
Syira masih terdiam dengan wajahnya yang ketakutan bahkan begitu pucat saat mendengar pertanyaan itu dan Dedi memang terlihat begitu penasaran. Apa lagi mendengar suara laki-laki dari telpon itu.
"Kamu kenapa diam dan tidak menjawabku?" tanya Dedi dengan penuh kecurigaannya.
"Oh tidak, ini bukan siapa-siapa," jawab Syira yang terlihat begitu gugup dan penuh dengan ketakutan.
"Aku_ aku, aku mau kekamar mandi dulu," ucap Syira yang langsung pergi meninggalkan tempat itu dan buru-buru memasuki kamar mandi yang membuat Dedi kebingungan.
"Apa yang di sembunyikannya," batin Dedi yang sejak awal sudah mencurigai Syira dan wajar jika mencurigai Syira.
Syira yang berada di kamar mandi menghela napasnya yang naik turun yang masih memegang handphonenya.
"Untung saja Dedi tidak tau banyak tentang apa yang terjadi. Jika dia tau aku bisa gawat," batin Syira yang penuh dengan ketakutan dengan memegang dadanya yang terasa begitu sesak dengan mengatur napasnya berkali-kali.
"Lalu bagaimana dengan nasibku selanjutkan. Bagaimana dengan aku yang harus secepatnya mengirim uang itu untuknya. Jika aku tidak mengirimnya, dia akan menyebar foto-foto itu," batin Syira yang penuh dengan ketakutan.
Serba salah baginya menyembunyikan semua ini hanya akan menyulitkan dirinya sendiri. Karena dia tidak punya uang untuk membayar pria yang sudah beberapa kali memerasnya.
************
Zee yang berada di kamarnya yang sedang menyisir rambutnya yang siap-siap hendak tidur. Seperti biasa sebelum tidur. Zee masih berada di rumah orang tuanya karena suaminya belum pulang dari perjalanan bisnis. Makannya Zee masih di rumah orang tuanya.
Toko-tok-tok-tok.
"Iya sebentar," ucap Zee menyemprotkan parfum pada bajunya dan setelah itu langsung berjalan menuju pintu untuk membuka pintu pastinya.
Ceklek.
Pintu yang terbuka dengan tangan Zee yang masih memegang kenopi pintu yang membuat Zee terkejut saat melihat pria yang berdiri di depannya itu.
"Kak Abian!" pekik Zee yang begitu terkejut dengan suaminya yang sudah pulang.
"Assalamualaikum," sapa Abian yang tersenyum manis.
"Issss kak Abian," lirih Zee yang merasa sangat bahagianya dan langsung jinjit memeluk Abian sampai kelapa Abian tertunduk dengan lehernya yang di tarik Zee sampai kebawah karena pelukan Zee yang sangat kuat.
"Kakak kenapa tidak memberitahu Zee kalau pulang," ucap Zee dengan kesalnya.
__ADS_1
"Bukannya menjawab salam malah marah," sahut Abian yang mengusap-usap punggung istrinya itu.
Zee melonggarkan pelukannya dan melihat suaminya itu.
"Kak Abian kok pulang tiba-tiba?" tanya Zee dengan wajah cemberutnya.
"Supraise untuk kamu," jawab Abian dengan santai dan tersenyum.
"Isss," kesal Zee dan Abian kembali memeluk istrinya itu.
"Kelihatannya sangat merindukanku!" goda Abian dengan memeluk erat istrinya itu.
"Memang kak Abian tidak?" tanya Zee.
"Sangat, aku sangat merindukanmu," jawab Abian dan Zee tersenyum mendengarnya. Zee melepaskan pelukan itu yang dengan tiba-tiba langsung mencium pipi Abian yang membuat Abian terkejut dengan tindakan Zee.
"Hey, kita belum masuk kamar sudah main cium-cium aja. Bagaimana kalau mama dan papa tiba-tiba lewat," ucap Abian.
"Makanya ayo cepat masuk!" Zee langsung menarik tangan suaminya itu dan Abian hanya bisa senyum-senyum dengan istrinya yang kelewatan rindunya kepadanya.
Zee tidak lupa juga menutup pintu dan setibanya di dalam kamar Zee berdiri di hadapan Abian.
"Aku mau kamu," sahut Abian dengan menatap istrinya.
"Isss Zee serius," sahut Zee yang malah malu sendiri dengan tingkah suaminya itu. Padahal dia senang aja kalau di bilang seperti itu.
"Ya sudah Zee, aku mau mandi dulu. Tetapi setelah mandi aku benar-benar mau kamu kan aku sangat merindukan kamu, apa lagi saat aku pulang di sambut dengan cantik dan wangi seperti ini," ucap Abian menggoda istrinya dengan memegang pipi istrinya itu.
"Issss kak Abian Zee jadi malu jadinya. Ya sudah kak Abian mandi deh," sahut Zee dengan wajahnya yang merah merona.
"Tapi setelah ini bolehkan?" tanya Abian dengan kode-kode pada Zee.
"Iya-iya," sahut Zee yang tersenyum salah tingkah yang pasti taulah apa yang di inginkan suaminya itu.
Abian mengedipkan sebelah matanya dan mencium lembut kening Zee, "aku mandi dulu!" ucap Abian yang meninggalkan Zee yang membuat Zee tersenyum saja. Namun setelah kepergian suaminya Zee menghela napasnya perlahan kedepan dengan memegang dadanya yang jantungnya berdebar kencang.
**********
__ADS_1
Rasa lelah Abian dari Luar Negri tiba di Bandara dan sampai kerumah mertuanya sudah terbayarkan dengan menghabiskan malam dengan romantis bersama istrinya sekalian ke-2nya yang sama-sama melepas kerinduan mereka.
Pasangan suami istri itu yang berada di atas ranjang yang selesai melakukan aktivitas itu yang tanpa busana dengan tertutupi selimut. Di mana Zee yang terlentang dan Abian yang berbaring miring dengan menyanggah kan lengannya agar bisa melihat istrinya yang cantik itu.
"Kak Abian mau dengar cerita Zee tidak?" tanya Zee.
"Tidak," jawab Abian.
"Issss kak Abian Zee serius," ucap Zee dengan kesal.
"Iya sayang apa yang mau kamu ceritakan?" tanya Abian.
"Kak Abian ini Masalah Syira," ucap Zee.
Abian mengkerutkan dahinya, "ada apa dengan Syira, tumben sekali kamu mau membahas Syira?" tanya Abian heran.
"Siapa yang membahas Syira, Zee hanya mengatakan kalau Syira masuk rumah sakit," ucap Zee.
"Kenapa?" tanya Abian.
"Kak Abian, Zee, kak Asyifa dan kak Rafa saat berbelanja ke Mall kita menemukan Zee yang pingsan di depan apotik dan ternyata Syira itu sedang membeli obat karena dirinya itu mengalami mual-mual. Dia membeli obat untuk kehamilannya dan makanya dia pingsan," jelas Zee.
"Jika kondisinya seperti itu. Kenapa dia pergi ke apotik sendirian?" tanya Abian.
"Kalau melihat dari suasana yang terjadi. Aku menduga-duga. Jika Syira itu kurang di terima keluarga Dedi," ucap Syira.
"Kenapa kamu bisa mengatakan seperti itu?"
"Ya aku hanya menduga saja. Dan lagian kak Asyifa juga terlihat menasehati kak Dedi dan juga yang yang lainnya, ya aku bingung lah, pokoknya aku hanya menduga saja," ucap Zee.
"Hmmm, mungkin memang tidak mudah bagi keluarga Dedi menerima ke adaan Syira," ucap Abian.
"Iya Zee juga berpikiran seperti itu. Tetapi tetap masih bersyukur pada Allah. Karena semua ini terjadi pada kak Abian. Zee tidak tau. Bagaimana posisi kak Dedi seperti kak Abian mungkin saja Zee tidak akan bisa berpikir," ucap Zee.
"Ya sudah berarti Allah masih melindungi pernikahan kita dan kita jadikan semua ini pelajaran untuk memperkuat pernikahan kita nanti," ucap Abian.
"Iya kak Abian," sahut Zee.
__ADS_1
Abian mencium kening Zee, "kita istirahat!" ucap Abian. Zee menganggukkan kepalanya. Masih ada beberapa jam lagi menuju waktu pagi dan mereka harus beristirahat.
Bersambung