
"Tetapi mereka tidak mungkin menikah. Apa yang terjadi belum tentu kebenarannya," sahut Willo yang mengeluarkan pendapatnya.
"Abian adalah calon suami saya dan tidak mungkin dia menikah dengan Zee," sahut Syira yang juga begitu terkejut mendengar pernyataan itu dan pasti tidak ingin Abian menikah dengan Zee.
"Cukup Syira," sentak Sarah, "kamu masih bisa mengatakan dia calon suami kamu bagaimana mungkin dia calon suami kamu yang menikah dengan kamu. Dia sudah berzinah. Apa kamu masih ingin menikah dengan seorang yang melakukan dosa paling besar," teriak Sarah yang dari ucapkannya sudah tidak menginginkan Syira dan Abian melanjutkan proses perjodohan mereka.
"Tapi mah," sahut Syira.
"Sudah-sudah hentikan. Kami tidak seharusnya mendengarkan perdebatan dalam keluarga kalian semua itu urusan kalian bukan urusan kami. Kalian berdua memang seharusnya di nikahkan. Karena sudah berzinah. Jika kalian tidak ingin di nikahkan di sini. Jadi masing-masing akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan ajaran desa ini," tegas warga.
"Baiklah kita mulai saja hukumannya," sahut kepala desa.
Dan 2 orang algojo sudah berdiri pada tempat mereka yang akan mencambuk Zee dan juga Abian dan Zee sudah memejamkan matanya yang pasrah jika akan mendapatkan hukuman .
Abian hanya melihat Zee dan melihat wanita yang bersiap melakukan cambuk padanya. Karena sudah mendapatkan aba-aba.
"Saya akan menikahinya," sahut Abian dengan tiba-tiba yang membuat semuanya terkejutnya termasuk Zee yang kembali membuka matanya dan melihat ke arah Abian.
"Saya akan bertanggung jawab untuk mengambil hukuman itu. Termasuk dalam akan menikahi Zee!" tegas Abian.
Rafa dan Asyifa saling melihat dengan Asyifa.
"Kamu ingin menikahi Zee?" tanya Rafa.
"Iya. Aku sangat tau. Kalian semua percaya kepadaku. Percaya jika aku dan Zee tidak melakukan apa yang di tuduhkan. Semua hanya fitnah. Namun jika hukuman itu yang memang harus di dapatkan. Maka akan aku lakukan," ucap Abian yang bersikap gentelment untuk menggantikan hukuman Zee walau akan menikah dengan Zee.
Syira yang mendengarnya sangat terluka dengan Syira geleng-geleng dan langsung pergi dengan menyeka air matanya.
"Syira!" panggil Sarah yang menyusul Syira. Danu juga tidak bisa melakukan apa-apa dan menyusul istri dan anaknya untuk menenangkan anaknya.
"Maafkan aku Syira!" batin Abian yang melihat kepergian Syira dan Zee juga terus melihat Abian. Lagi-lagi semua yang di lakukan Abian membuatnya bingung dan hanya merasa di permainkan saja.
__ADS_1
Sikap Abian yang tidak tegas. Perhatian dan bahkan rela menggantikan hukuman itu demi dirinya dan bahkan sekarang setuju untuk menikahi dirinya. Mana ada wanita yang tidak bingung dengan apa yang di lakukan Abian.
*********
Peraturan, budaya, moral dan adat di desa tersebut tidak main-main ternyata. Abian dan Zee harus menikah karena melakukan perzinaan dan perzinaan akan menjadi sial bagi desa tersebut.
Pernikahan Abian dan Zee pun di laksanakan di balai desa dan pasti hanya di nikahkan saja dengan pakaian mereka yang seadanya. Yang pasti Zee dan Abian tidak memakai bathrobe lagi. Di mana mereka sudah memakai pakaian biasa dan akan di nikahkan.
"Mari kita mulai," sahut pak kepala desa.
Xander sang ayah tidak bisa melakukan apa-apa, baik Rafa, Shofia. Mereka harus menyaksikan pernikahan paksa yang akan di lakukan itu.
"Silahkan Pak Xander nikahkan putri anda," ucap penghulu. Xander mengangguk dan mau tidak mau akan melakukan. Dari pada melihat sang anak akan di hukum cambuk.
Abian dan Xander saling berjabat tangan yang akan memulai ijab kabul.
"Saya nikahkan anak saya. Zee Kalisah dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai," ucap Xander.
"Bagaimana sah," tanya penghulu.
"Sah," sahut semuanya serentak.
Zee memejamkan matanya. Tidak tau bagaimanapun perasaan Zee saat dia telah menjadi istri Abian. Apakah bahagia atau tidak. Dalam hitungan jam kehidupan Zee berubah.
Penuh amarah dengan Abian yang mempermaikan perasaannya. Karena mendekati dirinya dan ternyata Abian akan menikah dengan wanita yang membuatnya penasaran.
Namun apa yang terjadi. Yang terjadi dalam sejam mereka sudah sah menjadi suami istri dan semua itu di lakukan Abian agar dia terbebas dari hukuman.
Dan sekarang setelah pernikahan. Abian pun menjalankan hukuman 200 cambuk dan di saksikan warga dan semua keluarga dan pasti Zee sangat tidak tega melihat Abian yang mendapatkan hukuman itu dan di tambah lagi dengan hukuman dirinya.
Dari kejauhan Syira juga menyaksikan hukuman Abian yang membuat Syira pasti sedih. Namun kesedihannya bertambah dengan kenyataan Abian dan Zee yang sudah menikah dan rasa sakit Abian tidak ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit dirinya.
__ADS_1
**********
Setelah semua proses hukum selesai semua keluarga kembali ke rumah Danu dan pasti sangat canggung setelah kejadian itu dan untuk Abian sendiri tidak pulang ke rumah Danu melainkan di rumahnya yang di temani Dedi yang juga membantu mengobati luka-luka Abian.
Rafa dan Asyifa memasuki kamar dengan Rafa terlihat lelah dan duduk di pinggir ranjang dengan memegang kepalanya sembari memijat pangkal hidungnya.
"Kak Rafa," lirih Asyifa memegang pundak suaminya.
"Percaya tidak percaya. Mereka sudah menikah Asyifa dan ini terlalu cepat untuk Zee," ucap Rafa.
"Kak Rafa. Kak Abian hanya bertanggung jawab dengan apa yang di lakukannya. Terlepas itu hanya fitnah atau kebenarannya. Tetapi kak Abian sudah bertanggung jawab dan saat itu Zee juga tidak protes dengan kak Abian menikahinya," ucap Asyifa.
"Lalu bagaimana dengan keluarga pak Danu. Aku tidak tau jika Syira dan Abian adalah pasangan yang akan menikah dan sekarang semuanya seperti ini," ucap Rafa dengan membuang napasnya perlahan kedepan.
"Aku tau apa yang kak Rafa pikirkan. Mungkin ini sudah jalannya dan untuk Zee bisa mengambil pelajaran kedepannya," ucap Asyifa yang hanya berpikir positif.
Rafa tidak bicara lagi. Karena benar-benar Rafa tidak tau harus menanggapi bagaimana.
Sementara di dalam kamar Zee. Zee yang duduk dengan menundukkan kepalanya yang mana sedang di interogasi.
"Kenapa bisa semua ini terjadi Zee. Apa yang terjadi di sana?" tanya Shofia.
"Tidak terjadi apa-apa mah. Aku sama kak Abian tidak melakukan apa-apa dan kami hanya berteduh dan yang terjadi hanya kebetulan," jawab Zee.
"Lalu kenapa kamu tidak melakukan pembelaan tadi," ucap Ardi.
"Aku panik dan tidak tau harus bicara apa. Kau benar-benar takut," jawab Zee yang sampai detik ini masih bingung dengan kondisinya.
"Sudahlah semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang harus di perdebatkan lagi," ucap Shania.
"Papa jadi tidak enak dengan keluarga pak Danu," ucap Xander yang sekarang harus berurusan dengan Danu.
__ADS_1
Bersambung