Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 176


__ADS_3

Masih berada di dalam mobil yang terlihat hening.


"Kenapa semua ini harus terjadi Abian?" tanya Lucky.


"Maafkan aku pah, aku tidak bisa menjaga pernikahan ku. Dan aku hanya menuruti apa yang di inginkan Zee," sahut Abian.


"Jadi selama kalian berdua berada di rumah. Ini yang terjadi yang semua yang di katakan Zee. Kamu dan Syira kembali menjalin hubungan. Bahkan mama juga tanya Bibi. Jika kalian berdua pisah kamar. Itu yang terjadi Abian. Jika kamu tidak melakukan tugas kamu sebagai suami," ucap Vanya dengan rasa kecewanya.


Abian tidak berani berucap hanya memejamkan matanya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya.


"Jika kamu tidak menyetujui perjodohan kamu dengan Syira. Seharusnya kamu mengatakan kepada kami. Jika kamu menyukai Zee kamu juga bisa mengatakannya. Tidak menjadi egois seperti ini Abian. Di mana kamu sebagai laki-laki yang plin-plan yang menginginkan ke-2nya dan pada akhirnya kamu menyakiti mereka berdua. Tidak seharusnya Abian kamu melakukan hal itu," ucap Lucky dengan penuh kekecewaannya kepada Abian.


"Maaf pah," sahut Abian dengan suara seraknya yang tidak bisa berkata apa-apa selain hanya meminta maaf saja.


"Kita bahkan sangat malu dengan keluarga tuan Xander. Kita juga malu dengan keluarga Dokter Rendy. Abian kamu yang mencari masalah dengan membawa Zee kerumah dan kamu memperpanjang masalah dengan menikahinya dan akhirnya kamu malah membuat anak orang menderita. Mama seakan tidak bermanfaat bagi orang tua. Mama benar-benar gagal dalam mendidik kamu. Kamu pria yang biasanya sangat lembut dengan wanita. Tetapi kali ini kamu sudah menghancurkanku hati seorang wanita. Bukan hanya satu tetap 3. Zee, Syira dan mama," ucap Vanya dengan air matanya yang menetes.


Semakin orang tuanya terluka. Semakin Abian merasa bersalah. Dia memang menyakiti banyak orang yang termasuk keluarganya.


"Aku benar-benar sangat tidak berguna untuk semua ini. Aku benar-benar sangat pengecut," batik Abian yang sadarnya baru sekarang dan sudah terlambat.


"Abian jawab pertanyaan papa. Apa kamu menyesal menceraikan Zee?" tanya Lucky yang ingin tau perasaan putranya seperti apa.


"Aku menyesal melakukannya. Seharusnya aku tidak menuruti apa maunya. Seharusnya aku meyakinkannya," jawab Abian yang memang benar-benar sangat menyesal dalam mengucapkan talak pada istrinya.


"Kalau memang kamu menyesal menceraikannya. Kamu tunjuk lah dengan Zee," sahut Vanya yang juga sangat menyayangkan perpisahan putranya dan ingin sang putra rujuk dengan menantunya yang tadi salah paham dengannya.


Abian tidak langsung menjawab dan terlihat bingung dengan matanya yang berkaca-kaca. Namun memang sangat jelas di lihat jika Abian sangat menyesal dengan semua yang di lakukannya.


*********


Asyifa berada di kamar yang sedang memakaikan dasi pada suaminya yang Rafa ingin berangkat kerja seperti biasanya.


"Sayang nanti kamu jangan kirim makan siang ya," ucap Rafa.


"Kok gitu?" tanya Asyifa heran.


"Aku ada makan siang dengan klien di luar," jawan Rafa.


"Kliennya cowok apa cewek?" tanya Kiara yang mulai posesif. Membuat Rafa tersenyum.


"Memang kalau cowok kenapa dan kalau cewek kenapa?" tanya Rafa.

__ADS_1


"Ya nggak apa-apa. Kan hanya bertanya," sahut Asyifa.


"Kliennya seorang wanita yang kebetulan dari Luar Negri," ucap Rafa jujur.


"Ohhhh, dari Luar Negri. Bule ya, Hmmm pasti cantik itu ya," ucap Asyifa yang mulai cemburu. Bahkan tidak melihat wajah Rafa dan fokus pada pekerjaannya.


Cemburunya Asyifa begitu menggemaskan bagi Rafa membuat Rafa langsung mengangkat dagu Asyifa agar wajah mereka saling melihat.


"Cemburu?" tanya Rafa.


"Kenapa harus cemburu," sahut Asyifa mengelak.


"Jujur saja. Kalau kamu itu sedang cemburu," ucap Rafa. Asyifa tetap tidak mau mengakui bahwa dirinya memang cemburu.


"Hey sayang, mau klien aku itu wanita atau Pria. Mau dia secantik apapun. Aku mana mungkin meliriknya. Karena di pikiran ku ini di penuhi dengan istriku yang seperti bidadari," ucap Rafa yang mengeluarkan kata-kata mautnya.


"Dasar tukang gombal," ucap Asyifa.


"Siapa yang tukang gombal, emang benar kok," sahut Rafa.


"Iya-iya benar," sahut Asyifa.


"Ya sudah. Jangan cemburu lagi. Walau aku sangat menyukai istri ku yang cantik ini cemburu. Itu tandanya dia sangat mencintai ku. Aku benarkan?" tanya Rafa.


"Ya sudah sayang. Kalau begitu aku kekantor dulu ya," ucap Rafa.


"Iya hati-hati. Aku juga nanti mau temani Zee ke kantor pengadilan agama," ucap Asyifa yang meminta izin pada Rafa.


"Ya sudah tidak apa-apa. Kalian hati-hati ya. Semoga prosesnya berjalan dengan lancar," ucap Rafa.


"Iya kak Rafa," ucap Asyifa. Rafa tersenyum dan mulai melakukan rutinitas seperti biasa. Di mana Zee mencium punggung tangan suaminya dan Rafa menciumi wajah sang istri yang terdengar suara kecupan-kecupan lembut.


"Aku pergi sayang," ucap Rafa pamit.


"Iya hati-hati," sahut Asyifa.


"Assalamualaikum," ucap Rafa.


"Walaikum salam," sahut Asyifa melambaikan tangannya saat suaminya keluar dari kamar mereka. Setelah kepergian suaminya Asyifa menghela napasnya.


********

__ADS_1


Asyifa benar-benar menemani Zee ke pengadilan untuk proses perceraiannya dengan Abian. Sebenarnya tidak ada yang sulit dalam perceraiannya. Mereka juga tidak ada anak dan baru menikah lebih 1 bulan dan tidak ada yang di perebutkan. Apalagi harta gono-gini.


Jadi Zee juga tidak memakai pengacara untuk perceraiannya hanya di temani dengan Asyifa saja. Dan biasanya untuk tahap awal pasti mediasi dulu. Tetapi tidak tau bagaimana proses mediasi akan berlanjut nantinya.


Asyifa dan Zee yang sama-sama turun dari mobil dengan Zee yang membawa berkas-berkas untuk perceraiannya.


"Zee bismillah ya. Semoga proses mediasi berbuah manis," ucap Asyifa yang sepertinya masih sangat mengharapkan Zee berbaikan dengan Abian.


"Kak Asyifa. Bagaimana pun mediasinya nanti. Aku tidak akan mengubah keputusanku. Untuk berpisah darinya," ucap Zee dengan yakin.


"Tetapikan kita tidak tau jodoh itu bagaimana dan mungkin saja Allah sedang merencanakan sesuatu yang indah. Karena segala sesuatu hanya Allah yang menentukannya. Manusia hanya bisa berencana. Mau sekeras apapun kamu ingin berpisah dari Abian. Tetapi jika Abian adalah jodoh kamu. Pasti Allah akan memberikan jala untuk mempersatukan kalian kembali dan menutup jalan perpisahan di antara kalian," ucap Asyifa dengan bijak memberi arahan pada Zee.


"Makasih kak Asyifa atas sarannya. Tetapi Zee juga tetap punya pendirian untuk tetap berpisah," ucap Zee dengan keyakinannya dan Asyifa tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


"Ayo kak Asyifa kita masuk!" ajak Zee. Asyifa mengangguk dan baru beberapa langkah mobil Abian berhenti tepat di depan mereka dan Abian langsung keluar dari mobil. Namun Zee tampak tidak peduli dan tetap melanjutkan jalannya bersama Abian. Namun Abian menahan tangannya.


"Aku ingin kita bicara sebentar," ucap Abian.


"Lepas tanganku!" sahut Zee dengan dingin.


"Zee aku mohon sebentar saja," ucap Abian dengan suara permohonannya.


"Abian!" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing membuat semua orang melihat kearah suara tersebut yang ternyata Syira yang datang bersama dengan Danu dan Zee langsung melepas tangannya dari Abian.


Syira dan Danu menghampiri Abian dan juga yang lainnya. Asyifa hanya menundukkan kepalanya memberikan salam pada Danu pengacaranya dulu.


"Om Danu, Syira. Kenapa kalian ada di sini?" tanya Abian.


"Syira sengaja membawa papa untuk menjadi pengacara kamu untuk proses perceraian kamu dan dia. Agar prosesnya cepat terlaksana," jawab Syira yang mengejutkan Abian dan bahkan Asyifa juga. Namun Zee yang mendengarnya mendengus kasar.


Dia pasti tidak habis pikir Abian menggunakan pengacara untuk perceraian mereka dan pengacaranya bahkan papanya Syira.


"Ayo kak Asyifa," sahut Zee yang malas berlama-lama di tempat tersebut dan langsung menarik tangan Asyifa membawanya pergi.


"Zee tunggu!" panggil Abian.


"Abian ayo kita juga harus membahas semua masalahnya, biar Om bisa mempelajari kasusnya," sahut Danu.


"Maaf Om Danu. Tetapi untuk masalah ini tidak perlu pengacara. Ini sangat berlebihan, sekali lagi saya mohon maaf," ucap Abian yang langsung pergi menyusul Zee.


"Abian!" panggil Syira. Namun Abian sama sekali tidak mempedulikan Syira dan Abian pergi saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2