
Danu, istrinya dan Syira sudah pulang setelah Rendy berbicara baik-baik dengan Danu. Sementara keluarga Rafa, Shofia, Xander, Shania, Ardi dan Aqela juga pulang. Zee dan Abian juga pulang yang pisah mobil dari orang tuanya. Karena rumah mereka juga berbeda.
Sementara Rafa, Asyifa, Rania, Rendy dan Azka juga Rachel masih ada di rumah Willo yang bagaimana pun mereka harus ikut menyelesaikan masalah itu. Karena masalah itu tidak gampang sama sekali yang harus di bantu.
Rachel yang berdiri di depan rumah yang terlihat hanya melihat handphonenya saja.
"Rachel!" tegur Azka membuat Rachel membalikkan tubuhnya.
"Iya Azka," jawab Rachel.
"Hmmm, kamu menginap di sini saja. Ini sudah sangat malam, besok saja pulangnya. Aku sudah menyuruh bibi untuk menyiapkan kamar untuk kamu. Lagian besok juga libur," jelas Azka
"Tidak apa-apakan kamu menginap di sini!" tanya Azka yang tidak melihat respon Rachel sama sekali.
"Oh ya sudah tidak apa-apa asal tidak merepotkan saja. Dan lagian juga sudah malam. Mana mungkin kamu mengantarku nanti yang adanya bahaya lagi," sahut Rachel yang setuju untuk menginap.
"Iya, maaf ya dengan suasana tadi. Pasti kamu tidak nyaman," ucap Azka.
"Tidak apa-apa. Aku justru agak shock dengan reaksi Tante Willo dan juga dengan reaksi semua orang," ucap Rachel.
"Maksudnya?" tanya Azka.
"Aku tidak tau. Zina itu apa begitu sangat memalukan sehingga aku melihat semua orang yang ada tadi begitu terkejut. Aku pikir hal seperti itu bukannya biasa ya. Apa lagi zaman sudah semakin moderan dan hubungan seperti itu bukannya biasa-biasa aja ya. Apa lagi kalau memang mereka berpacaran," ucap Rachel yang berbicara hati-hati dan Azka mendengarnya hanya tersenyum tanpa mencela.
"Lalu apa menurut kamu berzina itu suatu dosa?" tanya Azka.
"Ya pasti," sahut Rachel menganggukkan kepalanya.
"Apa dosa harus melihat zaman itu kuno atau moderan?" tanya Azka.
"Nggak ya," sahut Rachel dengan menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya salah bicara.
__ADS_1
"Mau ini zaman sudah moderan atau hal-hal seperti itu hanya biasa saja menurut orang-orang yang hidup seperti itu dengan duniawi saja. Tetap saja itu perbuatan dosa yang berhubungan suami-istri tanpa adanya pernikahan dan itu sangat di benci Allah. Dan semua agama pasti tidak mengajarkan hal itu. Bukan hanya agama kita saja," jelas Azka dengan lemah lembut tanpa mengkritik pandangan Rachel.
"Iya kamu benar. Ya maklumlah Azka ilmu agamaku tidak ada. Aku hidup dengan kehidupan yang berjalan begitu saja dan melihat pandangan yang salah. Makanya aku berpikir masalah yang terjadi pada kak Dedi dan kak Syifa seharusnya masalah yang tidak perlu di besarkan. Tetapi nyatanya itu dosa besar dan aku tidak mengerti banyak tentang hal itu," ucap Rachel yang sangat mau menerima apa yang di katakan Azka.
"Eh tapi kamu jangan berpikir yang aneh-aneh ya. Aku tidak pernah seperti itu loh," sahut Rachel yang langsung menegaskan karena takut Azka berpikiran buruk padanya.
"Aku tidak memikirkan apa-apa dan aku tau kamu wanita baik," sahut Azka.
"Huhhhh, syukurlah. Itu artinya dengan adanya kejadian hari ini. Aku bisa belajar banyak dan mungkin harus menjaga diri. Tidak boleh melakukan itu tanpa adanya' status halal," ucap Rachel, membuat Azka mengangguk.
"Hmmm, pantes saja ya kamu dan keluargamu sangat hangat. Kalian sangat di bekali ilmu agama yang benar dan sangat taat. Aku jadinya ingin belajar masalah agama. Selain membantu memecahkan rumus matematika. Kamu mau tidak membuatku lebih banyak tau tentang agama ya supaya hidupku bisa setenang kamu," ucap Rachel yang benar-benar ingin belajar dan terlihat begitu niat.
Azka mendengarnya tersenyum. Dia tidak percaya Rachel itu wanita yang mau menerima dan mau belajar.
"Aku banyak permintaan ya?" tanya Rachel dengan hati-hati karena tidak melihat respon dari Azka.
"Kita belajar sama-sama. Aku juga masih banyak kurangnya," sahut Azka yang setuju membuat Rachel tersenyum sepertinya begitu bahagia.
Sementara di dalam mobil Abian, dan Zee yang masih dalam perjalanan pulang.
"Menurut kak Abian bagaimana. Apa yang terjadi tadi benar apa adanya atau tidak?" tanya Zee.
"Aku tidak bisa mengatakan iya atau tidak Zee. Karena kita juga tidak bisa menyalahkan Syira atau Abian," jawab Abian.
"Tetapi kayaknya Syira bohong dan Dedi sepertinya di fitnah," ucap Zee berdasarkan pemikirannya.
"Aku sebenarnya sependapat dengan kamu. Apa lagi sebelumnya Rafa mengatakan kalau Abian itu menjelaskan tentang Syira dan bukan dia yang menghamili Syira. Dia hanya bertanggung jawab pada Syira. Tetapi tiba-tiba masalahnya malah berubah," ucap Abian.
"Benar kata kak Abian, aku yakin sih pasti Dedi benar-benar di fitnah dan untung saja bukan kak Abian yang menjadi tumbalnya," ucap Zee.
"Maksud kamu?" tanya Abian.
__ADS_1
"Ya beda cerita lagi. Tiba-tiba Syira bilang kalau yang menghamilinya kak Abian. Ya aku tidak tau bagaimana kelanjutannya," jawab Zee yang amit-amit dengan kejadian itu.
"Fitnah sangat kejam Zee dan kita bahkan tidak bisa melakukan pembelaan saat semua mata tertuju menatap kesalahan kepada kita dan pasti Dedi mengalami hal sulit. Jika itu memang fitnah," ucap Abian.
Zee melihat ke arah Abian, "kak Abian mengingat kejadian saat itu ya?" tanya Zee.
"Maksud kamu?" tanya Abian.
"Rumah dan kita berdua dan seperti yang kak Abian katakan. Aku hanya diam dan seolah membenarkan apa yang terjadi yang ikut memfitnah kak Abian dan kak Abian yang melakukan pembelaan tidak ada yang mempercayainya dan sampai masalah itu terjadi. Pasti itu yang kak Abian rasakan," ucap Zee yang merasa bersalah.
"Zee semua kejadian itu ada hikmahnya dan kamu melakukan karena kesalahanku dan jika kejadian itu tidak ada. Kita tidak akan menikah dan sama-sama memperbaiki diri. Jadi kamu jangan mengungkit masalah itu lagi," ucap Abian.
Zee mengangguk dan meletakkan kepalanya di bahu Abian, "makasih kak Abian selalu membimbing Zee untuk menjadi yang lebih baik," ucap Zee dengan rasa syukurnya.
"Sama-sama Zee," sahut Abian yang tersenyum dengan mencium pucuk kepala istrinya.
Sementara di mobil lain di mobil Shofia yang di kendarai Ardi.
"Mama sudah bisa melihat wanita itu memang tidak ada baik-baiknya hidupnya di buat lempang-lempang aja dan lihat terasa enak dirinya," ucap Shofia.
"Sudahlah mah jangan membahas hal itu. Itu masalah mereka," sahut Xander.
"Tapi kasian juga Dedi yang jadi korbannya. Pasti wanita itu menjebaknya dan untung menantuku tidak jadi sasarannya," ucap Shofia.
"Mah kita berdoa saja yang terbaik untuk masalah ini. Kita serahkan pada Allah," sahut Shania.
"Benar mah, kita memberi suport yang terbaik saja," sahut Ardi menambahi.
"Ya semoga saja ada jalan yang terbaik," ucap Shofia yang berharap banyak.
Bersambung
__ADS_1