Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 38 Makan malam yang tidak terduga.


__ADS_3

Malam hari. Asyifa, Rafa, Shofia dan Xander makan malam bersama di salah satu Restaurant di luar. Shofia tadi siang sudah menghampiri Asyifa dan ibu mertuanya itu menangis meminta maaf atas perbuatan putranya kepada Asyifa.


Asyifa pasti memaafkan dan semua itu juga karena kesalahannya dan dia bahkan menyesal karena memberitahu Shofia. Dia bukan bodoh karena memaafkan. Tetapi dia seorang istri dan tau apa yang di lakukan istri.


Yang akhirnya semuanya merasa tenang walau sedikit. Tetapi tetap jangan harap Rafa meminta maaf pada Asyifa. Tidak sama sekali bahkan mustahil.


Dengan masalah yang terjadi Xander mengajak, istri, anak dan menantunha untuk makan bersama di salah satu Restaurant yang terkenal di Kota tersebut. Untuk merefleksikan pikiran agar tidak tegang dan pasti untuk membantunya agar lebih baik dan tidak memikirkan masalah yang terjadi sebelumnya.


Mereka sudah berada di salah satu Restaurant tersebut dan sudah menduduki kursi yang di siapkan dengan pelayanan yang terbaik.


"Kamu suka tempatnya Asyifa?"tanya Xander dengan tersenyum.


"Iya pah. Asyifa sangat suka, papa sangat pintar dalam pemilihan tempat," jawab Asyifa.


"Alhamdulillah kalau begitu," jawab Xander. Rafa yang di samping Asyifa hanya diam saja. Kalau dia di tanya pasti tidak akan suka.


"Mama juga suka tempatnya. Ya sudah kita sekarang pesan makanan ya," ucap Shofia.


"Iya Asyifa mau pesan apa?" tanya Xander.


"Asyifa lihat menu dulu," sahut Asyifa.


"Hmmm, bagaimana biar papa yang pilihkan makannya, soalnya banyak makanan yang enak-enak di sini," ucap Xander.


"Boleh pah," sahut Asyifa yang tidak masalah dan menyerahkan pada mertuanya.


Akhirnya Xander yang memilih makanan dan makanan juga dengan cepat sudah terhidang dan mereka juga sudah menikmati berbagai macam makanan di tempat itu.


"Apa enak Asyifa?" tanya Xander.


"Sangat enak pah, Asyifa jadi bingung mau makan yang mana," sahut Asyifa.


"Jangan bingung. Makannya pelan-pelan. Kamu juga Rafa," sahut Shofia. Asyifa mengangguk, namun Rafa hanya berdehem saja.


"Shofia!"tiba-tiba seorang wanita yang sebaya dengan Shofia menegur Shofia membuat Shofia melihat ke belakangnya dan terlihat sangat kaget melihat wanita yang memanggilnya itu.


"Rani," sahut Shofia yang langsung berdiri dan memeluk wanita itu. Xander, Asyifa dan Rafa sama-sama heran dengan pertemuan 2 wanita itu.


"Kamu ada di sini juga? ya ampun kamu apa kabar, tambah cantik saja, awet muda lagi," ucap Rani yang memuji Shofia.

__ADS_1


"Kamu ini bisa aja. Aku baik-baik aja. Kamu juga tambah cantik," sahut Shofia dengan tersenyum.


"Cantikan kamu lagi. Oh iya kamu ngapain di sini?" tanya Rani yang belum mendapat jawaban itu.


"Aku lagi liburan sama keluarga. Dan iya ini kenalkan, suami, menantu dan anak ku," jawab Shofia yang juga memperkenalkan keluarganya.


"Hay salam kenal saya Rani," sahut Rani. Xander, Asyifa dan Rafa tersenyum menyapa wanita itu.


"Hallo Tante, saya Asyifa," sahut Asyifa tersenyum ramah.


"Rafa," sahut Rafa dengan datar.


"Ini teman lama mama. Tidak menyangka jika bisa bertemu di sini," sahut Shofia yang terlihat bahagia.


"Benar Shofia aku juga tidak menyangka," sahut Rani.


"Oh iya kamu kemari sama siapa?"tanya Shofia.


"Aku sama klien aku yang kita lagi mau makan juga di sini. Dia ketoilet sebentar," ucap Rani melihat ke arah ketoilet.


"Oh itu dia,"tunjuk Rani dan Shofia langsung melihat ke arah yang di tunjuk sahabatnya itu.


"Wanita itu bukannya wanita idaman Rafa. Akhirnya bertemu juga dengannya," batin Shofia yang baru pertama kali bertemu dengan Miranda.


"Rafa dan itu siapa. Apa itu keluarganya,"Miranda yang berjalan menghampiri meja Rafa juga sangat terkejut dengan melihat Rafa, Asyifa dan juga 2 orang tua.


Asyifa dan Rafa juga terkejut melihat ke hadiran Miranda.


"Kenapa Miranda ada di sini, bisa berantakan semuanya," batin Rafa yang terlihat shock.


Asyifa tidak berpikir apa-apa dan hanya melihat ke arah Rafa yang terlihat sangat gelisah dan apa lagi Miranda sudah sampai di meja mereka dan Miranda juga terlihat gugup.


"Tante, maaf saya lama," sapa Miranda menunduk kepada Rani.


"Tidak apa-apa Miranda. Oh iya kamu kenalin ini teman Tante. Namanya Bu Shofia," ucap Rani.


Miranda menelan salivanya yang kelihatan tidak berani berjabat tangan dengan Shofia, "Miranda Tante," ucap Miranda menunduk dengan menjulurkan tangannya. Shofia menyambutnya dengan tersenyum palsu.


"Shofia," jawab Shofia dengan cepat menarik tangannya dari Miranda.

__ADS_1


"Ini suami saya. Dan ini putra saya dan ini istrinya yang artinya menantu saya," ucap Shofia dengan menegaskan. Seakan menyadarkan Miranda kalau Rafa itu sudah menikah. Mendengar hal itu membuat Miranda hanya mengangguk saja.


"Menantu mu sangat cantik Shofia. Aku jadi iri," sahut Rani yang langsung memuji Asyifa dan lagi-lagi itu akan membuat Miranda sangat kesal. Lagi dan lagi dia bertemu dengan Rafa dan Asyifa.


"Kamu bisa aja. Ya namanya seorang ibu pasti akan mencari menantu yang benar untuk putranya dan Asyifa ini sudah yang paling benar pilihan ku," sindir Shofia membuat Miranda pasti menahan rasa kesalnya.


"Mama apa-apaansih, selalu mencari masalah," batin Rafa yang terlihat tidak nyaman.


"Iya sih kamu benar. Kita memang harus mencari wanita yang tepat untuk putra kita. Karena wanita sekarang banyak tingkahnya," sahut Rani


"Ya itu benar," sahut Shofia tersenyum dengan penuh kemenangan.


"Ya sudah kalau begitu aku sama Miranda cari meja dulu ya kita juga mau makan soalnya. Maaf mengganggu kalian," ucap Rani.


"Di sini aja Rani!" sahut Shofia yang membuat Rafa terkejut begitu juga dengan Miranda. Namum Asyifa terlihat santai-santai saja dengan ajakan mamanya yang tiba-tiba.


"Tidak-tidak. Kami tidak ingin mengganggu kalian," sahut Rani merasa tidak enak.


"Tidak sama sekali. Iya kan pah," sahut Shofia yang meminta persetujuan suaminya.


"Iya mari silahkan. Lagian bangkunya juga kosong. Kalian sudah lama tidak bertemu. Jadi tidak ada salahnya kita makan sambil mengobrol," sahut Xander yang juga sama sekali tidak masalah.


"Aduh kami merasa jadi tidak enak," sahut Rani dengan sungkan.


"Benar Tante kami cari meja kain aja," sahut Miranda yang tampaknya tidak nyaman.


"Kenapa harus cari meja lain. Di sini saja. Tidak ada yang protes. Iyakan Rafa," sahut Shofia yang sekarang bertanya pada Rafa. Membuat Rafa kesal dan tau apa tujuan mamanya. Namun dia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.


"Kalau Rafa protes. Berarti tidak menginginkan dan seharusnya sudah sadar saat itu," sindir Shofia membuat Miranda terdiam dan seperti orang yang sedang di serang.


"Maksudnya bagaimana mbak?"tanya Rani.


"Tidak apa-apa. Mari duduk. Kalian jangan berdiri saja," sahut Xander yang mencegah ketegangan itu.


"Baiklah kalau begitu. Maaf kami harus bergabung," sahut Rani yang akhirnya duduk dan Miranda sendiri masih berdiri yang pasti sangat tidak nyaman.


"Ayo Miranda duduk!" titah Rani dan Miranda tidak punya pilihan lagi.


Rafa sendiri hanya bisa berdecak kesal di dalam hatinya dengan sikap mamanya dan apalagi mamanya tersenyum kepada Rafa. Senyum yang mengandung arti. Dan Asyifa hanya bisa saja. Ya dia bukan pertama kali bertemu dengan Miranda yang setaunya kekasih dari suaminya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2