih terus menatap istrinya dengan intens seperti itu membuat Asyifa gugup dan bahkan tertunduk malu. Karena memang jujur dada Asyifa terus saja bergetar dengan Rafa yang menatapnya dengan tatapan lain yang tidak biasanya yang membuat dia gugup.
Apalagi tadi malam mereka hampir saja larut dalam surga dunia yang pasti Asyifa tidak mengetahui bagaimana rasanya. Karena hal itu tidak sempat terjadi. Belum terjadi saja. Asyifa sudah merasakan panas di tubuhnya yang tidak dia mengerti apa artinya. Apa lagi jika dia merasakan kelanjutannya.
Rafa yang berdiri di depan Asyifa melangkah mendekati Asyifa yang membuat Asyifa semakin gugup dan terlihat tangan Asyifa yang saling mengatup dengan menelan salivanya saat Rafa terlihat mendeketinya yang seolah ingin melakukan sesuatu yang membuat Asyifa jantungan.
Rafa tidak melakukan apa-apa ternyata hanya mengikat tali pinggang gamis yang di gunakan Asyifa yang tidak sempat di ikat Asyifa. Asyifa sudah begitu gugup sampai Asyifa membuang napasnya perlahan ke depan.
Setelah selesai melakukannya. Rafa kembali menatap Asyifa yang membuat Asyifa gugup dengan kembali menunduk. Namun Rafa memegang dagu Asyifa dan mengangkat dagu itu untuk mensejajarkan wajahnya dengan Rafa. Namun tetap saja Asyifa tidak berani menatap Rafa dan melihat ke lain arah untuk mengalihkan pandangan tersebut.
"Ka_ka_kak Rafa mau apa?" tanya Asyifa dengan gugup.
"Memang pikiranmu aku mau apa?" Rafa kembali bertanya.
"Tidak tau," jawab Asyifa mundur selangkah yang semakin gugup dekat-dekat dengan Rafa yang terus menguji dirinya yang membuatnya salah tingkah. Namun Rafa sepertinya sengaja sampai Rafa tersenyum miring melihat tingkah Asyifa.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh memang apa yang ingin aku lakukan kepadamu hah!" ucap Rafa.
"Tidak! siapa yang berpikiran yang aneh-aneh," sahut Asyifa.
"Hmmm, Oh iya apa pihak hotel tadi datang kemari?" tanya Asyifa.
"Tidak ada yang datang memang kenapa?" tanya Rafa heran.
"Lalu siapa yang membersihkan tempat ini bukannya tadi kotor dan seprainya juga sudah di ganti? tanya Asyifa. Rafa terdiam dengan helaan napas.
"Jangan bilang kak Rafa yang membersihkan tempat ini," tebak Asyifa.
"Memang kenapa jika aku. Apa kau pikir aku tidak bisa bersih-bersih," sahut Rafa.
"Jadi benar kak Rafa yang membersihkannya?" tanya Asyifa lagi yang sepertinya masih tidak percaya.
"Menurutmu," sahut Rafa.
"Kak Rafa kenapa melakukan itu Asyifa kan bisa melakukannya dan seharusnya menunggu Asyifa selesai mandi," ucap Asyifa merasa tidak enak dengan Rafa harus melakukan pekerjaan itu. Padahal bagi Rafa itu biasa saja.
"Aku hanya tidak suka tempat kotor dan berantakan, menunggumu sangat lama," sahut Rafa.
"Maaf ya kak Asyifa sudah merepotkan kakak," ucap Asyifa.
"Sudahlah jangan membahas itu lagi. Ayo turun kita sarapan di bawah," ucap Rafa yang berjalan terlebih dahulu melewati Asyifa. Asyifa tersenyum tipis melihat Rafa yang benar-benar begitu perhatian yang membuat Asyifa semakin bahagia. Ya walau wajah Rafa masih jutek.
"Aku tidak percaya kal Rafa melakukan hal itu. Ya kamar ini jadi bersih dan rapi," batin Asyifa yang senyum-senyum dan langsung pergi menyusul Rafa yang mereka ber-2 harus sarapan bersama.
**********
Asyifa dan Rafa sama-sama keluar dari lift untuk menuju tempat sarapan. Asyifa dan Rafa juga langsung mengambil menu makanan mereka di tempat yang di sediakan pihak hotel yang memang sudah di sediakan di sana.
"Kak Rafa tidak biasanya mau sarapan bersam ku," ucap Asyifa sembari mengambil sarapannya.
Rafa diam saja yang tidak menjawab apa-apa dengan perkara Asyifa.
"Kak Rafa tidak mendengarku?" tanya Asyifa.
"Asyifa diamlah, ambil sarapan mu dengan benar dan jangan berbicara yang tidak penting lagi. Kita sarapan bukan untuk bicara," ucap Rafa.
"Baiklah!" sahut Asyifa dengan tersenyum yang langsung mengambil sarapannya dan Rafa hanya menghela napasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kak Rafa mau ini tidak?" tanya Asyifa yang memperlihatkan makanan yang kesukaan Rafa.
"Iya ambilah," jawab Rafa. Asyifa mengangguk dengan tersenyum yang Rafa mau memakan apa yang di ambilnya yang pasti hal itu tidak biasa sama sekali.
Setelah mereka mengambil sarapan mereka. Akhirnya mereka mereka berdua mengambil tempat duduk di bagian outer untuk melihat pemandangan di sekitar pantai yang tidak jauh-jauh di ujung sana banyak orang yang berkuda. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Kau masih ingin menaikinya?" tanya Rafa yang melihat Asyifa terus melihat kearah pantai.
"Berkuda sangat menyenangkan," jawab Asyifa.
"Kaki mu masih terluka mau sok-sokan mau menaikinya lagi," ucap Rafa dengan sewot.
"Bukan begitu kak Rafa. Siapa juga yang mau menaikinya. Tidak ada yang mau menaikinya, kakak langsung berpikiran yang aneh-aneh," jawab Asyifa.
"Lalu kenapa melihat terus ke sana?" tanya Rafa.
"Memang tidak boleh. Apa Asyifa harus terus melihat ke arah kak Rafa," ucap Asyifa membuat Rafa menatapnya intens yang menurutnya Asyifa sudah mulai main-main dengan Rafa.
"Asyifa hanya bercanda," sahut Asyifa tersenyum yang kembali melanjutkan makannya.
"Apa yang kau takuti di dunia ini?" tanya Rafa tiba-tiba.
"Allah," jawab Asyifa tanpa ragu.
"Aku juga tau selain itu. Jangan bawa-bawa tuhan, bicara yang sewajarnya saja," desis Rafa.
"Apa yah," sahut Asyifa yang berpikir lama.
"Sombong sekali sampai kau tidak takut apa-apa," sahut Rafa dengan sinis melihat lamanya Asyifa yang berpikir.
"Kau pikir aku hantu sampai kau menakuti ku," sahut Rafa
"Lebih menyeramkan dari pada hantu," sahut Asyifa sembari tertawa tanpa dosa membuat Rafa kesal sendiri dengan Asyifa.
"Hanya bercanda. Jangan di bawa serius," sahut Asyifa dengan tersenyum lebar, "ketinggian cukup menakutkan, Asyifa takut ketinggian," sahut Asyifa yang akhirnya mengatakan apa kelemahannya.
"Lalu bagaimana sewaktu di tebing. Aku melihat kau biasa saja," sahut Rafa mengingat kejadian di New Zealand saat Asyifa hampir terjatuh dan Rafa melihat tidak ada ketakutan di wajah Asyifa dan malah Asyifa yang terlihat sangat tenang tanpa takut dirinya akan berakhir waktu itu.
"Kan Asyifa tidak melihat kebawah. Jadi Asyifa tidak takut sama sekali," sahut Asyifa
"Ketakutan itu hal yang normal yang banyak di alami orang lain dan Asyifa takut dengan ketinggian yang itu juga suatu hal yang biasa. Tetapi tetap saja ada Allah yang menjaganya dan cukup percaya maka semua akan baik-baik saja," ucap Asyifa dengan simple.
Rafa tumben-tumbenannya tidak berkata apa-apa lagi. Biasanya dia tidak mau kalah dengan Asyifa dan pasti ada perdebatan di antara mereka dan kali ini ternyata tidak sama sekali.
"Kak Rafa sendiri bagaimana. Apa ada phobia?" tanya Asyifa.
"Iya aku pobia dengan ayam," jawab Rafa.
"Ayam!" pekik Asyifa.
"Lebih tepatnya anak ayam," jawab Rafa. Asyifa langsung tertawa saat Rafa memperjelas apa yang di takutinya.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Rafa kesal dengan Asyifa yang menertawakannya.
"Kak Rafa itu lucu sekali. Kak Rafa masa iya takut dengan anak ayam. Badan setegap, sekekar dan wajah seseram ini ternyata takut dengan anak ayam," sahut Asyifa yang mengejek Rafa yang membuat Rafa begitu kesal.
"Terus aja tertawa," sahut Rafa dengan menekan suaranya.
__ADS_1
"Iya-iya maag Asyifa hanya merasa lucu saja," sahut Asyifa masih saja tidak bisa menahan tawanya dengan menutup mulutnya yang adanya Rafa semakin kesal dengannya.
Tetapi ini obrolan paling terlama di antara Rafa dan Asyifa. Di mana mereka terlihat dekat dan sepertinya mengobrol sangat cocok dan Asyifa juga banyak tertawanya. Apa lagi mengetahui sisi lain dari Rafa yang ternyata takut anak ayam yang bisa menjadi cengcengan Asyifa di kemudian hari. Salah Rafa sendiri kenapa memberitahu kelemahannya. Kan Asyifa jadi punya senjata.
"Hmmm, kak Rafa Asyifa ke toilet sebentar ya," ucap Asyifa.
"Iya. Jangan lama-lama," ucap Rafa. Asyifa mengangguk dan langsung pergi.
**********
Asyifa berada di toilet sementara Rafa masih tetap berada di tempat awal yang melanjutkan sarapannya. Asyifa tadi pamit ke toilet pada Rafa dan sekarang Asyifa sedang berdiri di depan cermin yang merapi-rapikan jilbabnya.
"Apa kau sangat bahagia sekarang?" tiba-tiba suara asing terdengar di telinganya membuat Asyifa melihat dari cermin yang benar dugaannya siapa lagi jika bukan Miranda.
"Kau tidak tau malu Asyifa. Kau sudah merebut Rafa dariku, dia milikku dan kau telah mengambilnya dengan caramu yang murahan itu, Asyifa kau itu perusak hubungan orang lain. Aku dan Rafa saling mencinta dan kau menjadi perusak dalam hubungan kami. Kau itu keterlaluan Asyifa. Aku benar-benar membencimu. Kau itu perusak rumah tangga," ucap Miranda dengan sinis menatap kebencian Asyifa dari depan cermin.
"Apa maksud kamu?" Tanya Asyifa menghela napasnya dan melihat ke belakangnya yang langsung berhadapan dengan Miranda.
"Kau tidak mengerti maksudku. Atau kau pura-pura tidak tau apa yang aku katakan. Biar aku pertegas jika kau itu wanita jahat yang sudah merebut Rafa dari ku.
"Apa kamu sedang bicara kepadaku?" tanya Asyifa dengan santainya.
"Apa katamu. Jadi menurutmu aku bicara dengan siapa?" sahut Miranda dengan menekan suaranya.
"Bukannya melihat sendiri di cermin bahwa bayangan itu siapa. Apa yang barusan kamu katakan. Hanya bertanya pada bayanganmu atau kamu sedang mengatakan pada bayanganmu. Jika sebenarnya kamu lah yang telah merusak hubungan orang lain. Jadi berkacalah di depan cermin, lihat dirimu yang telah berusaha menjadi duri di dalam rumah tanggaku. Kamu lah yang merusak hubunganku dengan kak Rafa," tegas Asyifa dengan penuh penekanan yang membuat Miranda mengepal tangannya yang telah di rendahkan oleh Asyifa yang ada di depannya.
"Berani sekali kau bicara seperti itu. Kau mengatakan aku yang menjadi perebut. Kau seharusnya sadar Asyifa," tegas Miranda yang mengangkat tangannya ingin menampar Asyifa. Namun Asyifa dengan sigap menahan tangan itu dan Miranda tidak jadi menampar Asyifa dan malah tangannya yang di cengkram kuat Asyifa dengan mata mereka yang saling menatap dengan penuh ratapan saling menantang.
"Jangan berani-beraninya mengotori pipi ku dengan tanganmu. Jika aku di perlakuan seperti itu. Bukan berarti aku tidak bisa membalasnya. Jadi jangan sampai aku memotong tanganmu yang sangat lancang memukulku," tegas Asyifa menghempas kasar tangan Miranda dan mampu membuat Miranda bergeser karena Asyifa melakukannya cukup kuat.
"Kau!" Geram Miranda dengan menekan suaranya, merapatkan giginya yang tidak terima dengan perlakuan Asyifa yang seolah merendahkan dirinya.
"Aku peringatkan kepadamu untuk yang pertama kalinya dan untuk yang terakhir kalinya. Tidak, aku sudah pernah mengatakan semua ini kepadamu. Jika aku tidak akan menyerah dalam pernikahan ku dan apa lagi hanya karena wanita seperti mu. Kak Rafa adalah suamiku dan aku bukan perusak hubungan kau dan juga dia. Tetapi kaulah yang berusaha untuk merusak rumah tanggaku dan aku tidak akan banyak bicara lagi. Karena aku yakin mau tidak akan mengerti apa yang aku katakan. Jadi aku hanya menegaskan kepadamu. Jika kau berani macam-macam kepadaku. Jadi aku pastikan kau juga akan mendapatkan satu macam dari ku," tegas Asyifa menunjuk tepat di wajah Miranda yang membuat Miranda diam tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Jadi kutegas kan berkali-kali kepadamu apa yang harus kau lakukan dan jangan sekali-kali kau membuat ku harus bertindak lebih jauh lagi," tegas Asyifa dengan mengukir senyum dibibirnya
Lalu Asyifa langsung meninggalkan tempat itu. keluar dari kamar mandi meninggalkan Miranda yang pasti sudah penuh dengan amarah.
"Kurang ajar!" umpat Miranda dengan mengepal ke-2 tangannya yang memperlihatkan betapa bencinya dirinya Asyifa, sudah mengguruinya dan bahkan berani mengancam dirinya. Asyifa memang sangat berani dan sungguh tidak terduga keberanian Asyifa.
"Kau pikir kau siapa Asyifa, berani sekali kau bicara seperti itu kepadaku," umpat Miranda dengan penuh emosi.
Asyifa pun kembali ke meja di mana ada suaminya yang masih sarapan.
"Kenapa lama sekali?" tanya Rafa yang sepertinya mulai tidak bisa lama-lama di tinggalkan Asyifa.
"Maaf kak Rafa," jawab Asyifa yang langsung duduk di tempatnya semula.
"Ayo lanjutkan sarapan mu!" titah Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan melanjutkan kembali sarapannya. Namun tiba-tiba mata Asyifa melihat kearah Miranda yang berdiri sekitar 20 meter dari tepatnya. Di mana Miranda yang menatap Asyifa dengan penuh amarah dan layaknya seperti seorang iblis yang siap untuk menjadi Asyifa santapan.
Rafa ternyata memerhatikan Asyifa yang fokus Asyifa tidak tau kemana. Rafa pun melihat arah pandang Asyifa yang ternyata pada Miranda.
"Lanjutkan sarapan mu. Jangan melihatnya!" ucap Rafa menegur Asyifa dan membuat Asyifa kembali melihat ke arah makanan yang di mejanya yang tidak memperdulikan Miranda. Begitu juga dengan Rafa yang kembali fokus sarapan dan tidak peduli dengan Miranda mau Miranda berdiri di sana, mau melihatnya seperti apa. Mau menatapnya seperti apa. Rafa sepertinya sudah muak melihat mantan kekasihnya itu. Ya akhirnya menjadi mantan kekasihnya setelah Rafa mengetahui tabiat asli Miranda sesungguhnya.
"Rafa kau pikir aku akan melepaskanmu tidak akan, aku tidak akan membiarkan wanita itu bersamamu. Kau hanya milikku Rafa dan akan menjadi milikku sampai kapanpun. Bukan Asyifa tetapi aku," batin Miranda dengan tangannya yang terkepal yang masih sangat mengharapkan Rafa menjadi miliknya.
Bersambung
__ADS_1