Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 217.


__ADS_3

Rafa dan Asyifa masih berada di taman dengan mereka yang mengobrol-ngobrol sedikit demi sedikit. Namun tiba-tiba Rafa melihat istrinya yang terlihat melihat sesuatu yang membuat Rafa melihat arah pandang istrinya yang melihat ke arah mana.


Asyifa melihat penjual sate dan sepertinya ingin memakannya. Penjual sate itu ada di ujung jalan. Rafa sepertinya tau apa yang di inginkan Asyifa. Namun Asyifa pasti tidak berani meminta pada suaminya. Karena kondisi suaminya yang sedang sakit.


"Kamu mau sate?" tanya Rafa membuat Asyifa terkejut dan terbangun dari lamunannya.


"Kak Rafa. Nggak, nggak kok," sahut Asyifa bohong.


"Asyifa kamu sudah lama tidak meminta apa-apa padaku. Jadi tetaplah seperti dulu. Aku pasti bisa memberikannya," ucap Rafa.


"Tidak kok kak Rafa. Lagian kalau Asyifa mau Asyifa pasti akan beli. Hanya sate bisa gerak sendiri untuk membelinya. Kak Rafa jangan berlebihan," ucap Asyifa dengan tersenyum yang menutupi apa yang di inginkannya.


"Kamu jangan bohong. Aku bisa melihat apa yang kamu dan tidak dan lagian kalau orang hamil itu pasti ingin suaminya membelikannya iya kan," ucap Rafa.


"Kak Rafa sudahlah jangan di besarkan. Asyifa tau keadaannya dan tidak waktunya untuk manja-manjaan dengan kak Rafa. Jadi tidak apa-apa kak Rafa Asyifa tidak terlalu menginginkannya kok," ucap Asyifa.


"Meski aku sakit. Tapi aku bisa melakukannya Asyifa. Kamu mau sate kan dan harus aku yang membelinya, maka aku akan memberinya," ucap Rafa yang akan berusaha banyak untuk istrinya.


"Kak Rafa," ucap Asyifa yang takut suaminya tersinggung.


"Ayo sayang dorong kursi rodaku. Kita beli sama-sama," ucap Rafa yang pasti banyak cara untuk memenuhi keinginan istrinya.


"Tapi kak Rafa," ucap Asyifa yang takut suaminya malah kenapa-kenapa.


"Ayo jangan buang-buang waktu. Kasihan anak kita yang menunggu-nunggu sate," ucap Rafa.


Asyifa pun tidak punya pilihan dan langsung berdiri pindah kebelakang suaminya.


"Maafkan Asyifa kak Rafa sudah merepotkan kak Rafa," ucap Asyifa dengan merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa sayang kamu jangan meminta maaf terus. Meski aku sakit. Aku akan bertanggung jawab untuk kamu dan anak kita. Jadi tidak ada yang salah sayang," ucap Rafa yang akan melakukan banyak hal untuk istrinya.


Asyifa mengangguk-anggukkan kepalanya dan mendorong kursi roda suaminya untuk mereka ke ujung jalan untuk membeli sate yang memang Asyifa menginginkannya.


Sampai akhirnya mereka sudah sampai di tempat penjual itu.


"Bang buatkan yang banyak ya dan porsi special untuk istri saya," ucap Rafa yang harus membuat yang beda untuk istrinya.


"Baik mas," sahut penjual sate tersebut. Asyifa hanya tersenyum melihat perjuangan suaminya yang baik sekali.


"Sayang tapi aku tidak pegang uang. Uang kamu ya," ucap Rafa yang baru mengingat tidak memegang uang karena dia juga sakit.

__ADS_1


"Ya kak Rafa yang beli jadi pake uang kak Rafa dong," sahut Asyifa yang merasa lucu dengan ulah suaminya.


"Dompetnya ketinggalan sayang. Jadi nggak pegang duit," sahut Rafa malah menunjukkan wajah paniknya.


"Kalau nggak punya uang kenapa harus sok-sok-an mau beliin Asyifa sate. Ya salah kak Rafa sendiri," sahut Asyifa yang santai saja.


"Mas bagaimana ini. Saya ini tidak membawa uang dan istri saya sedang ngidam. Apa yang bisa saya lakukan supaya istri saya tetap mendapatkan satunya," ucap Rafa yang menunjukkan wajah kasihannya dan membuat Asyifa hanya tersenyum.


"Begitu ya," sahut abang-abang sate yang bingung sendiri.


"Iya mas bagaimana ini mas. Saya bisa cuci piring kok nggak apa-apa. Asal istri saya dapat satunya," sahut Rafa yang rela melakukan apa saja demi sate.


"Sudah lah mas tidak apa-apa. Jangan di bayar aja. Mas juga lagi sakit dan istrinya kasihan lagi ngidam. Jadi sate yang special ini untuk orang yang special juga. Jadi nggak apa-apa mas," abang-abang sate yang sangat baik kepada Rafa.


"Serius mas boleh?" tanya Rafa yang tidak percaya.


"Iya ini mas," sahut abang-abang sate yang memberikan sebungkus sate special untuk Rafa.


"Alhamdulillah, makasih mas," sahut Rafa.


Asyifa geleng-geleng kepala dengan usaha suaminya untuk dirinyalah, "sudah mas ini saya bayar," sahut Asyifa yang mengeluarkan uang 100 ribu.


"Maaf mas suami saya hanya bercanda saja. Kami tetap bayar kok," ucap Asyifa yang memberi uang itu.


"Ada mohon di terima dan kembaliannya ambil saja," sahut Asyifa.


"Ya ampun kalau begitu saya terima dan makasih neng. Padahal saya memang pengen kasih gratis untuk neng yang cantik seperti bidadari," sahut abang-abang sate yang sudah suka aja melihat Asyifa.


"Masnya beruntung punya istri se teduh ini. Sangat adem wajahnya," ucap abang-abang satenya.


"Mas ini bisa aja. Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu ya. Makasih untuk satunya," ucap Asyifa yang tersenyum lebar.


"Makasih mas," sahut Rafa. Abang-abang itu mengangguk dan Asyifa dan Rafa langsung pergi.


"Bohong pada suaminya!" ucap Rafa.


"Maaf kak Rafa. Asyifa tidak bermaksud," ucap Asyifa.


"Tetap aja tidak boleh bohong. Kamu itu sengaja mengerjai aku ya," ucap Rafa.


"Abisnya kak Rafa lucu. Asyifa hanya bercanda saja sudah di tanggapi dengan serius dan wajah kak Rafa tadi bicara sangat lucu sampe bapak-bapak itu kasihan pada kak Rafa," ucap Asyifa yang tersenyum lebar yang tadi cukup terhibur.

__ADS_1


"Kamu senang sekali menertawai suami kamu. Nggak boleh tau," ucap Rafa.


"Namanya kak Rafa sangat menggemaskan," sahut Asyifa dengan tersenyum yang membuat Rafa geleng-geleng.


"Sayang apa yang aku lakukan itu untuk kamu. Kau itu sayang sama kamu," ucap Rafa.


Asyifa membungkuk dengan memeluk suaminya dari belakang.


"Makasih kak Rafa sudah melakukan banyak hal untuk Asyifa. Hal kecil yang jujur membuat Asyifa sangat bahagia. Makasih untuk semuanya kak Rafa," ucap Asyifa membuat Rafa menganggukkan kepalanya dan mencium lembut kening istrinya.


"Aku akan terus membuat kamu bahagia selagi aku masih di beri waktu yang panjang," ucap Rafa.


"Makasih kak Rafa. Asyifa sangat bahagia mendengarnya," ucap Asyifa yang tersenyum lebar mendengar semua perkataan dari suaminya dan bahkan tadi dia melihat usaha suaminya yang sangat baik untuk dirinya.


"Ya sudah sekarang kita makan satenya. Bukannya kamu sudah mulai ngences gara-gara tidak sabaran ingin makan sate," ucap Rafa.


"Masa iya," sahut Asyifa.


"Iya sayang lihat aja bibir kamu," sahut Rafa.


"Issss kak Rafa," ucap Asyifa.


"Tapi tidak apa-apakan kalau kak Rafa tidak memakannya. Karena ini daging jadi tidak boleh di makan kak Rafa," ucap Asyifa.


"Iya sayang tidak apa-apa," jawab Rafa membuat Asyifa tersenyum.


*********


Malam hari Asyifa selalu berada di ruangan perawatan suaminya yang siaga menjaga suaminya dan selalu sholat malam. Sama seperti malam ini yang mana Asyifa baru saja selesai sholat malam dengan zikir dan juga berdoa pada tuannya. Setelah selesai melaksanakan rangkaian ibadah itu Asyifa menoleh kebelakang dan melihat suaminya sedang tertidur dan Asyifa berdiri dari sajadahnya.


Asyifa menghampiri suaminya dengan mencium lembut kening suaminya yang tertidur lelap.


Namun tiba-tiba Asyifa merasa ada yang aneh dan sangat memperhatikan wajah suaminya.


"Kak Rafa!" ucap Asyifa membangunkan pelan. Wajahnya panik tiba-tiba.


"Kak Rafa bangun!" ucap Asyifa menggoyang pelan tubuh Rafa seperti sangat kaku membuat Asyifa takut dan Asyifa meletakkan jarinya di bawah hidung Rafa memeriksa napas Rafa.


Namun tiba-tiba mata Rafa terbuka membuat air mata Asyifa jatuh. Tidak tau kenapa dia bisa punya pemikiran seperti itu sangat takut jika Rafa benar-benar pergi. Asyifa memeluk Rafa untuk menenagkan dirinya sendiri.


"Maafkan Asyifa. Sudah membangunkan kak Rafa," ucap Asyifa.

__ADS_1


Rafa mengelus-elus kepala Asyifa, "kamu pasti begitu trauma Asyifa karena pernah mendapatiku tidak sadarkan diri. Jangan takut Asyifa jika pun aku harus pergi. Aku pasti berpamitan padamu. Aku tidak akan pergi tiba-tiba," ucap Rafa yang mengerti tentang keadaan istrinya yang pasti Asyifa sudah berpikiran jika Rafa tiba-tiba saja sudah tidak bernapas lagi. Padahal tadi Rafa murni sedang tidur.


Bersambung


__ADS_2