Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 131


__ADS_3

Kantor Polisi.


Akhirnya Rafa dan Asyifa pun tiba di kantor Polisi yang pasti bukan hanya mereka berdua yang ada di sana. Lulu, Roni, Dedi dan juga Zee ada di sana yang mana Lulu dan Dedi pasti menemui ayah mereka yang hampir saja melakukan pelecehan kepada sepupu mereka sendiri.


"Papa sangat keterlaluan, bisa-bisanya papa sejahat itu pada Asyifa. Pah Asyifa itu bagaimana pun adalah keponakan papa. Kenapa jahat sih pah," ucap Lulu yang pasti sangat kecewa dengan papanya dan apa lagi harus tau semua perbuatan papanya yang begitu tercela.


"Pah, papa juga bahkan punya anak perempuan bagaimana kalau Lulu yang di perlakukan seperti itu. Papa benar-benar tidak memikirkan keluarga kita. Pah keluarga kita yang menjadi malu. Papa apa tidak sadar itu hah! keterlaluan banget sih papa," ucap Dedi yang juga tidak habis pikir dengan sang papa yang membuat onar dan pasti sangat mempermalukan keluarga.


Sementara Bram hanya diam saja dan tidak terlihat wajah penyesalan di dalam dirinya sangat terlihat dari wajahnya yang begitu santai dan bahkan masih sempat-sempatnya melihat Asyifa yang berada di dekat pintu penunggu yang berdiri bersama Rafa.


Asyifa tidak berani dekat-dekat dengan Bram dan malam terlihat bersembunyi yang berlindung di dalam pelukan suaminya. Rafa tampak kesal melihat Bram yang berani-beraninya menatap istrinya dengan tatapan seperti membuat Rafa langsung menghampiri Bram.


"Kak Rafa!" lirih Asyifa. Rafa berjalan menghampiri Bram dan langsung menarik kerah baju Bram membuat Bram berdiri. Lulu dan Dedi sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa.


"Apa yang kau lihat hah! berani sekali kau menatapnya dengan kurang ajar seperti itu. Aku benar-benar akan membunuhmu jika menatap istriku seperti itu," ucap Rafa menekan suaranya yang emosi tingkat dewa dengan Bram.


"Ti-tidak, aku tidak melihatnya sama sekali," jawab Bram yang mengelak.


"Kau masih berbohong. Kau pikir aku tidak bisa melihat hah!" ucap Rafa semakin emosi dengan Bram, "katakan brengsek siapa lagi yang terlibat dalam semuanya. Katakan!" ucap Rafa menekan Bram.


"Apa yang harus aku katakan. Tidak ada yang terlibat hanya aku saja. Jadi aku tidak perlu mengatakan apa-apa," ucap Bram.


"Aku bilang jangan berbohong!" Rafa yang marah langsung Ingin melayangkan tangannya untuk memukul wajah Bram. Karena sejak tadi dia sudah menahannya.


Yang lain pasti pasrah dengan apapun yang lakukan Rafa. Karena memang itu pantas untuk Bram. Jadi tidak ada yang bisa menghalangi Rafa yang ingin melakukan hal itu pada Bram.


"Rafa sudah!" tiba-tiba Rafa tidak jadi memukul Bram saat Abian datang menghentikannya.


"Kendalikan diri kamu ingat ini rumah sakit kamu tidak boleh gegabah," ucap Abian mengingatkan Rafa dan Rafa harus menahan tangannya dan tidak jadi memukul Rafa karena peringatan dari Abian yang pasti benar.


Rafa langsung melepas cengkramannya dari Bram, "urusan kita belum selesai. Jika kau berani menatap dan apa lagi menyentuh istriku. Kau dengar aku akan membuat matamu tidak bisa melihat sama sekali dan tanganmu akan kuputus," ucap Rafa memberikan ancaman pada Bram.


"Sudah Rafa, ayo ikut denganku ada yang ingin aku tunjukkan padamu. Ada informasi baru mengenai permasalahan Asyifa. Ada petunjuk dengan orang yang ada di balik semua ini," ucap Abian.


"Apa maksudmu?" tanya Rafa


"Sudah ayok!" ajak Abian dan Rafa langsung pergi dan pasti membawa istrinya.


"Dedi hanya berharap. Jika kali ini papa akan mendapatkan hukuman yang lebih parah. Agar papa mendapatkan hukum jerah yang lebih parah," ucap Dedi.


"Kamu itu masih anakku. Bisa-bisanya kamu mendoakanku seperti itu. Kamu itu datang kemari seharusnya membantuku bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini bukan malah berdoa yang tidak-tidak," ucap Bram.


"Anak juga pah, kalau orang tuanya salah maka akan salah dan aku juga sebagai anak papa aku dan kak Dedi sangat malu dengan semua yang papa lakukan. Papa itu sangat jahat, keterlaluan dan sangat memalukan," ucap Lulu dengan segala kata-kata kecewanya yang ingin di keluarkannya.


"Sudah Lulu ayo kita pergi!" Roni suaminya langsung mengajaknya untuk pergi. Dari pada Lulu kerjanya nanti marah-marah dan semakin tidak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Anak-anak kurang ajar bukannya membantuku. Malah mengataiku yang tidak-tidak. Malah membela orang lain," umpat Bram yang merasa tidak bersalah sama sekali dengan perbuatannya yang tercela dan sangat memalukan itu.


******


Rafa dan Abian melihat rekaman Cctv yang sempat terekam yang menjadi bukti kuat. Di mana Rafa begitu terkejut sampai mengepal tangannya saat melihat Miranda yang keluar dari tempat gedung tua di mana Abian pertama kali menemukan Asyifa dalam keadaan terluka.


"Sudah ku duga dia ada di balik semua ini," umpat Rafa yang menahan amarahnya.


"Kamu benar Rafa. Jangan khawatir polisi sedang melakukan penangkapan untuknya," ucap Abian.


"Aku benar-benar tidak akan mengampuninya," umpat Rafa dengan mengepal tangannya yang penuh amarah yang akhirnya bisa tau jika Miranda memang ikut terlibat atas kejadian yang menimpa istrinya.


Belum lagi saat itu Asyifa pasti sudah hamil dan Asyifa harus berjuang bersama bayinya bagaimana Rafa rasanya tidak ingin menghukum Miranda sendiri.


**********


Polisi melanjutkan proses hukum dan pasti melakukan penangkapan untuk Miranda setelah bukti-bukti cukup. Asyifa, Rafa, Zee, Dedi, Roni, Lulu dan Abian keluar dari kantor Polisi.


"Alhamdulillah akhirnya masalah ini bisa secepatnya selesai juga," ucap Lulu yang merasa lega.


"Semoga saja kali ini papa akan mendapatkan hukuman yang paling berat. Agar papa bisa sadar dengan perbuatanmu yang sangat kelewatan," ucap Dedi.


"Kita doakan saja semuanya berjalan dengan lancar dan Miranda juga mendapat hukuman yang setimpal," sahut Abian.


"Benar kata kak Abian. Wanita itu sangat jahat," sahut Zee yang ikutan kesal.


"Iya benar sekali," sahut Zee, "oh iya kak Abian pulang sama siapa. Bagaimana kalau sama kita aja," sahut Zee.


"Tidak usah Zee, itu saya sudah di tunggu," sahut Abian yang menunjuk ke arah mobil yang terparkir dan lagi-lagi ada wanita yang di temuinya di Mall. Syira wanita itu yang menunggu Abian dan jelas membuat Zee tiba-tiba perasannya entah seperti apa.


"Kenapa Syira tadi tidak ikut masuk?" tanya Asyifa.


"Dia tidak mau. Maklumlah dia anaknya pemalu," jawab Rafa.


"Kak Rafa sendiri kapan akan kembali ke Jakarta?" tanya Asyifa.


"Aku belum tau Asyifa. Karena aku sama Syira masih ingin di sini," jawab Abian.


"Oh begitu," sahut Asyifa mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu saya duluan dulu ya," ucap Abian pamit.


"Abian makasih ya kamu sudah banyak membantuku," ucap Rafa.


"Santai aja Rafa," sahut Abian menepuk bahu Rafa.

__ADS_1


"Kak Rafa sekarang memang jauh lebih berbeda, dia tidak sinis lagi dengan kak Abian dan bahkan sangat humbel dan terlihat begitu kompak," batin Asyifa yang salut dengan suaminya yang tidak mempunyai cemburu yang berlebihan lagi.


"Baiklah saya permisi dulu. Assalamualaikum," ucap Abian pamit.


"Walaikum salam," sahut semuanya serentak.


Abian pun menghampiri Syira dan terlihat Syira dan Abian juga membukakan pintu mobil untuk Syira yang membuat Syira tersenyum lagi dan lagi-lagi semua membuat Zee seperti tidak senang dan seperti ada kecemburuan baginya.


"Siapa sebenarnya wanita itu kak Abian sangat dekat dengannya dan bahkan sangat banyak taunya. Apa wanita itu sangat special bagi kak Abian," batin Zee yang tiba-tiba kepikiran dengan melihat wanita cantik itu yang tampaknya sangat di sukai Abian.


**********


Setelah dari kantor polisi Asyifa dan Rafa yang berada di dalam mobil hanya berduaan saja. Mereka terpisah-pisah karena memang ada kendaraan masing-masing dan Zee sendiri tadi malas kembali ke Villa. Jadi izin buat jalan-jalan sebentar sebelum kembali ke Jakarta.


Rafa menyetir fokus melihat ke depan dan sekali-kali melihat ke sebelahnya yang melihat Asyifa.


"Kamu kenapa Asyifa?" tanya Rafa yang melihat istrinya begitu murung.


"Kak Rafa, Asyifa tidak menyangka jika Miranda sangat membenci Asyifa. Makanya dia begitu jahat memperlakukan Asyifa seperti itu. Apa Miranda akan terus membenci Asyifa. Karena Asyifa masih bersama kak Rafa. Karena bagi Miranda Asyifa ini hanya wanita yang sudah merebut kak Rafa dari dia," ucap ucap Asyifa dengan wajah lesunya.


"Asyifa apa yang kamu katakan. Miranda memang seperti itu. Asyifa kita tidak bisa membuat orang lain suka apa tidak pada kita dan kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu," ucap Rafa.


"Tapi kak Rafa...."


"Sudah-sudah apa yang kamu pikirkan. Ingat Asyifa kita sudah menikah dan aku dan Miranda hanya masa lalu dan aku sudah tidak ada hubungan dengannya dan itu bukan salah kamu. Karena saat aku menikah dengan kamu. Saat itu aku masih memberi Miranda kesempatan. Namun dia pergi dan memilih karirnya. Jadi aku dengan menikah dengan mu," ucap Rafa.


"Lalu apa Rafa menyesal menikah denganku?" tanya Asyifa.


"Bagaimana mungkin aku bisa menyesal. Aku tidak menyesal sama sekali Asyifa. Aku justru sangat bahagia bisa menikah denganmu," ucap Asyifa," ucap Rafa dengan jujur yang apa adanya.


"Sudah ya Asyifa jangan memikirkan itu lagi yang penting sekarang polisi sedang mengurus Miranda dan dia pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya dan tidak ada kesalahan kamu," ucap Rafa.


"Iya kak," sahut Asyifa.


"Kita pulang ya," ucap Rafa mengusap pucuk kepala Asyifa.


"Asyifa mau makan boleh tidak?" tanya Asyifa.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rafa begitu lembutnya.


"Pengen MD," jawab Asyifa.


"Ya sudah kita cari ya," ucap Rafa dengan lembutnya yang tanpa protes saat istrinya meminta sesuatu.


"Baik kak Rafa, makasih ya kak Rafa," sahut Asyifa.

__ADS_1


"Jangan terus berterima kasih Asyifa aku ini suamimu," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan mereka terlihat sama-sama tersenyum yang kelihatan sama-sama bahagia.


Bersambung


__ADS_2