Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 93


__ADS_3

Akhirnya Asyifa berangkat juga pagi ini. Di mana Rafa mengantarkan Asyifa dan Zee kebandara dan bukan hanya Asyifa yang mengantarkannya, Shofia dan Shania juga ikut mengantar Asyifa dan Zee.


Asyifa dan Zee sekarang berpamitan pada Shofia karena pesawat mereka akan segera take off.


"Mah doakan Asyifa ya semoga semuanya di beri kelancaran," ucap Asyifa yang mencium punggung ibu mertuanya dan juga memeluk ibu mertuanya itu.


"Pasti Asyifa, mama akan terus mendoakan kamu," sahut Shofia yang selalu mensuport apapun yang di kerjakan menantunya itu.


"Terima kasih mah. Makasih untuk semuanya," sahut Asyifa yang melepas pelukan itu. Dan giliran Zee yang berpamitan pada mamanya.


"Kamu terus temani Asyifa ya. Bantu apa yang bisa di kerjakannya," ucap Shofia yang berpesan pada putrinya.


"Mama jangan Khawatir Zee akan melakukan apa yang mama katakan. Karena tujuan Zee ikut dengan kak Asyifa itu karena ingin mendampinginya," ucap Zee.


"Mama percaya sama kamu," sahut Shofia. Asyifa juga lanjut berpelukan dengan Shania.


"Semoga semuanya lancar ya Asyifa," ucap Shania yang berpesan.


"Iya kak, makasih sudah suport Asyifa," ucap Asyifa yang sudah melepas pelukan itu dan sekarang berhadapan dengan suaminya yang mana Asyifa langsung mencium punggung tangan Rafa.


"Asyifa pergi ya kak Rafa," ucap Asyifa.


"Iya hati-hati," jawab Rafa dengan ketus. Rafa perasaan tadi malam adem-adem aja, lembut dan tidak ketus. Namun sekarang menjadi ketus. Rafa masih gengsi menunjukkan kemanisannya di depan keluarganya.


"Di peluk kali istrinya," sahut Shofia.


"Sudah kalian cepatlah pergi, pesawatnya mau take off," sahut Rafa yang tidak mau lama-lama berhadapan dengan adegan pamitan.


"Baiklah, kalau begitu Asyifa dan Zee berangkat dulu. Terima kasih sudah mengantar kami. Assalamualaikum," ucap Asyifa pamit.


"Walaikum salam," sahut Shofia, Shania dengan serentak. Namun Rafa menjawab dengan pelan saja. Asyifa tersenyum dan langsung melanjutkan langkahnya yang pergi bersama Zee.


Rafa hanya melihat punggung istrinya yang semakin lama semakin jauh. Rafa sepertinya menyesal seharusnya tadi memeluk Asyifa karena dalam waktu yang panjang ini Rafa tidak akan bertemu dengan istrinya dan tidak tau nanti dia akan serindu apa.


"Rafa kok bingkisannya masih kamu pegang?" tanya Shania yang melihat Rafa memegang paper bag coklat.


"Astaga ketinggalan," sahut Rafa yang baru menyadari jika masih ada barang Asyifa yang tertinggal.


"Ya sudah buruan kamu kejar Asyifa!" ucap Shofia. Rafa mengangguk dan langsung berlari sebelum Asyifa memasuki tempat yang tidak akan bisa di masuki lagi.


"Asyifa!" panggil Rafa membuat Asyifa terkejut saat menyerahkan paspor nya pada petugas.


"Kak Rafa!" lirih Asyifa. Rafa dengan napasnya yang naik turun menunjukkan apa yang pegangnya.


"Zee aku temui kak Rafa sebentar," ucap Asyifa.

__ADS_1


"Iya kak," sahut Zee dan Asyifa langsung menghampiri Rafa dengan berdiri di depan Rafa yang mana Rafa masih mengatur napasnya.


"Kak Rafa!" lirih Asyifa.


"Ketinggalan!" Rafa langsung memberikannya dan Asyifa langsung mengambilnya.


"Alhamdulillah untung saja kak Rafa cepat," sahut Asyifa yang merasa lega.


"Iya," sahut Rafa.


"Ya sudah kalau begitu kak Rafa. Asyifa pergi dulu ya soalnya pesawatnya sudah mau take off," ucap Asyifa yang buru-buru. Namun Rafa menahan tangannya dan langsung memeluk Asyifa dengan dada Rafa yang masih kembang kempis membuat Asyifa kaget dengan pelukan itu. Namun dia pasti bahagia di peluk oleh suaminya.


"Ingat pesanku jangan macam-macam. Dan jika aku menghubungi mu maka jawablah," ucap Rafa yang memeluk erat Asyifa seolah tidak mau melepas Asyifa.


"Iya kak Rafa. Pasti. Asyifa mana berani membantah apa kata suami Asyifa," ucap Asyifa.


"Awas saja kalau kau melakukan kesalahan," ucap Rafa dengan mengancam yang membuat Asyifa hanya tersenyum saja yang ternyata di posesesifi oleh suami itu bisa di katakan lumayan menyenangkan.


Shania dan Shofia yang dari kejauhan melihat hal itu tersenyum.


"Anak itu gengsinya gede sekali. Tadi aja tidak mau di peluk sekarang sudah mau berangkat baru tidak mau di lepas," ucap Shania yang gelang-gelang dengan kelakuan Rafa.


"Namanya juga Rafa mah," sahut Shania.


"Syukur-syukur Asyifa pergi. Supaya dia itu tau rasa jika tidak ada istrinya di sampingnya. Biar itu itu bisa sadar kalau selama ini Asyifa itu sangat berarti," sahut Shofia.


"Mama juga berharap seperti itu," sahut Shofia.


Terdengar suara pemberitahuan dari petugas yang artinya penumpang harus bersiap-siap memasuki pesawat yang membuat Asyifa langsung melepas pelukannya dari Rafa.


"Asyifa pamit kak Rafa," ucap Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya. Asyifa tersenyum dan langsung pergi dari hadapan Rafa. Rafa menghela napasnya dengan melihat kepergian Asyifa.


Walau sudah memeluknya tetapi tetap aja masih sangat tidak ingin melepasnya. Tapi apa daya Asyifa harus pergi dan semakin lama semakin tidak terlihat lagi oleh Rafa.


Rafa menghela napasnya dan langsung berbalik badan menghampiri orang tuanya. Rafa terlihat sangat lesu sekali dengan kepergian istrinya.


"Kamu seperti putus cinta saja wajahnya," celetuk Shofia saat putranya itu sudah di depannya.


"Apa sih mah," sahut Rafa yang kalau di goda bawaannya pengen emosi.


"Sudah-sudah ayo kita pulang, pesawat Asyifa juga sudah pergi," sahut Shania dan mereka pun langsung pulang setelah mengantarkan Asyifa dan Zee.


*********


Asyifa dan Zee sudah berada di dalam pesawat yang mana pesawat juga sudah mengudara.

__ADS_1


"Kak Zee ketoilet sebentar ya," ucap Zee. Asyifa menganggukkan kepalanya.


Sebenarnya Zee lebih tua 2 tahun di bandingkan Asyifa. Hanya saja karena kakaknya menikah dengan Asyifa. Jadi Asyifa harus memanggil kakak untuk menghormati Asyifa. Setelah kepergian Zee Asyifa langsung melihat paper bag yang tadi di berikan Rafa.


Seingat Asyifa isinya kue-kue kering. Jadi Asyifa ingin menikmatinya. Namun saat membuka isinya terdapat setangkai mawar merah yang membuat Asyifa heran dan langsung mengambilnya dan mencium aromanya yang khas.


Terdapat juga kartu ucapan yang membuat Asyifa langsung membacanya.


"Aku mengingatkan mu untuk tidak macam-macam. Awas saja kalau kau macam-macam. Baiklah di sana dan jaga kesehatan. Jangan tidur malam-malam," Rafa


"Masih aja galak," gumam Asyifa dengan tersenyum yang ternyata Rafa lah yang masih sempat-sempatnya memberikan mawar itu kepadanya dengan kata-kata manis, namun tetap ketus.


Rafa sepertinya sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya untuk Asyifa. Sampai sekarang sudah memberikan mawar dengan tulisan kata-kata yang indah membuat Asyifa berbunga-bunga.


**********


Ini sudah hari ke-2 Asyifa tidak bersama Rafa. Rafa rasanya begitu hampa tanpa istrinya tersebut. Kesepian, biasanya dia sangat suka di kamar tanpa ada Asyifa yang merasa punya kebebasan sendiri.


Namun ternyata tidak Rafa sangat gelisah dan susah tidur. Mungkin dalam 1 hari Rafa banyak sekali menghubungi Asyifa. Rafa sudah kecanduan Asyifa.


Bagaimana tidak kecanduan istrinya yang biasanya di musuhinya, namun masih sabar menghadapinya, menyiapkan pakainnya, makannya dan lain sebagainya. Namun sekarang nihil istrinya tidak ada dan barulah di rasakannya betapa kesepiannya dirinya.


Tidak di rumah, di kantor, dan di mana saja hanya Asyifa saja yang terus di ingatnya di setiap waktu.


*********


Rafa yang siap-siap di kamarnya yang memakai dasi berdiri di depan cermin.. Namun katanya sekali-kali melihat ke atas tempat tidur yang seakan merasa ada Asyifa di sana.


"Huhhhhh," Rafa menghela napasnya dengan perlahan kedepan.


"Rafa bisa tidak kau jangan terus memikirkannya. Dia juga tidak memikirkan mu," ucap Rafa yang lama-kelamaan geli sendiri dengan dirinya yang terlaku bucin pada Asyifa.


Dratt-dratt-Dratttt.


tiba-tiba hanphonnya berdering dan Rafa langsung mengangkatnya yang panggilan itu dari Asyifa. Pantesan Rafa mengangkatnya dengan cepat.


"Assalamualaikum kak Rafa," sapa Asyifa dengan lembut.


"Walaikum salam. Ada apa?" tanya Rafa dengan datar. Padahal dia kesenangan karena di telpon.


"Kak Rafa sudah bangun?" tanya Asyifa.


"Ya kalau belum bangun tidak mungkin bicara Asyifa," sahut Rafa


"Iya sih. Asyifa hanya memastikan itu saja. Takutnya kak Rafa kesiangan. Ya sudah ya kak Rafa Asyifa tutup telpon dulu. Assalamualaikum," ucap Asyifa yang langsung pamitan dan menutup telpon itu.

__ADS_1


"What, berani sekali dia menutup sembarangan telponku," umpat Rafa dengan kesal pada Asyifa.


Bersambung.


__ADS_2