
Ke-2nya masih saling menatap dengan saling melihat satu sama lain. Syira menghela napasnya dan berlalu dari hadapan Dedi dengan memasuki kamar mandi. Syira menutup pintu kamar mandi dengan bersandar pada pintu kamar mandi dan perlahan turun dengan terduduk yang memeluk tubuhnya.
Syira menangis di kamar mandi dengan terisak-isak. Apa Syira menangis karena semua ini terbongkar dan nasibnya yang tidak tau akan seperti apa. Orang-orang akan tau aibnya dan dia tidak sanggup untuk memberitahu semua itu.
Namun dia harus melakukannya. Karena Dedi tidak bersalah dan nama Dedi harus benar-benar di bersihkan Syira.
Suara tangisan Syira terdengar sampai keluar kamar dan Dedi yang masih duduk di Sofa dapat mendengar suara itu yang membuat Desi menghela napas dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang beberapa kali mengeluarkan napas beratnya.
"Syira seandainya kau jujur dari awal semua ini tidak akan seperti ini," batin Dedi yang menyayangkan hal ini.
*********
Mentari pagi kembali tiba. Syira yang berada di dalam kamar yang baru saja selesai mandi dengan Syira yang memakai gamis coklat polos lengkap dengan jilbabnya yang juga polos
Beberapa kali Syira menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan. Matanya masih sembab yang menangis sejak tadi malam.
Syira melihat kebelakang yang melihat ke ujung pintu yang ternyata kopernya ada di sana. Karena sudah menjadi akhir dalam hubungannya dengan Dedi. Jadi tadi malam Syira juga sudah mengemasi pakaiannya karena akan langsung meninggalkan rumah Dedi
"Ini semua konsekuensi yang aku dapatkan dari perbuatan ku sendiri. Jika aku tidak memanfaatkan kebaikan Dedi. Pasti aku akan menjadi wanita yang sangat beruntung yang di sukai oleh Pria yang tau bagaimana aku, dia menyukaiku walau dia tau aku hamil anak orang lain, dia menolongku dan meyakinkan ku apa yang terjadi bukan akhir dari segalanya,"
"Namun semua kesalahanku, aku memanfaatkan kebaikannya dan menjadikan orang yang paling membenciku dan ini akibat dari ke serakahanku. Aku kehilangan hal itu," ucap Syira yang menatap dirinya di cermin yang berbicara sendiri dan menyadari kesalahannya yang merugikan dirinya.
"Syira bertanggung jawablah dengan semua ini," gumam Syira dengan yakin menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan. Lalu Syira berdiri dari tempat duduknya dan akan yakin dengan langkah yang di lakukannya selanjutnya.
Syira mengambil kopernya dan mendorongnya ke luar dari kamarnya. Syira menuruni anak tangga yang benar saja orang tuanya sudah ada di sana dan di sana juga ada Willo, Lulu.
Melihat Syira yang menuruni anak tangga dengan membawa koper membuat semua orang bingung termasuk dengan orang tua Syira. Lulu dan Willo saling melihat dan mereka juga heran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Sebelumnya tidak terjadi apa-apa dan kenapa Syira seperti mau minggat saja dan sepengetahuan Willo tadi malam Dedi hanya membahas kantor Polisi. Orang tua Syira tiba-tiba saja datang kerumahnya karena undangan Syira dan sekarang Syira yang menuruni anak tangga dengan membawa koper yang pasti membuat semua orang bingung dan bertanya-tanya.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Sahila dengan kebingungan.
"Kami juga tidak tau apa yang terjadi," sahut Willo.
"Syira kenapa kamu bawa koper?" tanya Sahila yang ketika Syira sudah sampai di ruang tamu.
"Apa yang terjadi Syira? Ada apa ini? Kenapa kamu memanggil mama dan papa untuk datang kerumah ini dan melihat kamu yang sudah menyeret koper segala. Kamu mau pergi kemana?" tanya Danu.
"Benar Syira. Kamu jangan membuat semua orang salah paham. Apa sebenarnya maksud kamu dan Dedi di mana?" tanya Willo yang juga cemas dan takut malah terjadi keributan nantinya
"Maaf jika aku membuat kalian bertanya-tanya. Pah mah, aku menyuruh mama dan papa untuk datang kemari sekalian untuk menjemputku. Karena aku akan berpisah dari Dedi," ucap Syira dengan tenang yang mengejutkan semua orang.
"Apa kamu bilang berpisah," pekik Sahila dengan wajah terkejutnya.
"Keluarga ini ingin main-main dengan kami!" bentak Danu melihat ke arah Willo.
"Jangan melihat saya seperti ini. Saya juga tidak tau apa yang terjadi dan Dedi juga sudah menikah dengan Syira yang artinya dia bertanggung jawab," sahut Willo menegaskan.
"Lalu kenapa dia menceraikan putri kami," sahut Sahila.
"Karena anak yang aku kandung bukan anak Dedi," sahut Syira yang membuat semua orang terdiam, terkejut dengan pernyataan Syira dan membuat mereka semua langsung melihat serius ke arah Syira.
"Apa kamu bilang?" tanya Danu.
"Anak itu bukan anak Dedi," sahut Willo.
__ADS_1
"Syira kamu jangan becanda, jangan aneh-aneh. Jangan mengarang cerita," sahut Sahila yang tidak percaya.
"Aku tidak mengarang cerita. Apa yang aku katakan adalah kebenarannya. Jika anak yang aku kandung bukan anak Dedi. Aku, aku, aku..." Syira Sanga sulit untuk melanjutkan kalimatnya.
Syira menutup matanya dengan menghela napasnya berusaha untuk tenang dalam menceritakan dengan pelan-pelan.
"Aku di perkosa," sahut Syira yang jujur apa adanya dengan air matanya yang jatuh. Pernyataan itu jelas sangat mengejutkan semua orang termasuk kedua orang tua Syira.
"Astagfirullah," lirih Willo yang tidak percaya.
"Astagfirullah," lirih Lulu sampai menutup mulutnya yang tidak menyangka dengan apa yang di katakan Syira.
"Aku di perkosa oleh Pria yang tidak aku tau siapa dia. Aku takut memberitahu mama dan papa dan aku menutupi semua itu karena untuk menjaga hubunganku dengan Abian. Namun ternyata Abian menikah dengan Zee dan aku juga di nyatakan hamil,"
"Aku bingung dan tidak bisa berpikir jernih, aku takut menghadapi semuanya, Mendengar kemarahan mama dan papa dan sampai aku gelap mata ingin melakukan percobaan bunuh diri,"
"Saat itu Dedi datang mencegahku dan menyakinkan ku dengan kehidupan yang pasti ada terangnya. Dia tau aku hamil anak orang lain. Dan dia berniat ingin menikahiku.
"Namun ternyata semua tidak semulus itu. Karena memang pasti tidak mudah untuk di restui sampai akhirnya aku mengarang Cerita dan menuduh Dedi yang menghamili ku. Padahal bukan dia pelakunya. Aku melakukan semua itu menutupi aib ku,"
Jelas Syira dengan panjang lebar yang membuat semua orang terkejut. Orang tua Syira juga tidak percaya jika selama ini Syifa berbohong.
"Anak ini bukan anak Dedi dan selama ini aku juga di perasa dan ayah dari bayi ini sudah di kantor polisi dan aku menutupi semua ini yang aku pikir aku terbebas. Tetapi ternyata aku salah. Aku menjadikan Dedi korban, mendapat makian dari orang-orang sekitar dan kemarahan dari ibunya yang padahal dia tidak bersalah sama sekali,"
"Aku benar-benar minta maaf untuk keluarga ini yang aku jadikan kambing hitam. Aku tidak punya pilihan lain," lanjut Syira yang terus menangis sambil menceritakan semuanya.
Danu yang tertunduk mendengar pengakuan putrinya sudah tidak punya muka. lagi sementara Sahila pasti sangat terluka yang ternyata selama ini Syira mengalami hal terburuk sampai nekat membuat fitnah kejam.
__ADS_1
Bersambung