
"Bagaimana kak Rafa. Apa kak Rafa tidak mau bergerak untuk ke dapur untuk menggoreng ayamnya?" tanya Asyifa dengan hati-hati. Dia juga takut sebenarnya kalau Rafa marah.
"Aku yang mengerjakannya?" tanya Rafa dengan ke-2 alisnya terangkat.
"Kak Rafa bilang, Asyifa tidak boleh bekerja yang berat-berat jalan terlalu jauh lama, menuruni tangga dan kalau bisa kak Rafa bilang Asyifa istirahat dulu di kamar tanpa Asyifa harus turun dari tempat tidur. Jadi mana mungkin Asyifa yang mengerjakannya," ucap Asyifa yang menggunakan kesempatan dari perkataan Rafa sebelumnya.
Rafa mendengus kasar dengan semua larangannya yang sebenarnya akan merepotkannya.
"Kak Rafa kenapa diam?" tanya Asyifa yang tidak melihat reaksi Rafa.
"Baiklah Asyifa. Tapi apa boleh yang menggoreng ayamnya Zee," ucap Rafa dengan lembut dengan tersenyum yang tampak terpaksa.
"Memang tidak akan merepotkan Zee?" tanya Asyifa.
"Dia sudah datang kemari dan dia harus repot. Aku ragu jika aku sanggup," ucap Rafa dengan tersenyum terpaksa.
"Maksudnya sanggup apa?" tanya Asyifa heran.
"Tidak ada Asyifa. Sahut Rafa tersenyum.
"Zee!" panggil Rafa dengan suaranya kerasnya sampai membuat Asyifa kaget. Mungkin Rafa memang ingin protes dan berteriak dengan banyaknya ulah Asyifa. Namun Rafa seperti tidak ada keberanian untuk melakukan itu. Jadi harus memanfaatkan berteriak memanggil adiknya yang pasti akan di korbankan.
"Kak Rafa jangan teriak-teriak!" protes Asyifa.
"Tidak apa-apa Asyifa. Namanya juga ke bablasan," sahut Rafa tersenyum kaku.
"Ada apa sih kak Rafa? panggil Zee dengan teriak-teriak. Zee juga dengar kalau di panggil pelan," ucap Zee dengan kesal yang berdiri di depan pintu.
"Kamu sekarang kedapur dan goreng ayam sebanyak-banyaknya!" titah Rafa dengan menekan suaranya.
"Hanya 1 potong kak Rafa. Tidak perlu banyak," sahut Asyifa.
"Yakin hanya 1 potong Asyifa. Nanti jika sudah di goreng 1 potong kamu minta lagi," ucap Rafa yang tidak ingin tertipu dengan Asyifa lagi yang ujung-ujungnya akan merepotkan dirinya.
"Ya Asyifa juga tidak tau akan kurang apa tidak. Tapi kan tidak perlu di goreng banyak-banyak. Kalau Asyifa kurang ya baru di goreng lagi," ucap Asyifa dengan santainya.
"Ya kamu memang suka kesulitan Asyifa!" ucap Rafa. Asyifa hanya mengangguk dengan santai saja.
__ADS_1
"Jadi bagaimana. Jadi apa tidak ayamnya di goreng?" tanya Zee.
"Ya jadilah, cepat buruan!" titah Rafa.
"Baiklah kalau begitu," sahut Zee yang langsung pergi tanpa protes.
"Maaf Zee merepotkan!" sahut Asyifa.
"No problem," sahut Zee berteriak karena Zee sudah keluar dari kamar.
"Makasih ya kak Rafa sudah baik sama Asyifa," ucap Asyifa yang tidak akan pernah lupa untuk mengucapkan terima kasih pada suaminya. Jadi bagaimana Rafa mau marah dengan istrinya yang membuatnya kesal dan sekarang dengan manisnya mengucapkan terima kasih padanya.
"Kamu mau apa lagi?" tanya Rafa tidak lembut.
"Tidak ada, nanti kalau mau sesuatu Asyifa bilang. Tadi kan kak Rafa bilang seperti itu, kalau butuh sesuatu kak Rafa di beritahu. Jadi nanti kalau Asyifa mau ini itu tinggal bilang kak Rafa bukan," ucap Asyifa.
"Iya," jawab Rafa. Asyifa tersenyum mendengarnya dan Rafa ingin mencium kening Asyifa. Namun Asyifa malah mundur yang membuat Rafa heran.
"Kak Rafa tidak memakai parfum ya?" tanya Asyifa.
"Tapi kalau tidak pakai parfum juga aromanya tidak enak di hidung," ucap Asyifa.
"Lalu mau kamu apa Asyifa?" tanya Rafa yang kembali kesal.
"Kita besok cari parfum aroma lain mau tidak?" tanya Asyifa mendapatkan ide baru.
Rafa menghela napasnya dan mengangguk dengan terpaksa.
"Baiklah kalau begitu. Besok kita cari parfum," ucap Asyifa yang tersenyum lebar. Rafa hanya pasrah.
**********
Hari ini Rafa, Asyifa dan Zee jalan-jalan di Mall yang ada di Bali. Mereka sekalian cari oleh-oleh karena akan pulang ke Jakarta dan sekalian mereka juga akan mencari parfum untuk Rafa yang sebelumnya di katakan Asyifa.
Di mana sekarang mereka sudah memasuki salah satu toko dan sejak tadi sudah memilih-milih parfum dan Rafa hanya pasrah dengan yang mana saja yang di inginkan Asyifa. Karena perkara masalah wangi di tubuh. Rafa bahkan tidak bisa dekat-dekat dengan Asyifa dan itu tidak mungkin di biarkan sampai berlarut-larut. Makanya Rafa hanya model pasrah saja.
"Kak Rafa kenapa baunya tidak ada yang enak ya," protes Asyifa.
__ADS_1
"Itu hanya menurut kamu Asyifa bukan aku," sahut Rafa yang sejak tadi menunjukkan wajah merengutnya.
"Isss kak Rafa kenapa sih kayak orang tidak ikhlas seperti itu, seharusnya kalau tidak mau cari parfum bilang aja. Jangan malah sudah setengah jalan wajahnya di tekuk seperti itu," ucap Asyifa yang menjadi kesal dan terlihat cemberut.
"Bukan begitu Asyifa," sahut Rafa yang langsung membujuk istrinya karena takut istrinya marah.
Zee yang ada di dekat mereka hanya ingin ngakak dengan melihat kakaknya yang terlihat bucin sampai terlihat sangat takut jika Asyifa marah.
"Aku tidak bermaksud apa-apa Asyifa, kamu cari coba yang lain siapa tau ada yang cocok dengan aroma kamu," ucap Rafa tersenyum yang berusaha untuk membujuk istrinya.
"Kak Rafa memang masih mau mencoba?" tanya Asyifa.
"Maulah kenapa tidak," sahut Rafa dengan cepat yang lagi-lagi membuat Zee menahan tawanya dengan kakaknya yang roman-roman takut istri.
"Ya sudah kalau begitu Asyifa pilih yang lain,' ucap Asyifa yang kembali semangat dan Rafa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar. Namun kelihatan seperti tersenyum palsu.
"Huhhhh kak Rafa- kak Rafa," ucap Zee geleng-geleng membuat Rafa melihat Zee dengan kesal.
"Kak Rafa Asyifa sudah menemukannya," sahut Asyifa yang tiba-tiba datang dan Rafa langsung menghampiri Asyifa.
"Coba lihat ini dan hirup aromanya wangi bukan?" ucap Asyifa yang menunjukkan pada suaminya.
"Asyifa ini bukannya parfum yang biasa aku pakai," ucap Rafa dengan suara rendahnya.
"Oh iya benarkah. Tapi Asyifa suka wangi seperti ini," sahut Asyifa dengan santainya.
Rafa hanya menghela napasnya. Capek-capek ke Mall dan sudah berjam-jam. Tetapi yang di beli ujung-ujungnya yang parfum biasa yang di gunakannya dan padahal itu yang membuat Asyifa tidak suka dan seenaknya mengatakan suaminya bau om-om. Mungkin memang hidung orang hamil berbeda-beda dan suka aneh dan Rafa haru memaklumi hal itu.
"Kak Rafa beli yang ini aja," ucap Asyifa.
"Terserah Asyifa," sahut Rafa pasrah dan Asyifa hanya mengangguk saja yang ujung-ujungnya parfum yang di beli parfum yang sudah ada.
"Astaga kak Rafa benar-benar berubah. Bisa-bisanya kak Rafa tidak mau menolak apa yang di katakan kak Asyifa. Huhhhhh kak Rafa benar-benar ya," ucap Zee tidak percaya dengan perubahan sang kakak. Zee juga melihat-lihat parfum. Namun tiba-tiba pandangannya melihat ke arah lain di mana terlihat Abian yang berjalan sambil bicara dengan seorang wanita yang memakai jilbab yang terlihat wanita itu sangat tertutup.
"Bukannya itu kak Abian. Lalu siapa wanita itu," batin Zee yang penasaran dengan wanita yang sangat kelihatan Agamis itu, memakai gamis syar'i dan dengan jilbab yang menutup auratnya yang membuat Zee penasaran dengan wanita yang pasti sangat cantik itu.
Bersambung
__ADS_1