
Hari Minggu di hari libur anak sekolah. Ternyata Azka benar-benar jalan bersama Rachel. Azka tidak pernah sebelumnya jalan atau dekat dengan wanita manapun. Apa lagi sampai jalan-jalan berdua seperti ini. Ini yang pertama dan kelihatannya Rachel sangat bahagia karena jalan-jalan bersama Azka.
Mereka juga tidak jalan-jalan yang jauh-jauh. Mereka berdua jalan-jalan di sekitar taman saja yang berjalan-jalan santai dengan anak-anak yang berlari kesana kemari yang tetap mendapat pengawasan orang tuanya.
"Masa kecil kamu pasti sama seperti mereka," ucap Rachel tiba-tiba membuat membuat menoleh ke arah Rachel.
"Kenapa bicara seperti itu?" tanya Azka.
"Keluarga kamu sangat hangat Azka. Aku juga melihat kedekatan mu dengan kakakmu yang sangat baik itu. Dan aku yakin keluarga-keluarga yang hangat seperti kalian akan merasakan masa kecil yang indah seperti ini," ucap Rachel yang bisa menebaknya.
"Memang kamu tidak?" tanya Azka.
"Aku sudah mengatakan kepadamu bagaimana kehidupanku yang tidak tau seperti apa. Orang tua tidak jelas dan aku hanya bersama kakakku dan tidak punya waktu seperti anak-anak ini yang tertawa-tawa berlari-lari dengan penuh kegembiraan," jawab Rachel yang hanya menghela napas kasar yang kadang sangat lelah dengan kehidupan yang di alaminya dan iri dengan orang-orang yang jauh lebih beruntung padanyanya.
"Apa itu sebabnya kamu menjadi pendiam di kelas dan tidak mau bergaul dengan orang-orang?" tanya Azka yang menebak-nebak.
"Aku tidak pernah mempunyai teman dan tidak tau cara memulai pembicaraan seperti apa. Jadi aku tidak tau cara berteman dan mungkin orang-orang juga bingung untuk berbicara padaku," ucap Rachel dengan tersenyum tipis.
"Kamu menyadari itu. Lalu kenapa tidak pelan-pelan untuk membuka diri untuk orang lain. Karena pada dasarnya semua orang tidak bisa hidup sendiri dan termasuk kamu yang juga tidak bisa hidup sendiri tanpa mempunyai teman tanpa adanya teman untuk bicara yang nantinya malah pita suara kamu hilang karena tidak pernah bicara dengan siapa-siapa," ucap Azka dengan bercandaan.
"Bukannya aku sudah punya teman. Ya itu kamu jadi aku rasa tidak perlu mempunyai banyak teman dan lagian dekat dengan seseorang itu sangat sulit dan juga terkadang banyak hal yang tidak bisa kita samakan. Jadi sebaiknya aku juga tidak terlalu membuka diri untuk banyak orang," ucap Rachel dengan santai.
__ADS_1
"Lalu kenapa mau berbicara padaku dan bahkan sangat terbuka kepadaku?" tanya Azka yang sekarang mereka berdua menduduki salah satu tempat duduk.
"Kamu membuka ruang untukku dan jujur sangat membuatku nyaman dan aku juga tidak tau kenapa aku harus terbuka padamu. Mungkin aku bisa merasakan hal yang tidak pernah aku rasakan saat berada di keluargamu. Kamu mempunyai seorang ayah yang sangat baik, ibu yang sangat baik dan juga kakak yang sangat baik. Mereka tau aku siapa. Aku asik dari wanita yang menyakiti putri mereka. Tetapi aku tidak melihat kebencian dari mereka. Justru mereka sangat tulus. Jadi aku benar-benar mendapatkan semua itu dari keluargamu," ucap Rachel yang berbicara dengan mata berkaca-kaca pada Azka yang meluapkan rasa syukurnya dengan di pertemukan nya dirinya dengan keluarga sehangat keluarga Azka.
Sepanjangan Rachel berbicara Azka hanya melihat Rachel saja. Dari mata Rachel memang sangat terlihat jelas jika Rachel sangat kesepian.
"Jangan melihatku seperti itu Azka. Aku jadi merasa aku sangat menyedihkan," ucap Rachel yang membuat Azka mengalihkan tatapannya kembali kedepan..
"Makasih ya Azka kamu sudah mau berteman denganku dan bahkan membawaku kepada keluarga mu memberiku banyak kesempatan untuk kehidupan yang sangat baik. Aku benar-benar tidak percaya Azka bisa mendapatkan kebahagiaan seperti. Kamu itu sangat baik Azka. Jangan pernah berubah ya," ucap Rachel.
"Jangan berlebihan berbicara seperti itu Rachel aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan dan aku juga senang dengan kamu yang justru tidak risih dengan apa yang aku lakukan," sahut Azka.
"Aku tidak pernah risih. Malah sangat bersyukur. Makasih untuk semuanya," ucap Rachel.
"Janji tidak pernah berubah?" tanya Rachel dengan mengajungkan jari telunjuknya. Namun Azka hanya diam.
"Ayo berjanji," sahut Rachel yang mengambil tangan Azka dan membuat jari telunjuk mereka sama-sama saling menyatu dengan ke-2nya saling melihat.
"Tidak akan pernah berubah kan?" tanya Rachel. Azka menggelengkan kepalanya membuat Rachel tersenyum.
"Jadilah sahabatku terus," ucap Azka. Rachel mengangguk-anggukkan kepalanya dan ke-duanya kembali sama-sama tersenyum.
__ADS_1
Sepertinya ke-2nya sama-sama terlihat saling menyukai. Azka juga yang pastinya sangat tau batasnya tidak mungkin berlebihan kepada seorang wanita. Apa lagi keluarga mereka sangat kental dengan agama dan kalau kata Rafa pacar-pacaran. Azka sepertinya tidak akan melakukan hal itu. Jadi sebaiknya di ikuti saja kemana arahnya mengalir.
**********
Asyifa berbicara berdua dengan ayahnya di ruangan ayahnya.
"Ayah apa kondisi kak Rafa memungkinkan untuk operasi?" tanya Asyifa setiap waktu akan selalu khawatir pada suaminya.
"Operasi memang harus di jalankan Asyifa. Hanya saja prosedurnya belum bisa di laksanakan," jawab Rendy.
"Tapi kalau Asyifa lihat-lihat semakin lama. Kondisi kak Rafa semakin tidak baik. Malahan kak Rafa juga sangat sulit makan ayah. Pasti setiap makan kak Rafa seperti menahan rasa sakit dan Asyifa sangat takut ayah terjadi sesuatu pada kak Rafa," ucap Asyifa yang mengatakan rasa kekhawatirannya.
"Ayah sangat tau Asyifa apa yang kamu rasakan. Ayah sangat mengerti Asyifa. Tapi untuk operasi ini juga sangat banyak resiko. Bisa di lakukan. Hanya saja perlu banyak proses dan tidak bisa di laksanakan dengan terburu-buru," jelas Rendy.
"Lalu kapan ayah dan Asyifa tidak mau kalau kak ayah menuruti kemauannya kak Rafa untuk menunda operasi sampai kelahiran Asyifa. Asyifa tidak mau ayah," ucap Asyifa.
"Ayah seorang Dokter dan tau harus melakukan yang terbaik yang seperti apa kepada kamu. Kamu jangan khawatir sayang ayah akan melakukan hal yang terbaik untuk Rafa. Jadi kamu jangan memikirkan apa-apa. Dalam Minggu ini kita akan melihat kondisi Rafa dan tim rumah sakit dan Dokter akan berusaha untuk melakukan hal yang terbaik. Jadi jangan khawatir ya. Kamu hanya perlu mendampingi Rafa, berdoa untuk yang terbaik," ucap Rendy yang memberikan nasehat untuk putrinya.
"Tapi hal buruk itu tidak akan terjadi kan ayah?" tanya Asyifa yang masih takut-takut.
"Kita serahkan pada Allah ya," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk setenang mungkin dalam setiap hal yang berhubungan dengan suaminya.
__ADS_1
Bersambung