Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 227


__ADS_3

"Aku tau mama tidak setuju dengan hal ini. Tetapi aku hanya ingin membantunya. Apa ada yang salah?" tanya Dedi.


"Tidak salah membantunya. Tetapi menjadi sangat salah dengan keputusan kamu yang hanya membuat masalah semakin besar. Jangan gegabah Dedi dengan melakukan hal ini. Wanita itu bukan tanggung jawab kamu dan jika pun kamu akan menikahinya dan anak itu lahir. Apa iya kamu juga bisa menerimanya. Mungkin sekarang kamu mengatakan akan menerimanya. Tetapi kamu hanya manusia biasa yang juga tidak punya ketulusan dan ujung-ujungnya hanya akan masalah dia antara kalian dan mengungkit hal itu. Jadi jangan gegabah Dedi," tegas Willo dengan suara yang di rendahkan mencoba untuk memberi masukkan pada putranya.


"Aku setuju kata mama kak. Mungkin niat kakak baik dan menganggap tidak akan masalah selanjutnya. Tetapi ini hanya di awal. Jadi kakak harus pikirkan bagaimana kedepannya dan jika bukan kakak yang menghamili Syira. Jadi jangan bertanggung jawab untuknya," sahut Lulu yang ikut menambahi.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa. Karena semua ini urusan kak Dedi. Namun aku hanya berharap ada jalan yang terbaik dan kak Dedi juga memikirkan semua matang-matang agar tidak menyesal di kemudian hari dan harus memikirkan kebaikan semua orang dan jika keputusan yang kak Dedi ambil tetap tidak berubah. Mungkin itu juga sudah jalannya Alla. Namun tetap Asyifa dan kak Rafa tidak bisa ikut campur," ucap Asyifa menambahi dengan kata-kata yang lebih bijak. Sangat netral yang tidak memihak Willo atau tidak juga Dedi.


"Apa yang di katakan Asyifa benar semua pilihan ada pada kamu dan kamu harus memikirkan semua ini matang-matang," sahut Rafa yang menambahi sedikit.


"Tapi tetap mama tidak setuju dengan apa yang kamu lakukan. Jadi hentikan semuanya," ucap Willo dengan tegas yang langsung pergi dari tempat itu


Dedi menghela kasar napasnya dengan mengusap wajahnya kasar yang terlihat frustasi.


"Kak Dedi berserah pada Allah. Minta petunjuk pada Allah. Jika itu baik maka akan di bukakan jalannya," ucap Asyifa.


"Kamu benar Asyifa. Aku memang harus mempertimbangkan Semuanya dengan matang dan tidak mengambil keputusan begitu saja," ucap Dedi yang sekarang bergejolak dengan hatinya yang memang belum ada ketepatan dalam keputusannya yang sangat besar. Dia harus berpikir jernih. Karena ini masalah yang sangat besar.


*********


Setelah selesai dari rumah Willo dan ikut berdiskusi dengan memberi pendapat sebelumnya pada sepupunya. Asyifa dan suaminya pun dalam perjalanan pulang ke rumah yang mana mereka ber-2 masih berada di dalam mobil.


"Apa pendapat kak Rafa tentang apa yang terjadi?" tanya Asyifa.

__ADS_1


"Harus mengangkat jempol untuk Dedi yang berani bertanggung jawab yang padahal bukan dia perlakukannya. Bukannya laki-laki seperti itu tidak ada dan mungkin sangat jarang. Yang melakukan saja tidak bertanggung jawab dan dia menikahi wanita hamil. Itu bukannya suatu hal yang pantas di ajungi jempol," ucap Rafa.


"Kak Rafa benar sih. Tapi Tante Willo kelihatannya tidak setuju dan Kaka Rafa bisa lihat sendiri Tante Willo sangat menentang keras hal itu," ucap Asyifa.


"Seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya Asyifa dan pasti Tante Willo sudah memikirkan ujung-ujungnya yang terjadi dan makanya dia tidak bisa menerima begitu saja keputusan Dedi yang itu sangat berat," ucap Rafa.


"Iya juga sih, semoga saja ada jalan yang terbaik untuk ke-duanya dan Asyifa berharap keputusan yang di ambil nanti sudah keputusan yang terbaik dan tidak merugikan siapa-siapa," ucap Asyifa dengan harapannya.


"Iya sayang aku juga berharap seperti itu," sahut Rafa dengan tersenyum pada istrinya.


**********


Dedi pun menemui Syira di mana mereka berdua berada di dalam mobil.


"Syira ternyata semua yang aku katakan tidak semudah itu. Aku tidak tau kenapa harus menolongmu, memikirkanmu dan ingin bertanggung jawab apa yang terjadi kepadamu dan mungkin aku berpikir jika aku menyukaimu dan maknanya semuanya aku lakukan seperti itu. Karena pasti ada perasaan lain kepadamu dan aku tidak tau kapan itu terjadi," ucap Dedi yang melihat ke arah Syira.


"Lalu. Dedi apa yang sebenarnya yang ingin kamu sampaikan selain menyampaikan perasaan mu yang masih penuh dengan kebimbangan?" tanya Syira.


"Keputusanku di tantang oleh mama," ucap Dedi dengan berat hati mengatakannya.


"Apa mama kamu tau apa yang terjadi padaku. Jika aku mengalami hal itu?" tanya Syira.


"Setelah mengetahui kamu hamil. Tidak ada pilihan lain untuk menceritakan yang sebenarnya dan mama juga sempat menuduhku yang melakukannya dan aku berusaha menjelaskannya. Namun keputusanku tidak di setujui," ucap Dedi yang membuat mata Syira berkaca-kaca.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kamu Dedi. Bukannya sebelumnya kamu mengatakan akan meyakinkan orang tuamu?" tanya Syira yang sangat berharap dengan Dedi tidak meninggalkannya.


"Hatiku sangat bimbang Syira dan aku sudah berdiskusi dengan sang pencipta dan sepertinya aku tidak bisa menikahimu," ucap Dedi yang membuat Syira terkejut mendengarnya dengan air mata Syira yang jatuh.


"Maafkan aku Syira. Aku menanam janji yang tidak bisa aku tepati. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan membantumu untuk keluar dari masalah ini dan kamu jangan takut. Kamu tidak sendirian. Jangan melakukan hal bodoh dengan mengakhiri hidup kamu. Aku mohon jangan lakukan itu. Kita hadapi sama-sama," ucap Dedi yang berusahalah menyakinkan Syira.


"Pasti mama kamu sangat jijik kepadaku dan menganggapku wanita yang tidak baik. Selain sudah masuk kedalam rumah tangga Zee dan Abian yang aku yakin ini salah satu alasannya mama kamu menolakku mentah-mentah.


Karena masa lalu yang tidak sepenuhnya kesalahanku," ucap Syira.


"Bukan begitu Syira. Kamu jangan salah paham dulu. Apa yang di katakan mama kau hanya meresapinya dan memang benar Syifa. Ini masalah yang sangat besar yang takutnya akan berpengaruh untuk kita kedepannya. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Dedi yang berusaha untuk menjelaskan.


Syira menyeka air matanya dengan menghela napasnya dengan perlahan kedepan, "Iya Dedi tidak apa-apa kok. Kamu jangan sampai merasa bersalah. Aku tidak apa-apa dan lagian ini bukan tanggung jawab kamu dan aku tidak seharusnya melibatkan kamu dalam hal ini. Jadi tidak apa-apa sama sekali. Kamu jangan Khawatir aku akan baik-baik saja," ucap Syira yang berusaha untuk tenang. Walau dia sangat kecewa dengan keputusan Dedi yang mengubah pertanggung jawabannya.


"Maafkan aku Syira. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu kecewa," ucap Dedi.


"Tidak ada yang kecewa. Kamu jangan kepikiran semua ini karena kesalahanku dan aku yang akan menyelesaikannya semuanya sendiri. Makasih Dedi kamu sudah banyak membantuku dan ungkapan perasaan yang sedikit aku dengar. Jujur membuatku bahagia. Aku merasa masih ada yang menyukai yang padahal tau aku seperti apa. Aku benar-benar bahagia dan merasa di hargai," ucap Syira yang tersenyum menahan rasa sedih.


"Ya sudah Dedi. Tidak ada lagi kan yang mau di bicarakan. Sebaiknya aku pulang. Makasih ya untuk waktunya," ucap Syira yang menghela napas dengan membuka pintu mobil.


Dedi ingin mencegahnya. Namun bingung harus mengatakan apa kepada Syira dan lebih baik membiarkan Syira pulang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2