Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 162


__ADS_3

Zee benar-benar tidak pulang sama sekali dia memilih di rumah mamanya bahkan sudah sampai malam dan masih berada di rumah. Bahkan Zee sejak tadi hanya berada di dalam kamar dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan dengan menscroll ponselnya yang terasa dia sangat jenuh.


Toko-tok-tok-tok.


Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


"Masuk!" sahut Zee dari dalam kamar dan pintu itu langsung di buka yang ternyata Asyifa yang masuk.


"Kak Asyifa, ada apa kak?" tanya Zee.


"Abian ada di bawah. Ayo turun," jawab Asyifa.


"Untuk apa dia datang," batin Zee yang pasti kaget dengan kedatangan Abian.


"Jangan melamun Zee. Ayo buruan turun jangan membuatnya menunggu," ucap Asyifa.


"Iya kak Asyifa," jawab Zee yang langsung turun dari ranjang, menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan menghampiri Asyifa.


"Jika ada masalah jangan melarikan diri. Masalah itu harus di selesaikan dan tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan," ucap Asyifa memberi pesan pada adik iparnya itu. Zee hanya mengangguk dan berjalan bersama dengan Asyifa.


Sesampai di ruang tamu memang benar ada Abian yang sedang mengobrol bersama mama dan papanya dan juga ada Shania dan Ardi dan pasti Rafa.


"Ayo Zee," ucap Asyifa mempersilahkan Zee duduk. Yang mana awalnya Zee sangat ragu dengan Abian yang datang.


"Zee, kamu bilang sama Abian pulang kerumah mengambil berkas-berkas di kampus kamu. Lalu kenapa kamu bohong. Kamu bahkan tidak kekampus tadi dan hanya di kamar saja. Sampai malam suami kamu harus datang," ucap Shofia yang memang Abian memberitahu apa yang sebenarnya.


"Tadinya mau kuliah, cuma sudah telat. Jadi tidak jadi," sahut Zee menjawab pertanyaan mamanya.


"Lalu kenapa tidak pulang dan malah bertahan di sini?" tanya Shofia.


"Karena Zee tidak mau mengganggu mereka," sahut Zee dengan cepat membuat yang lainnya kaget dan melihat serius pada Zee begitu juga Abian.

__ADS_1


Zee melihat semua orang yang pasti bingung dengan pernyataannya menghela napasnya.


"Mereka siapa maksud kamu?" tanya Rafa dan Zee malah bingung apakah harus menjawab atau tidak.


"Tidak ada," sahut Zee yang memilih untuk tidak menjawab dan mungkin saja karena tidak mau Abian di cecar keluarganya. Namun Asyifa sudah merasa ada yang tidak beres dengan Zee dan Abian.


"Ya sudahlah apapun lain kali alasan kamu. Kamu tidak boleh pulang begitu saja dan jika ingin kemari minta izin pada suami kamu dan pulang tepat waktu jangan sampa suami kamu harus menjemput kamu lagi," ucap Xander.


"Untuk apa dia menjemputku. Apa sih maunya sebenarnya," batin Zee yang terlihat sangat kesal dengan Abian.


"Benat Zee kamu ini baru menikah dan tidak seharusnya pulang begitu saja," sahut Shania.


"Ini semua salah saya. Lain kali hal ini tidak akan terjadi lagi," sahut Abian.


"Ya sudah Abian. Maaf ya atas tindakan Zee. Kami harus memaklumi Zee ya," sahut Shofia.


"Tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu saya bawa Zee pulang. Ini juga sudah malam," ucap Abian berdiri dari tempat duduknya.


"Zee kenapa masih diam, ayo ambil barang-barang yang kamu bilang penting dan kamu langsung pulang," ucap Shofia.


"Hmmm," Zee hanya menjawab dengan deheman dan langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi. Zee sepertinya tidak bisa melakukan apa-apa untuk kehidupannya yang baru ini.


Karena kesal dengan Abian yang cuek padanya dan belum lagi Syira datang dan Zee juga tidak tau apa yang di bicarakan Abian dan Syira saat dia tidak ada dan tiba-tiba Abian datang menjemputnya dan dia malah tidak bisa protes sama sekali. Jadi bagaimana Zee merasa hidupnya benar-benar seperti di dalam penjara.


*********


Zee dan Abian sudah berada di dalam mobil yang mana Abian menyetir dengan fokus lurus menatap kedepan dan di sampingnya ada Zee yang juga sejak tadi diam saja tanpa bicara apa-apa dengan Abian.


"Lain kali aku tidak akan mengijinkanmu untuk pulang begitu saja," ucap Abian membuat Zee kaget dan langsung melihat ke arah Abian.


"Apa maksudnya?" tanya Zee dengan dahinya yang mengkerut.

__ADS_1


"Kita sudah menikah dan aku suamimu yang artinya. Jika ada apa-apa. Kamu harus meminta izin padaku dan kejadian tadi tidak akan terulang yang membuat keluargamu berpikir yang aneh-aneh dengan masalah di antara kita berdua," ucap Abian dengan tegas dengan wajahnya yang begitu serius.


"Kak Abian...."


"Tidak harus semua orang tau Zee," sahut Abian memotong pembicaraan Zee yang belum sempat di sampaikan Zee, "kita sudah berumah tangga dan di dalam rumah tangga ada privasi kita yang tidak harus di ketahui semua orang dan apa yang kamu lakukan tadi, pergi begitu saja dan tidak pulang, bukanlah seseorang wanita yang sudah menikah. Ingat kamu sudah menikah, jadi berubahlah," tegas Abian.


"Sekarang berbicara pernikahan, seakan sudah merasa yang paling benar," ucap Zee dengan pelan.


"Apa yang kamu katakan," sahut Abian yang dapat mendengar umpatan Zee walau tadi sangat pelan, "jika ingin bicara. Bicara dengan jelas. Jangan hanya berbicara diam-diam," ucap Abian.


"Jangan mengingatkan ku dengan pernikahan. Aku pergi karena kamu sama Syira ada di sana. Kalian berdua memang tidak menyuruhku pergi tetapi dari mata kalian berdua terlihat ingin menyuruhku pergi. Apa aku harus jadi obat nyamuk dari pembicaraan kalian yang sangat intens. Apa yang kalian bicarakan hah! kak Abian menyuruhnya untuk bersabar," ucap Zee yang baru bisa bicara sekarang.


Sampai Abian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Apa maksud kamu? kamu menuduhku yang tidak-tidak bersama Syira. Zee Syira itu datang kerumah hanya bicara kepadaku. Dan aku dan Syira tidak di rumah berduaan. Ada banyak asisten rumah tangga di rumah dan kamu juga harus tau. Syira itu wanita baik-baik. Jadi jauhkan pikiran kotor kamu mengenainya. Dia tidak......"


"Seperti aku maksudnya," sahut Zee yang langsung memotong pembicaraan Abian, "apa aku sangat jahat, sangat berprilaku buruk sehingga dengan mudahnya memuji wanita lain di depanku," ucap Zee yang kesabarannya mulai habis.


"Apa karena kak Abian ahli agama dan sama sepertinya. Jadi kak Abian bisa sesuka kak Abian untuk menjudge ku dengan hal buruk. Jika kalian berdua paham dengan agama. Dan jika dia baik atau kamu baik. Tidak seharusnya kalian berdua bertemu dengan status yang sudah berbeda," ucap Zee dengan tegas.


"Apa maksud kamu Zee?" tanya Abian


"Pulang! aku tidak mau membahas itu lagi. Aku akan berusaha untuk menjadi istrimu dan aku bukan Asyifa yang punya kesabaran seperti lautan. Jadi batasnya juga ada nanti," tegas Zee.


"Kenapa kamu bawa-bawa nama Asyifa!"


"Aku akan naik Taxi jika tidak menyetir sekarang juga," ancam Zee yang sudah tidak mau mendengarkan Abian banyak bicara lagi.


Abian pun tidak bisa melakukan apa-apa dan langsung menyetir dari pada Zee benar-benar turun dan naik Taxi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2