Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 179


__ADS_3

Toko-tok-tok-tok.


Pintu kamar Zee di ketuk saat kepala Zee terasa begitu sakit dan Zee berusaha untuk kuat dan baik-baik saja.


Ceklek


Tanpa di suruh untuk di buka. Pintu kamar sudah di buka yang ternyata Shania yang mengetuk pintu.


"Kak Shania," sahut Zee dengan suaranya yang lemas.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Shania yang melihat Zee tampak begitu pucat.


"Iya kak, tidak apa-apa kok. Hanya tiba-tiba pusing," jawan Zee.


"Kalau kamu sakit. Kita batalkan saja persidangannya," ucap Shania yang memberikan saran pada Zee.


"Nggak kok kak, aku nggak apa-apa kok. Persidangan tidak perlu di batalkan. Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai," sahut Zee yang benar-benar tidak akan menunda atau mengubah apapun di dalam hidupnya.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Shania.


"Iya kak, aku tidak apa-apa kok," sahut Zee yang merasa dirinya benar-benar baik-baik saja.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita turun yang lain sudah menunggu kita," ucap Shania. Zee menganggukkan kepalanya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan yang berusaha untuk baik-baik saja. Karena yang penting bagi Zee sekarang adalah proses perceraiannya agar cepat selesai.


*********


Pengadilan.


Persidangan pertama Zee yang di adakan di pengadilan dan Zee di temani keluarganya. Xander, Shofia, Shania, Rafa dan Asyifa yang ikut menemani Zee. Keluarga itu sudah keluar dari mobil yang memang mereka hanya 1 mobil saja.


Ketika mereka turun dari mobil tiba-tiba keluarga Abian juga sama-sama sampai dengan Zee. Abian bersama Vanya dan Lucky yang juga turun dari mobil dan apapun yang terjadi di antara Abian dan Zee tidak membuat Lucky harus memutus hubungan tali silaturahmi dan mereka saling menyapa.


"Pak Xander," sapa Lucky yang berjabat tangan dengan Xander, "apa kabar pak?" tanya Lucky basa-basi.


"Alhamdulillah saya baik-baik aja," sahut Xander. Asyifa juga menyapa keluarga itu dengan Asyifa mencium punggung tangan Vanya dan juga Lucky.


Tidak dengan Zee yang memang sudah begitu menunjukkan rasa marahnya sehingga tidak perlu ada basa-basi. Dan bahkan tidak melihat Abian sama sekali. Mungkin di otak Zee hanya memerlukan persidangan cepat selesai. Agar Zee bisa bercerai dengan Abian.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, mari kita masuk!" ucap Xander.


"Iya ayo kita masuk," sahut Lucky.


"Abian!" tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Abian dan suara itu suara wanita yang membuat mereka melihat ke arah suara tersebut. Sesuai tebakan dia adalah Syira dan lagi-lagi datang bersama Danu yang sebelumnya di katakannya pengacara Abian.


Abian membuang napasnya kasar yang lagi-lagi Syira pasti hanya akan menambah masalah. Apa lagi di lihat dari wajah Zee yang terlihat tersenyum sinis yang sudah tidak peduli dengan drama-drama orang-orang tersebut yang begitu memuakkan baginya.


"Kalian kenapa ada di sini?" tanya Shania.


"Kak Shania kebetulan papa adalah pengacara untuk perceraian kak Abian," jawab Syira membuat Abian pasrah dengan Syira yang membuat suasana semakin tegang. Apa lagi Shofia langsung menatap tidak percaya pada Abian.


"Kamu memakai pengacara untuk perceraian mu," sahut Rafa dengan suara rendah.


"Aku...."


"Pengacara yang di gunakan adalah calon istrimu, sungguh kau benar-benar pemain Abian," Shania memotong pembicaraan Abian yang seolah tidak mengijinkan Abian untuk mencari pembelaan.


"Ini hanya salah paham. Syira aku sudah mengataiku aku tidak butuh pengacara. Kenapa kau malah datang Syira," sahut Abian berusaha untuk membela diri.


"Hebat sekali Kalian. Tidak percaya pengacara yang begitu baik menangani kasus Asyifa, mengundang kami dengan Ramah kerumahnya. Ternyata berkedok seperti ini. Sangat mendukung anaknya untuk menjadi orang ketiga di rumah tangga orang lain. Dan pasti sangat menunggu perceraian ini bukan. Sama saja semauanya. Aku tidak membayangkan bagaimana anakku bisa hidup bersama orang-orang seperti kalian," sahut Shofia yang tidak pernah bicara dan sekalinya bicara tanpa menyaring kata-katanya.


"Tante salah paham," sahut Abian.


"Diam kamu!" bentak Shofia, "tadinya aku berharap banyak untuk pernikahan kamu dan Zee. Tapi ternyata melihat semua ini. Aku tidak akan membiarkan putriku bersama Pria toxix seperti mu," tegas Shofia dengan penuh penekanan.


"Mbak," sahut Vanya.


"Jangan bicara dan membela diri kalian. Anak-anak kita akan bercerai dan itu sudah yang terbaik. Jadi stop untuk semua ini," ucap Shofia menegaskan.


"Ayo kita masuk. Jangan buang-buang waktu di tempat ini," sahut Shofia yang langsung menarik tangan Zee. Xander, Shania langsung menyusul tanpa mengatakan apa-apa lagi.


"Kami permisi Tante," ucap Asyifa dengan lembut yang langsung menyusul bersama suaminya.


"Apa lagi ini Abian?" tanya Xander yang merasa di permalukan.


"Pah, aku tidak meminta Om Danu menjadi pengacaraku," sahut Abian yang membela dirinya.

__ADS_1


"Tetapi pada kenyataannya sudah seperti ini," sahut," sahut Lucky.


"Seperti yang saya bilang tadi mas. Semua yang terjadi ini bukan keinginan atau permintaan Abian. Tetapi saja sendiri yang menginginkan semuanya seperti ini," ucap Danu.


"Tolong mas Lucky dan juga kamu Syira. Saya benar-benar meminta tolong. Jangan ikut campur dengan masalah ini. Saya dan istri saya benar-benar tidak tau apa-apa. Dan keluarga mereka seakan menganggap kami mendukung hal ini. Kami hanya berusaha untuk memperbaiki. Jadi tolong jangan memperkeruh suasana. Saya sangat dekat dengan keluarga Asyifa dan kami tidak mau putusnya tali persaudaraan dengan keluarga siapapun. Jadi mohon untuk kali ini saja jangan ikut campur dengan urusan keluarga kami," tegas Lucky yang berbicara apa dengan penuh penekanan yang tidak peduli apakah Danu akan tersinggung dengan kata-katanya atau tidak.


"Permisi!" ucap Lucky yang langsung pergi.


"Syira, setau Tante kamu anak yang sangat baik. Jadi tetaplah jadi anak baik dan jangan seperti ini. Kami dalam kesulitan dan jangan menambah kesulitan kami," ucap Vanya yang berbicara dengan suara rendah dan langsung pergi dan Abian langsung menyusul tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Syira dan ayahnya jadi hanya diam tanpa bisa mengatakan apa-apa. Ya salah sendiri kenapa terlalu ikut campur dengan semua yang telah terjadi.


********


Akhirnya persidangan perceraian Zee dan Abian di mulai dan memang tidak ada sama sekali pengacara yang mungkin persidangan akan sangat cepat selesai.


Keluarga Zee dan Abian menunggu duduk di belakang dan Zee dan Abian duduk bersebelahan di depan pak hakim yang mana sedang membacakan hasil-hasil persidangan.


Abian seolah pasrah yang ternyata tidak bisa menjaga rumah tangganya.


"Ya Allah aku tau aku bersalah dan tidak konsisten dalam pernikahan ini. Dan aku pasrah jika memang ini jalan dari mu untuk aku bersama Zee harus berpisah. Namun apa boleh aku mendapat kesempatan untuk memperbaiki semuanya," batin Abian yang dek-dekan mendengar hakim yang membacakan hasil persidangan mereka dan keluarga juga pasrah dengan perpisahan Abian dan Zee.


"Saudara Zee apa saudara Zee baik-baik saja?" tanya pak hakim yang tiba-tiba berhenti membacakan naskah perceraian tersebut. Abian pun menoleh ke arah Zee


"Zee!" tegur Abian yang melihat Zee menundukkan kepalanya dan keluarga pun pada heran ada apa dengan Zee.


"Zee!" Abian kembali menegur Zee dan menggoyang tubuh Zee dengan mengangkat kepala Zee dan membuat Abian terkejut dengan matanya yang melotot yang ternyata Zee tidak sadarkan diri dan dari hidungnya keluar darah.


"Zee, Astagfirullah," lirih Abian yang begitu terkejut melihat Zee.


"Apa yang terjadi?" tanya Shofia yang langsung berdiri dan yang lain juga yang langsung melihat Zee dan terkejut dengan kondisi Zee.


"Ya ampun Zee!" teriak Shofia.


"Zee bangun Zee! Zee! Zee!" teriak Abian panik dengan memegang pipi Zee yang begitu dingin yang tidak tau sejak kapan Zee tidak sadarkan diri seperti itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2