
Mendengar perkataan Miranda membuat mata Asyifa berkaca-kaca dengan kata-kata Miranda yang sudah menggambarkan sesuatu dan Miranda sangat menikmati wajah Asyifa yang seperti itu.
"Bagaimana Asyifa apa masih ingin membanggakan suami mu itu. Apa kau masih merasa menjadi wanita yang hebat," ucap Miranda dengan tersenyum meremehkan Asyifa.
"Maaf Miranda. Terserah dengan semua yang kau katakan. Tapi aku tidak percaya dengan kata-kata mu. Aku tidak percaya jika kak Rafa ada bersamamu dan aku yakin itu. Jika tidak mungkin dia bersama wanita lain yang bukan istrinya," sahut Asyifa yang berusaha untuk tenang dan tidak akan mendengarkan Miranda.
Miranda mendengus kasar dengan kata-kata Asyifa, "Jika kau tidak percaya maka silahkan. Yang menjadi pertanyaannya sekarang. Apakah Rafa ada bersamamu, dia tidak ada bersamamu Asyifa. Jadi dia sedang bersamaku dan iya apa kau lupa kejadian di New Zealand di dalam mobil. Apa kau masih percaya Rafa tidak bersamaku," ucap Miranda. Asyifa terdiam yang tidak bisa menjawab apa-apa lagi memang sangat tipis kemungkinan Rafa tidak bersama Miranda. Karena Rafa jelas-jelas masih berhubungan dengan Miranda.
" Jangan terlalu berpikir positif Asyifa. Percuma kau terlihat tenang seperti ini. Karena pada kenyataannya Rafa tidak tidak akan pernah menjadi milikmu dan malam ini dia hanya bersamaku," tegas Miranda.
"Dan iya Asyifa jangan berharap aku akan menunjukkan di mana kamarku yang ada Rafa di dalamnya. Karena jika kamu sampai melihatnya kau akan membatalkan malam kami. Karena anak kecil sepertimu. Pasti akan mengadu pada orangtua Rafa dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan membiarkan kau merusak kesenangan kami berdua," ucap Miranda.
"Terserah apa yang kamu katakan. Tetapi aku sangat yakin. Jika kak Rafa tidak mungkin bersamamu dan aku hanya berpikir positif. Karena berpikir positif jauh lebih baik," ucap Asyifa yang berusaha untuk santai bahkan tersenyum pada Miranda.
"Permisi!" ucap Asyifa dengan sopan lalu meninggalkan tempat itu dengan melewati Miranda. Miranda menyunggingkan senyumnya melihat kepergian Asyifa.
"Kau pikir bisa memiliki Rafa Asyifa. Tidak akan Asyifa. Kau tidak akan bisa memilikinya. Rafa hanyalah milikku saja. Carilah Rafa. Kau tidak akan menemukannya sampai mati pun," batin Miranda dengan tersenyum miring melihat kepergian Asyifa yang berlari pelan.
**********
Sebenarnya Asyifa tidak peduli dengan perkataan Miranda yang mengatakan Rafa ada bersamanya. Namun tetap saja Asyifa kepikiran dan mencari-cari Rafa yang tidak di temukannya sama sekali.
Bahkan Asyifa begitu gelisah dengan langkahnya yang terus mencari suaminya. Sudah mencari di sekitar penginapan. Namun tidak menemukan Rafa. Sampai mencari ke luar penginapan juga tidak menemukan dan bahkan Asyifa sudah kepinggir pantai yang mencari-cari Rafa.
__ADS_1
Asyifa berusaha untuk berpikir positif dan tidak percaya dengan Miranda jika Rafa memang di kamar Miranda. Makanya Asyifa berusaha mencarinya dan bahkan sudah 1 jam dia mencari Rafa.
"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin!" ucap Asyifa yang tiba-tiba mengeluarkan air mata. Tubuhnya bergetar.
"Ya Allah tolong bantu Asyifa. Asyifa tidak ingin pernikahan ini berakhir begitu saja. Beri Asyifa dan Rafa kesempatan untuk mempertahankan pernikahan ini. Jangan biarkan kak Rafa terus masuk dalam dunia gelap, hambah mohon ya Allah berikanlah keterangan dan buka lah hatinya untuk jalan yang benar," batin Asyifa dengan doanya yang tulus.
Kembali lagi dia hanya bisa berdoa dan mengadu pada sang penciptanya dengan apa yang terjadi.
Langkah Asyifa terhenti pada pasir pantai dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang sembari menangis dengan terisak.
"Tidak Asyifa. Kau jangan seperti ini, jangan memikirkan hal buruk itu. Kamu harus tenang Asyifa harus tenang," ucap Asyifa menyeka air matanya. Menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Tiba-tiba Asyifa melihat ada bayangan di depannya yang di pastikan ada orang di belakangnya dan Asyifa langsung melihat dengan cepat kebelakang.
"Om Bram," pekik Asyifa yang terlihat terkejutm Bram yaitu mantan suami Willo yang pasti ayah dari Lulu dan Diki.
"Asyifa!" sahut Bram yang melangkah maju dan Asyifa refleks mundur.
"Oh ini tempat umum. Jadi bukannya tidak akan masalah jika ada di sini," jawab Bram
"Iya juga sih, memang benar," sahut Asyifa yang tiba-tiba gugup
"Kamu sendiri Asyifa kenapa ada di sini dan kita sudah lama tidak bertemu," ucap Bram.
"Iya, kebetulan Asyifa menginap di tempat ini," jawab Asyifa tersenyum kaku.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Bram.
"Ba-baik Om," jawab Asyifa gugup.
"Kamu tambah cantik Asyifa. Kamu sama seperti ibumu sangat cantik," ucap Bram. Kata-kata itu sangat risih di telinga Asyifa. Apa lagi Bram menatap Asyifa dengan tatapan yang sangat berbeda membuat Asyifa tersenyum tipis saja.
"Maaf Om Asyifa pergi dulu. Permisi!" ucap Asyifa pamit dan saat Asyifa melewati Bram. Bram menahan tangannya dan hal itu membuat Asyifa terkejut dengan tangannya yang tertarik.
"Jangan buru-buru Asyifa," ucap Bram.
"Lepas Om," Asyifa langsung melepas tangannya dari Bram dan begitu lepas. Asyifa yang terlihat takut. Langsung berlari meninggalkan tempat itu. Pasti ada alasan kenapa Asyifa takut pada Bram.
Bagaimana tidak Bram itu adalah mantan suami dari Willo Tante Asyifa mamanya Lulu dan memang Pria itu sedikit menyeramkan karena terkenal beberapa kali keluar masuk penjara. Jadi wajar Asyifa takut. Apa lagi Bram sangat tidak wajar saat melihat dirinya.
Asyifa menjadi ketakutan dan berlari terus sembari melihat kebelakang melihat apakah Bram mengikutinya atau tidak. Ya Bram mengikutinya. Namun tidak berlari dan berjalan cepat. Asyifa yang ketakutan sampai terjatuh dengan ke-2 lututnya yang menyentuh pasir yang membuat Asyifa terjatuh karena tiba-tiba sendalnya yang putus.
"Astagfirullah," lirih Asyifa dengan napasnya yang naik turun dan melihat kebelakang di mana Bram tetap mengikutinya membuat Asyifa buru-buru berdiri dan meninggalkan sendalnya yang sudah tidak terpakai lagi dan Asyifa berlari tanpa sendal dan sudah tidak tau apa-apa saja yang sudah terinjak telapak kakinya.
Asyifa terus berlari dengan air mata yang keluar dan wajahnya penuh dengan ketakutan. Di tengah larinya Asyifa tiba-tiba sebuah tangan menangkapnya dan membuat Asyifa terkejut.
"Lepaskan aku!"sentak Asyifa membalikkan badannya melihat siapa yang memegang pergelangan tangannya yang di pikirannya pasti Bram.
"Kak Rafa," lirih Asyifa. Rafa orang yang di carinya yang ternyata memegang tangannya.
__ADS_1
"Ada denganmu?" tanya Rafa melihat Asyifa heran. Wajah Asyifa penuh ketakutan dan bahkan terlihat air mata yang membuat Rafa tanda tanya pada Asyifa yang tadi sedang flu saat di tinggalkannya di kamar. Namun sekarang berubah menjadi Asyifa terlihat ketakutan bahkan terlihat wajah itu pucat.
Bersambung