
Akhirnya mobil Rafa sampai juga di kediaman Rafa, lumayan sih Rafa pulangnya cepat. Nggak cepat-cepat juga karena tadi ada kendala. Tetapi ini sudah paling di cepatkan. Rafa dengan semangatnya keluar dari dalam mobil dengan membawa boucket mawar merah yang tadi di suruh nya sekretarisnya untuk membelikannya dan boucket itu lumayan jumbo yang membuat Rafa kesulitan membawanya.
Tidak ingin menunggu lama dengan semangatnya Rafa langsung memasuki rumahnya dan kebetulan keluarganya sedang ada di ruang tamu.
"Om Rafa!" teriak Aqela ketika melihat kedatangan Rafa yang mana semua orang yang duduk di ruang tamu juga melihat kearah Rafa.
Cukup kaget dengan penuh tanya. Karena melihat Rafa yang membawa bunga. Sampai mereka semua saling melihat dengan eksperesi penuh tanya.
"Cantik sekali bunganya om untuk siapa?" tanya Asyifa
"Hmmmm, bukan untuk siapa-siapa," jawab Rafa yang kelihatannya malu. Jika mengatakan itu untuk Asyifa. Namun Zee dan Shania tersenyum seakan tau. Ya pasti untuk Asyifa. Hanya saja lucu jika Rafa memberikan bunga itu untuk Asyifa.
"Yakin bukan untuk siapa-siapa," sahut Zee yang menggoda kakaknya.
"Dah deh Zee nggak usah mencampuri urusan orang," sahut Rafa kesal. Karena di goda sang adik.
"Kakak juga biasa aja. Wajahnya kok merah, salah tingkah lagi," sahut Zee.
"Kamu ini ya benar-benar," geram Rafa.
"Tuan Rafa ini di taruh di mana?" tiba-tiba 2 pelayanan datang dengan membawa parsel yang jumbo yang isinya minuman kesukaan Asyifa semua yang membuat keluarga Rafa lagi-lagi harus terkaget-kaget.
"Hmmm, itu bawa kekamar saja," jawab Rafa.
"Baik tuan," sahut pelayan tersebut yang membawa parsel yang harus 2 orang membawanya itu.
"Apa ini hari special Rafa?" tanya Xander.
"Kenapa papa tanya seperti itu?" Rafa balik bertanya.
"Minuman itu kesukaan Asyifa bukan, kamu membawa bunga untuknya. Papa rasa ini hari special," kawan Xander.
"Apa sih. Semua ini dari kantor. Nggak ada untuk siapa-siapa," sahut Rafa yang sepertinya gengsi bila harus jujur.
"Sari kantor apa dari kantor," sahut Shania.
__ADS_1
"Udalah kalau tidak percaya," sahut Rafa yang lebih baik pergi sebelum keluarganya bertanya ini dan itu lagi.
"Anak itu kesambet apa?" tanya Shofia yang sejak tadi tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Karena sang anak yang aneh.
"Lagi kesambet bucin mah," sahut Zee.
"Apa itu bucin?" tanya Shofia yang memang bahasa anak sekarang tidak di ketahuinya.
"Itulah mah, para Pria yang lagi-lagi kasmaran," jawab Zee.
"Jadi maksud kamu Rafa lagi kasmaran sama Asyifa gitu?" tanya Shofia.
"Ya lalu apa lagi, lihatlah kak Rafa membawakannya bunga dan juga minuman favorit kak Asyifa. Pasti kak Rafa sudah mulai sadar dengan kehadiran istrinya," ucap Zee.
"Benarkah!" Shofia tampaknya tidak percaya.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka dan papa yakin Rafa sudah mulai bisa menerima Asyifa. Mungkin Rafa sudah mulai sadar. Jika selama ini Asyifa adalah wanita yang tepat," sahut Xander.
"Syukurlah kalau anak itu punya pikiran seperti itu," sahut Shofia.
"Kalau Pria cuek memang seperti itu Zee," sahut Shania.
"Aku hanya berharap Rafa benar-benar berubah dan bisa menjaga pernikahannya dengan Asyifa. Mungkin ini jawaban dari doa-doa Asyifa selama ini," batin Shofia.
*********
Rafa menuju kamarnya yang bertepatan 2 pelayan yang mengantarkan parsel tadi sudah keluar dari kamar Rafa.
"Kalian sudah meletakkannya di kamar?" tanya Rafa.
"Sudah tuan," jawab pelayan itu.
"Oke baguslah kalau begitu," sahut Rafa.
"Kalau begitu kami permisi dulu tuan," ucap pelayan pamit. Rafa hanya menjawab dengan anggukan kepala dan langsung memasuki kamar.
__ADS_1
"Bagiamana ya kira-kira ekspresinya saat melihat apa yang aku bawa," batin Rafa dengan senyum-senyum yang melangkah memasuki kamar.
Senyum Rafa yang begitu lebar seperti orang jatuh cinta langsung memudar ketika melihat Asyifa yang tertidur.
"Apa dia tidur," ucap Rafa yang terlihat terkejut sampai menghela napas kasar. Salam khayalannya Asyifa sekarang berdiri di depan parsel yang di buatnya dengan wajah terharu. Tapi di luar ekspektasi yang mana Asyifa malah tertidur dengan nyenyak seperti orang kelelahan.
"Astaga, apa semua ini," gumam Rafa tampak kecewa sampai menghela napas berkali-kali. Rafa melangkah mendekati ranjang dan melettakkan boucket di atas nakas. Lalu Rafa memperhatikan Asyifa apa benar Asyifa tidur sampai telapak tangan Rafa melambai-lambai di wajah Asyifa.
"Dia benar-benar tidur. Ini baru jam berapa," ucap Rafa dengan berkacak pinggang yang melihat jam baru jam 8. Tidak pernah sebelumnya seperti itu istrinya tidur saat pulang kerja.
"Aissss, jangan-jangan dia sengaja lagi," umpat Rafa yang sudah kesal dengan mood berantakan dan Rafa langsung kekamar mandi untuk bersih-bersih. Rafa masih berharap Asyifa bangun setelah dia mandi.
**********
Tidak lama akhirnya Rafa keluar dari kamar mandi yang sudah bersih-bersih dengan menggunakan pakaian santai hanya memakai kaos putih dengan celana training dan melihat langsung ke tempat tidur yang mana posisi Asyifa masih sama. Asyifa masih tertidur dengan lelap.
Rafa menghela napasnya lagi dan geleng-geleng dengan Asyifa yang benar-benar tidur membuat Rafa harus kecewa. Namun tetap saja Rafa menyelimuti Asyifa. Karena sebelumnya Asyifa tidak memakai selimut. Rafa juga mencium lembut kening Asyifa.
Sangat kecewa dengan Asyifa yang tertidur. Padahal Rafa sudah sibuk sendiri dari sebelumnya. Rafa bahkan sudah membuat keributan di kamar itu dengan sengaja menjatuhkan benda ayat apapun agar Asyifa terbangun. Namun sayang tidak sama sekali Asyifa terbangun.
Rafa memilih keluar dari kamar untuk menuju dapur untuk mengisi tenggorakannya yang mengering.
"Asyifa kenapa tidak belum turun juga?" tanya Shofia membuat Rafa heran yang masih meneguk air putih.
"Maksud mama?" tanya Rafa.
"Asyifa pasti capek sekali hari ini. Tadi Asyifa pulang dari bertemu dengan sepupunya. Dia temani mama kerumah teman mama dan dia juga terlihat lelah dan tadi minta izin untuk istirahat sebentar dan kalau kamu pulang. Kamu bangunkan aja," ucap Shofia.
"Asyifa juga mengerjakan beberapa urusan di kampusnya. Ya pasti dia sangat kelelahan," lanjut Shofia.
"Jadi dia benar-benar tidur. Karena kelelahan hari ini," batin Rafa yang mungkin awalnya Rafa pikir Asyifa hanya menghindar.
"Asyifa juga belum makan malam. Kalau dia masih tidur sana kamu bangunkan," ucap Shofia.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya dan langsung kembali kekamarnya. Karena sang istri belum makan. Jadi Rafa harus membangunkannya. Tadi Rafa sempat kesal. Namun sekarang malah kasihan pada Asyifa. Dari cara Asyifa terlihat memang sangat lelah.
__ADS_1
Bersambung