
"Anak itu terlihat positif jika pekerjaannya tidak marah-marah sama sekali," cicit Shofia.
"Dia terlihat berbeda seperti itu," batin Asyifa yang tersenyum dengan tindakan Rafa yang menurutnya sangat manis.
"Ya ampun kak Asyifa. Apa harus kak Rafa di senyumi seperti itu. Kak Asyifa ini benar-benar ya," goda Zee membuat Asyifa menjadi malu.
"Sudah-sudah jangan di goda Asyifa. Asyifa kamu juga sebaiknya istirahat. Kamu pasti capek," ucap Shofia.
"Iya mah, kalau begitu Asyifa naik dulu," ucap Asyifa yang langsung pergi dan yang lainnya mengangguk.
"Mah apa semuanya baik-baik aja?" tanya Shania yang pasti dia tau kenapa mamanya pergi menyusul karena Rafa yang berulah.
"Apa yang baik adik kamu itu sangat keterlaluan. Tetapi sudahlah mama akan terus tegas dan mengawasi Rafa," jawab Shofia dengan kesalnya.
"Sudahlah mama sama papa juga sebaiknya istirahat. Pasti lelah di perjalanan," sahut Ardi.
"Iya ayo mah, kita istirahat," ajak Xander. Shofia mengangguk dan mereka juga langsung memasuki kamar mereka untuk beristirahat.
***********
Aqila masih berada di kamar Asyifa dan juga Rafa. Namun Aqila sekarang tidak bermain dengan Rafa melainkan bermain dengan Asyifa yang duduk di atas karpet bulu dengan mereka ber-2 yang sama-sama bercanda. Sementara Rafa sendiri berada dia atas tempat tidur berbaring di kepala ranjang dengan Rafa yang fokus pada laptopnya yang di letakkan di kakinya.
Sesekali Rafa harus melihat Asyifa dan Aqila yang punya dunianya sendiri. Rafa harus heran dengan Asyifa yang sepertinya hidupnya lempang- lempang saja yang seperti tidak punya masalah.
Padahal jelas semua yang di lakukan Rafa seharusnya membuat Asyifa down dan bahkan Dokter sendiri mengatakan mental Asyifa mulai terganggu karena schok dengan yang di terimanya yang berlebihan.
Namun nyatanya wanita yang terang-terangan di sakiti nya itu tertawa bahagia layaknya manusi yang tanpa ada masalah sama sekali yang membuat Rafa benar-benar tidak bisa menduga hal itu.
Rafa terus melihat Asyifa yang tertawa lepas dan bahkan tidak menyadari jika Asyifa sudah melihat ke arahnya dan Rafa langsung mengalihkannya pandangannya dengan cepat dan malah salah tingkah sendiri. Asyifa melihat hal itu hanya tersenyum tipis. Ya dia tau Rafa sedang melihatnya dan Asyifa Rafa sangat lucu.
************
Ternyata sudah larut malam dan Asyifa bahkan sudah tertidur yang bersandar pada Sofa dan Asyifa masih bermain. Asyifa begitu lelah dan memaksakan diri untuk menemani Aqila.
"Ya Tante Asyifa sudah tidur ternyata," ucap Aqela yang minat Asyifa tertidur. Asyifa Melihat ke arah Rafa masih sibuk dengan pekerjaannya yang mana juga terlihat sebenarnya Rafa sangat menantuku yang sebentar-sebentar Rafa menguap.
"Om Rafa!" tegur Aqila yang berdiri di samping Rafa.
"Ada apa sayang?" tanya Rafa.
"Om sudah malam. Aqela mau bobo kekamar dulu. Dan Tante Asyifa sudah tertidur. Pasti kelelahan," ucap Aqila Rafa melihat ke arah Asyifa dan memang tertidur sangat lelap
"Ya sudah Aqela sana kekamar, Aqela istirahat lah," ucap Rafa memegang kepala keponakannya itu.
"Tante Asyifa bagaimana?" tanya Aqela.
"Biar Om yang urus," jawab Rafa.
"Baik Om. Kalau begitu Aqela kekamar dulu dada Om Rafa," ucap Aqela.
Rafa mengangguk dan melihat ke arah Asyifa. Namun hanya sebentar dan kembali fokus pada laptopnya yang sepertinya Rafa tidak peduli dengan Asyifa.
Baru beberapa detik Rafa menghela kasar napasnya dan langsung menutup laptopnya.
"Ck. selalu menyusahkan," umpat Rafa yang turun dari ranjang. Mau tidak mau Rafa harus mengurus Asyifa. Tidak tega juga melihat Asyifa seperti itu. Rafa menghela napasnya ketika berjongkok di depan Asyifa.
"Asyifa bangunlah ini sudah malam. Pindahlah," ucap Rafa dengan kesal yang membangun kan Asyifa. Namun Asyifa tidak terbangun sama sekali.
"Asyifa kau tidak mendengarku. Bangunlah Asyifa!" ucap Rafa lagi yang menahan kekesalannya. Namanya juga orang tidur. Jadi mana mungkin mendengar dan Rafa semakin kesal dan hanya bisa berdecak.
Rafa pun langsung bertindak dengan mengendong tubuh kecil Asyifa ke atas ranjang ala bridal style.
"Kau benar-benar sangat menyusahkan Asyifa," umpat Rafa yang begitu kesal dengan Asyifa dan langsung mengangkat Asyifa menuju ranjang mereka.
Meski membenci wanita yang tidak bersalah itu. Namun ternyata Rafa begitu peduli kepadanya dan membaringkan perlahan tubuh Asyifa yang sangat takut jika Asyifa akan terbangun. Rafa begitu hati-hati.
Saat membaringkan tubuh itu. Ketika Rafa ingin beralih namun lengan Asyifa yang mengalung di lehernya menahan Rafa dan membuat tubuh Rafa semakin dekat dengan Asyifa bahkan dengan wajah mereka yang begitu dekat sehingga Rafa bisa merasakan hembusan napas Asyifa.
__ADS_1
Kedekatan itu membuat Rafa harus menatap Asyifa yang tertidur lelap dengan pandangan mata Rafa yang mengelilingi wajah cantik itu. Bahkan Rafa sampai menelan salivanya saat melihat dengan dekat wajah Asyifa yang putih bersih dan sangat teduh.
"Aku hanya mengatakan kepadanya. Jika aku saja bisa menyukaimu. Walau kau membenciku. Lalu bagaimana dengan dirimu yang tidak mungkin tidak akan menyukaiku karena aku tidak pernah membencimu," kata-kata Asyifa tempo lalu terlintas di pikiran Rafa.
Dari perkataan itu. Asyifa sudah jelas mengatakan dia menyukai Rafa dan tidak akan membiarkan Rafa dan Miranda bersama. Namun apa iya juga Rafa akan lama, kelamaan menyukainya. Tidak ada yang tau dan padahal Asyifa sendiri bicara seperti itu hanya asal-asalan. Karena wanita sepertinya yang tidak pernah menjalin asmara dengan siapapun. Belum mengerti masalah cinta-cintaan dan meski sudah menikah.
Tidak tau apa lagi yang ada di kepalanya. Sampai saat ini dia masih tetap menatap dalam-dalam wajah wanita itu dan bahkan matanya turun pada bibir merah delima Asyifa. Rafa bahkan mendekatkan bibirnya pada Asyifa.
Dratt-dratt-Dratttt
Hampir sampai jika ponselnya tidak berdering di saat waktu yang tepat membuat Rafa membuang napasnya perlahan kedepan dan seperti menyadarkan dirinya sendiri yang merasa sudah melewati garis finish. Rafa dengan perlahan melepas tangan Asyifa dari lehernya dan berusaha untuk menetralkan dirinya.
"Apa yang kau pikirkan Rafa. Apa kau gila. Mana mungkin kau tertarik pada wanita seperti itu," batin Rafa dengan napasnya yang naik turun dan memilih untuk pergi dan membawa telponnya untuk mengangkat panggilan itu. Dari pada nantinya dia akan khilaf.
***********
Mentari pagi kembali tiba. Asyifa yang berdiri di depan cermin yang selesai memasang hijabnya. Asyifa melihat Rafa dari cermin yang mana Rafa sedang memakai dasinya yang siap-siap ingin berangkat untuk kerja.
Asyifa menarik napasnya dengan perlahan kedepan. Lalu membuangnya dan berbalik badan menghadap Rafa dengan tangannya yang saling bertautan dan menunduk sepertinya ada yang ingin di katakannya dengan Rafa.
"Ada apa?" tanya Rafa dengan suara dinginnya.
"Aku, aku, aku," Asyifa terlihat gugup dengan kalimat yang sepotong.
"Aku apa?" tanya Rafa dengan menekan suaranya.
"Aku ingin minta izin untuk pulang tempat Ayah dan ibu," jawab Asyifa dengan sekali tarikan napas. Dia segugup itu hanya meminta izin.
"Untuk apa pulang, untuk selamanya, atau untuk mengadu?" tanya Rafa dengan sinis.
Asyifa mengangkat kepalanya dan sekarang saling melihat dengan Rafa, "aku tidak untuk mengadu dan lagian itu urusan rumah tangga kita," sahut Asyifa.
"Lalu untuk apa kau pulang. Kenapa tidak sekalian aja pulang selamanya," sahut Rafa yang begitu galaknya.
"Kak Rafa, Asyifa hanya pulang, karena merindukan ayah dan ibu juga Azka dan lagian kita juga baru pulang dari Luar Negri dan pasti mereka ingin tau kabar Asyifa dan semenjak menikah. Asyifa juga belum pernah bertemu dengan mereka. Jadi Asyifa hanya ingin pulang sebentar," ucap Asyifa dengan lembut yang memberikan alasannya.
"Tapi kakak ikut kan?" tanya Asyifa dan Rafa langsung melihat serius kearahnya.
"Apa katamu. Aku ikut. Asyifa pekerjaan ku bukan mengurusimu. Jadi jangan berharap aku ikut denganmu," tegas Rafa yang menolak mentah-mentah.
"Kak hanya sebentar saja. Nanti apa kata mereka saat Asyifa pulang tanpa kakak," ucap Asyifa.
"Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku," sahut Rafa menegaskan dan langsung pergi dari hadapan Asyifa dan terlihat Asyifa begitu sedih dengan penolakan Rafa.
"Padahal hanya sebentar saja apa susahnya sih," batin Asyifa yang menghela napasnya yang tidak bisa pergi bersama Rafa. Dia tidak mau orang tuanya khawatir dan tanda tanya kenapa dia pulang sendirian.
**********
Keluarga Xander sedang sarapan bersama dan pasti ada Asyifa dan juga Rafa.
"Rafa kamu nanti pulang agak cepat. Makan siang kamu di rumah Asyifa. Kamu temani istri kamu untuk kerumah Dokter Randy," sahut Xander membuat Rafa kaget dan sampai menahan makannya dan langsung melihat ke sebelahnya. Siapa lagi jika bukan Asyifa yang makan dengan santai.
"Kau mengadu pada mereka?" tanya Rafa pada Asyifa.
"Asyifa tidak mengadu dia hanya minta izin pada mama untuk pulang dan kamu seharusnya menemaninya bukan malah sibuk kerja," sahut Shofia.
Rafa berdecak kesal mendengarnya dan Asyifa sebenarnya sangat gugup dan memang iya itu namanya mengadu. Dia harus melibatkan mertuanya untuk membujuk Rafa. Karena Asyifa tidak mungkin pulang sendirian dan Asyifa tidak kehilangan akal dan semangat untuk membawa Rafa menemui keluarganya.
"Kau itu benar-benar," geram Rafa.
"Rafa kamu ini ya. Apa salahnya kamu menemani Asyifa. Lagian juga Dokter pasti heran kenapa kamu tidak ikut bersamanya," sahut Shania.
"Sudah kamu jangan membantah apa kata papa. Pokoknya kamu temani Asyifa pulang kerumahnya dan sampai kan salam kami pada Dokter Rendy," sahut Xander menegaskan
Rafa hanya berdecak kesal dengan papanya yang menyuruhnya menemani Asyifa kerumah orang tuanya. Tidak ada gunanya berdebat karena pasti dia juga akan kalah. Semua orang membela Asyifa.
*********
__ADS_1
Rafa dengan wajah ketusnya yang menyetir mobil dan Asyifa berada di sebelahnya. Ya pasti wajah Rafa akan menunjukkan kekesalannya yang mana harus mengikuti kemauan Asyifa.
"Apa kau puas?" tanya Rafa menekan suaranya melihat ke arah Asyifa.
"Puas dalam hal apa?" tanya Asyifa dengan tenang.
"Pakai nanya lagi. Kau sengaja melakukan semua ini bukan. Kau sengaja mengatakan kepada papa dan meminta papa untuk memaksaku untuk menemanimu kerumah orang tua iya kan," ucap Rafa dengan wajahnya yang penuh emosi yang pekerjaannya marah-marah terus.
"Kak Rafa aku hanya menjawab apa yang di tanyakan papa, sudah aku tidak berbicara dengan apa yang kakak pikirkan," ucap Asyifa dengan santai.
"Alasan saja," sahut Rafa dengan kesalnya. Asyifa hanya menghela napas. Ya mau dia bicara seperti apapun dan membela dirinya seperti apapun. Tidak ada gunanya. Rafa tidak akan mendengarnya dan tidak akan percaya kepadanya.
"Kak Rafa stop!" Ucap Asyifa tiba-tiba.
Cittttt.
Rafa yang terkejut langsung menginjak rem mendadak dan membuat tubuh mereka maju kedepan dan hampir saja kejedot.
"Apa-apaan sih!" ucap Rafa dengan kesalnya kepada Asyifa.
"Maaf kak Rafa aku tidak bermaksud membuat kakak kaget," sahut Asyifa yang begitu gugup.
"Kenapa tiba-tiba menyuruh berhenti?" tanya Rafa yang penuh dengan amarahnya.
"Asyifa mau beli kue sebentar dan Asyifa takut kelewatan, makanya tiba-tiba menyuruh kakak berhenti," ucap dengan wajahnya yang merasa bersalah karena dia dan Rafa hampir celaka.
"Apa kau tidak bisa bilang bagus-bagus," sahut Rafa semakin emosian.
"Maaf kak!" sahut Asyifa merasa bersalah.
"Ya sudah sana beli!" ucap Rafa dengan suaranya yang meninggi.
Asyifa mengangguk dan buru-buru membuka sabuk pengamannya dan langsung ke luar dari mobil yang buru-buru ke tokoh kue langganannya untuk membeli kue untuk keluarganya. Padahal Asyifa banyak juga membawa oleh-oleh. Tetapi tidak puas. Jika tidak membawa kue yang biasa di belinya untuk orang tuanya.
"Dasar menyusahkan," umpat Rafa memijat kepalanya yang bisa terkena stroke karena Asyifa.
Ya dia kerjanya marah-marah terus dengan ulah Asyifa lama-lama Rafa benar-benar akan stroke di usia muda. Bahkan sekarang Rafa masih mengatur napasnya yang masih terkejut dengan kejadian tadi.
Toko-tok-tok-tok. Tiba-tiba kaca mobilnya di ketuk dan siapa lagi kalau bukan Asyifa yang mengetuknya.
"Ck. Apa lagi maunya," desis Rafa yang menurunkan kaca mobil.
"Ada apa?" tanya Rafa dengan wajah kesalnya.
"Kak Rafa maaf. Asyifa boleh tidak minta uang kak Rafa. Soalnya Asyifa tidak bawa uang Cas dan tiba-tiba kartu ATM Asyifa terblokir karena Asyifa lupa sandinya," ucap Asyifa.
Rafa harus menghela napas dengan kelakuan Asyifa yang memang sangat menyusahkannya dan membuat kepala Rafa mau pecah. Namun Rafa yang malas berdebat lagi langsung mengeluarkan dompetnya dan langsung mengeluarkan kartu atm-nya pada Asyifa.
"Makanya jangan sok kaya," desis Rafa yang memberikan dengan terpaksa kartu ATM itu pada Asyifa.
"Apa hubungannya dengan sok kaya?" tanya Asyifa dengan heran.
"Sudah sana cepat selesaikan urusanmu. Sebelum aku meninggalkanmu," ucap Rafa dengan kesal dan Asyifa langsung buru-buru pergi dari pada melihat Rafa mengamuk.
Baru saja Rafa menghela napasnya dan Asyifa sudah kembali lagi.
"Ada apa lagi?" tanya Rafa meninggikan suaranya yang benar-benar jantungan dengan Asyifa.
"Pin nya Asyifa tidak tau," ucap Asyifa dengan pelan.
"Kenapa tidak bicara dari tadi. Minggir!" usir Rafa menyuruh Asyifa bergeser dari pintu mobil dan Asyifa pun bergeser dan Rafa dengan terpaksa keluar dari mobil yang harus turun tangan lagi.
"Menyusahkan," desis Rafa yang membuat Asyifa menghela napasnya harus sabar-sabar dengan Rafa.
Akhirnya Rafa dan Asyifa berada di toko kue yang juga pernah Rafa kunjungi dan bahkan kue yang di inginkan Rafa. Asyifa yang memberikannya dan sekarang Rafa melakukan pembayaran untuk atas belanjaan Asyifa yang berdiri di sebelahnya.
Bersambung
__ADS_1