Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 197


__ADS_3

Bisa-bisanya Dedi mengejar Syira yang mengikuti Syira yang mana Syira semakin mempercepat langkahnya dengan Dedi yang mengikut dirinya di belakang.


"Apa-apaan sih!" sentak Syira yang marah dengan membalikkan tubuhnya yang sudah di hadapan Dedi


"Apa," sahut Dedi yang merasa tidak bersalah.


"Aku yang seharusnya bertanya apa yang kamu lakukan dan kenapa mengikutiku?" tanya Syira dengan kesal.


"Siapa yang mengikutimu," sahut Dedi.


"Ya ini buktinya apa?" tanya Syira yang semakin dongkol.


"Ini jalanan umum dan aku tidak mengikutimu," tegas Dedi yang ada saja jawabannya.


"Umum, umum terus. Kalau begitu jalan duluan," ucap Syira yang semakin emosi.


"Siapa kamu yang harus memerintahku," sahut Dedi.


"Kalau begitu jangan mengikutiku, aku bisa melaporkan mu ke polisi karena mengganggu kenyamanan ku," ancam Syira dengan marah-marah.


Mendengar ancaman Syira bukannya membuat Dedi takut malah Dedi tertawa


"Apa yang lucu?" tanya Syira dengan kesal.


"Kau itu sangat berlebihan yang ingin melaporkan ku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa," sahut Dedi.


"Kalau kau tidak mau di laporkan. Jadi jangan mengikutiku," tegas Risya.


Dedi mengangkat ke-2 bahunya, "aku sudah mengatakan aku tidak mengikutimu," sahut Dedi.


"Baik. Awas ya kalau aku berjalan kau mengikuti arahku lagi," tegas Syira dengan menghela napas perlahan dan langsung pergi dan masih melihat kebelakangnya. Benar apa tidak Dedi mengikutinya. Dedi hanya menyunggingkan senyumnya dengan ke-2 bahunya yang di angkatnya dan tidak mengikuti Syira sama sekali.


"Ternyata dia segalak itu," gumam Dedi dengan geleng-geleng kepala yang tidak percaya dengan Syira yang kelihatannya lembut dari penampilan dan ternyata malah sangat galak dan dari senyum Dedi sangat mengandung arti.


**********


Rumah sakit.

__ADS_1


Setelah hasil lab keluar. Akhirnya Rafa pun kembali kerumah sakit dan sekarang berhadapan dengan ayah mertuanya itu dengan mereka yang duduk saling berhadapan dan suasana yang terlihat sangat tegang.


"Hasilnya labnya sudah keluar ayah?" tanya Rafa.


"Sudah Rafa. Silahkan kamu buka," sahut Rendy yang memberikan pada Rafa dan Rafa langsung membukanya dengan tangannya yang bergetar.


Tidak tau kenapa perasaannya sangat tidak enak bahkan sejak tadi Rafa terus membuang napasnya perlahan kedepan yang berusaha untuk tenang.


Rafa membaca hasil lab tersebut dengan serius dengan tangannya yang gemetar dan matanya berkaca-kaca dan jatuh satu butir air mata pada kertas putih itu yang penuh dengan tulisan.


Randy berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Rafa dengan mengusap pundak Rafa yang seolah memberikan kekuatan.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Rendy membuat Rafa terlihat hancur dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.


"Tumor," lirih Rafa.


"Iya ada tumor di perut kamu kamu," jawab Dokter Rendy.


"Apa sanga parah?" tanya Rafa.


"Apa kemungkinan terburuknya. Jika operasinya gagal. Apa kematian juga merupakan kemungkinan terburuknya?" tanya Rafa yang sudah tidak bersemangat lagi.


"Rafa semua kembali kepada sang penciptanya. Ayah hanya seorang Dokter yang hanya akan berusaha untuk semua pasien dan kematian jangankan hanya tumor. Demam saja kita bisa mati," jawab Rendy.


Rafa kembali menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan napasnya yang naik turun. Ini pasti berita yang sangat buruk yang tidak mungkin di terima Rafa dengan mudah. Namun Rendy hanya berusaha untuk memberikan Rafa ketenangan. Agar Rafa kuat dalam menghadapi ujian itu.


"Ayah mengerti perasaan kamu Rafa sangat tidak mudah menerima semua ini ayah sangat paham dengan apa yang kamu alami," ucap Rendy yang terus memberi kekuatan untuk menantunya itu.


"Apa Operasi jalan satu-satunya?" tanya Rafa melihat mertuanya itu dengan tatapan mata yang benar-benar sudah kosong.


"Itu jalan satu-satunya dan resikonya sangat berat," jawab Rendy.


"Ayah ini sangat mengejutkanku. Aku saja mendengarnya sudah langsung putus asa dengan merasa semua ini hanya mimpi buruk saja. Jadi aku minta sama ayah satu hal untuk tidak memberitahu Asyifa tentang hal ini," ucap Rafa yang takut Asyifa khawatir dan kepikiran kepada-nya.


"Itu tidak mungkin Rafa. Ini masalah serius," sahut Rendy.


"Aku tidak ingin Asyifa down dengan hal ini. Fokusnya bisa hilang dan dia sedang hamil. Aku tidak ingin Asyifa sampai kenapa-kenapa," ucap Rafa memberikan alasannya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin kamu bisa menyembunyikan hal sebesar ini Rafa. Asyifa itu istri kamu," sahut Rendy yang tidak setuju dengan menantunya itu.


"Aku mohon ayah. Aku hanya meminta itu pada ayah. Sebagai menantu aku tidak pernah meminta apa-apa dan hari ini aku hanya meminta satu hal saja pada ayah. Aku sangat mencintai putri ayah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya hanya karena aku," ucap Rafa dengan suara penuh dengan permohonan yang berbicara dengan matanya yang berkaca-kaca.


Sementara Rendy pasti bingung apa iya dia harus menuruti keinginan Rafa dan sangat tidak mungkin menuruti Rafa. Rafa berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan Rendy.


"Aku mohon ayah. Tolong jangan beri tahu Asyifa tentang hal ini," ucap Rafa lagi yang terus memohon terus kepada mertuanya. Rendy menghela napasnya yang penuh dengan kebingungan apa iya dia harus menuruti apa yang di inginkan Rafa.


Rendy pun memeluk Rafa, "jika kamu memikirkan Asyifa dalam keadaan sakit kamu yang seperti ini. Maka ayah akan melakukannya. Ayah akan mengabulkan apa yang kamu minta," ucap Rendy yang menepuk-nepuk pundak Rafa.


"Terima kasih Ayah," sahut Rafa.


"Tapi kamu harus berjanji Rafa. Kamu akan sembuh, kamu harus melakukan pengobatan serius," ucap Rendy.


"Pasti ayah aku akan melakukan pengobatan yang sangat serius untuk kesembuhan ku. Aku mohon untuk Ayah terus menanganiku," ucap Rafa.


"Ayah pasti menangani mu," sahut Rendy.


************


Sementara Asyifa yang sedang melaksanakan sholat di kamarnya yang sekarang Asyifa sedang berzikir dengan butiran tasbih dan amalan yang keluar dari mulutnya dengan husuk dia dalam ibadahnya.


Namun tiba-tiba benang butiran tasbih itu putus dan membuat butiran tasbih berserakan di lantai yang mengejutkan Asyifa.


"Astagfirullah," lirih Asyifa dengan perasaannya yang tiba-tiba aneh dengan Asyifa memegang dadanya.


Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan kencang yang membuat Asyifa bingung dengan apa yang terjadi kepadanya.


"Ya Allah ada apa ini? kenapa perasaan Asyifa tiba-tiba seperti ini. Apa yang terjadi ya Allah," batin Asyifa dengan matanya yang berkaca-kaca. Tidak tau apa yang terjadi membuat perasaan Asyifa tidak tenang.


Mungkin saja ini perasaan Asyifa sangat kuat sampai timbul pada perasaan yang tiba-tiba tidak tenang.


"Ya Allah hamba berserah diri kepadamu ya Allah. Ya Allah lindungi keluarga hambah, jauhkan dari orang-orang jahat dan jaga suami hamba ya Allah. Hamba mohon ya Allah berikan perlindungan kepada keluarga kami," ucap Asyifa yang berdoa pada sang penciptanya setelah mengucapkan amin. Asyifa pun memungut satu persatu butiran tasbih tersebut.


Asyifa hanya mencoba untuk tenang walau sebenarnya dia tidak bisa tenang. Dan perasaannya semakin menjadi-jadi dan tidak bisa di mengerti Asyifa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2