Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode.


__ADS_3

Hari keluarga Asyifa akan memenuhi undangan dari keluarga Danu. Pengacara yang membantu Asyifa yang mana mereka akan berkunjung kerumah Danu yang ada di desa yang konon katanya desanya sangat indah dan sangat menarik.


Orang tua Asyifa juga turut ikut. Yang mana Rendy saja yang turun hadir. Azka tidak bisa ikut karena Azka memang harus sekolah. Namun Lulu, Roni dan Dedi juga Willo turut ikut menuju undangan dari pengacara tersebut.


Mereka berangkat menggunakan mini bus agar bisa satu tempat semuanya dan min bus itu sudah menunggu di depan rumah.


Keluarga Asyifa juga sudah datang dan sudah menunggu mengobrol bersama Xander, Shofia, Ardi, Shania di ruang tamu yang juga ada Aqela di sana.


"Anak-anak lama sekali ya," ucap Shofia yang tampaknya sudah gelisah.


"Benar mah. Kasihan juga mini busnya sudah menunggu di depan," sahut Shania dengan melihat arloji di tangannya.


"Itu Asyifa dan Rafa!" sahut Rania yang melihat putrinya sudah datang.


"Maaf sudah menunggu kami lama," ucap Asyifa.


"Tidak apa-apa sayang. Tidak lama juga kok," sahut Rania.


"Ya sudah kita langsung berangkat aja," sahut Rendy.


"Zee belum kelihatan. Di mana dia?" tanya Shofia.


"Ya sudah biar aku cek kekamar dulu," sahut Shania. Saat Shania mau berdiri ternyata Zee sudah tiba dengan wajahnya yang tidak bersemangat dan ada tanda-tanda yang malas ikut. Ya pasti malas karena berhubungan dengan keluarga Syira dan dia juga sudah sempat menolak. Tetapi tidak di izinkan untuk menolak. Jadi sangat terpaksa Zee harus ikut.


"Kamu itu lama sekali sih membiarkan orang-orang menunggu kamu," tegur Shofia.


"Aku malas mau ikut mah," jawab Zee yang apa adanya dalam memberikan alasannya.


"Kamu itu ya selalu aja malas. Benar-benar ya kamu," sahut Shofia.


"Sudah-sudah jangan bertengkar. Nggak ada gunanya ribut sana-sini. Kita sekarang berangkat aja, ayok," ajak Xander.


"Ya sudah ayo!" sahut Ardi yang mulai bergerak. Rafa dan Asyifa saling melihat dan mengangguk yang mana mereka sama-sama pergi.


Mereka semua yang keluar dari rumah pun langsung memasuki mini bus dengan barang-barang yang mereka bawa hanya seadanya. Tidak ada yang banyak dan benar-benar hanya seadanya saja.


Asyifa dan Rafa pun sudah menduduki kursi seperti yang lainnya yang pasti Asyifa dan Rafa duduk berduaan yang mana Asyifa duduk di dekat jendela.


Zee dengan wajah yang di tekuknya juga sudah duduk sendirian.


"Kenapa sih aku itu harus ikut segala. Apa sepenting itu untuk datang ketempat acara seperti itu. Aku rasa tidak penting untuk datang. Lagian untuk apa coba acara-acara seperti itu sangat tidak penting," batin Zee dengan penuh kekesalan.


Sewotnya wajah Zee menunjukkan dia memang tidak menyukai untuk mengikuti undangan yang menurutnya hanya membuang-buang waktu. Di tengah kekesalannya. Tiba-tiba Abian duduk di samping Zee yang tidak tau Abian itu datang dari mana yang membuat Zee heran dengan Abian yang sudah duduk di sampingnya.


"Kak Abian!" ucap Zee dengan wajah kagetnya .


"Bolehkan Zee duduk di sini?" tanya Abian.


"Oh iya boleh-boleh. Kak Abian kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Zee.


"Kan mau ikut ke tempat pak Danu," jawab Abian.


"Iya maksudnya kenapa ada di sini. Apa tidak menunggu di sana?" tanya Zee.


"Ya nggaklah. Ngapain juga harus di sana. Aku tinggal di Jakarta. Jadi berangkatnya dari sini," ucap Abian.


"Oh begitu, aku pikir sudah di sana," ucap Zee.


"Kenapa harus berpikir seperti itu?" tanya Abian.

__ADS_1


"Ya kan, kak Abian dan dia itu dekat," jawab Zee.


"Dia siapa?" tanya Abian.


"Hmmmm, dia ya Syira," jawab Zee yang mengalihkan pandangan arahnya ke kejendela yang tidak mau melihat Abian. Namun Abian tersenyum mendengarnya.


"Astaga ternyata kak Abian ada di sini. Dia tidak bersama Syira. Lalu maksud dari senyumnya apa ya," batin Zee yang senyum-senyum sendiri. Tampaknya sekarang hatinya sudah mulai senang dengan Abian yang duduk di sampingnya. Jadi suasana hatinya begitu bahagia.


***********


Perjalanan yang singkat itu tampak terlihat bahagia. Yang pasti Zee sangat bahagia yang tidak menyangka ada Abian di sampingnya yang duduk bersamanya.


Sama dengan Asyifa dan Rafa yang tampaknya bahagia dengan Asyifa memeluk lengan Rafa yang tampaknya Asyifa juga ingin bermanja terus dengan suaminya yang tampak bahagia.


"Kamu senang kita jalan-jalan?" tanya Rafa.


"Hmmm, senang sekali. Kita sering jalan-jalan. Tapi Asyifa tidak pernah bosan untuk jalan-jalan sama kak Rafa," ucap Asyifa.


"Oh tidak pernah bosan. Apa ada rencana mau bosan?" tanya Rafa dengan menaikkan sebelah alisnya menatap sang istri.


"Hmmmm, ada nggak yah," sahut Asrida yang tampak berpikir.


"Dasar!" desis Rafa yang membuat Asyifa tersenyum.


Rafa melihat kesebelahnya yang kebetulan Rendy dan Rania yang duduk.


"Asyifa!" tegur Rafa.


"Kenapa kak?" tanya Asyifa.


"Ibu kamu sedang apa?" tanya Rafa membuat Asyifa menoleh yang mana terlihat Rania memberikan surat untuk Rendy dan pasangan suami istri itu saling membaca dengan kepala mereka yang saling berdekatan.


"Paling ibu menulis surat untuk ayah," jawab Asyifa yang sudah bisa menebak.


"Iya surat apa lagi kalau bukan surat cinta," jawab Asyifa.


"Lalu kamu kapan menulis surat cinta untukku?" tanya Rafa.


"Kenapa Asyifa yang harus menulis surat cinta. Kenapa bukan kak Rafa," ucap Asyifa.


"Kenapa kamu gengsi kalau menulis surat cinta untukku?" tanya Rafa.


"Nggak siapa yang gengsi," sahut Asyifa.


"Lalu kenapa tidak menulisnya?" tanya Rafa. Asyifa di sejenak, " Ohhh jawabannya karena tidak mencintaiku," tebak Rafa. Asyifa hanya mengangkat ke-2 bahunya menjawab pertanyaan Rafa.


"Lagian Asyifa juga tidak mau harus mengikuti cara ibu," ucap Asyifa.


"Lalu cara kamu seperti apa?" tanya Rafa dengan menatap sang istri.


"Hmmmm, ada deh," sahut Asyifa yang tidak mau menjawab dan hanya membuat Rafa tersenyum saja.


*********


Mereka masih berada di dalam bus yang tetap melanjutkan perjalanan mereka yang sekarang mereka sedang menikmati makan siang mereka yang pasti Asyifa harus di suapi Rafa. Kalau di tanya gengsi sekarang Asyifa tidak terlalu gengsi. Karena sering manja-manjaan dengan suaminya yang juga tidak mempermasalahkan harus memanjakannya.


"Kak Rafa tidak mau makan?" tanya Asyifa yang sejak tadi tidak melihat sang suami makan dan hanya menyuapinya saja.


"Melihat kamu makan aku sudah kenyang," jawab Rafa.

__ADS_1


"Ohhhh, begitu ya sudah kalau begitu kak Rafa jangan makan-makan ya lihat Asyifa aja makan," ucap Asyifa.


"Tega melihat suaminya kelaparan?" tanya Rafa.


"Kan kak Rafa sendiri yang bilang tadi kayak gitu," sahut Asyifa dengan santainya.


"Tetapi nggak usah gitu juga Asyifa," ucap Rafa dengan geleng-geleng kepala yang melihat kelakuan sang istri.


***********


Setelah perjalanan yang memakan waktu singkat. Akhirnya mereka sampai tepat pada waktunya. Perjalanan singkat hanya beberapa jam saja dan tiba di desa yang memang sangat indah dan bahkan kediaman Danu juga terlihat estetik yang tinggal di atas bukit dengan rumah kayu yang tinggi dan terlihat asri dengan tanaman dan pohon-pohon yang yang membuat keasrian yang begitu indah.


Mereka semua turun dari bus dan pasti langsung melihat ke sekitar mereka, melihat di sekeliling mereka yang begitu asri dan penuh dengan keindahan.


Tidak lama terlihat Danu dengan seorang wanita yang bisa di pastikan adalah istrinya dan juga ada Syira pastinya yang terlihat turun menghampiri keluarga yang sudah sampai itu.


Dan pasti mood Zee kembali hilang dengan melihat Syira yang langsung tersenyum pada Abian dan Abian juga tersenyum pada Syira.


"Selamat siang semuanya!" sapa Danu dengan ramah.


"Selamat siang pak Danu!" sahut Xander.


"Apa perjalanan kalian semua lancar?" tanya Danu.


"Alhamdulillah perjalanan kita lancar," sahut Rendy.


"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Danu, "oh iya yang mungkin belum mengenal istri saya. Kenalkan ini Sarah," sahut Danu yang ternyata benar wanita yang di sampingnya adalah istrinya.


"Salam kenal semuanya," sahut Sarah dengan sopan.


"Salam kenal mbak Sarah," sahut Rania.


"Hmmm, ya sudah sekarang ayo kita masuk. Kalian pasti sangat lelah. Tetapi maaf ya kalau sedikit mendaki," ucap Danu.


"Tidak masalah sekalian olah raga," sahut Xander.


"Ya sudah mari," sahut Sarah dengan ramah yang mempersilahkan dan yang lainnya pun ikut naik.


"Pelan-pelan ya Asyifa," ucap Rafa dengan memegang tangan istrinya yang pasti takut sang istri kenapa-kenapa.


"Iya kak Rafa. Santai saja," jawab Asyifa dengan tersenyum lebar dan Rafa menuntunnya untuk berjalan yang takut sang istri jatuh.


Zee juga berjalan menuju rumah tersebut. Namun karena Zee yang berjalan tidak fokus hampir membuatnya keseleo dan untung Abian langsung menahannya dengan memegang ke-2 bahu Zee yang melihat Zee hampir jatuh dan bahkan dalam suasana yang tegang itu ke-2nya sempat saling melihat.


"Maaf-maaf," Abian langsung sadar dan melepas sentuhannya dari Zee.


"Maaf Zee," ucap Abian yang terlihat gugup yang pasti juga Zee sangat gugup.


"Tidak apa-apa kok kak Abian," sahut Zee yang salah tingkah.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Abian yang kelihatannya mencemaskan Zee.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik aja," sahut Zee yang tersenyum tipis. Mereka yang terlalu dekat ternyata di lihat Syira dengan ekspresi datarnya yang mana terlihat ke-2 orang itu yang malah tinggal di belakang dan terlihat saling bicara.


Namun Syira hanya melihat saja dan Syira langsung pergi melanjutkan perjalanan dan Zee dan Abian terlihat sangat canggung.


"Silahkan Zee, hati-hati," ucap Abian.


"Iya kak Abian," sahut Zee dengan tersenyum mengangguk dan melanjutkan langkahnya di depan Abian dengan Zee yang tersenyum.

__ADS_1


"Kak Abian sangat baik, dia bahkan sangat perhatian dan begitu peduli kepadaku. Aku benar-benar tidak menyangka dengan kebaikan kak Abian," batin Zee yang harinya tampak bahagia dengan kehadiran Abian. Sebenarnya dia juga tau kalau Abian akan ada di sana. Tetapi Zee berpikir pasti nempel-nempel dengan Asyifa. Namun nyatanya tidak sama sekali Abian kelihatan dekat dengannya. Jadi wajar dia tampak happy.


Bersambung


__ADS_2