
Setelah melakukan perjalanan akhirnya Rafa dan Asyifa sampai juga kerumah orang tua Rafa.
Supir langsung membantu menuruni koper-koper dari dalam mobil dan Rafa yang keluar dari mobil langsung berjalan memasuki rumah. Asyifa hanya mengikutinya dan tidak sempat mengamati rumah itu dari luar yang menurutnya pemandangannya begitu sangat bagus yang tidak kalah mewahnya dengan istana milik orang tuanya.
"Assalamualaikum," sapa Asyifa yang memasuki rumah itu.
"Walaikum salam, Asyifa," sahut Shofia yang langsung tersenyum akhirnya bisa melihat menantunya itu yang menginjakkan kaki di rumahnya
Asyifa juga tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Shofia, dan juga Xander, Shania dan Zee bergantian memeluk Asyifa keluarga baru bagi mereka.
"Ya ampun akhirnya kamu datang juga kerumah kami," sahut Shofia yang begitu bahagiannya.
"Iya Tante," sahut Asyifa.
"Hey, jangan panggil Tante, panggil mama. Kamu itu sekarang bukan hanya menantu. Tetapi juga putri kami," ucap Shofia dengan lembut yang terlihat menyayangi Asyifa.
"Makasih tan, eh maksudnya mah," sahut Asyifa dengan cepat meralat kata-katanya.
"Begitu lebih enak kedengaran," sahut Shofia memegang dagu Asyifa.
"Hallo Tante!" Aqeela melambaikan tangannya pada Asyifa.
"Hallo sayang, siapa nama kamu?" tanya Asyifa.
"Aqeela Tante," jawab Aqeela.
Asyifa tersenyum dengan mengusap pipi Aqeela, "kamu cantik sekali!" puji Asyifa.
"Makasih Tante," sahut Aqeela.
"Aqeela ini anak Shania dan juga Ardi," sahut Shofia menjelaskan yang mungkin Asyifa memang tidak tau. Asyifa menganggukkan kepalanya.
"Aku kekantor dulu!" sahut Rafa dengan dengan suara dinginnya.
"Rafa bagaimana mungkin kamu mau kekantor. Baru semalam kamu menikah dan sudah kekantor- kantor saja," sahut Shofia protes.
"Lalu kalau menikah, aku harus ngapain. Aku harus melayaninya setiap hari. Harus berhenti bekerja dan mengurus dirinya. Begitu," sahut Rafa dengan menaikkan volume suaranya yang penuh penekanan.
__ADS_1
"Rafa!" sentak Xander, "kamu tidak bisa bicara pelan tanpa emosi seperti itu," ucap Xander.
" Kalau begitu jangan memancingku. Aku banyak pekerjaan yang harus aku urus bukan untuk mengurusnya. Aku sudah membawanya kemari. Jadi kalian saja yang mengurusnya, Aku kekantor," ucap Rafa dengan tegas dan langsung pergi begitu saja
"Anak itu benar-benar," geram Shofia.
Asyifa hanya diam saja. Dia sudah tidak kaget dengan Rafa yang marah-marah. Karena dia sudah mendapatkan kemarahan Rafa sebelumnya.
"Asyifa kamu harus maklumi ya sifat Rafa, dia memang terkadang seperti itu, kadang-kadang aneh," ucap Shofia.
"Tidak apa-apa mah," sahut Asyifa yang hanya bersabar saja.
"Ya sudah Asyifa pasti lelah. Kalian bawa saja dia beristirahat," ucap Xander.
"Ayo kak Asyifa ikut kekamar kak Rafa, Zee akan bantu kakak untuk beres-beres," ucap Zee.
"Iya," sahut Asyifa dengan tersenyum dan langsung mengikuti Zee yang sebelumnya koper Asyifa sudah di bawa oleh supir tadi.
"Rafa benar-benar keterlaluan. Dia tidak sadar apa sudah menikah," ucap Shofia dengan kesal.
"Argggghhh benar-benar anak itu mama akan bicara padanya nanti," ucap Shofia dengan kesalnya. Xander hanya diam saja yang pasti kecewa dengan sikap Rafa.
***********
Di perusahaan di ruangan Rafa. Rafa sibuk dengan pekerjaannya. Namun Fokusnya harus benar-benar hilang gara-gara begitu kepikiran dengan pernikahannya.
"Kurang ajar!" umpat Rafa dengan kesal yang memukul meja dengan tangannya terkepal.
"Semua ini gara-gara wanita itu. 1 hari waktuku habis terbuang sia-sia hanya untuk pernikahan itu dan sekarang pekerjaan ku menjadi menumpuk, banyak yang ketinggalan. Hanya karenanya," umpat Rafa dengan penuh kemarahannya dengan memijat kepalanya yang terasa berat.
Rafa bawaannya marah-marah mulu karena masalah pernikahannya dengan Asyifa yang apalagi statusnya sekarang sudah berubah menjadi suami dari wanita yang tidak di sukainya.
*********
Malam hari Asyifa yang terlihat sedang melaksanakan sholat isya di dalam kamar. Asyifa sholat dengan khyusuk. Tidak lama pintu kamar terbuka yang menampilkan Rafa yang memasuki kamar. Rafa melihat sebentar Asyifa yang sholat. Namun hanya sebentar melihat Asyifa yang bawannya pengen marah-marah saja.
Rafa menduduki pinggir ranjang dan membuka sepatunya. Tidak lama Asyifa selesai sholat dan menoleh ke belakangnya yang mana Rafa sudah ada di sana membuat Asyifa tersenyum.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang?" tanya Asyifa dengan berdiri menghampiri Rafa dan ketika sampai di depan Rafa Asyifa mengulurkan tangannya ingin mencium punggung tangan suaminya itu. Namun Rafa terlihat acuh dan tidak peduli sama sekali.
Asyifa tersenyum dan menarik tangannya kembali. Dia hanya mengikuti saran dari kakak sepupunya yang harus patuh pada suami.
"Kamu mau makan atau mau mandi dulu!" tanya Asyifa.
"Aku sudah mengatakan kepadamu. Jangan bicara kepadaku. Mendengar suaramu membuat kepala ku sakit," ucap Rafa dengan menekan suaranya yang menatap tajam Asyifa masih berdiri di depannya yang menggunakan mukenah.
"Kita sudah menikah. Sangat aneh jika pasangan suami istri tidak saling bicara," ucap Asyifa dengan lembut.
Rafa mengepal tangannya lalu berdiri dan mendorong Asyifa Kedingding dan dengan kemarahannya yang mencekik leher Asyifa membuat Asyifa kesakitan.
"R_Rafa, sakit!" ucap Asyifa yang kesulitan bicara dengan matanya berkaca-kaca dan memegang tagan Rafa yang mencekiknya dengan kuat. Tangan kekar yang bisa saja menghilangkan nyawanya.
"Apa katamu tadi pernikahan, suami istri. Kau pikir aku sudi menikahimu. Kau pikir aku bahagia dengan suami istri ini. Kau hanya wanita yang membuat hidupku berantakan dengan pernikahan ini," teriak Rafa. Asyifa terus saja menahan rasa sakit pada lehernya.
" Jika dengan cara ini bisa membuat pita suaramu hilang maka aku akan melakukannya. Agar aku tidak mendengar suaramu lagi. Aku sudah mengatakan jangan bicara kepadaku. Kenapa kau tidak mengerti juga!" teriak Rafa yang melepas tangannya dari leher Asyifa dan Asyifa langsung terduduk dengan batuk-batuk.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk
Asyifa terus batuk-batuk dengan memegang lehernya yang terasa sakit.
"Kenapa? sekarang baru menyesal menikah denganku. Apa menurutmu ini pernikahan yang kau impikan itu," ucap Rafa dengan melihat tajam Asyifa yang terduduk lemah dengan batuk-batuk.
"Kenapa kamu memperlakukan seperti ini. Aku ini manusia bukan hewan. Ayah ibuku tidak pernah berbuat kasar kepadaku," ucap Asyifa dengan suara terputus-putus yang merasa sakit di lehernya.
Rafa mendengarnya mendengus kasar lalu berjongkok dan di depan Asyifa mencengkram ke-2 pipi Asyifa dengan satu tangannya membuat wajah Asyifa berhadapan dengannya dengan jarak yang dekat.
"Jika kau merasa aku kasar. Dan ayahmu begitu lembut. Kenapa kau tidak menikahi ayahmu saja. Supaya kau mendapat kelembutan. Kenapa berani menerima pernikahan ini. Kenapa berani menantangku hah! aku hanya meladeni tantangan mu Asyifa," tegas Davin menekan suaranya.
Air mata Asyifa jatuh tepat terlihat di depan mata Rafa dan Rafa langsung melepas cengkraman itu dengan kasar membuat wajah Asyifa kembali tertunduk kesamping.
Asyifa pun mencoba untuk berdiri menghindar dari Rafa yang seperti iblis. Namun kakinya begitu lemas yang tidak sanggup berdiri namun Asyifa berusaha untuk berdiri yang mana Rafa pun akhirnya berdiri. Asyifa terlihat berjalan menuju pintu kamar dan terlihat memegang kenopi pintu.
"Mau kemana kau?" tanya Rafa menekan suaranya.
Bersambung
__ADS_1