Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 54


__ADS_3

"Kak Rafa kenapa sih selalu kasar pada Asyifa," ucap Asyifa kesal dengan mengusap-usap pergelangan tangannya.


"Wau sekarang kau sudah mulai berani protes dan berkata kasar. Apa karena sudah menemukan suatu hal yang sangat lembut," ucap Rafa dengan tersenyum miring pada Asyifa.


"Apa maksud kak Rafa. Asyifa tidak mengerti," sahut Asyifa.


" Asyifa, sejak tadi kau begitu hebat Asyifa. Sampai saat ini kau juga sangat hebat. Apa karena ada Pria itu ada di sisimu yang seolah kau merasa terlindungi dan sangat berani kepadaku hari ini dan bahkan berani mengatai ku kasar. Apa dia begitu lembut sehingga kau sudah berani membandingkan aku dan dia," ucap Rafa.


"Apa yang kakak bicarakan. Pria yang mana dan siapa yang membandingkan kak Rafa?" tanya Asyifa dengan wajah herannya.


"Pura-pura tidak tau," desis Rafa.


"Asyifa tidak pura-pura kak. Tetapi Asyifa memang tidak tau siapa yang kakak maksud," jawab Asyifa apa adanya.


"Siapa lagi jika bukan mantan kekasihmu itu," sahut Rafa menekan suaranya.


Asyifa mengkerutkan dahinya mendengar perkataan Rafa "mantan apa yang kakak bicarakan, siapa mantan kekasih Asyifa," sahut Asyifa. Bukan pura-pura memang dia tidak merasa mempunyai mantan.


"Pria yang bersamamu tadi," pekik Abian dengan kekesalanya.


"Kak Abian maksud kakak. Astagfirullah kak. Kak Abian bukan mantan kekasih Asyifa dan Asyifa tidak pernah pacaran sama sekali," tegas Asyifa yang memang benar apa adanya.


"Berani sekali kau menyebut namanya di depanku," sahut Rafa yang begitu kesal dengan Asyifa.


"Kak Rafa tetapi itu memang apa adanya. Jika kak Abian bukan mantan Asyifa. Kakak hanya berpikiran yang tidak masuk akal," ucap Asyifa menegaskan.


"Kau berani mengguruiku, kau sudah membuatku sangat kesal Asyifa," sahut Rafa yang bertambah emosi.


Apa lagi terkesan Asyifa mempermalukan dirinya tadi. Ya sang banyak yang di lakukan Asyifa membuat Rafa benar-benar marah.


Rafa mendengus kasar lalu mendekati Asyifa dengan langkah perlahan yang membuat Asyifa refleks mundur kebelakang. Karena melihat kembali wajah menyeramkan Rafa yang terus mendekatinya.


"Kau satu hari ini telah meremehkan ku Asyifa, kau membuatku kesal dan lagi-lagi kau menunjukkan kehebatan mu yang seakan aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dirimu. Kau sangat berhasil Asyifa membuat jantungku hampir lepas saat kau tadi menembak tepat di dadaku. Karena permainan mu yang tidak pernah ku bayangkan itu berhasil membuatku begitu takut. Kau mempermalukan ku tidak membuat harga diriku ada lagi. Orang tuaku mengejekku, keluargaku membandingkan ku dengan mu. Apa kau benar-benar ingin selalu menunjukkan kesempurnaan mu di depan semua orang dan aku bukan apa-apa," ucap Rafa yang terus berjalan mendekati Asyifa dan Asyifa terus mundur dengan beberapa kali menelan salivanya.


"Kak Rafa salah paham. Asyifa tidak ada niat seperti itu sama sekali," jawab Asyifa dengan gugup dan berbicara terbata-bata.


"Kau pikir aku bodoh hah! Aku tau kau itu wanita yang suka meninggi dan hari ini akan akui kehebatan dirimu. Kau juga membuat Pria yang bersamamu tadi kecewa kepadamu. Kau sungguh sempurna Asyifa di mata orang-orang. Sampai orang-orang selalu mengatakan jika aku Pria yang beruntung. Atau pria bodoh jika tidak menyadari wanita yang di hadapanku ini adalah wanita yang sempurna," ucap Rafa terus melangkah mendekati Asyifa.


Asyifa yang terus mundur yang kakinya sebentar lagi menabrak kayu dan Rafa melihat hal itu yang membuat Asyifa hampir jatuh. Namun Rafa langsung menarik pinggang Asyifa sampai Asyifa menabrak dada bidang Rafa dengan wajah mereka yang saling berdekatan dan terlihat kegugupan di wajah Asyifa membuat Asyifa dek-dekan.


"Kak Rafa!" Lirih Asyifa.


"Ada apa? Kenapa sekarang jadi gugup. Bukannya tadi kau sangat berani kepadaku. Sangat santai bicara padanya. Lalu kenapa sekarang begitu gugup Asyifa di mana Asyifa yang tadi ku lihat yang tersenyum lebar pada Pria yang mengatakan sangat kecewa karena wanita yang seperti di harapkannya sudah menikah," ucap Rafa yang berbicara begitu dekat sembari melihat terus wajah Asyifa yang begitu gugup dan Asyifa kurang nyaman dengan Rafa yang menatapnya seperti itu yang membuatnya gelisah.


"Tolong lepas kak Rafa. Kakak salah paham. Asyifa tidak bermaksud seperti itu, apa yang kak Rafa pikirkan itu tidak benar," ucap Asyifa.


"Lepas katamu," sahut Rafa, "sekarang kau bahkan tidak punya nyali saat bersamaku. Kau hanya merasa hebat jika ada laki-laki itu di sekitarmu, bertepuk tangan dengan wajah tersenyum yang mengagumi. Apa semua yang kau lakukan hari ini hanya untuk membuatnya senang, untuk membuatnya terhibur. Semua yang kau lakukan untuknya?" tanya Rafa dengan mendekatkan wajahnya pada Asyifa.


Asyifa geleng-geleng dengan mengalihkan pandangannya. Namun Rafa memegang dagu Asyifa sehingga membuat wajah Asyifa kembali bertatapan dengannya dan terlihat wajah panik Asyifa


"Melihat dirinya kau begitu nyaman lalu kenapa melihatku. Kau tidak ada nyali lagi sama sekali. Di mana keberanian mu Asyifa," ucap Rafa dengan suara pelan yang napasnya menerpa wajah Asyifa.


Wajah Rafa yang semakin dekat dekat dengan Asyifa yang membuat Asyifa sangat gugup dan penuh dengan Rafa yang menatapnya begitu dalam.


"K-ka-k- Rafa, ka-ka, mpt," Asyifa tidak jadi melanjutkan kata-katanya ketika Rafa membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang mengagetkan untuk Asyifa sampai mata Asyifa melotot mendapatkan ciuman dari suaminya dan tidak tau apa rasanya. Yang jelas jantungnya berdebar dengan kencang 10 kali lipat dari biasnya.

__ADS_1


Itulah ciuman pertama yang Asyifa rasakan dan pasti halal karena suaminya yang memberinya ciuman itu. Hanya sebentar Rafa mencium Asyifa dan Rafa melepas ciuman itu dan melihat wajah Asyifa yang begitu terkejut dengan mata yang masih terbuka lebar, pipi merah merona.


"Dengar Asyifa. Kau itu istriku. Kau yang menginginkan pernikahan ini dan jika kau menginginkannya maka kau tau resikonya dan aku tidak mungkin tidak mendapatkan apa-apa. Walau aku tidak menyukaimu. Tetapi aku mulai tertarik denganmu dan penasaran akan tubuh yang selalu kau tutup ini. Dan tidak mungkin aku melepaskan mu setelah tidak mendapatkanmu. Aku adalah suamimu dan sekarang aku menuntut mu untuk memberikan hak ku dan kau harus melakukannya kewajibanmu sebagai istri," ucap Rafa dengan suara beratnya yang berbicara dengan menatap Asyifa.


Asyifa mendengarnya semakin gugup dengan jantungnya yang sudah tidak tau kencangnya bergetar seperti apa. Dan bahkan kata-kata Rafa membuatnya merinding dan sampai dia menelan salavinanya dengan keinginan Rafa.


"Jangan sampai aku memaksamu untuk melakukan itu. Jadi bersiaplah, anggap ini hukuman untuk kelancanganmu hari ini," bisik Rafa di telinga Asyifa dan Rafa langsung melepas tangannya dari pinggang Asyifa dan langsung pergi dari hadapan Asyifa yang membuat Asyifa hanya diam mematung.


Dada Asyifa terlihat kembang kempis dengan wajahnya yang memerah. Tangannya perlahan memegang bibirnya yang habis di cium Rafa. Asyifa seperti orang linglung. Tadi Asyifa mengatakan dia mulai tertarik pada Asyifa. Tidak tau Asyifa haruskah bahagia mendengarnya atau tidak.


Namun kali ini dia terlihat sangat gugup, takut, panik, cemas, perasaannya yang campur aduk dengan kata-kata Rafa yang menuntut haknya.


Asyifa memang masih sangat muda. Namun dia sangat dewasa. Apalagi Asyifa sudah membaca buku masalah pernikahan. Kewajiban istri, hak istri dan sebagainya. Jadi jelas apa yang di katakan Rafa Asyifa sangat paham. Namun apakah dia siap atau tidak dan takut membuat Rafa marah itu yang sekarang menghantui pikirannya.


***********


Sekarang Asyifa, Rafa, Xander. Shofia.Shania, Aqela, Zee dan Ardi sedang menikmati makan malam.


"Aqela bagaimana hari ini jalan-jalannya apa Aqela happy?" tanya Shofia.


"Sangat happy Oma," sahut Aqela.


"Kalau begitu nanti bukan depan kita kemari lagi. Aqela harus belajar berkuda lagi," ucap Shofia.


"Baik Oma. Aqela ingin belajar terus supaya bisa seperti Tante Asyifa berkuda dengan gamis indah, tidak perlu pakai helm dan berkuda sambil memanah," ucap Aqela yang mengagumi Asyifa.


"Wau sekarang Aqela punya idola baru nih," sahut Zee.


"Iya dong Tante, Tante Asyifa sangat keren," ucap Aqela dengan tersenyum.


"Ya sudah Aqeela makan lagi. Biar kita pulang setelah ini. Ini juga sudah larut malam," ucap Xander.


"Aku dan Asyifa tidak pulang," sahut Rafa tiba-tiba membuat semua orang melihat ke arahnya. Termasuk Asyifa yang juga kaget dengan keinginan Rafa yang tidak mau pulang.


"Maksud kamu?" tanya Xander.


"Di sini juga menyediakan penginapan dan aku akan pesan kamar bersama Asyifa di sini. Jadi kami tidak ikut pulang. Aku lelah dan mau istirahat di sini saja," jawab Rafa.


Mendengar hal itu membuat Asyifa tiba-tiba menjadi gugup dengan wajahnya yang memucat yang sepertinya ini berhubungan dengan apa yang di katakan Rafa tadi.


"Apa maksud kak Rafa. Tidak mungkin kan," batin Asyifa yang tiba-tiba merasa tidak aman.


"Kamu tidak akan macam-macam kan Rafa dengan Asyifa," sahut Shofia merasa ada yang tidak beres.


"Maksud mama apa?" tanya Rafa.


"Di sini juga ada Miranda. Jadi jelas mama bertanya. Atau jangan-jangan itu hanya alasan kamu saja untuk menginap di sini dan bawa-bawa Asyifa. Tapi kamu punya maksud lain," ucap Shofia yang tidak mudah percaya pada Rafa.


"Mama selalu saja tidak pernah berpikir positif padaku selalu menuduh yang tidak-tidak," desis Rafa.


"Mah jangan berpikiran seperti itu. Rafa dan Asyifa sudah menikah. Wajar mereka masih ingin berada di sini. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak dan Miranda pasti tidak ada hubungannya," sahut Ardi yang membela Rafa.


"Mama seharusnya dengar kan menantu mama. Atau mama mau ikut bersamaku dan Asyifa, supaya mama puas," sahut Rafa dengan kesalnya pada mamanya.


" Kau ini!" Geram Shofia

__ADS_1


" Sudah-sudah kalian ini jangan bertengkar lagi. Di mana-mana terus saja bertengkar," ucap Xander geleng-geleng.


"Mama yang selalu cari masalah," sahut Rafa.


"Sudah papa bilang. Jadi kalian berdua ingin menginap di tempat ini?" tanya Xander untuk memastikannya.


"Iya pah," jawab Rafa. Hanya Rafa yang menjawab dan Asyifa hanya diam dengan menunduk dengan makan dan merasa tidak tenang dengan keinginan suaminya dan bukan karena Miranda. Tetapi karena perkataan Rafa sebelumnya saat di pantai tadi sore.


"Baiklah kalau begitu. Papa akan pesan kamar untuk kalian ber-2," sahut Xander.


"Makasih pah," sahut Rafa.


"Tapi awas kamu Rafa. Kalau aneh-aneh dan Asyifa jika melakukan sesuatu apalagi menemui Miranda kamu bilang sama mama," ucap Shofia mengingatkan.


"Iya mah," sahut Asyifa dengan pelan.


"Ya ampun apa yang harus aku lakukan. Bagaimana ini. Jantungku berdetak terus. Aku benar-benar tidak tau ya Allah harus melakukan apa ya Allah," batin Asyifa dengan perasaannya yang tidak tenang dan Asyifa memberanikan diri melihat Rafa.


Namun Rafa juga melihatnya dengan alis yang terangkat dengan cepat Asyifa langsung mengalihkan pandangannya yang tidak berani menatap Rafa lagi.


"Ayo kita makan lagi," sahut Ardi mencairkan suasana.


Yang lainnya pun akhirnya makan kembali. Dan pasti makanan yang di rasa Asyifa sudah tidak nikmat lagi. Dia penuh dengan ketakutan yang tidak tau apa yang harus di lakukannya.


*********


Asyifa berada di toilet yang berdiri di depan cermin. Di mana Asyifa menatap wajahnya yang terlihat sangat gelisah.


"Apa yang akan kulakukan setelah ini. Huhhhhh kak Rafa tidak mungkin serius dengan perkataannya dan aku harus apa?" Asyifa sejak tadi terus bertanya-tanya dengan penuh kebingungan.


"Asyifa!" tiba-tiba Shania memasuki kamar mandi dan mengejutkan Asyifa.


"Kak Shania," sahut Asyifa dengan terkejut menghadap Shania.


"Kamu kenapa?" tanya Shania.


"Oh tidak kak. Aku tidak apa-apa- kok kak. Hanya saja aku, aku," Asyifa terlihat sangat gugup dan membuat Shania langsung meraih tangan Asyifa dengan menggenggam ke-2 tangan yang sangat dingin itu.


"Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Apa ada masalah?" tanya Shania.


"Asyifa hanya gugup," sahut Asyifa.


"Apa jangan-jangan karena permintaan Rafa?" tebak Shania.


"Maksud kakak. Apa kakak tau apa yang kak Rafa inginkan?" tanya Asyifa dengan pelan membuat Shania tersenyum dengan memegang pipi Asyifa.


"Asyifa kakak tidak tau detailnya. Tetapi melihat dari wajah kamu. Sepertinya apa yang kakak pikirkan yang sedang kamu rasakan. Asyifa kakak mengerti. Kamu pasti tidak mudah untuk siap untuk memberikan segalanya kepada Rafa. Apa lagi perlakuan Rafa yang tidak baik kepada kamu. Kakak bukan mau ikut campur. Atau sok-sokan harus mengatakan ini itu. Kakak tau kamu sudah dewasa dan paham arti Agama. Dan juga tau apa yang di inginkan Rafa juga berhubungan dengan wajib, hak dosa dan pahala. Jadi kamu bisa menyimpulkan sendiri harus melakukan apa," ucap Shania yang berbicara dengan lembut pada adik iparnya itu.


Sebagai wanita yang berpengalaman dan tadi Shania terus saja mengamati Rafa dan Asyifa. Sudah kebaca jika sebenarnya apa terjadi antara Asyifa dan juga Rafa.


"Kakak percaya kepada kamu. Jangan gugup. Kamu wanita yang baik dan melakukan hal itu bukan kesalahan," ucap Shania. Asyifa mengangguk-angguk.


Shania langsung memeluk Asyifa dengan mengusap-usap punggung Asyifa.


"Kamu akan menjadi istri Rafa seutuhnya. Percayalah pada kakak. Ini permulaan hubungan yang baik untuk kamu dan juga Rafa," ucap Shania.

__ADS_1


"Iya kak," sahut Asyifa yang sedikit tenang setelah mendapat arahan dari kakak iparnya itu.


Bersambung


__ADS_2