
Akhirnya Asyifa pun sudah berada di ruang persalinan. Ketubannya yang sudah pecah yang akhirnya Asyifa harus melahirkan. Bisa di katakan hal ini mendadak. Belum ada persiapan yang biasa di lakukan saat jelang lahiran, berada di rumah sakit sebelum lahiran. Persiapan ruangan persalinan yang nyaman dan sebagainya.
Namun Alhamdulillah karena Rendy ayahnya adalah Dokter dan rumah sakit yang tempat Asyifa melahirkan milik keluarganya. Jadi semuanya di permudah. Karena Rendy sepanjang di perjalanan sibuk berkomunikasi kepada pihak rumah sakit dan putrinya mendapatkan ruang persalinan yang terbaik.
Asyifa sudah berada di ruang persalinan dengan beberapa Dokter wanita pastinya. Karena itu permintaan Asyifa sebelumnya. Suaminya Rafa juga sudah berada di dalam menemani istrinya. Hanya Rafa satu-satunya Pria yang ada di sana yang lengkap memakai pakaian yang sudah di tentukan.
Sementara semua keluarga menunggu di luar. Rendy, Rania dan Azka juga baru sampai. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas yang khawatir pada Asyifa.
"Ya Allah semoga persalinan Asyifa lancar. Permudah segalanya ya Allah," ucap Rania yang tidak henti-hentinya berdoa untuk kelancaran persalinan putrinya.
"Kita doakan yang terbaik sayang. Allah pasti akan mempermudah segala urusan kita," sahut Rendy yang merangkul sang istri.
"Asyifa anak yang kuat saya sangat yakin jika dia pasti mampu melewati semua ini," sahut Shofia.
"Amin," sahut semuanya dengan serentak yang mendoakan yang terbaik untuk Asyifa dan keselamatan Asyifa.
***********
Sementara di ruangan persalinan. Di mana persalinan akan di mulai. Rafa yang berdiri di samping bagian kepala Asyifa dengan memegang tangan Asyifa dan membisik- bisikkan entah apa saja di telinga Asyifa.
Persalinan yang sudah di mulai dengan beberapa Dokter.
"Bu Asyifa ayo tarik napasnya panjang dan buang perlahan!" titah Dokter yang memberikannya arahan pada Asyifa.
Asyifa dengan wajah yang berkeringat mengikuti arahan itu dengan beberapa kali mengucapkan bismillah.
"Sayang bismillah ya, kamu harus kuat, rasa sakitnya akan tergantikan dengan pahala yang sangat besar," ucap Rafa dengan matanya berkaca-kaca melihat perjuangan istrinya yang luar biasa menahan sakit.
Asyifa hanya mengangguk dan berusaha lagi sekuat tenaganya untuk melahirkan anak pertamanya.
"Ahhhhh, Ahhhhhh, Ahhhhh," suara teriakan Asyifa yang terdengar kuat dan penuh perjuangan.
Owe owe owe owe owe owe owe owe
Suara indah dan mungil bayi itu terdengar membuat air mata Asyifa mengalir deras. Sama dengan Rafa yang juga meneteskan air matanya melihat bayi merekah yang di pegang Dokter.
"Alhamdulillah sayang," ucap Rafa mencium kening Asyifa yang mana Rafa tidak bisa menggambarkan kebahagiannya atas kelahiran bayi pertama mereka.
__ADS_1
"Pak Rafa, Bu Asyifa selamat ya bayi kalian sehat tanpa cacat sedikitpun. Seorang perempuan yang masyaallah sangat cantik," ucap Dokter yang meletakkan bayi yang belum di bersihkan itu di atas dada Asyifa dalam keadaan terangkat.
Asyifa dan Rafa sama-sama tersenyum terbaru dan beberapa kali Rafa mencium kembali kening sang istri.
"Sangat cantik seperti kamu," ucap Rafa. Asyifa mengangguk-anggukkan kepalanya dan luar biasa betapa bahagianya dirinya dengan dirinya yang sudah menjadi seorang ibu dan Rafa juga pasti tidak menyangka menjadi seorang ayah.
************
Setelah proses persalinan lancar. Asyifa di pindahlah keruang perawatan dan keluarga sudah bisa membesuk Asyifa dan lihatlah para orang tua itu akan berebutan bayi perempuan yang cantik itu.
"Masyaallah cantik sekali cucu nenek ini," ucap Shofia.
"Iya masyaallah ya, sangat cantik," sahut Rania yang sejak tadi menggendongnya.
"Wah ibu akan menjadi nenek ini," sahut Azka.
"Jangan di panggil nenek Azka, Tante Rania masih cantik seperti ini," sahut Zee.
"Lalu di panggil apa. Kalau sudah punya cucu harus di panggil nenek. Atau kalau tidak di panggil eyang," goda Azka.
"Ayah juga akan jadi kakek," sahut Azka yang paling suka menggoda ke-2 orangtuanya.
Asyifa dan Rafa hanya tersenyum saja. Sekarang rasa sakit itu sudah tidak ada dan sekarang hanya kebahagiaan saja yang ada dengan mereka yang akhirnya mempunyai seorang anak menjadikan pernikahan mereka semakin sempurna.
"Oh iya Rafa apa nama bayinya sudah ada?" tanya Abian.
Rafa dan Asyifa saling melihat. Namun wajah Asyifa tampak mengkerut.
"Kak Rafa tidak memikirkan nama dari awalan itukan?" tanya Asyifa yang posesif. Ya Asyifa Pernah murka karena Rafa memikirkan mantan. Sejak saat itu Rafa trauma membahas nama anak.
"Ya nggak dong sayang," sahut Rafa yang langsung panik.
"Memang nama apa Asyifa yang di pikirkan Rafa?" tanya Shofia yang penasaran.
"Nama mantannya," jawab Asyifa dengan jujur membuat Rafa pasrah.
"Sayang tidak seperti itu," sahut Rafa.
__ADS_1
"Kamu ini ya Rafa benar-benar ya. Istri kamu itu melahirkan sangat kesulitan. Kamu juga ada di dalam sana dan tau bagaimana perjuangan istri kamu. Malah sempat-sempatnya kepikiran buat nama aka nama mantan," sahut Shofia yang langsung mengoceh.
"Tau nih mah," sahut Asyifa yang ikut menyerang suaminya.
Sementara yang lainnya hanya senyum-senyum saja dan Rafa garuk-garuk kepala yang pasrah di omeli keluarganya.
"Sudah-sudah semua nama itu bagus. Jadi jangan mempermasalahkan nama. Nanti ayah bantu cari nama untuk dedek kecilnya," sahut Rendy.
"Kalau begitu Rafa menyerahkan namanya sama ayah saja. Karena nama pilihan ayah itu yang terbaik. Ayah juga memberi nama istri ku dengan cantik Tsmara Asyifa. Perempuan cantik pengobat hati dan itu sangat nyata," puji Rafa dengan menatap istrinya begitu dalam.
"Gombal," sahut Asyifa dengan wajah cemberutnya.
Yang lain hanya senyum-senyum saja dengan suami istri yang sedikit-sedikit bertengkar dengan manis yang sedikit-sedikit saling sewot.
**********
Dedi dan Willo yang berada di ruang tamu yang sedang mengobrol.
"Bukannya kamu juga memang tau. Jika anak yang di kandung Syira bukan anak kamu. Lalu kenapa kamu membiarkannya pergi dan bukannya awalnya kamu juga ingin menikah dengannya. Walau kamu tau anak itu bukan anak kamu?" tanya Willo.
"Aku hanya kecewa dengan tindakan Syira yang membuat fitnah dan merendahkan ku. Membuat mama salah paham denganku," sahut Dedi yang sejak tadi menunduk.
"Lalu apa kalian akan berpisah?" tanya Willo.
"Aku tidak tau hal itu. Aku tidak bisa memutuskan semuanya dengan cepat. Kau butuh waktu untuk berpikir," jawan Dedi.
"Lalu bagaimana perasaan kamu sebenarnya kepada Syira?" tanya Willo.
Dedi terdiam yang tidak mampu mengatakan apa-apa.
"Mah Lulu sudah siap," sahut Lulu yang menuruni anak tangga dan terlihat sangat rapi
"Baiklah ayo kita ke rumah sakit," sahut Willo berdiri dari tempat duduknya dan di susul oleh Dedi yang mereka memang ingin kerumah sakit untuk menjenguk Asyifa.
Pembicaraan ibu dan anak itu belum ada keputusan dan tidak tau juga keputusan seperti apa yang akan di ambil Abian. Apa memang sangat butuh waktu.
Bersambung
__ADS_1