Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 40 Hal aneh.


__ADS_3

Akhirnya acara makan malam yang penuh dengan sindir sana sini itu akhirnya selesai juga. Asyifa, Rafa, Shofia dan Xander kembali pulang ke penginapan mereka.


"Apa mama puas melakukan semua ini?" tanya Rafa dengan nada kesal yang pasti akan membahas masalah Miranda karena apa yang terjadi barusan dengan Miranda


"Kenapa baru protes di sini? Kenapa tidak membelanya di sana tadi? Masih punya malu hah!" sahut Shofia.


"Bagaimana aku tidak protes dengan apa yang mama lakukan?" sahut Rafa.


"Sudah-sudah. Kalian jangan bertengkar lagi. Rafa ini jadikan pelajaran untuk kamu dan papa juga menegaskan untukmu. Jangan melakukan kesalahan lagi dan kamu jangan pernah sekali-kali lagi berhubungan dengan wanita itu. Jika kamu tidak mau mama kamu ikut campur. Jadi dengarkan apa kata mama kamu," sahut Xander yang juga memberi peringatan kepada putranya.


"Terserah pada kalian!"sahut Rafa yang langsung pergi.


"Rafa mama belum selesai bicara. Awas ya kamu kalau menemui wanita itu lagi," ucap Shofia mengingatkan dengan berteriak-teriak.


Shofia menghela membuang napasnya dengan perlahan ke depan dengan memijat kepalanya. Lalu melihat Asyifa yang hanya diam.


"Asyifa kamu baik-baik saja?" tanya Shofia.


Asyifa menganggukkan kepalanya, "Asyifa baik-baik aja mah. Mama jangan pikirkan masalah Asyifa dan juga kak Rafa. Mama sama papa istirahat saja. Asyifa juga mau istirahat," ucap Asyifa dengan lembut.


"Iya nak. Maaf ya untuk semua ini," ucap Shofia. Asyifa mengangguk.


"Ya sudah Asyifa kamu naik sana. Kamu istirahat," sahut Xander. Asyifa menganggukkan kepalanya dan Asyifa melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Ayo mah, kita juga istirahat," sahut Xander. Shofia mengangguk.


**********


Asyifa memasuki kamar dan Rafa sedang berada di atas ranjang yang bersandar di kepala ranjang. Asyifa menghela napasnya dan melangkah mendekati Rafa. Berdiri di samping Rafa.


Asyifa menunduk dengan ke-2 tangannya di bawah sana yang saling mengatup dengan gugup yang seperti ingin bicara.


Rafa melihat Asyifa tajam dan Asyifa mengangkat kepalanya yang yang saling melihat dengan Rafa dan terlihat Asyifa rada-rada takut.


"A-a-aku- minta maaf," ucap Asyifa dengan gugup.


"Aku tidak seharusnya menelpon mama saat di mobil dan mempertunjukan apa yang kamu lakukan dengan dia. Aku minta maaf, sudah menjadi istri yang tidak patuh dan dan terang-terangan membongkar aib kamu. Aku benar-benar menyesal melakukannya," ucap Asyifa dengan tulus bicara. Walau dia yang menjadi korban. Tetapi dia sangat tulus meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


"Kau itu pintar sekali bersandiwara. Kemarin saja tingkahmu sangat banyak. Sudah membuatku malu, di marahi dan ditampar berkali-kali. Sekarang baru meminta maaf. Apa memang sifat mu seperti ini," shaut Rafa dengan sinis.


"Terserah tanggapan kamu seperti apa. Tetapi pada intinya. Aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh menyesal," ucap Asyifa.


"Aku tidak peduli dengan semua itu. Mau memaafkan ataupun tidak itu hak ku. Jadi kuperingatka kepadamu. Jangan sekali-kali membuatku kesal. Jika kau melakukan hal itu lagi. Hal yang lebih parah yang akan kau dapatkan," tegas Rafa dengan ancaman. Asyifa mengangguk dengan menundukkan kepalanya.


Sudahlah. Baginya tidak ada gunanya membantah. Toh Rafa juga yang paling benar.


"Jangan menggangguku. Aku mau tidur. Dan kau taukan. Kalau aku sudah di sini. Itu artinya kau tidak di sini," sahut Rafa.


"Baiklah aku akan tidur di sofa," sahut Asyifa yang tidak masalah sama sekali.


Karena memang ada orang tua Rafa. Jadi tidak mungkin Rafa dan Asyifa tidur dengan kamar terpisah yang nantinya akan menciptakan masalah lain dan kalau mereka di kamar berduan. Tidak pernah satu ranjang. Pasti kalau bukan Asyifa yang di sofa yang terkadang Rafa yang ada di sana.


Asyifa menghela napasnya dan langsung melangkah kekamar mandi untuk siap-siap ingin tidur. Dia sudah mengakui kesalahannya pada Rafa. Terserah mau di maafkan atau tidak yang penting dia sudah meminta maaf.


************


Tidak lama Asyifa keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian tidurnya dengan piyama lengan panjang berwarna merah yang panjangnya hanya selututnya. Ya Asyifa sebenarnya tidak mempunyai pakaian-pakaian yang terbuka seperti itu. Apa lagi itu terlalu minim baginya. Namun itu semua adalah pemberian Shofia.


Awal-awal menikah. Shofia menyuruh Asyifa untuk memakai pakaian seperti itu saat di kamar. Karena tidak apa-apa. Karena Asyifa dan suaminya sudah menikah. Awalnya Asyifa malu. Tetapi lama-kelamaan terbiasa baginya.


Asyifa melangkah mendekati cermin untuk sisiran dan memakai beberapa peralatan untuk perawatan tubuhnya sebelum tidur. Sementara Rafa sudah tertidur dengan lelap. Mungkin hanya itu kedamaian bagi Asyifa. Kalau Rafa tidur.


"Asyifa membuka botol parfum dan menyemprot pada tubuhnya. Namun siku tangannya tidak sengaja menyenggol salah satu alat perawatan kulitnya sehingga jatuh dan terdengar begitu kuat.

__ADS_1


Membuat Asyifa kaget dan Asyifa langsung melihat ke arah Rafa yang takut Rafa terbangun dan ternyata benar saja. Jika Rafa terbangun dan langsung duduk menatap Asyifa dengan tajam yang sudah mengganggu tidurnya.


"Maaf aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf," sahut Asyifa dengan gugup dan langsung cepat-cepat mengambil barang yang di jatuhkan nya. Tetapi saking gugupnya. Asyifa malah menyenggol meja dan ada beberapa barang di atas meja ikut berjatuhan dan membuat Rafa merapatkan giginya yang semakin kesal dengan Asyifa dengan berisiknya Asyifa.


"Asyifa kamu ini," ucap Asyifa menepuk jidatnya dengan mengutipi barang-barang yang berjatuhan di lantai.


"Aku akan membereskannya. Maaf menggangu tidurmu," ucap Asyifa denga pelan.


Asyifa buru-buru membereskan barang-barang yang berjatuhan. Saking buru-burunya dahi Asyifa kejedot pinggir meja.


"Auhhhh!" Lirih Asyifa mengusap-usap dahinya.


"Apa lagi yang di lakukannya," geram Rafa menyibak selimut dan akhirnya menghampiri Asyifa dengan penuh kekesalan.


Rafa berdiri di depan Asyifa dengan berkacak pinggang. Memijat kepalanya.


"Aku baru saja tidur. Kau sudah membuat banyk ulah," ucap Rafa dengan kesal.


Asyifa mengangkat kepalanya melihat suaminya yang mengamuk di depannya itu.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu," sahut Asyifa dengan wajah senduh nya. Namun Rafa melihat dahi Asyifa yang berdarah.


"Ck dasar ceroboh!" umpat Rafa yang langsung pergi dari hadapan Asyifa. Asyifa menghela napasnya yang merasa bersalah pada Rafa. Karena sudah mengganggu Rafa tidur.


Asyifa kembali membereskan barang-barang itu. Dia berdiri dan menyusun di meja rias kembali. Namun saat Asyifa membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba Asyifa di kejutkan dengan Rafa yang berdiri di depannya dengan kesibukan Rafa yang menuangkan alkohol ke kapas dan langsung melap pada luka Asyifa membuat Asyifa kaget dan menahan sakit.


"Auhhh pedih,"keluh Asyifa dengan memegang tangan Rafa dan mampu membuat Rafa metapnya di mana Asyifa memejamkan matanya yang terlihat menahan rasa perih dari pegangan tangan Asyifa yang sangat erat pada lengannya.


Rafa juga sangat betah menatap Asyifa. Asyifa memang sangat cantik dengan rambut yang terurai panjang dan penampilannya cukup terbuka. Rafa laki-laki normal. Walau membenci Asyifa. Tidak munafik Rafa seakan menginginkan Asyifa. Bahkan dari Rafa yang kesulitan menelan salivanya yang menatap wajah itu dengan mengamati. Bahkan sampai ke leher jenjang sampai ke kulit lengan Asyifa dan sampai kebawah.


Jantungnya berdebar seketika yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba Rafa begitu aneh. Padahal tubuh wanita jelas sudah biasa di lihatnya seperti itu. Miranda contohnya yang memakai pakaian minim. Seharunya ini tidak hal yang awam bagi Rafa. Namun lihatlah sangat berbeda untuk Rafa.


Rafa menyadarkan dirinya dengan membuang napasnya perlahan kedepan yang terlihat keringat dingin.


"Baiklah. Tapi pelan-pelan," ucap Asyifa dengan lembut dan tumben-tumbenannya. Rafa menganggukkan kepalanya. Seolah sangat menuruti keinginan Asyifa.


Rafa yang mendadak gugup berusaha untuk tenang dan kembali mengobati Asyifa dengan lembut. Asyifa tiba-tiba mengukur senyum. Saat menyadari. Jika ada sesuatu yang lain dari Rafa. Rafa bisa juga menjadi pria tenang dan sangat lembut. Sangat berbeda dengan kejadian-kejadian yang di alaminya sebelumnya.


"Sudah selesai," ucap Rafa yang selesai menempelkan pelaster pada dahi Asyifa.


"Makasih," sahut Asyifa tersenyum. Rafa datar-datar saja menanggapinya dan langsung beralih dari hadapan Asyifa dan langsung menuju meja rias untuk mengembalikan obat yang di pegangnya.


Namun Asyifa masih tetap di tempatnya dan saat Rafa ingin membalikkan tubuhnya membuat Asyifa kaget dan Asyifa hampir jatuh kebelakang dan Rafa dengan cepat menahannya dan karena tubuh mereka yang tidak seimbang yang harus membuat mereka jatuh ketempat tidur dengan Asyifa yang berada di bawah Rafa dan Rafa menindihnya.


Sontak hal itu sama-sama membuat jantung ke-2nya berdetak dengan kencang. Apa lagi wajah mereka saling berdekatan dengan hidung saling bersentuhan. Dengan mata yang saling mebatap. Bagaimana jantung tidak mau copot. Apa lagi Asyifa. Seumur hidupnya ini pertama kalinya dia dengab pria sedekat itu. Dia bahkan merasa itu dosa. Tetapi itu suaminya dan halal.


Rafa juga tidak tau kenapa semakin merasa aneh dengan menatap intes Asyifa. Harus tubuh Asyifa membuat Rafa frustasi. Tidak tau apakah Rafa bernapas atau tidak. Tetapi pasti bernapas kalau tidak Rafa akan mati.


"Ada denganmu Rafa. Kau tidak mungkin kan tertarik dengan wanita ini," batin Rafa yang begitu berbeda sekarang.


"Ya Allah. Kenapa jantung Asyifa berdetak kencang. Ya Allah suami hamba yang berada di dekat hambah ini sangat berbeda. Dia terlihat tenang dan bukan iblis yang seperti biasanya. Tetapi kenapa Asyifa jantungan seperti ini," batin Asyifa yang dengan gugupnya.


Mata Rafa tiba-tiba turun pada bibir Asyifa yang merah merona yang di pastikan. Pasti belum ada Pria yang menyentuh bibir cantik itu.


Tidak tau kenapa Rafa fokus pada bibir itu dan dan mendekatkan bibirnya yang ingin menempelkan bibirnya lada bibit Asyifa.


Dratt-dratt-drattt.


Semua gagal maning saat bunyi telpon bedering. Membuat Rafa menyadarkan dirinya dan langsung bangkit dari tubuh Asyifa.


"Selalu membuat masalah," umpat Rafa yang menyalahkan Asyifa untuk mengalihkan rasa gugupnya.


"Maaf," sahut Asyifa. Rafa tidak mempedulikannya dan mengangkat telpon itu. Asyifa menghela napasnya dengan memegang dadanya.

__ADS_1


"Huhhhh, aku jadi dek-dekan. Kenapa juga jantungku seperti ini," batin Asyifa yang mencoba berdiri dan mengatur napasnya yang juga naik turun sementara Rafa berdiri di depan jendela yang mengangkat telpon.


Rafa selesai menerima panggilan telpon dan melihat kearah Asyifa yang beralih ke sofa dan merebahkan dirinya yang ingin tertidur.


"Kenapa rasanya aku kesal sekali karena ada yang menelpon. Apa yang kau pikirkan Rafa. Kau tidak mungkin menginginkan hal itu. Ingat Rafa wanita itu bukan tipemu dan kau punya Miranda. Jadi tidak mungkin kau tertarik dengan dia," batin Rafa dengan mengusap kasar wajahnya yang berusaha untuk menetralkan dirinya yang semakin frustasi gara-gara pikirannya sudah beralih pada Asyifa.


Rafa menghampiri Asyifa yang mulai memejamkan matanya.


"Kau pindahlah," ucap Rafa tiba-tiba yang membuat mata Asyifa terbuka.


"Maksudnya?" tanya Asyifa dengan heran.


"Kau itu selain ceroboh. Apa juga punya masalah pada telingamu. Aku mengatakan kau pindah," tegas Rafa.


"Maksudnya ke tempat tidur!" Tanya Rafa.


"Jadi mau kemana lagi," sahut Rafa begitu kesalnya.


"Oh jadi benar ketempat tidur," sahut Asyifa semakin membuat Rafa kesal. Rafa sudah menahan diri dengan berdecak kesal dengan wanita yang membuatnya panas dingin itu.


"Jika aku di sana. Kamu mau tidur di mana?" tanya Asyifa heran.


"Jika kau bertanya sekali lagi. Aku akan melemparku kelautan," ucap Rafa dengan menguatkan suaranya.


"Baiklah aku akan secepatnya ke tempat tidur," sahut Asyifa yang buru-buru berjalan ketempat tidur dan langsung menarik selimut menutup dirinya dengan selimut yang takut Rafa marah-marah kepadanya.


Rafa membuang napasnya perlahan kedepan dengan kasar. Karena ulah Asyifa yang membuat kepalanya mau pecah. Rafa pun dengan kekesalannya yang harus tidur di sofa, sementara Asyifa malah tersenyum yang berada di dalam ringkupan selimut.


***********


pagi hari kembali Asyifa sudah bangun pagi-pagi dan langsung menyiapkan sarapan di pagi hari.


"Pagi mah, pagi pah," sapa Asyifa ketika 2 mertuanya itu menghampirinya.


"Selamat pagi Asyifa. Kamu cepat sekali bangunnya. Pagi-pagi sudah siapkan sarapan saja," sahut Shofia.


"Tidak terlalu pagi kok mah," sahut Asyifa.


"Baiklah sekarang kita nikmati masakan yang menggugah selera ini," ucap Xander yang langsung menarik kursi. Asyifa mendengarnya tersenyum.


Tiba-tiba Rafa menuruni anak tangga dan Shofia langsung melihat ke arah Rafa yang pergi begitu saja tanpa berhenti di jalur meja makan.


"Rafa ayo sarapan!" ajak Shofia.


"Aku tidak lapar," jawab Rafa dengan ketus.


"Ayo sarapan, jangan ada perdebatan dulu. Baru kamu mau sarapan," sahut Shofia.


"Ayo Rafa, istri kamu sudah memasak, cepat kemari," sahut Xander. Rafa menghela napasnya dan langsung menuju meja makan dengan terpaksa pastinya. Namun Asyifa tersenyum melihatnya dan langsung membukakan piring untuk suaminya ketika suaminya sudah duduk.


"Aku bisa ambil sendiri," sahut Rafa yang melihat Asyifa menyendokkan nasi goreng.


"Ini untuk Asyifa," jawab Asyifa yang membuat Xander dan Shofia tertawa pelan.


Rafa berdecak kesal yang menahan malu. Dia pikir Asyifa mau menyendokkan nasi itu kepiringnya dan ternyata untuk Asyifa sendiri.


"Makanya kamu itu jangan galak-galak jadi suami. Lihatlah istri kamu lama-lama tidak mau melayani kamu," sahut Xander. Asyifa hanya tersenyum mendengarnya.


"Aku tidak membutuhkannya. Aku bisa ambil sendiri," sahut Rafa dengan kesalnya dan langsung menyendokkan nasi kepiringnya.


Saat Rafa ingin mengambil telur mata sapi sangat kebetulan Asyifa juga mengambilnya dan tangan mereka saling menimpah yang membuat mereka saling melihat dengan tangan di atas telor. Xander dan Shofia tersenyum melihatnya. Namun keduanya langsung saling melepas tangan mereka dan juga melepas pandangan mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2