
Asyifa mengantarkan suaminya ke luar rumah menuju mobil untuk Rafa pergi kekantor. Jadi sebelum pergi Rafa harus wajib pamit dulu dengan istrinya.
"Kak Rafa hati-hati ya di jalan dan semoga kerjanya lancar," ucap Asyifa mencium punggung tangan suaminya.
"Iya sayang. Kamu juga baik-baik di rumah," sahut Rafa yang mencium kening Asyifa. Juga mencium pipi kanan dan kiri istrinya.
Tidak lupa Rafa berjongkok dan mencium perut istrinya yang sudah membesar dengan Rafa mengelus-elus perut tersebut.
"Sayang doain papa ya supaya papa kerjanya lancar dan bisa dapat uang untuk kamu," ucap Rafa dengan gemes mengajak sangat cabang bayi berbicara. Asyifa yang mendengarnya hanya tersenyum saja.
Rafa mencium beberapa kali perut buncit tersebut dan Rafa kembali berdiri.
"Ya sudah sayang aku pergi ya," ucap Rafa pamit lagi.
"Iya kak Rafa. Hati-hati dan jangan lupa nanti bekal makan siangnya di makan," ucap Asyifa mengingatkan suaminya itu.
"Iya sayang pasti," sahut Rafa dengan mengelus-elus pipi sang istri. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan Rafa langsung memasuki mobilnya dengan Asyifa yang melambaikan tangannya dengan senyuman indah di wajahnya.
Astaga bahkan baru pergi dari tempatnya berdiri ketika mobil suaminya sudah tidak terlihat lagi.
"Ya Allah berikan kelancaran setiap pekerjaan suami hambah," batin Asyifa yang mendoakan suaminya yang terbaik.
Namun saat Asyifa ingin memasuki rumah.. Tiba-tiba mobil berhenti di depan rumah Asyifa dan ternyata itu mobil Zee.
"Kak Asyifa!" sapa Zee yang begitu keluar dari mobil langsung menghampiri Asyifa dan langsung memeluk Asyifa.
"Zee kamu sendirian?" tanya Asyifa yang memang melihat Zee sendirian datang tanpa Abian.
"Iya kak Asyifa. Soalnya tadi pagi mengantarkan kak Abian ke bandara. Dia ke London untuk perjalanan bisnis beberapa hari ini. Jadi Zee akan tinggal di sini sampai kak Abian kembali," jelas Zee.
"Oh begitu rupanya. Pantesan aja nggak lihat kak Abian. Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk!" ajak Asyifa.
"Kak Asyifa ada masak tidak. Soalnya Zee belum sarapan," keluh Zee dengan mengelus-elus perutnya yang tampak begitu lapar.
"Nasi goreng biasa sih. Ya sudah kita sarapan dulu. Tetapi mumpung kamu di sini. Kamu mau ya temani aku nanti ke supermarket," ucap Asyifa.
"Memang mau ngapain?" tanya Zee.
"Karena kamu di sini. Kita masak-masak yang banyak," jawab Asyifa.
"Wau makan enak dong. Kan masakan dari kak Asyifa yang paling the best," ucap Zee.
"Kamu itu bisa aja. Udah ayo kita masuk, bukannya lagi lapar kayanya," ucap Asyifa
"Baik kak Asyifa," sahut Zee yang langsung menggandeng tangan kakak iparnya itu untuk memasuki rumah.
******
Asyifa dan Zee pun pergi ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan di dapur dan sekalian mereka juga mau masak banyak. Ke-2nya kompak memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam keranjang.
"Kak Asyifa belum belanja barang-barang bayi?" tanya Zee.
__ADS_1
"Belum Zee nanti aja dulu," jawab Asyifa.
"Kapan lagi kak Asyifa ingat loh ini sudah masuk bulan ke-8 masa iya kak Asyifa belum mempersiapkan apa-apa," ucap Zee yang mengingatkan kakak iparnya itu.
"Iya kakak tau. Tapi mau belinya juga bingung harus seperti apa dan apa-apa aja. Baju-baju juga tidak tau harus beli yang bagaimana. Jadi nanti aja diskusi dulu sama kak Rafa," ucap Asyifa yang memang harus melibatkan suaminya dalam semua urusan itu.
"Iya-iya deh. Oh iya jangan-jangan kak Asyifa juga belum ya mempersiapkan nama untuk calon keponakanku?" tebak Zee yang pasti menurutnya iya.
"Iya belum sih, nanti akan tanya kak Rafa," jawab Asyifa yang santai-santai aja.
"Ya ampun kak Asyifa. Ini itu anak pertama Lo. Seharunya kak Asyifa itu lebih semangat dan nih ya kebanyakan orang-orang di luar sana yang hamil muda. Pasti sudah mulai beli-beli barang-barang untuk bayi mereka dan kak Asyifa belum sama sekali. Jadi kak Asyifa itu harus sudah mulai," tegas Zee.
"Iya Zee kakak tau. Tetapi apa gunanya. Kalau nanti semuanya mubajir. Jadi apa yang ada aja dulu di siapkan. Kamu jangan khawatir kak Asyifa dan kak Rafa pasti tau apa yang harus kami lakukan dan terima kasih kamu sudah mengingatkan aku," ucap Asyifa.
"Iya-iya deh kak Asyifa," sahut Zee yang hanya iya-iya saja kepada kakaknya itu. Ya walau dia gemes sendiri juga dengan kakaknya tersebut.
"Kita cari bahan yang lain lagi," ucap Asyifa.
"Iya kak," sahut Zee yang mengikut saja dan mereka berlanjut berbelanja di supermarket tersebut mencari-cari bahan makanan yang di perlukan mereka.
**********
Malam hari Asyifa dan Rafa sedang berada di atas ranjang yang sama-sama melihat ponsel. Hanya melihat ponsel Rafa. Keduanya bersandar di kepala ranjang dan Asyifa yang berada di dekat suaminya. Di mana Rafa merangkul bahu Asyifa sembari mengelus-elus lengan Asyifa.
Entah apa yang mereka lihat di ponsel Rafa. Namun terlihat begitu dekat dan terlihat sangat serius. Yang ternyata hanya membaca artikel mengenai proses kelahiran.
"Oh iya kak Rafa kita berdua belum beli apa-apa untuk calon anak kita. Tidak Zee, mama dan kak Shania terus saja mengingat itu pada Asyifa," ucap Asyifa dengan melihat sang suami dengan serius.
"Asyifa itu terserah kak Rafa aja yang penting Asyifa belinya atas persetujuan kak Rafa," jawab Asyifa.
"Bagaimana kalau besok aja?" tanya Rafa.
"Memang kak Rafa tidak sibuk?" tanya Asyifa dengan memastikan suaminya itu.
"Tidak sayang. Alhamdulillah kak Rafa santai-santai saja dan bisa menemani kamu," jawan Rafa.
"Ya sudah kalau memang kak Rafa bisanya besok. Kita akan cari perlengkapan yang seperlunya saja," ucap Asyifa.
"Terserah kamu saja," sahut Rafa.
"Lalu untuk nama anak kita bagaimana. Mama, papa, ibu, ayah dan semua orang sudah punya rekomendasi nama-nama yang indah mau itu perempuan atau laki-laki. Dan kita berdua belum membahas hal itu," ucap Asyifa yang sekalian ingin membahas dengan suaminya.
"Hmmm kamu benar sih. Kamu sendiri bagaimana apa sudah punya nama untuk calon anak kita?" tanya Rafa.
"Asyifa belum ada kepikiran. Hanya nanti Asyifa ingin terdapat kata Asraf di tengah atau di belakang nama. Ya pengennya ada Asraf nya untuk tambahan namanya," jawab Asyifa.
"Asraf apa itu artinya?" tanya Rafa.
"Singkat nama Asyifa kak Rafa," jawab Asyifa.
"Iya juga," sahut Rafa tersenyum.
__ADS_1
"Kak Rafa bagaimana apa ada punya nama?" tanya Asyifa.
"Kalau anaknya cewek apa ya namanya, cantiknya sih dari huruf M ya. Apa ya," Rafa terlihat berpikir untuk menentukan nama calon buah hatinya nanti.
"Mi_Mi...."
"Miranda maksudnya," sahut Asyifa yang memotong pembicaraan Rafa dan wajah Asyifa langsung kesal.
"Ya bukanlah," sahut Rafa dengan cepat.
"Issss kak Rafa," kesal Asyifa yang menyinggirkan tangan suaminya dari bahunya dan wajah Asyifa terlihat begitu kesal
"Asyifa," ucap Rafa yang menegakkan duduknya. Ketika sang istri menjauh sedikit.
"Bisa-bisanya kak Rafa punya pikiran untuk memberi nama anak kita Miranda. Mentang-mentang dia wanita yang pernah kak Rafa cintai. Lalu tiba-tiba langsung mengingatnya," cerocos Asyifa langsung marah-marah.
"Bukan begitu Asyifa," sahut Rafa panik dan memegang tangan istrinya dan Rafa dengan kesalnya langsung menyinggirkan tanan Rafa.
"Hey sayang jangan salah paham, siapa juga yang mau membuat nama anak kita dengan Miranda. Nggak ada sayang," bujuk Rafa.
"Tuh kan sebut namanya lagi. Cinta banget sih sama dia. Sana jenguk dia di penjara, sana lepas kerinduan, nggak usah dekat-dekat Asyifa," ucap Asyifa yang cemburuan dan langsung naik darah dengan suaminya itu. Rafa sih salah kata. Jadi macan sekarang mengamuk.
"Sayang jangan gitu dong, siapa juga yang memikirkannya. Siapa yang merindukannya. Nggak ada sayang," ucap Rafa meyakinkan Asyifa.
"Alah bohong," ucap Asyifa dengan wajah juteknya dan memalingkan wajahnya yang tidak mau melihat suaminya itu.
"Jangan marah dong sayang," Rafa harus berusaha ekstra untuk membujuk istrinya yang sensitifan itu.
"Pokoknya Asyifa tidak mau ya. Anak kita nanti ada hurufnya. M-I-R-A-N-D-A. Asyifa tidak akan mau," tegas Asyifa yang cemburu sangat parah.
"Sayang mana mungkin. Dalam nama itu aja ada 2 huruf vokal itu sangat sulit," sahut Rafa mengkerutkan dahinya. Istrinya itu memang ada-ada aja.
"Ya pokoknya Asyifa tidak mau," tegas Asyifa ngambek.
"Lalu nama yang kamu katakan tadi bagaimana. Itu ada huruf R sama A," Icao Rafa.
Asyifa langsung teringat dan benar juga kata Rafa, "kalau begitu batal. Pokoknya Asyifa tidak mau anak kita ada huruf seperti itu dalam namanya, titik," tegas Asyifa.
"Issss kak Rafa menyebalkan, istri lagi hamil tua, bisa-bisanya kepikiran mantan. Asyifa tidak mau tidur dengan kak Rafa," kesal Asyifa yang langsung turun dari ranjang.
"Sayang mau kemana?" tanya Rafa panik.
"Nggak usah tanya Asyifa," kesal Asyifa yang langsung pergi.
"Sayang! sayang!" panggil Rafa dan Asyifa tidak peduli benar-benar keluar dari kamar.
Rafa menghela napas beratnya dengan garuk-garuk kepala, "Aisss Rafa kau itu dari masalah saja. Ahhhh lihat Asyifa ngambek seperti itu dan ya ampun bagaimana ini," ucap Rafa panik sendiri dengan istrinya yang begitu cemburuan.
Padahal Rafa tidak menyebutkan nama Miranda bahkan tidak kepikiran sama sekali. Asyifa sudah meledak-ledak dan mungkin karena hormonnya dan membuat Asyifa sensitif dan langsung membesarkan masalah dan sekarang Rafa yang frustasi bagaimana caranya membujuk istrinya yang sejak tadi merocos seperti rel kereta api dan ngambek parah sampai Rafa tidak bisa berkata apa-apa dan menjelaskan pun tidak ada kesempatan.
Bersambung
__ADS_1