
"Mama sudah dengar semuanya dari keluarga Syira Abian. Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa," ucap Vanya.
Abian memang mengatakan apa yang terjadi pada orang tuanya saat begitu sampai. Namun baru saja ingin menjelaskan. Vanya menyetop yang memang dia dan suaminya sudah tau semuanya.
"Tetapi semua itu hanya fitnah mah. Aku tidak melakukan apapun yang telah di tuduhkan kepadaku," ucap Abian menjelaskan pada orang tuanya.
"Kalau itu hanya fitnah. Kenapa kamu menikah dengan Zee? seolah membenarkan apa yang terjadi," tanya Vanya.
"Aku menikahi Zee karena tidak ingin Zee ikut mendapatkan hukuman yang seharusnya tidak di dapatkannya," jawab Abian.
"Itu berati kamu punya hubungan dengan Zee," sahut Lucky yang langsung menebak dengan menatap Abian.
"Tidak pah," sahut Abian yang membantah tuduhan sang papa.
"Tidak mempunyai hubungan dengan Zee. Tapi kamu terus bersamanya. Yang padahal di sana ada Syira. Tidak ada hubungan dengannya. Kamu mengajaknya kerumah kita. Tidak ada hubungan dengannya. Kamu menggantikan hukuman Zee bahkan menikahinya. Bagaimana dengan semua itu Abian?" tanya Lucky.
"Pah aku tidak terlalu bersama Zee dan aku membawa Zee kerumah kita. Karena aku sudah berjanji pada Zee dan di rumah itu kami hanya berteduh," jelas Abian yang berusaha untuk meyakinkan orang tuanya.
"Abian papa ingin tanya sama kamu. Kamu sadar tidak jika Syira itu calon istri kamu?" tanya Lucky.
"Aku sadar pah," sahut Abian.
"Jika kamu sadar. Lalu kenapa kamu bisa-bisanya bersama Zee lebih fokus pada Zee saat di sana ketimbang dengan Syira. Bahkan kamu tidak peduli pada Syira," tegas Lucky.
"Syira menceritakan semuanya kepada mama dan papa tentang sikap kamu yang sangat berlebihan," sahut Vanya menambahi. Abian terdiam yang tidak punya jawaban apa-apa.
"Abian kamu tidak menyukai ke-2nya kan!" tebak Lucky lagi.
"Apa maksud papa?" tanya Abian.
__ADS_1
"Dari yang semua yang terjadi. Terlepas itu fitnah atau tidak. Kamu dan Zee tampak sangat dekat dan hal yang kamu lakukan tidak mungkin. Jika kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Zee. Tidak ada perasaan apa-apa pada Zee," ucap Lucky yang menarik kesimpulan dari apa yang terjadi pada putranya itu.
"Diam nya kamu memperlihatkan kamu adalah laki-laki yang plin-plan," sahut Vanya.
"Tapi apapun itu. Kamu dan Zee sudah menikah dan proritas kamu bukan pada Syira. Tapi Zee. Kamu mengerti hukum pernikahan dan papa hanya berharap kamu bertanggung jawab dengan semua keputusan yang kamu ambil sendiri dan masalah kita dengan keluarga Syira. Tidak tau seperti apa. Jika di tanya kecewa pasti papa dan mama kecewa dengan kamu dan bahkan keluarga Syira pasti marah dengan kita. Tetapi inilah yang terjadi dan apa yang sudah terlanjur terjadi itu yang di perbaiki bukan hal lain," ucap Danu dengan penuh penegasan dan penekanan yang berbicara pada Abian.
Abian hanya menghela napasnya yang tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia diam dan tidak bisa bisa berkata-kata. Mungkin memang benar tebakan orang tuanya. Jika hatinya juga dalam masalah.
***********
Zee berada di dalam kamar yang berbaring miring di atas ranjang dengan wajah sendu Zee bahkan air matanya yang di sekanya.
Krekkk. Asyifa membuka pintu kamar dan melihat Zee yang semenjak pulang dari desa tidak keluar kamar dan hanya menjadi pendiam.
Asyifa menghela napasnya dan langsung menghampiri Zee dengan duduk di samping Zee dengan mengusap bahu Zee.
"Ada apa kak Asyifa?" tanya Zee dengan suaranya yang terlihat selesai menangis.
"Apa lagi yang ingin di lakukannya. Bicara seenaknya dan bertindak seenaknya," batin Zee.
"Ayo Zee jangan di biarkan mereka menunggu terlalu lama," ucap Asyifa.
"Iya kak. Kakak duluan saja nanti Zee akan menyusul," ucap Zee.
"Baiklah. Aku keluar dulu," ucap Asyifa yang langsung pergi dan membiarkan Zee yang mungkin siap-siap dulu sebelum menemui keluarganya dari suaminya.
*********
Vanya, Lucky, Abian, berhadapan dengan Xander, Shofia, Rafa dan Asyifa. Terlihat sangat canggung dan belum ada pembahasan sama sekali dan yang mereka tunggu akhirnya datang yang siapa lagi jika bukan Zee yang sebelum turun dia memberi polesan makeup pada wajahnya agar tidak terlihat sembab karena seharian menangis dalam diam.
__ADS_1
"Ayo Zee duduklah!" sahut Shofia.
Zee pun langsung duduk di samping Asyifa yang berhadapan dengan Abian dan lagi-lagi mereka berdua seperti orang asing. Bahkan tidak saling menegur.
"Ini pertama kalinya keluarga kita saling bertemu pak Xander," ucap Lucky.
"Benar Pak Lucky," sahut Xander.
" Kami sangat mengenal dekat Asyifa dan juga mengenal Rafa saat pertama kali berada di New Zealand dan untuk pak Xander sendiri pasti sangat di kenal. Dan suatu kehormatan bagi saya bertemu pak Xander," ucap Lucky.
"Terimakasih, keluarga kami juga sangat terhormat bisa bertemu dengan keluarga kalian semua," ucap Xander.
"Kami juga sempat mengenal Zee," sahut Vanya.
"Alhamdulillah jika memang ternyata kita sudah saling tau dan sekarang bisa saling mengenal," sahut Shofia.
"Benar sekali dan untuk tujuan kami datang kemari. Memohon maaf atas apa yang terjadi. Memohon maaf dengan Abian yang sudah membawa putri bapak dan menciptakan masalah besar. Desa itu adalah desa kampung halaman kami dan kami sangat merasa bersalah dengan tamu yang datang namun mendapatkan ketidaknyamanan di sana. Jadi kami atas keluarga Abian sangat memohon maaf," sahut Lucky dengan bijaksana yang memohon maaf.
"Semua tidak sepenuhnya kesalahan dari Abian. Dan kita saling mempercayai saja dan percaya pada anak-anak. Kami juga mengenal putri kami seperti apa dan juga pasti kalian juga tau Abian dan semua ini hanya terlepas dari fitnah yang tidak bisa di buktikan," ucap Xander.
"Pak Xander benar. Kita saling mengetahui putra-putri kita dan mereka sudah menikah dan tidak ada yang di sesalkan dan mungkin ini sudah yang terbaik," sahut Vanya.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan ini?" tanya Shofia.
"Abian bicaralah!" ucap Vanya memberi kesempatan untuk putrinya bicara.
"Aku dan Zee sudah menikah secara sah. Pernikahan bukan hal yang main-main yang bisa di hentikan begitu saja. Karena aku sudah menikahinya, aku akan menjadi suami dan imam yang baik untuk Zee. Karena dia sudah menjadi tanggung jawabku," ucap Abian.
Asyifa, Rafa sama-sama serentak menghela napas yang artinya tidak ada masalah dengan pernikahan Zee dan Abian. Tetapi raut wajah Zee tampak datar saja. Mungkin Zee sangat meragukan Abian. Sangat terlihat jelas wajah Abian penuh rekanan dengan status baru itu.
__ADS_1
Bersambung