
Setelah mendapatkan pesanan sang istri Rafa kembali pulang dan langsung memasuki kamar yang mana Asyifa baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe dan tanpa hijab dan terlihat Asyifa yang lemas yang memegang perutnya.
"Asyifa kamu baik-baik aja?" tanya Rafa mendekati istrinya dan memegang pipi istrinya dengan menatap istrinya yang wajahnya begitu pucat.
"Perut Asyifa kosong, tadi Asyifa mual-mual. Jadi baju yang Asyifa pakai sebelumnya kotor kena muntah Asyifa dan lantainya juga sedikitpun kotor," ucap Asyifa dengan suara lemahnya.
"Ya sudah aku panggil Dokter. Kamu itu sedang sakit," ucap Rafa dengan rasa khawatirnya.
"Asyifa tidak mau kak Rafa, Asyifa tidak apa-apa kok, hanya mual saja, Asyifa mau bersihkan lantainya dulu," ucap Asyifa.
"Tidak usah biar aku saja yang melakukannya. Kami sekarang istirahat aja dan iya aku sudah membawakan makanan yang kamu mau," ucap Rafa.
"Benarkah?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Asyifa mau makan boleh?" tanya Asyifa. Rafa mengangguk dan membantu sang istri untuk duduk di sofa.
"Kak Rafa ganti parfum lah," ucap Asyifa dengan tiba-tiba saat dia sudah duduk dan Rafa ada di dekatnya.
"Memang parfum ku kenapa?" tanya Rafa heran dengan Asyifa meletakkan jarinya di bawah hidungnya yang sepertinya tidak suka dengan aroma itu.
"Bau," jawab Asyifa dengan manjanya.
"Asyifa ini yang biasa aku pakai dan bau dari mana," sahut Rafa heran dengan dahinya yang mengkerut. Baru kali ini ada yang mengatainya bau.
"Tapi Asyifa tidak suka dengan aromanya, bau om-om, sangat menyengat dan Asyifa ingin muntah," ucap Asyifa dengan kata-kata yang sangat santai namun kata-kata itu menyakitkan sampai Rafa tidak bisa berkata-kata lagi hanya mendengus kasar menahan kesalnya dirinya dengan mulut istrinya yang terlalu jujur.
Tadi di katakan dirinya bau dan sekarang seperti om-om dan di bilang ingin muntah lagi. Rafa tidak tau dirinya baunya seperti apa sampai Asyifa santainya mengatakan ingin muntah.
"Kak Rafa menjauh lah, Asyifa mau makan," ucap Asyifa.
"Asyifa ternyata wanita berhati malaikat itu hanya keluar dari kata mama saja. Kamu sadar tidak kata-kata itu menyakitkan," ucap Rafa kesal berdiri dari tempat duduknya.
"Apa sih kak Rafa," sahut Asyifa heran.
"Apa sih," sahut Rafa mengejek cara Asyifa bicara.
Rafa sudah menahan dirinya yang rasanya ingin menerkam Asyifa.
"Aneh," gumam Asyifa yang merasa tidak berdosa dan malah santainya memakan makanannya yang baru di belikan suaminya.
Sementara Rafa menuju lemari yang membuka kemejanya yang mungkin ingin mengganti pakaiannya.
"Begini caramu membalas pada orang yang baru saka menyatakan perasaannya. Asyifa aku sudah menyatakan perasaan kepadamu kemarin, bukannya berpikir cara romantis untuk membalasnya. Kau malah terus mengatakannya hal-hal yang menyakitkan sampai ke uluh hati," oceh Rafa marah-marah sampai memegang dadanya yang mana Rafa bereksperesi seperti aktor film.
"Kak Rafa kenapa jadi marah-marah. Kak Rafa lebay, aneh," sahut Asyifa dengan santainya yang mulutnya terus mengunyah membuat Rafa semakin kesal dengan merapatkan giginya yang mau menerkam istrinya.
__ADS_1
"Kamu yang aneh Asyifa, mengatai orang aneh lagi. Sadar Asyifa kamu berapa kali membuatku kesal, nggak mau di dekati lah dan sekarang mengatai ku bau lagi," kesal Rafa yang langsung masuk kamar mandi dari pada berdebat dengan Asyifa yang merasa tidak salah apa-apa.
"Kenapa kak Rafa jadi marah sih, kan memang benar parfumnya bau dan masa iya Asyifa harus pakai masker," ucap Asyifa geleng-geleng.
**********
Lain Rafa yang harus bersabar menghadapi Asyifa. Di tempat lain Zee dan Abian sedang berjalan-jalan di pantai dengan mereka berdua yang terlihat bahagia.
"Aku seharian mengajakmu. Kamu tidak sedang ada pekerjaan kan dan aku mengganggu?" tanya Abian.
"Tidak kak Abian, aku kemari hanya menyusul kak Asyifa dan juga kak Rafa. Jadi tidak ada pekerjaan apa-apa. Lagian aku juga suka jalan-jalan. Karena kemarin saat pergi bersama kak Asyifa aku belum sempat jalan-jalan. Jadi sekarang bawaannya sangat happy," ucap Zee yang tidak masalah.
Abian tersenyum tipis mendengarnya dan saat mereka berjalan di tengah keramaian. Tiba-tiba ada anak kecil yang berlari kencang dan ingin menabrak Zee Abian yang melihat hal itu langsung sigap dengan melindungi Zee dengan memegang ke-2 bahu Zee membuat Zee dan Abian saling melihat dengan jarak posisi berdiri mereka yang sangat dekat.
"Maaf!" Abian langsung melepas sentuhannya saat tau itu berlebihan. Zee hanya mengangguk dengan tersenyum. Dia dan Abian tadi juga saling menatap sebentar dan itu mampu membuat hati Zee bergetar.
"Kamu tidak apa-apa kan Zee?" tanya Abian.
"Tidak apa-apa kok kak, makasih ya sudah membantu Zee," ucap Zee. Abian mengangguk dengan tersenyum.
"Ayo kita jalan lagi," ucap Abian yang mempersilakan Zee untuk berjalan.
Zee menganggukan kepalanya dan berjalan kembali bersama Abian.
"Zee boleh bertanya sesuatu tidak kak?" tanya Zee yang tiba-tiba ingin bertanya.
"Kteria istri kak Abian seperti apa?" tanya Zee yang ingin tau.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Abian.
"Tidak ada hanya ingin tau aja," jawab Zee.
"Tidak ada kteria yang jelas wanita yang penurut, penurut dalam arti bisa di ajak searah untuk menuju jalan yang baik," jawab Abian dengan singkat.
"Apa harus wanita yang Sholeha?" tanya Zee.
"Semua wanita pasti Sholeha Zee. Hanya belum mendapat hidayah nya dan ketika sudah menikah itu hanya menjadi tugas suami yang mengarahkannya," ucap Abian dengan bijak membuat Zee mendengarnya mengangguk-angguk dengan tersenyum.
"Kamu bertanya seperti itu seolah-olah berniat ingin menjadi istriku," sahut Abian yang langsung to the point yang membuat Zee langsung melihat serius pada Abian dan Abian juga melihatnya.
Jelas dada Zee berdebat saat kata-kata itu di lontarkan dari mulut Abian yang berterus terang.
"Aku hanya bercanda," sahut Abian yang mengalihkan pandangannya kembali lurus kedepan membaut Zee menekan salivanya yang sebenarnya dia jadi gugup dan penuh salah tingkah.
"Kita pulang Zee, ini sudah sore," ucap Abian.
__ADS_1
"Baiklah kak Abian," sahut Zee yang masih merasa sangat canggung. Namun memang mereka harus pulang.
*********
Asyifa yang merasa lebih baik membuatkan makan malam untuk suaminya. Sebenarnya Asyifa masih belum merasa begitu tenang dia masih lemas- lemas sedikit. Namun bagaimana lagi Asyifa juga tidak lupa dengan kewajiban yang harusnya memasak untuk suaminya.
"Asyifa kenapa memasak?" tanya Rafa yang tiba-tiba datang dan langsung heran dengan sang istri yang memasak.
"Kak Rafa," sahut Asyifa.
"Kamu ini apa-apaan sih, kamu kak lagi sakit," ucap Rafa yang tidak ingin istrinya sampai kenapa-kenapa.
"Tidak apa-apa kok kak Rafa Asyifa sudah baik-baik aja kok kak Rafa," jawan Asyifa bohong.
"Baik-baik aja bagaimana. Sudah jangan memasak kita pesan makan saja," ucap Rafa yang tidak mau sang istri kenapa-kenapa.
Tingnong-tinnong.
Bel rumah berbunyi.
"Asyifa tidak apa-apa kak Rafa, sana kak Rafa bukain pintu," ucap Asyifa yang selau merasa baik-baik aja dan Rafa hanya menghela napas saja dan padahal sang istri jelas-jelas masih tidak baik-baik saja.
"Sana kak Rafa?" Asyifa mendorong Rafa dan mau tidak mau Rafa menuruti istrinya DNA langsung menuju pintu untuk membuka pintu siapa yang datang.
"Sebentar," sahut Rafa yang langsung membuka pintu ternyata Zee dan Abian.
"Kalian ternyata," ucap Rafa.
"Iya kak Rafa. Tadi aku sama kak Abian sehabis dari kantor polisi makan sebentar dan keasyikan jalan sampai pulang malam seperti ini," ucap Zee.
"Maaf ya Rafa aku bawa Zee agak lama," ucap Abian merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa yang penting kau membawanya pulang," sahut Rafa dengan santai.
"Ya sudah kak Abian makasih ya sudah mengantar Zee," ucap Zee.
"Sama-sama Zee kalau begitu, aku pulang dulu ya," ucap Abian pamit.
Pranggg.
Tiba-tiba terdengar suara pecahan yang sangat kuat membuat Rafa, Zee dan Abian terkejut mendengarnya.
"Suara apa itu?" tanya Zee.
"Asyifa!" Rafa langsung teringat pada istrinya dan langsung berlari kedalam yang di susul Zee dan Abian yang juga kaget.
__ADS_1
Bersambung